IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 74 - Seandainya


__ADS_3

BAB 74


“Aku akan merindukanmu sayang, jangan menghindar. Aku ingin komunikasi kita tetap baik.” Dariel memeluk erat tubuh Fredella, menghidu aroma buah tropis sangat menyegarkan. Harum yang akan ia rindukan selama beberapa minggu ke depan.


“Jaga janjimu Dariel, maaf aku tidak bisa pergi.” Fredella tersenyum tipis, ia masih merasa bersalah tidak turut pulang bersama, Dariel tahu apa yang menjadi keinginannya, menemani Nyonya Matthew entah sampai kapan itu.


Fredella mengantar Dariel ke bandar udara, melepas suaminya kembali ke rumah. Perpisahan kali ini sangat berat, padahal apa bedanya dengan satu bulan yang lalu, tetap hidup secara terpisah dan menjalani rutinitas masing-masing. Mungkin bedanya, hari ini di dasari pada hubungan yang kembali terjalin.


Dariel memberi tanda hati di tujukan untuk istrinya tepat di pintu pesawat. Dua insan ini seperti sepasang muda mudi yang baru saja mengenal apa itu arti cinta.


Keduanya sama-sama meyakinkan diri bahwa perpisahan ini hanya sementara, dan waktu akan menjawab semua, membantu menyelesaikan masalah-masalah yang tersisa.


Wanita bermata hazel ini mematung, memandangi pesawat lepas landas, perlahan menjauh, menghilang sampai deru mesinnya pun tidak terdengar lagi .


“Dariel aku janji akan pulang bersamamu.” Lirih Fredella, menyusut bulir bening yang jatuh menetes.


Kembali di kejutkan dengan satu pesan singkat yang masuk, ternyata Dariel mengirim sesuatu untuk istrinya.


Fredella sigap memeriksa pesan dan tersenyum sembari mencari benda dalam tasnya. Dia menemukan kotak bludru berisi cincin dan kartu ucapan pernyataan cinta terselip.


"Terima kasih" gumamnya, tersenyum memasang cincin pada jari manis lali meninggalkan bandara.


Tempat pertama yang akan ia kunjungi hari ini adalah kantor penerbit, tugasnya pasti menumpuk setelah dua hari tidak masuk kerja.


Semua orang termasuk CEO tahu siapa Fredella sebenarnya, mereka sungkan berhadapan dan bekerja dengan istri dari investor terbesar perusahaan. Perlakuan istimewa ia terima, sebelumnya semua berjalan sebagaimana mestinya.


Inilah cara Dariel melindungi sang istri dari jarak jauh, membeli lebih dari separuh saham penerbit hanya untuk memastikan wanitanya dalam keadaan baik-baik saja, kendali bisnis pun berada di tangannya. Hingga tak satu orang pun berani mengusik Fredella.


**


Jakarta

__ADS_1


Beberapa hari berlalu, sidang perdana Nyonya Dominique digelar pagi ini. Dariel datang lebih dulu bersama kedua orangtuanya, selain itu Daniel mendampingin keluarga para korban yang merasa sangat dirugikan hingga menuntut Marisa.


Tidak tertinggal Bobby dan Ayu, pria ini ingin melihat bagaimana hakim menjatuhkan hukuman bagi seorang nenek yang tega membahayakan cucunya sendiri.


Bobby gelisah menanti sidang, mungkin lebih tepat menanti kehadiran seseorang yang menjadi saksi utama pada sidang.


Ayu melihat jelas bahwa suaminya menunggu seseorang, ia masih belum tahu bahwa Clarissa sangat dinantikan oleh suaminya. Ayu terlalu lugu, masih berpikir positif tentang Bobby.


Sidang mulai berjalan, tanda kehadiran para saksi belum terlihat, karena hakim masih mendengar penyataan dari tim pembela dan penuntut.


Setengah perjalanan, pintu terbuka menampilkan Clarissa duduk di atas kursi roda, didampingi oleh Tuan Dominique, maju melangkah ke tempat seharusnya. Wanta ini berusaha menghindari untuk tidak menatap Dariel di depan sana. Selain itu menahan tangis, menyesali keadaannya saat ini.


Tatapannya beralih pada Bobby, pria yang dahulu sangat gencar menyatakan cinta padanya kini telah membina rumah tangga bersama wanita lain, dan mereka segera menjadi sepasang orangtua.


Clarissa menatap sendu, menelan saliva lalu, mengeratkan tangannya pada Tuan Dominique. Semua terasa berat baginya, terjadi begitu cepat.


