
BAB 90
Mami Kezia semakin lemas setelah melihat brankar kedua keluar, kepala dan tangan putranya dibebat dengan perban cukup tebal. Kondisi Bobby masih dalam pehatian Dokter, ia menempati ICU.
Tidak seorang pun selain tenaga medis diizinkan masuk sampai besok pagi, khawatir keluarga atau orang lain memberi efek buruk. Sekalipun pasien dalam keadaan tidak sadar, telinga dan otaknya masih bisa menerima informasi.
“Anak Mami ... Barra tolong adik kamu. Kelakuannya memang tidak bisa dimaafkan tapi ... tapi tidak tega melihat kondisinya begini. Papi anak kita Pih.” Mami Kezia tidak sadarkan diri, menyakitkan dan takut dengan kejadian yang menimpa Bobby.
“Istriku Kezia, bangun istriku. Barra, bantu Papi, kamu tunggu di sini, tanyakan pada dokter tentang Bobby. Papi harus membawa Mami.” Papi Leo menggendong istrinya mencari pertolongan.
Beruntung berpapasan dengan Dayana. Dokter muda itu langsung membawa Mami Kezia ke ruang perawatan dan menjalankan serangkaian pemeriksaan.
Jarum infus mulai di pasang tepat di pembuluh darah, perawat sigap membantu Dokter Dayana, mengambil beberapa obat di instalasi farmasi.
“Terima kasih Dayana.” Ujar Papi Leo.
“Sama-sama Om, semoga Bobby lekas siuman dan sembuh seperti sebelumnya.”
“Hem”
Dayana keluar, kembali bertugas menuju instalasi gawat darurat memeriksa pasien lain.
Sementara di ruangan berbeda
Ayu kerepotan membuat bayinya berhenti menangis. Ia tidak bisa menyusui putra kecilnya. Mau tidak mau mengandalkan Dwyne, untuk menenangkan bayi merah itu.
“Maaf kak, aku memang belum pantas jadi ibu.” Cicit Ayu, menundukkan kepala, merasa malu sekaligus bersalah pada diri sendiri, orang lain terutama anaknya.
Lagipula siapa yang siap hamil dan memiliki anak di usia muda, semua murni karena kecelakaan, akibat kebodohannya terlena dengan bujuk rayu pria kota.
“Ah kamu jangan sungkan Ayu. Aku senang bisa membantu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sama, aku juga begini. Apalagi kehilangan satu bayi dalam kandungan, rasanya sakit sekali, sampai memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menata hati.” Dwyne mengelus pipi gembul putra Bobby, seketika ingat akan Dafa, bayi yang belum sempat digendong tetapi telah pergi menghadap sang pencipta.
Saudari kembar Dariel ini pun meneteskan bulir bening, hingga alis, hidung dan pipinya memerah. Tapi secepat kilat Dwyne menghapus air matanya, tidak boleh menambah beban Ayu.
__ADS_1
“M-Maaf kak, aku tidak bermaksud untuk ...” Ayu tidak melanjutkan ucapannya, ia malah melihat pintu terbuka lebar. Sejenak senang, berharap Bobby datang, tapi angan-angannya terlalu tinggi, ternyata anak-anak Dwyne dan suaminya yang masuk. Ayu berpikir mungkin saja suaminya itu sedang bersama wanita lain.
“Mama”
Panggil Denver, Zac dan Zoey berlari menghampiri ibu mereka yang berdiri di sisi ranjang.
“Hi kesayangan mama, lihat mama punya adik bayi.” Dwyne membaringkan keponakannya di atas ranjang bayi, lalu menarik tangan Dokter Dewa ke sisi lain.
Ayu tidak bisa mendengar pembicaraan apa diantara keduanya, sebab suara Denver dan Zac yang berebut ingin dekat dengan anaknya.
“Bagaimana keadaan Bobby? Dia sudah bangun?” Bisik Dwyne sangat kecil sekali.
“Operasinya berhasil, dia masih pemulihan di ruang ICU. Semoga besok pagi siuman. Apa Ayu tahu kabar suaminya?” Tanya Dewa.
Dwyne menggeleng lemah, melirik ke arah ranjang, takut ibu muda itu mendengar percakapan mereka.
“Ok sayang, aku masih ada jadwal operasi dua pasien lagi. Kamu dan anak-anak, baik-baik di sini. Ah iya Tante Kezia, pingsan, ruangannya di ujung dekat meja perawat.” Dokter Dewa melabuhkan ciuman di kening istrinya, lalu pamit kepada Ayu, memberi ibu baru dengan semangat dan kata-kata motivasi.
