IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
IMPERFECT MARRIAGE Episode.46


__ADS_3

📍Daxing Beijing International Airport.


Christianto Darmawansa dan Larasati, sudah mendarat di kota yang beberapa tahun telah mereka tinggalkan itu. Kota dengan sejuta kenangan. Meskipun tidak ada kata seperti itu yang keluar dari mulut mereka, namun hati kecil merka diam-diam merasakanya.


Diperjalanan menuju kediaman Darmawansa.


“Bukankah, telah banyak perubahan disini, yah.. ” Seru Larasati, saat memperhatikan jalan yang mereka lalui.


“Kau terlalu berlebihan, kota ini terlihat sama saja saat terkahir kita tinggali.. ” Seru Darmawansa.


“Tapi menurut ibu, telah banyak perubahan disini, lihat gedung yang disana... Terakhir kita pergi itu belum ada... ” Tunjuk Larasati.


“Bianca pasti begitu merindukan kota ini, anak itu, kuharap dia selalu bahagia..” Rancu Larasati.


“Apa yang kau katakan itu bu? Tentu saja putri kita akan bahagia. Bahkan dia jauh lebih bahagian saat bersama kita.”


“Ya dia memang selalu terlihat bahagia, namun dia hanya tersenyum saat bersama kau, aku, dan minyo... Apakah benar putri kita itu bahagia yah... ” Tanya Larasati. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam, dia sangat bisa merasakan betapa beratnya bagi Bianca menghadapi semua ini. Bahkan sangat jelas bahwa putrinya itu hanya sedang berusaha terlihat bahagia.


“Tenanglah jangan menjadi bersedih seperti itu, ingatlah, dia sudah melalui banyak hal, dia putri kita yang kuat. Pecayalah padaku. ” Seru Darmawansa menenangkan istrinya, yang terlihat bersedih.


📍Herlambang Group


📞Nomor tidak diketahui


“Tuan Darmawansa dan nyonya Larasati telah tiba..”


“Bagaimana dengan Bianca, apa dia tidak ikut?.”


“Maaf tuan tidak ada nama nona Bianca Christina dipenerbangan itu! .”


“Apa-apaan ini, apa kemana orang itu. Kau harus memastikan lagi, apakah benar tidak ada wanita muda yang ikut dengan mereka.”


“Baik saya akan tetap mengawasi mereka tuan. Dan saya juga mau menyampaikan bahwa tuan Andof siap membantu anda. Ia akan melakukan persis seperti yang anda katakan tuan... ”

__ADS_1


“Ya itu berita bagus, sampaikan padanya. Kupastikan dia akan menerima imbalan yang setimpal karena kebaikannya. ” Seru Aditya Puas.


“Baik akan segera saya sampaikan... ”


Belum sempat, Aditya bertanya lebih banyak mengenai mantan ayah dan ibu mertuanya itu. Seseorang masuk dengan seenaknya, tanpa mengetuk dan mengatakan sesuatu.


Tit. Panggilan Aditya akhiri.


“Apa aku menggangumu Aditya...” Seru Vivie.


“Apa yang kau lakukan? Kemana saja kau? Bukankah kau bilang akan mengantar rekap keuangan perusaanku?



“Aku sedang tidak enak badan kemarin, ini berkas yang kau inginkan.. ” Ucap Vivie, kemudian memberikannya kepada Aditya.


“Baiklah, kau boleh pergi sekarang, istirahatlah, jika kau masih tidak sehat.. ” Suruh Aditya.


Mendengar ucapan Vivie barusan, Aditya merasa ada sesuatu yang aneh dengan wanita itu. Sejak awal bertunangan Vivie bahkan sepertinya tidak begitu tertarik melakukan hal seperti ini, lalu mengapa sekarang tiba-tiba saja mengajak makan siang?


“Baiklah, kurasa kau tidak ingin makan siang bersamaku, aku pergi sekarang... ” Pamit Vivie.


“Tunggu.. ” Tahan Aditya, “Baiklah, mari makan siang bersama.. Tunggulah sebentar lagi, biarkan aku mengecek berkas ini dulu.”


Vivie hanya bisa tersenyum puas karena Aditya menerima ajakanya.


“Mungkin dengan cara seperti ini, kau bisa perlahan-lahan mencintaiku Aditya. Malam itu, saat kau menyebut nama Bianca, aku semakin takut, kehilanganmu. Aku tahu kau mencintainya, tapi wanita itu sudah pergi jauh seharusnya ini akan lebih mudah bagiku untuk mendapatkan hatimu perlahan-lahan.” Batin Vivie.


Drett... Drett...Drett.... Ponsel Aditya kembali berdering.


Nomor tadi kembali menghubungi Aditya.


“Bisakah kau keluar aku ingin menerima telpon ini sebentar.” Pinta Aditya, agar Vivie meninggalkan ruanganya.

__ADS_1


Setelah yakin bahwa Vivie sudah benar-benar pergi barulah Aditya menjawab telpon tersebut.


“Ada kabar apa lagi sekarang... ” Tanya Aditya.


“Maaf tuan. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tuan Androf akan menemui tuan Darmawansa besok malam. Apakah tuan Androf harus menandatangin semua berkas itu. Atau menahanya? Karena sampai sekarang nyonya Bianca belum muncul. Saya khawatir jika tuan Darmawansa akan segera meninggalkan Bejing lagi, ketika telah meyelesaikan urusanya... ”


“Jangan mempermainkan orang itu. Biarkan dia menandatangani semuanya. Tidak perlu menahannya... ” Seru Aditya.


~Panggilan diakhiri~


Aku memang ingin mengetahui keberadaanmu, namun tidak dengan mempermainkan keluarga Darmawansa. Setidaknya, dengan menandatangani kerja sama itu, perusahaan Darmawansa akan baik-baik saja.


“Kemana kau sebenarnya? Keluarlah dari persembunyianmu sekarang. Bukankah ini sudah terlalu lama Bianca... ” Pikir Aditya.


Kini Aditya benar-benar tidak berselera lagi untuk makan siang. Beruntung William datang tepat pada waktunya.


“Kebetulan sekali kau ada disini, bawahlah Vivie makan siang bersamamu. Aku sedang tidak ingin makan... ” Seru Aditya kepada kakak angkatnya itu.


“Tidak. Aku tidak mau, dia ingin melakukan itu bersamamu.” Tolak William.


“Baiklah, kalau begitu. Kita biarkan saja dia terus menunggu, sampai dia benar-benar pergi dari sini... ”


“Kau keterlaluan sekali. Baiklah hanya kali ini aku membantumu... ” Pasrah William, tentu saja itu karena satu hal, dia tidak ingin. Vivie kelaparan hanya karena menunggu si bodoh Aditya.


Setelah berurusan dengan manusia keras kepala itu. William memutuskan menghampiri Vivie diruang kerjanya.


“Apa kau keberatan jika makan siang denganku.. ” Tanya William yang salah tingkah didepan Vivie


“Kemana Aditya? Aku sudah ada janji denganya... ” Ujar Vivie.


“Justru itu. Aditya mendadak saja ada urusan jadi.... ” Ucap William terhenti.


“Baiklah. Ayo makan bersama... ” Potong Vivie, yang memahami maksud dari William.

__ADS_1


__ADS_2