
BAB 106
Tiga hari ini Bobby selalu datang ke mansion utama, entah itu untuk menumpang sarapan atau bertemu Dariel membahas pekerjaan mereka yang tertunda. Tidak sekalipun Bobby mencari Ayu, padahal memang tujuan utamanya melihat istri dan anaknya dalam keadaan sehat.
Bahkan Bobby dua kali mengantar Ayu, sebab sopir di mansion mendadak hilang tidak ada kabar. Pria itu sengaja menunggu istrinya di depan gerbang. Bobby tidak menyerah, terus mengikuti Ayu ke halte.
Wanita itu cukup kuat berjalan beberapa kilometer, sampai akhirnya Ayu kelelahan dan Bobby sigap membantunya. Dia juga yang menjemput Ayu dari butik terbesar di Kota Birmingham, lebih parahnya lagi berani memperkenalkan diri sebagai ayah dari Ethan di depan rekan kerja istrinya.
Ada saja cara Bobby untuk dekat dan mengambil kesempatan dari keadaan. Seperti saat ini, walaupun akhir pekan tetap datang membawa banyak mainan anak untuk Theo, Vale dan Ethan. Selalu yang menjadi alasan bertemu Dariel.
Namun hari ini sahabatnya tidak ada di mansion, pergi keluar bersama Fredella mengunjungi GB Group. Bobby menunggu Ayu, tidak juga turun ke lantai satu, ia penasaran akhirnya bertanya pada salah satu maid yang bertugas membersihkan kamar.
Bobby terpukul mendapat kabar Ayu tengah demam, sejak semalam karena kehujanan. Tanpa ragu ia masuk ke kamar istrinya, melihat kondisi Ayu.
Wajah pucat, tubuh menggigil menjadi perhatian Bobby Armend. Ditambah Ethan bermain sendirian di atas karpet.
“Ayu kamu sakit, kamu … kamu kenapa sayang? Kita ke rumah sakit sekarang.” Panik Bobby, tapi Ayu langsung memunggungi suaminya, enggan melihat wajah yang tersenyum bahkan menangisi wanita lain.
“Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat, sebaiknya kamu keluar jangan ganggu.” Usir Ayu, mengeratkan selimutnya dan memejamkan kedua mata.
“Ok, kalau begitu. Aku tetap di sini menjaga kamu dan Ethan, kasihan dia sendirian.” Tegas Bobby, menggeleng kepala. Sekarang Ayu berubah, keras kepala, melawan dan lebih tertutup. Ia rindu gadis ceria yang dikenalnya dari desa.
“Kamu pergi, Ethan baik-baik saja. Keluar sekarang juga!” tegas Ayu merasa risih dengan kehadiran suami yang mungkin sebentar lagi berubah menjadi mantan.
Ayu sedikit menoleh, melihat pintu terbuka. Seorang maid mengantar sarapan untuk Ayu dan Ethan, sesuai permintaan sebelumnya kalau ia menitipkan Ethan ke salah satu pelayan, karena tidak sanggup menyuapi dan memandikan putranya.
“Aku titip Ethan ya, terima kasih.” Ayu mengulas senyum walau lemas. Kemudian kembali menghadap sisi lain menghindari tatapan dua mata Bobby.
__ADS_1
“Siap nona, serahkan padaku. Ayo Ethan, kita sarapan dulu.” Maid menggendong, membawa Ethan keluar.qqq
Bobby mendengus kesal, padahal kehadirannya di sini untuk diminta tolong tapi istrinya lebih memilih orang lain.
Dia tidak jera membujuk Ayu ke rumah sakit, memaksa diri untuk sabar menghadapi kokohnya dinding yang dibangun kuat. Tapi ibu muda ini tetap bersikukuh menolak semua walaupun tahu demi kebaikannya.
Sampai Dariel dan Fredella masuk kamar, memeriksa keadaan Ayu. Akhirnya diputuskan menghubungi dokter keluarga, tentu menerima sebab semua usulan Fredella tidak tega melihat tubuh adiknya menggigil.
Fredella membantu Ayu sarapan dan minum obat, lalu memijat bagian punggung Ayu yang hangat.
“Sebaiknya kamu keluar, biarkan Ayu istirahat. Tolong jangan ganggu Ayu, mengertilah perasaannya sangat hancur, tidak mudah untuk kembali. Aku merasakannya, kalian berdua memalukan terjebak bersama satu wanita yang sama.” Fredella menatap tajam pada Bobby juga suaminya.
