IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 101 - Rival Balap Mobil


__ADS_3

BAB 101


“Sayang. Jangan tidur sayang, buka mata. Aku di sini, lihat aku Fredella. Aku mohon kamu kuat.” Dariel menatap pilu istrinya, kedua tungkai seketika lemas melihat Fredella lambat laun hampir menutup mata.


“Sayang berjuang untuk anak kita.” Dariel menitikkan air mata, memegang erat tangan ibu dari kedua anaknya.


Tim dokter memberi saran agar operasi dilakukan, mengingat kondisi Fredella semakin lemah dan segera membutuhkan pertolongan. Dariel pun menandatangi beberapa prosedur untuk menyelamatkan istri serta anak-anaknya.


Namun Fredella melenguh, kesadarannya kembali. Ia merasa ada dorongan penuh dari dalam perut, hingga meraih tangan suaminya sebagai pegangan.


Akhirnya setelah beberapa kali mengeluarkan tenaga, suara tangis bayi menggema di dalam ruangan. Serak dan nyaris menghilang, bayi pertama lahir dalam keadaan sehat. Dokter Spesialis Anak membantu mengeluarkan cairan dari dalam saluran pernapasan.


“Sayang terima kasih.” Tawa sekaligus tangis seorang Dariel Bradley.


“Semangat Nyonya satu lagi, begitu ada rasa mulas langsung dorong, jangan ragu.” Ujar dokter, tetap menanti sembari melihat ke bagian inti.


“Mulas, perutku sakit lagi.” Pekik Fredella setelah dua menit melahirkan anak pertamanya.


Wanita bermata hazel ini kembali mengerahkan seluruh tenaga untuk berjuang membawa bayinya melihat keindahan dunia.


Dengan dua kali dorongan, bayi kedua Dariel dan Fredella lahir. Tangisnya lebih keras dari pertama, kamar bersalin ini semakin ramai karena bayi kembar bersahutan satu sama lain.


Sementara Dokter sibuk mengeluarkan plasenta, lalu menjahit bagian yang robek. Dariel mengabsen seluruh wajah yang dipenuhi keringat. Ia tertawa bahagia, hari yang dinantikan datang juga. Sejak istrinya di dikatakan sulit hamil, sekalipun tidak pernah ada keraguan dalam diri bahwa Fredella tidak bisa memberinya keturunan.


Dariel akan melakukan apapun demi membuat pasangannya bahagia, dan ternyata dua malaikat kecil hadir lebih cepat sebagai hadiah terindah.


“Dariel geli. Kamu sama sekali tidak punya rasa malu ya?” Fredella menekuk wajah, suaminya memang tidak pernah tahu tempat untuk mengungkapkan perasaan.


“Selamat Tuan dan Nyonya, bayi pertama laki-laki, dan yang kedua perempuan.” Dokter Anak meletakkan sepasang bayi di atas dada ibunya.


Kedua pasang mata mengedip perlahan, bibir merahnya terbuka lalu menutup. Mereka berhenti menangis setelah menempel di kulit hangat Fredella.

__ADS_1


“Hi twin, ini Mommy.” Fredella menangis, ia tidak percaya setelah mengalami hal menyakitkan, akhirnya bisa merasakan apa yang sangat diinginkannya, hamil dan melahirkan.


“Hi jagoan Daddy, kita akan menjadi rival balap mobil lalu bersama melindungi Mom dan adikmu. Putraku Theodore Rylee Bradley. Aw … sakit sayang, kenapa dipukul, aku salah apa?” Dariel mendadak kesakitan di bagian lengan.


“Kamu … putraku baru lahir tapi langsung diajak balap mobil, kamu ini Daddy macam apa? Huh.” Fredella mengamuk sebab ucapan suaminya benar-benar keterlaluan.


“Ok sayang maaf, lagipula semua mobil sport aku untuk siapa kalau bukan Theo? Ah tentu anak cantik ini juga akan tangguh menemani Daddy balapan. Selamat datang Putriku Valerie Wylie Bradley.” Dariel mencium kedua buah hatinya. Ia benar-benar mencintai tiga orang yang sangat berarti dalam hidup.


“Awas kamu ya, jangan ajari anakku di sirkuit balap, Dariel.” Fredella mulai protektif terhadap kedua anaknya. Ia ingin mereka menjalani hidup biasa saja dan lebih banyak belajar untuk masa depannya.


.


.


.


Satu hari setelah melahirkan kamar rawat Fredella dipenuhi anggota keluarga Matthew dan Bradley. Mereka menumpuk jadi satu memperebutkan dua bayi lucu yang menjadi anggota baru.


