IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 113 - Ragu-ragu


__ADS_3

BAB 113


Tiga minggu setelah Ayu dan Bobby resmi menyatakan kembali bersama. Mami Kezia  dan Papi Leo rutin mengunjungi kediaman Bradley, melihat tumbuh kembang Ethan. Anak itu semakin besar setiap hari, Mami Kezia selalu bersedih setiap melihat cucu pertamanya. Tentunya merasa bersalah atas apa yang pernah dilakukan.


Sekarang Ayu enggan kembali ke rumah Armend, ibu muda itu lebih memilih menunggu suaminya pulang. Alasan Ayu jelas semua, takut dan trauma menjadi satu, meskipun tidak pernah mendapat kekerasan fisik tapi seara verbal sering diterimanya.


Mami Kezia kecewa karena Ayu lebih memilih tinggal di rumah sahabatnya, dia juga jadi lebih pendiam dan menjawab pertanyaan secukupnya, tidak banyak bertanya semua hal.


“Ayu. Mami dengar kamu belajar di butik ya dan desain kamu salah satu yang terbaik, benar?” tanya Mami Kezia, rupanya Ayu memiliki kemampuan terpendam. Kezia merasa bangga menantunya bisa menembus rumah mode terbesar di Inggris itu.


“Iya Mih.” Jawab Ayu singkat, ia kembali memusatkan perhatiannya kepada Ethan.


“Mami boleh minta tolong? Kamu bisa kelola butik Mami. Kapan-kapan kita main ke sana ya.” Ajak Mami Kezia, berharap menantunya setuju, dan ini sebagai salah satu jalan Kezia untuk lebih dekat dengan Ayu. Ia ingin memberi menantunya kewenangan di butik keluarga.


Ayu tidak menjawab, melainkan hanya diam terus memandangi Ethan. Normalnya orang lain akan senang mendapat tawaran luar biasa ini, tap bagi Ayu merupakan beban. Lagi-lagi takut mengecewakan mertua karena tidak sesuai harapan.


Ayu tidak ingin disalahkan untuk kedua kalinya, lebih baik ia menolak. Lagipula masih banyak junior Mami Kezia yang lebih kompeten dan pengalaman dalam segala bidang.


“Maaf mih, tapi Ayu belum siap kalau harus meninggalkan Ethan seharian di rumah.” Jawab Ayu lebih mementingkan putra kecilnya dibanding karir.


Kalau hanya uang, ia pun bisa mendapatkan setidaknya cukup untuk membeli susu dan makanan Ethan setiap bulan serta tabungan sekolah anak. Ayu menjual karyanya ke rumah mode itu, dan mereka bersedia membayar dengan harga sesuai.


“Bagaimana kalau kamu pikir-pikir dulu Ayu, kamu mau kan?” Mami Kezia memastikan sekali lagi. Usianya yang semakin bertambah serta fisik tidak lagi bisa bekerja, memaksa ibu tiga anak ini harus pensiun dini mengelola butiknya.


“Iya Mih, nanti Ayu coba diskusi dengan kakak … maksudnya Bobby.” Jawab Ayu, padahal ia ingin bertanya lebih dulu kepada Dariel dan Fredella. Bagaimanapun Ayu menghargai kedua orang yang telah bersedia menampung dan mengubah hidupnya menjadi seorang wanita berbeda. Bukan lagi gadis polos dari desa tanpa keahlian apapun dan dipandang sebelah mata.


“Makasih Ayu, Mami yakin Bobby pasti setuju.” Mami Kezia sangat senang setidaknya Ayu mau mempertimbangkannya lagi.


.

__ADS_1


.


Selepas kedua mertua pulang, Ayu langsung menceritakan semua kepada Fredella, sebab dia bingung antara menolak atau tidak. Di satu sisi ingin menolak karena tidak nyaman, tapi sisi lain kasihan kepada ibu mertuanya.


“Jadi Ayu harus pilih apa kak? Mami Kezia benar-benar berubah, tapi Ayu takut ini hanya sementara, dalam hatinya masih belum menerima Ayu.” Bimbang Ayu Jelita, mengupas semua apa yang dirasakan di dalam hati.


