
BAB 68
“Kenapa pergi sendiri? Lain waktu jangan seperti ini lagi.” Dariel datang tepat beberapa detik sebelum buku jatuh menimpa kepala Fredella. Kota yang sama, gedung, waktu, bahkan rak buku sama, kejadian dua tahun lalu terulang lagi ketika mereka pertama kali kencan.
“Bukan begitu, kamu tidurnya sangat nyenyak. Mana mungkin aku bisa mengganggu.” Fredella menunjukkan deret gigi putih bersihnya, lalu mengambil buku tebal dari tangan Dariel, menuju kasir membayar semua buku dalam troli.
“Huh, kejadian yang sama, apa mungkin dia sengaja memerintahkan buku itu di simpan pada rak paling atas? Rasanya aneh setiap aku kesulitan pasti Dariel ada.” Senyum setipis kapas terukir pada bibir merah delima Fredella.
Mengantri di belakang pengunjung lain, lumayan membuat kakinya pegal. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman, menggerakkan kaki, berjinjit dan memutar bagian pergelangan.
“Kamu pegal? Aku bisa bantu.” Dariel mengeluarkan ponselnya dan Fredella tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya, pasti Dariel memerintahkan orang lain melakukan apapun. Mungkin meminta anak buahnya mengantri di sini.
“Tidak perlu Dariel, aku masih bisa mengantri.” Tolak Fredella, semakin sering dibantu maka ia akan selalu bergantung kepada suami keras kepalanya.
Tidak dipungkiri anggota gerak tubuh bagian bawah mati rasa, sedangkan masih ada lebih dari sepuluh orang mengantri.
Dariel tidak mendengar jawaban yang keluar dari bibir, karena salah satu organ itu paling mahir berdusta. Ia melihat dari bahasa tubuh dan riak wajah cantik istrinya tampak lelah.
Tidak mau beradu argumen, jemari Dariel menari di atas layar ponsel, seketika dua orang petugas mendatangi mereka.
“Selamat siang Tuan, mari kami bantu.” Seorang pria berseragam khusus mengeluarkan troli dari dalam antrian.
Fredella mengedipkan mata berulang kali, ada perasaan senang, bingung sekaligus sungkan. Akhirnya kedua kaki bisa bergerak bebas, namun kebingungan siapa dua orang yang menjemputnya? Lalu sungkan pada suaminya sendiri. Ia menundukkan sedikit kepala, menghindari kontak mata dengan Dariel.
Ehem
“Angkat kepalamu, memangnya tidak takut tersandung? Lihat jalan ke depan lebih baik.” Dariel menautkan jemarinya dengan Fredella, melangkah bersama menuju ruangan khusus.
“Maaf Tuan Muda, kami tidak tahu anda berkunjung ke pameran buku. Sekali lagi mohon maaf.” Wajah menyesal bercampur takut terpancar dari pria yang menjabat sebagai ketua panitia.
__ADS_1
Dariel membayar semua buku milik istrinya, tanpa memedulikan tatapan tajam Fredella. Ya wanitanya tidak mau lagi menyusahkan dengan membebani melunasi buku, tetapi gerakan Dariel lebih cepat mengeluarkan satu kartu andalannya.
Usai membayar semua buku, Dariel menyerahkan benda itu pada sopir dan pengawal pribadi. “Simpan dengan baik. Ikuti kami dari belakang.” Perintah putra satu-satunya Papa Rayden.
“Baik Bos”
Sepasang suami istri ini menuju salah satu restoran sederhana di 150 Shaftesbury Avenue untuk mengisi perut mereka.
Fredella lagi-lagi dibuat tercengang, bukan naik mobil mewah atau taksi melainkan menggunakan angkutan umum bus. Dariel terlihat santai menunggu kendaraan besar tiba di halte.
“Sabar sayang, semoga perutmu tidak berisik karena jarak menuju restoran kurang lebih dua puluh menit.” Menilik jam pada pergelangan tangan.
**
Tiba di salah satu restoran yang menyajikan makanan khas Asia terutama Indonesia, harum aroma rempah memanjakan rongga hidung. Bukan restoran mewah memang, tetapi pengunjung sangat ramai dan semua tamu yang merantau jauh Ke London.
“Hi Bro ... lama tidak bertemu, apa kabar? Semua hidangan menunggu, ayo masuk.” Sapa seorang wanita, sikapnya sangat luwes dan tidak lagi canggung, memeluk Dariel.