Dwyne, Denna, Rico, Daniel berebut menggendong dan berdekatan dengan keponakan mereka. Semua tidak ada yang mau mengalah. Tapi karena diantara keempat paman dan bibi itu, hanya Dywne yang memiliki pengalaman, maka wanita arogan ini mendapat lampu hijau Dariel serta para orangtua.


“Dwyne kamu kan sudah ada Zac dan Zoey kenapa keponakanku harus diambil juga?” keluh Rico, padahal ia yang paling banyak menemani Theo dan Vale selama dalam kandungan, tapi dipaksa mengalah tidak memiliki akses menggendong sama sekali.


“Hey, jangan jadikan anak-anakku sebagai uji coba kalian. Cepat menikah dan buat sendiri. Ah ya Daniel sebaiknya nikahi salah satu teman kencanmu itu, jangan terlalu lama membuat mereka menunggu.” Kesal Dariel, bagaimana istri dan anak-anak bisa istirahat kalau mendengar perdebatan paman mereka.


“Kurang ajar kau Dariel, memang sahabat sekaligus adik ipar minim sopan santun.” Sahut Daniel, ia akui diusia lebih dari kepala tiga belum memiliki calon istri sama sekali.


Diantara kebahagiaan keluarga ada sosok wanita duduk diam, hanya tersenyum tipis sejak masuk ke ruangan. Menatap sedih sekaligus iri kepada Fredella dan dua bayinya. Terlihat sekali perbedaan yang ada.


“Seandainya Ethan juga bisa merasakan kasih sayang yang sama, maaf nak kamu harus terlahir dari mama seperti aku.” Lirih Ayu dalam hati. Tentu nasibnya berbeda, Fredella dan Dariel menikah atas dasar restu dari keluarga besar, sedangkan Ayu dinikahi karena hamil lebih dulu.


“Hi Jagoan, kamu juga tetap menjadi anak Daddy yang tampan. Oh God anakku banyak sekali.” Dariel menggendong Ethan, membawanya mendekat dengan Theo dan Vale.

__ADS_1


Tidak diduga ketiga keponakannya mendekat berebut ingin dipangku, mereka semua sangat menyayangi pamannya.


“Aku juga anak Daddy” Sengit Denver, Zac dan Zoey.


“Iya kalian semua anakku, kemarilah peluk Daddy, jangan lupa kalau sudah besar, tetap menyayangi Daddy, Ok?” Dariel merelakan punggung dan paha menjadi tempat bersandar keponakannya.


‘’Untung Rea dan Ryan ada di Jakarta.” Keluh Dariel dalam hati, tidak sanggup mengasuh semua keponakannya.


Setelah Theo dan Vale lahir ke dunia, Dariel bersama Papa Ray langsung mendirikan Cafe atas nama keduanya, serta merubah sebagian kepemilikan saham di GB Group. Sebagai hadiah dan ungkapan bahagia lahirnya anggota keluarga baru.


.


.


Fredella dan kedua buah hatinya pulang ke rumah Keluarga Matthew, mungkin setelah pulih ketiganya akan di bawa pulang oleh Dariel ke Jakarta. Tentu saja jika Nyonya Matthew memberi izin.


Rumah sederhana ini bertambah ramai dengan hadirnya sepupu Dariel, sengaja datang menjenguk Fredella dan bayinya.


“Tante terima kasih, kalau bukan tante mungkin mereka berdua belum lahir sampai sekarang.” Fredella menangis di pelukan Dokter Samantha, ia ingat segala keluh kesah diterima oleh wanita keturunan Swedia itu. Fredella selalu konsultasi masalah kandungannya sekecil apapun.


“Sama-sama sayang, tante senang bisa membantu. Kamu tidak perlu sungkan.” Dokter Samantha mengambil alih Theo dan Vale dari tangan Mama Nayla. Melihat cucu barunya ini sangat menyenangkan, sangat mirip Dwyne dan Dariel ketika masih kecil.


“Hi Theo, Vale. Kalian tahu? Oma yang membantu Daddy Dariel lahir ke dunia ini, dia sangat mirip denganmu Theo.” Tawa Samantha bersahutan dengan Nayla. Keduanya mengingat masa muda mereka.


Sementara itu Dariel membawa Fredella masuk ke kamar, menutup rapat dan mengunci pintu. Sebab setelah malaikat kecilnya lahir, Dariel tidak lagi mendapat kasih sayang dan perhatian dari istrinya. Pria ini tidak sabar memeluk wanita yang ia cintai.


“Dariel, kamu seorang ayah tapi tidak mau mengalah dengan anak-anak.” Kelakar Fredella, melihat suaminya memelas perhatian.


TBC


***

__ADS_1


Terima kasih atas kebaikan hati dan jempol kakak semua. Kasih gift dan vote 😭🙏like, juga komentar sangat berarti untuk author retjeh ini, terharu sekali.


 


__ADS_2