“Ambil saja Ayu. Sebenarnya ini kesempatan emas untuk kamu, bisa menunjukkan kalau Ayu bukan lagi perempuan yang mereka kenal sebelumnya. Kemampuan kamu juga semakin berkembang bukan hanya menggambar tapi mengelola keuangan, bagaimana menghandle pelanggan, memenuhi semua keinginan mereka. Percaya sama aku kalau Ayu Jelita pasti bisa.” Saran Fredella, begitu menggebu. Karena memang ibu dari Theo dan Vale ini memiliki jiwa berkarir, bahkan ia berencana bekerja setelah dua bayinya besar.


“Terima kasih ya kak sarannya. Ayu jadi lebih percaya diri, tapi masih belum siap setiap hari bertemu Mami.” Balas Ayu, membayangkan bagaimana harinya dilewati bersama ibu mertua dari pagi sampai sore, mungkin malam juga. Karena setelah Bobby kembali ke Jakarta pasti membawanya pulang ke kediaman Armend.


“Ayu, kamu tahu? Teleponmu berisik dari tadi, pasti Bobby. Sebaiknya kamu terima daripada pria itu depresi lagi.” Gurau Fredella, berjalan keluar dari kamar Ayu.


Demi apapun Ayu tidak mendengar suara telepon, mungkin karena terlalu fokus pada topik pembicaraan.


“Ya ampun.” Pekik Ayu melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari suaminya. “Maaf Bobby.” Lirih Ayu, berusaha menghubungi suaminya. Tapi sudah dua kali tidak tersambung sama sekali, Ayu berpikir Bobby pasti marah.


Berselang dua menit, Bobby menghubungi istrinya, tidak buang waktu Ayu menerima panggilan video itu dan mengarahkan pada Ethan. Bayi yang sudah bisa duduk sembari bermain sendiri di atas karpet.


“Halo anak Daddy, sebentar lagi Daddy pulang. Pasti kamu kangen kan? Maaf Daddy perginya lama.”


“Ethan, di mana Mama? Kenapa setiap kali telepon hanya kamu yang Daddy lihat. Mungkin ponselnya bergerak sendiri ya?”


“Ayu jangan bersembunyi di belakang kamera! Apa kamu sengaja membuat suamimu ini rindu berat? Apa ini bagian dari rencana kamu untuk menyiksa aku, sayang?”


Bobby masih bicara seorang diri, dengan Ethan sesekali membalasnya, berteriak bahkan tertawa melihat sesuatu bergerak di layar ponsel.


“Anak baik, Daddy pulang ya. Nanti kita main bersama, Ethan mau kemana? Berenang atau jalan-jalan sama Daddy?”


“Ayu. Sayang. Aku harus pergi. Boleh aku lihat kamu menggendong Ethan, sebagai obat rindu.”

__ADS_1


Pinta Bobby, suaranya memelas dan riak wajah bersedih.


Sebenarnya Ayu malu, untuk menunjukkan diri, hatinya selalu berdebar tidak tentu. Tapi karena sudah tiga minggu ini selalu sembunyi, akhirnya ia menuruti permintaan suaminya.


Menyimpan benda pipih bersandar pada bingkai foto. Digendongnya Ethan dan duduk berdua melihat Bobby yang sedang berjalan tanpa henti.


“Jangan malu sayang. Apa yang harus kamu tutupi? Jangan pernah seperti ini lagi ya. Kamu harus percaya diri. Sekarang katakan kalau kamu kangen aku, ayo.”


Goda Bobby, mengedipkan sebelah mata adalah salah satu jurus casanova-nya.


“Apa? Tapi aku … Aku bagaimana mungkin …” Ayu menghela napas, ia rindu tapi dalam hati, semua kalimat itu tertahan di bibirnya yang terkunci rapat.


“Ayo sayang, ingat ya kita ini mulai menjalin hubungan dari awal, anggap saja sebagai bumbu pernikahan.”


Bobby masih setia menunggu istrinya mengucapkan beberapa kata yang akan membuat hati seorang mantan casanova senang.


“Bobby pulanglah, Ethan … maksudnya Aku dan Ethan kangen kamu.” Ucap Ayu sedikit senyum, menahan rasa malu.


“Katakan sekali lagi tanpa Ethan, dia sudah jelas merindukan Daddy-nya.”


Bobby masih terus menggoda Ayu, sungguh menyenangkan melihat semburat merah dari pipi wanitanya.


“Bobby, aku … aku kangen kamu.” Akhirnya bibir Ayu lantang menyampaikan isi hatinya.


“Ok sayang, On my way.”


Bobby mengakhiri sambungan telepon, sedangkan Ayu mencerna maksud kalimat terakhir yang diucapkan sang suami.


TBC

__ADS_1


__ADS_2