
Tanpa menunggu lama, hari ini Aditya dan Vivie meluangkan sedikit waktu mereka untuk mencari cincin pernikahan yang diinginkan oleh mereka. Atau lebih tepatnya oleh Vivie, dan seperti biasa ini adalah perintah langsung dari Ariani kepada putranya.
“Adit, bagaimana dengan ini.. ” Vivie menunjuk sepasang cincin yang sangat indah menurutnya. Namun Aditya sepertinya sama sekali tidak perduli dengan itu.
“Pilihlah yang menurutmu paling cocok untuk kita.” Ucap Aditya acuh.
“Ini adalah pernikahan kita, ayolah sini, kau juga harus melihatnya.. ” Vivie menarik Aditya untuk melihat cincin yang diinginkan oleh Vivie.
“Ya itu bagus... ” Ucap Aditya, walau ia hanya melihatnya sekilas.
“Aku ke toilet dulu, ambillah, apapun yang kau sukai.” Aditya kemudian pergi meninggalkan Vivie sendiri.
“Dasar bodoh. Mau menikah denganku, tapi sikapmu saja seperti ini.” Gumam Viviean dalam hati.
Sebuah ketidaksengajaan membawa Bianca dan Jonathan ketempat yang sama dengan Viviean dan Aditya.
“Jo untuk apa kita ketempat ini, kita bisa mencarinya di seoul... ” Ucap Bianca.
“Tidak sayang. Aku hanya ingin memberimu hadiah. Dan kumohon kau jangan menolaknya. Ijinkan aku memberikan sesuatu untukmu.. ” Jonathan mencoba membujuk Bianca agar tidak menolaknya.
“Baiklah, aku tidak akan menolak mu kali ini.”
“Sekarang lihatlah, dan pilihlah.”
“Apa hanya aku yang harus memilih, apa kau tidak ingin memilih untukku Jo... ” Tentu saja Bianca tidak ingin memilih sesuatu tanpa Jonathan, karena dialah orang yang membawanya ketempat ini.
“Baiklah, mari kita pilih bersama.. ” Bianca menggenggam erat tangan Jonathan. Kemudian melihat-lihat lebih dalam, ke dalam toko perhiasan itu.
Mata Jonathan tertuju pada sebuah cincin yang ditempatkan tersendiri, cincin yang cukup indah, apalagi jika membayangkannya melingkar dijari manis Bianca.
“Bagaimana dengan ini Bianca... ” Jonathan menunjuk cincin yang sudah mencuri perhatiannya itu.
__ADS_1
“Iya bagus, aku suka... ” Jawab Bianca.
Tiba-tiba seorang wanita merapat ke perhiasan yang telah dipilih oleh Jonathan dan Bianca.
“Aku mau yang ini.... ” Seru wanita itu pada pelayan toko.
“Maaf cincin ini sudah dipilih oleh tuan dan nyonya yang ada disana nona... ” Terang pelayan kepada wanita yang tidak lain adalah Viviean.
“Tidak kau boleh mengambilnya, jika kau menyukainya nona... ” Bianca yang tanpa sengaja mendengarkan percakapan itu, akhirnya memutuskan untuk memberikannya pada wanita itu.
Dengan cepat Viviean berbalik dan melihat kearah sumber suara yang dengan sangat lembut memberikan cincin itu padanya.
Tatapan yang terasa tak begitu asing, jelas saja itu adalah wanita yang sama pernah ditemuinya di toilet beberapa hari lalu.
“Kau... ” Seru Viviean tidak menyangka bahwa dunia terasa sangat sempit sekarang.
“Ya. Viviean...” Ucap Bianca, sama tak menyangkanya dengan wanita yang ada dihadapannya itu.
“Kau ingin cincin itu? Ambilah, kurasa kau lebih menyukainya dibanding diriku.”
“Tidak. Ambilah. Aku tidak ingin merebut sesuatu yang telah dipilih lebih dulu olehmu.” Viviean menolak tawaran Bianca.
“Tidak masalah nona Viviean.” Lagi-lagi Bianca menunjukan kerendahan dirinya.
“Baiklah, terima kasih nona... Maaf aku belum sempat berkenalan denganmu. Siapa namamu.. ” Viviean mengulurkan tangan pada Bianca.
“Aku Biannn.... ” Tiba-tiba seseorang memotong ucapan Bianca.
“Apa kau sudah selesai.” Seseorang yang tak asing bagi Bianca menghampiri Viviean. Aditya.
Waktu berhenti beberapa detik, saat mata kedua orang itu saling bertatapan. Aditya dan Bianca. Entah ini sebuah kebetulan atau kesialan bagi mereka bertemu dalam keadaanya seperti ini.
__ADS_1
“Bianca.... ” Kalimat yang keluar dari mulut Aditya.
“Adit...” Ucap Bianca.
Sontak itu membuat Viviean tak menyangka, Bianca. Tentu saja dia tahu satu hal sekarang, bahwa wanita baik yang ada dihadapan mereka itu adalah mantan istri, dari calon suaminya.
“Ehmm.. Ehmmm... ” Dehem Jonathan.
“Aku Bianca, nona Viviean.. ” Bianca kembali memperkenalkan diri pada Viviean.
“Dan ini Jonathan, dia adalah tunangan ku. Kami akan bertunangan sebentar lagi.” Entah untuk alasan apa Bianca menjelaskan hal itu pada Viviean.
Seolah tidak ingin terlihat menyadari apa yang terjadi, Viviean bersikap seolah tak mengetahui apapun.
“Jonathan, Bianca. Kalian terlihat serasi sekali.” Puji Viviean.
“Ini Aditya, calon suamiku. Kami sedang mencari cincin pernikahan disini. Tapi sepertinya kau dan Aditya sudah cukup mengenal nona Bianca... ”
Bianca tersenyum simpul pada kedua orang yang ada dihadapannya itu.
“Tentu saja siapa yang tidak mengenal tuan Aditya, Satu kota Beijing, pasti mengenalnya.” Sahut Bianca, menutupi sesuatu yang sebenarnya sudah jelas diketahui oleh Viviean.
“Aku tidak jadi mengambil cincin itu Bianca. Kupikir kau lebih cocok.. ” Seru Viviean
“Siapa bilang? Kau lebih cocok menggunakan itu. Ambillah.” Tegas Aditya, agar Viviean tetap mengambil cincin itu.
“Ambilah, sepertinya calon suami anda lebih menyukainya, aku dan Bianca akan mencari ditempat lain.. ” Seru Jonathan.
“Kami permisi lebih dulu... ” Jonathan menarik pergelangan tangan Bianca sedikit keras. Meninggalkan tempat itu.
Bersambung...
__ADS_1