
BAB 107
Satu minggu dilewati Ayu dan Bobby, masih dalam diam. Ayu selalu menghindar dari suaminya bahkan ia merepotkan sepupu Fredella untuk mengatur dan menyelesaikan sesuatu di tanah air.
Ibu muda ini merasa tidak ada yang perlu di pertahankan. Luka dalam hati masih menganga lebar, sejauh ini usaha Bobby belum membuahkan hasil apapun.
Bobby tetap datang ke mansion, setiap hari membantu menjaga Ethan ketika Ayu bekerja, tidak jarang membawa putranya itu menunggu di depan butik dan masuk ke dalam. Bukan tanpa alasan, beberapa kali Bobby melihat pria lain mendekati istrinya, langsung saja ia masuk menunjukkan siapa pemilik seorang Ayu Jelita yang sebenarnya.
Apa yang dilakukan Bobby tetap berujung penolakan, sekalipun sekarang hujan besar istrinya tetap memilih pulang naik bus daripada duduk bersamanya dalam satu mobil. Ayu mengizinkan Ethan bersama ayahnya, tidak mungkin tega membiarkan putra kecilnya ikut berdesakan dalam bus dan terguyur hujan.
“Ayo pulang” Bobby menunggu Ayu di halte, membuka payung sembari tersenyum.
Sedangkan Ayu melirik kesana kemari, melihat kendaraan roda empat yang di bawa suaminya, tidak ada sama sekali, tentu ia panik karena Ethan ada di dalam, khawatir pada buah hatinya.
“Di mana Ethan? Apa yang kamu lakukan?” sentak Ayu. Sungguh tidak mau kehilangan anak yang ia lahirkan beberapa bulan lalu.
“Oh, ada di mansion utama bersama Oma Anggi. Aku sengaja ke sini menjemput istriku, tidak salah kan?” jawab Bobby tanpa dosa, masih tetap mengukir senyum memikatnya.
Hati Ayu sedikit lega mendengar Ethan aman bersama Oma, ia takut sekali kalau putranya dibawa pergi.
“Permisi, aku mau pulang.” Ayu menghindar, berjalan cepat tidak mau berada d bawah satu payung yang sama dengan Bobby. Tidak peduli walau berujung basah kuyup, Ayu tetap melangkah lebar.
“Yu Ayu tunggu. Kamu jangan keras kepala. Mau sakit lagi? Siapa yang rugi, kamu dan Ethan benar kan? Jangan bertindak bodoh.” Tegas Bobby tidak ingin istrinya sakit lagi seperti beberapa hari yang lalu.
Mendengar nama anaknya disebut, sontak Ayu berhenti, menengadah ke langit yang memang gelap. Menumpahkan hujan terus menerus, Ayu akui kali ini bujuk rayu Bobby berhasil tapi semua karena Ethan. Da tidak mau berakhir menggigil di atas ranjang .
__ADS_1
“Maaf Ayu, aku hanya peduli kepada istri.” Ujar Bobby, hatinya senang bukan main. Berjalan bersama dinaungi satu payung, menikmati hari yang mulai berubah gelap. Walaupun sepanjang jalan keduanya diam tanpa kata.
Setelah sampai di mansion utama, Ayu bergegas masuk ke kamar. Membersihkan seluruh tubuh, ia tidak sabar bertemu Ethan. Seharian di luar rumah membuatnya merindukan putra kecil yang kini belajar merangkak.
Ayu melihat suaminya di ruang keluarga, menyesap secangkir kopi bersama tuan rumah dan tentu saja Ethan bergerak lincah di depan semuanya.
“Ayu. Sini, Oma dan Ethan kangen sama kamu. Hari ini tumben pulang lebih lama? Banyak kegiatan di rumah mode?” Oma Anggi sangat perhatian pada Ayu seperti ibu menyayangi putrinya, merapikan rambut yang sedikit berantakan, bahkan tidak sungkan menggenggam tangan Ayu.
Pemandangan ini tidak lepas dari pengamatan Bobby, hal yang tidak pernah ia lakukan atau mungkin Mami Kezia perhatikan. Istrinya ini kekurangan kasih sayang dan perhatian, selama berada di kediaman Armend hanya luka dan kesedihan yang diterimanya.