“Dilarang menekuk wajah. Nanti ku jelaskan siapa dia. Tersenyumlah sayang, nikmati makan siang terlambat kita di sini.” Dariel mencubit pelan pipi merona istrinya, tetap tidak menghilangkan rasa kesal di hati Fredella.
Pemilik restoran sangat ramah, membawa mereka pada suatu ruangan khusus di lantai dua, sedikit lebih tenang daripada bagian bawah. Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, menggunakan kursi roda, memeluk Dariel.
“Uncle akhirnya datang. Aku kangen.”
“Hi jagoan apa kabar? Uncle juga merindukanmu. Ah apa kamu semakin besar? Rasanya terakhir masih kecil sekali.” Dariel mengacak rambut bocah lelaki itu.
Fredella tersenyum memandang interaksi keduanya, sangat dekat layaknya ayah dan anak. Tapi dilihat dari ciri-cirinya bukan seperti pikiran negatif wanita bermata hazel ini. Mungkin telah mengenal cukup lama.
Anak laki-laki itu pun pergi setelah puas bercengkrama, melepas rindu dengan Dariel, apalagi makanan telah tersaji di atas meja.
__ADS_1
“Kamu ingin tahu siapa mereka, benar kan? Aku beri tahu, tujuh tahun lalu ayahnya meninggal, dan bayi kecil itu baru saja lahir ke dunia, mengidap penyakit tertentu sampai dia tidak bisa jalan. Aku membantu ibunya dengan mendirikan restoran ini, dulu aku belum memiliki banyak uang, hanya mampu membeli tanah sempit dan inilah hasilnya.” Dariel menengadahkan tangan.
“Kamu tidak perlu cemburu, karena mereka berdua adalah rekan ku.” Mencolek hidung bangir sang istri, menggoda Fredella yang tampak lega mendengar semua penjelasan Dariel sekaligus prihatin.
.
.
Setelah makan, Dariel membawa istrinya berjalan kaki menikmati keindahan senja di Sungai Thames. Dua orang ini berjalan santai seperti pasangan lain. Angin musim gugur bertiup cukup dingin, biasanya Fredella tidak menyukai hal ini, tapi sekarang berbeda karena ia bersama seseorang.
“Bagaimana kabar mom? Maaf aku belum bertemu dengannya.” Dariel mulai membuka percakapan, ia tahu istrinya ini tidak akan bersuara lebih dulu.
“Ah ya bukan masalah. Kesehatan mom baik, progres kemoterapi terlihat dan berjalan sesuai rencana.” Sahut Fredella mengakhiri pembicaraan keduanya.
“Kapan aku bisa bertemu dengan mom? Besok bisakah?” Dariel menahan langkah kaki istrinya dan menggenggam kedua tangan Fredella.
“Maaf aku untuk sementara waktu tidak bisa membawamu pulang.” Tutur Dariel menyesal sekaligus sedih, semua telah dipertimbangkan dengan matang. Sebab kondisi ibu mertuanya jauh lebih membutuhkan Fredella di banding Dariel.
Ia tidak mau egois, hanya karena cinta memaksa pulang istrinya. Mungkin sekarang lebih baik terpisah jarak sampai kondisi Nyonya Muda Matthew stabil.
Namun berbeda dengan Fredella, ia kecewa mendengar pernyataan suaminya. Bukan ini yang dinanti, harapannya terlalu jauh sampai terhempas.
“Sayang”
Dariel merangkum wajah manis, yang berubah sendu di depannya. Mungkin ini tidak benar tapi semua demi kebaikan bersama.
“Aku tidak mau menjadi egois lagi. Jaga dan rawatlah mommy sampai sembuh, aku akan memanfaatkan kesempatan terkahir ini sebaik-baiknya.Terima kasih sudah menerima suami jahatmu lagi. Mom jauh lebih membutuhkan anaknya, kalian terpisah sangat lama.” Tutur Dariel seketika senyum terbit di bibir merah delima istrinya.
“Benarkah ini alasannya? Kamu tidak keberatan kita menjalani ini semua? Aku takut ... takut kejadian lalu terulang.” Lirih Fredella, mengingat sesaknya tiba-tiba seorang wanita mengaku mengandung anak dari pria yang ia cintai.
__ADS_1
“Aku akan sering berkunjung ke sini, mungkin satu minggu atau dua minggu sekali. Ayo kita pulang sebentar lagi malam.” Ajak Dariel tapi langkahnya tertahan oleh Fredella.
...TBC...