Mungkin bila waktu bisa berputar kembali, Clarissa akan menerima Bobby apa adanya, menjalani hidup bersama pria itu. Pasti buah hati mereka masih tetap hidup dan tumbuh menjadi putri yang menggemaskan.


“Aku hanya pengganti.” Lirih Ayu dalam hati, melihat bagaimana pancaran kasih sayang terlihat jelas dari kedua bola mata Bobby Armend.


“Ternyata wanita ini yang kamu tunggu, pantas sedari tadi gelisah. Apa mungkin kamu merindukannya?” Ayu ingin tahu jawabannya tetapi takut menyakiti hati yang sudah tersakiti.


Pernyataan para saksi pun mulai disampaikan satu per satu. Semua memberatkan Marisa Dominique, serta bukti-bukti kuat diberikan oleh Daniel. Semakin jelas bahwa ini tindakan yang disengaja untuk mencelakai seseorang dan kelalaian.


Sidang resmi ditutup dengan hasil bahwa Nyonya Marisa Dominique dijatuhi hukuman enam tahun kurungan. Selain itu Tuan Dominique menggugat cerai wanita yang telah memberinya satu putri. Ia sangat terpukul dan tidak mengerti jalan pikiran Marisa, hingga memutuskan perpisahan.


Clarissa menangis mendengar putusan hakim, menjadi anak tidak berbakti dan membuat kedua orangtuanya tidak lagi bersama.


Di atas kursi roda menumpahkan segala perasaan yang ada dalam hati. Dariel, Bobby dan Daniel menghampiri sahabat mereka, meskipun enggan, Dariel masih memiliki sedikit rasa iba kepada Clarissa.


“Terima kasih sudah mau bersaksi, aku tahu tidak mudah, tapi kamu hebat Clarissa.” Tutut Daniel mengulurkan tangan.

__ADS_1


Sedangkan Dariel hanya diam berdiri, menjaga jarak dengan Clarissa, ia hanya menyampaikan bahwa Clarissa wanita kuat pasti bisa menjalani semuanya, lalu memohon agar Tuan Dominique kembali bekerja bersama keluarga Bradley.


Berbeda dengan Bobby, bersedia meminjamkan bahunya sebagai sandaran Clarissa menumpahkan segala sakit dan lelah jiwa raga.


“Aku merindukannya Bobby, anak ... anak kita.” Tangis Clarissa.


“Aku juga, Greeta pasti bahagia di sana, terima kasih telah bersedia mengandung dan melahirkannya, aku akan tetap mengakui putri kita.” Tutur Bobby, menangkup kedua pipi Clarissa dan melabuhkan kecupan di kening sebagai rasa kasih sayang.


Pemandangan menyakitkan bagi Ayu. Ibu hamil ringkih ini bergeming sembari berdiri dan menyentuh perutnya.


“Apa kita harus mengalah? Dia sangat mencintai wanita itu, seharusnya kita tidak pernah hadir di kehidupannya.” Batin Ayu menangis, suaminya meninggalkan ia sendirian dan memilih mendekati Clarissa.


Seandainya saja Ayu bisa menjadi penawar luka hati Bobby, ia sangat bahagia, tapi sampai detik ini rasa cinta pria itu masih sangat besar kepada sahabatnya. Ayu marah dan cemburu, hal ini mungkin akan membekas selamanya.


“Ingat Ayu, kamu bukan siapa-siapa, hanya wanita yang hadir untuk melahirkan anaknya.” Ayu pura-pura tegar, mendekati suaminya. Ya anggap saja dia tidak melihat apapun dan baru keluar ruangan.


“Bobby? A-aku mencarimu.” Suara Ayu sedikit tinggi.


Seketika Bobby melepas tangannya dan berdiri, menyambut Ayu yang berjalan kepayahan.


“Oh ya kemarilah. Apa merasa lelah? Sebaiknya kita pulang sekarang.” Perhatian Bobby, menyesakkan hati Clarissa. Harusnya ia yang mendapatkan cinta dan kasih sayang Bobby Armend.


Satu per satu sahabatnya mulai pamit undur diri, meninggalkan Clarissa dalam kesendirian. Bukan hanya kehilangan cinta tetapi kehilangan sahabat dekat, menyakitkan hati, tidak tahu lagi kemana mencari tempat untuk singgah dan berkeluh kesah.


“Maafkan aku.” Lirih Clarissa.


...TBC...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2