“Iya Oma, desain Ayu terpilih mengikuti lomba musim dingin nanti, jadi banyak belajar dari senior.” Tutur Ayu begitu bahagia, rona wajahnya pun berubah mencair tidak tegang.
Hati Bobby miris, istrinya lebih akrab dan nyaman bersama orang lain. Iya orang lain yang selama ini lebih menyayangi Ayu dibanding keluarganya sendiri.
“Bob, kamu menginap di sini, jangan di hotel. Semenjak Dariel dan Fredella pulang, mansion sepi. Opa kangen dengan kedua cicit cengeng itu.” Pinta Opa Dave, membutuhkan teman mengobrol untuk menikmati hari tuanya.
Tentu saja kesempatan emas yang tidak akan Bobby sia-siakan, tinggal di satu atap dengan istrinya. Walaupun harus berpisah kamar tidak apa, yang penting Ayu selalu dalam jangkauan matanya.
“Siap Opa.” Sahut Bobby serasa memenangkan undian berhadiah. Tapi tidak dengan Ayu yang langsung menggendong Ethan dan membawanya masuk ke kamar.
.
.
Lebih mencengangkan lagi, Bobby masuk kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Percaya diri ia tidur di sisi ranjang kosong tepat menghadap wajah Ayu yang terlelap tanpa terusik sedikitpun. Bobby membelai pipi mulus yang semakin bertambah cantik setiap harinya ini, sama sekali tidak memberi celah sedikitpun.
__ADS_1
“Ayu … aku mohon jangan seperti ini terus, kita harus membesarkan Ethan bersama, hubungan kita tetap berjalan di tempat. Apa kamu tidak lelah terus berlari setiap hari?” gumam Bobby.
Dahulu wajah manis ini tak pernah ia lirik, sekalipun Ayu kelelahan menjalani masa awal kehamilan, dirinya terlalu sibuk mengejar cinta yang tidak akan tergapai. Tapi ternyata Ayu Jelita berusaha mempertahankan rumah tangga mereka.
Sekarang keadaan berbanding terbalik, Ayu menyerah dan tidak menunjukan pintu hatinya terbuka sedikit saja, kini Bobby berusaha sendiri, mati-matian mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
“Dengarkan aku Ayu! Aku ingin kamu kembali seperti dulu, Ayu Jelita yang aku kenal, wanita yang mencintai suaminya tulus apa adanya. Maaf aku terlambat menyadari kalau sebenarnya hanya kamu di sini, bukan dia.” Ucap Bobby pelan, meraih satu tangan Ayu untuk menyentuh dada bidangnya.
“Semua itu hanya obsesi, aku terlalu menginginkan dan tidak terima penolakan dari Clarissa. Ditambah rasa bersalah karena … karena mengambil sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.” Lanjut Bobby dalam hati, tidak kuasa bibirnya mengucap semua isi hati.
“Jujur aku tidak akan bisa menjalani hari tanpa kalian berdua, kamu dan Ethan sangat berarti. Maaf terlalu banyak luka yang aku beri. Aku mohon kembalilah sayang, maaf Ayu.” Bobby mengingat masa-masa awal pernikahan.
Ia bahkan membeli banyak pakaian dari butik Clarissa untuk Ayu, menjadikannya sosok Clarissa tapi yang terjadi melukai begitu dalam, meruntuhkan rasa cinta Ayu untuk mempertahankan rumah tangganya.
Semalaman ini Bobby tidak bisa tidur, otaknya terus berpikir bagaimana cara meluluhkan kerasnya dinding pembatas yang dibangun Ayu.
Mendekati matahari terbit, Bobby bangun lebih dulu menemani putranya yang berceloteh sendirian. Pria ini mengirim beberapa foto ke Mami Kezia.
Tidak disangka menerima balasan begitu cepat, bahkan pesan terakhir dari Maminya membuat Bobby terkejut dan sesak napas.
‘Syukur kalau kalian kembali bersama. Mami pikir kamu dan Ayu bertengkar, pagi ini ada surat dari pengadilan untuk kamu Bob. Tapi Ayu memaafkan kamu, ini bohong kan? Sampaikan juga maaf Mami untuk Ayu.’
Sontak ponsel keluaran terbaru itu terjatuh, suara nyaringnya mengusik Ayu, pandangan Bobby teralih sepenuhnya pada wanita yang kini melenguh di atas ranjang.
TBC
__ADS_1