Dariel dan Bobby di dorong keluar dari kamar. Dua pria itu berdebat di depan pintu. Dariel merasa kedatangan Bobby hanya mengingatkan masa kelamnya yang terlalu memperhatikan Clarissa.
“Jangan sampai istriku marah lagi, kalau iya, aku pastikan kau tidak bisa masuk ke sini lagi.” Geram Dariel, mengancam sahabatnya. Kemudian melenggang pergi ke kamar Theo dan Vale.
“Apa Ethan tidak mau makan?” Bobby berdiri di hadapan Ethan yang mengulurkan kedua tangan. “Anak Daddy kenapa tidak makan? Mau Daddy suapi? Ok, kita makan bersama ya.” Bobby mengambil mangkuk di atas meja dan menggendong Ethan.
Bocah kecil ini membuka mulut, mengunyah makanan sangat baik, bahkan habis dalam waktu singkat.
Bobby membawa Ethan masuk kamar, tugasnya kali ini membantu mandi. Dia benar-benar menjiwai peran sebagai seorang ayah.
Suara berisik dalam kamar mandi mengusik tidur Ayu, suara tawa Ethan tidak seperti biasa kali ini lebih ceria dan berceloteh.
Ayu turun dari ranjang mengintip ke kamar mandi, semula bibirnya tersenyum tetapi setelah melihat sosok pria dalam kamar mandi, seketika senyumnya menghilang. Ingin sekali Ayu menghampiri Bobby dan merebut Ethan dari pria itu. Tapi sayang tubuhnya masih lemas, akhirnya Ayu memilih kembali berbaring di atas ranjang, memasang telinga setajam mungkin.
Celoteh riang Ethan tidak henti sampai selesai memakai baju.
__ADS_1
Diam-diam Ayu mengintip dua lelaki yang mengisi ruang hati. Terlihat sekali Bobby begitu menyayangi putranya, sama dengan Ethan yang selalu minta dipeluk dan gendong.
“Apa aku sanggup menghadapi semua ini? Ethan maafkan mama yang egois, tapi mama tidak bisa hidup dengan Daddy kamu.” Ayu menangis dalam hati. Ia berharap setelah besar nanti Ethan bisa mengerti alasan kenapa semua ini terjadi.
Bobby memilih tetap tinggal di dalam kamar, putranya mengantuk. Mana tega ia mengabaikan Ethan yang merengek ingin di peluk.
“Sayang, maaf aku ikut berbaring, semua demi Ethan.” Izin Bobby, kemudian naik ke atas ranjang, menepuk pelan bokong kecil putranya, tapi padangan pria ini tetap tertuju pada Ayu.
Dia yakin istrinya tidak tidur atau mungkin telah bangun. Menikah dan menjalani hidup selama berbulan-bulan tahu persis tingkah Ayu yang tidak bisa hilang.
“Aku akan pulang setelah Ethan tidur, kamu jangan cemas.” Ucap Bobby melihat wajah tegang Ayu.
Sejenak Bobby merasakan keutuhan keluarga, ingin momen ini seterusnya tetap terjaga dengan hadirnya Ethan di tengah keluarga kecil mereka. Namun mengingat beberapa hari yang lalu sepertinya harus memperpanjang masa sabar, demi mendapat kepercayaan seorang Ayu Jelita.
Tidak menunggu lama, Ethan terlelap sangat pulas dalam pelukan ayahnya. Anak kecil itu seakan tahu apa yang menimpa kedua orangtua. Berulang kali Bobby berusaha menyingkir dan melepaskan tangan, Ethan terbangun kemudian menangis. Terus seperti ini sampai beberapa kali, terpaksa Ayu memilih mengalah dan mengizinkan Bobby lebih lama menemani Ethan.
Ayu keluar kamar, ia tidak mau bersama Bobby pasti hatinya akan goyah. Tidak peduli kepala masih pusing tetap memaksa keluar menghindari suaminya.
Bobby memandang nanar punggung Ayu, ia menelan saliva yang terasa sakit di kerongkongan. “Ayu aku minta maaf.” Lirih Bobby.
TBC
**
Bobby dan Ethan
__ADS_1