.
.
Sekeras apapun Papi Leo dan Barra membujuk tetap keras kepala. Ibu tiga anak ini sampai mengabaikan kesehatannya, ia lupa makan dan minum, terlalu larut dalam kesedihan.
Satu kali Mami Kezia mengunjungi Ayu, itu pun terpaksa, Barra dan Papi Leo memaksa Maminya harus membagi perhatian dengan anggota keluarga baru mereka.
“Mami, hari ini Ayu pulang. Mami mau mengantar Ayu pulang kan?” Barra berharap Maminya ini istirahat, berharap segala kecemasan teralihkan dengan kehadiran cucu pertamanya.
“Mami mau di sini, adik kamu membutuhkan Mami.” Tegas Mami Kezia, menolak mentah-mentah semua kebaikan yang disarankan untuknya. Bahkan meminta putra bungsunya pulang ke tanah air, hanya untuk menemani, menjaga Bobby.
Barra mendapat pesan dari adiknya, bahwa Ayu siap untuk pulang, semua administrasi dan obat telah selesai. Tapi mereka bingung kemana membawa Ayu pulang, sebab kalau ke rumah Nenek, hanya ada asisten rumah yang menemani. Sedangkan di kediaman Armend, Maminya belum memberi lampu hijau.
“Mih, kemana Ayu pulang? Rumah Nenek atau ...” Lidah Barra terasa kelu melanjutkan perkataannya, sebab Mami Kezia mendelik tajam.
__ADS_1
“Rumah Nenek.” Jawab Mami Kezia.
“Rumah kita.” Sahut Papi Leo.
“Leo, kamu ... aku tidak mengizinkan dia masuk ke rumah kita, ini semua karena Ayu. Kenapa Bobby harus menikah dengannya? Semua ini ulah Ayu.” Mami Kezia tidak ingin ibu dari cucunya kembali bersama Bobby.
“Istriku dia itu menantu kita, dan aku tidak mau keturunan kita hidup di luar. Ini semua ide kamu menyembunyikan Ayu, jadi semua bukan salah Ayu tapi kamu Kezia. Tolong jangan egois, dia tidak tahu apa-apa.” Papi Leo berusaha memberi penjelasan, cukup satu kali kesalahan diperbuat oleh putranya, jangan sampai keluarga kembali menyesal sebab kehilangan darah daging mereka.
Akhirnya Mami Kezia setuju meskipun berat hati, tapi benar apa kata suaminya. Ia tidak bisa kehilangan cucu, bagaimana kalau Ayu nekat membawa bayi yang belum memiliki nama itu pergi jauh? Atau mungkin hidup terlantar di desa.
Mami Kezia bergidik membayang itu semua, karena menantunya tidak memiliki siapapun selain keluarga Bobby.
“Minta Brady bawa Ayu ke rumah kita, tapi jangan masuk ke kamar Bobby, tempatkan dia di kamar tamu. Jangan perlakukan Ayu istimewa, dia tidak lebih dari wanita yang melahirkan cucuku.” Telak Mami Kezia tanpa perasaan, sontak Papi Leo dan Barra saling pandang.
Barra hanya melihat Papinya mengangguk pelan, untuk sementara semua perintah Mami Kezia dituruti sampai semua kondisi stabil.
Di sisi lain
Ayu duduk melihat putranya yang terlelap, ia senang bisa pulang, karena semewah apapun rumah sakit tetap saja tidak nyaman.
Tatapan kedua mata jernih Ayu teralih kepada Brady, adik iparnya ini sangat perhatian dan sigap mengurusq segala sesuatu. Seandainya pria yang sedang merapikan perlengkapan bayi adalah Bobby, pasti Ayu menjadi istri paling bahagia.
“Kita ... kita pulang ke mana ya?” Tanya Ayu sangat sungkan, karena pertama kali melihat wajah adik iparnya secara langsung.
“Rumah Papi.” Jawab Brady tanpa mau menoleh sedetikpun.
“Brady? Apa kamu tahu dimana Bobby? Kenapa dia tidak menjenguk ke sini?” Suara Ayu berubah, bergetar menahan sesak dalam dada.
“Apa kamu tidak tahu apa yang dialami kakak sekarang? Istri macam apa kamu itu.” Ketus pria yang usianya jauh lebih tua dibanding Ayu.
Seketika Ayu tidak merasa nyaman dan takut memikirkan Bobby.
TBC
__ADS_1