IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 82 - Perdebatan


__ADS_3

BAB 82


Setelah menjalani pemeriksaan dan serangkaian tes, memang benar wanita bermata hazel itu tengah mengandung. Usianya lima minggu lebih empat hari, hanya saja kandungannya lemah, sangat-sangat memerlukan perhatian khusus dan bedrest selama satu bulan.


Nenek mendampingi Fredella yang mulai siuman, kepalanya pusing dan kerongkongan terasa kering.


“Nek, mau minum, haus.” Fredella memijat kepala bagian belakang, lalu rasa mual tiba-tiba menyerang sampai perut melilit dibuatnya.


“Mual”


Fredella turun dan sedikit berlari menuju toilet, memuntahkan makanan yang ia makan pagi ini. Rasa pusing pun masih ada sampai dirinya terkulai lemas memegang erat pada meja wastafel.


“Hati-hati nak, kamu jangan terlalu cepat kalau bergerak, kasihan cicit nenek.” Ujar Nyonya besar Matthew.


“Cicit? Maksud nenek, aku hamil?” Bulir bening menetes membasahi pipi, seperti mimpi dan sesuatu yang tidak ia sangka.


Mungkin darah yang dilihatnya tadi adalah tanda kehamilan, tetapi cukup banyak, sangat tidak masuk akal pikirnya. Karena tidak memiliki pengalaman apapun, Fredella memaksa diri tetap tenang, ia akan bertanya semua seputar kehamilan kepada Dokter Obgyn.


“Iya Brianna. Usianya hampir enam minggu. Kamu hanya perlu menjalani USG, selamat nak. Tapi kamu harus menjaganya dengan baik, karena keadaan kalian lemah, dokter memberi saran untuk istirahat total selama satu bulan.” Terang Nenek yang juga merasa bahagia, benar-benar anugerah bagi keluarga besar.


“Tapi aku kerja, memangnya bisa cuti selama itu?” Fredella mulai bimbang, di satu sisi harus menjaga calon buah hatinya, tapi di sisi lain ia memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pegawai.


Tidak mau memanfaatkan status sebagai istri dari pemegang saham, sebab akan menghancurkan karirnya.


Terlalu lama berpikir tentang kedua hal itu, sampai Fredella lupa mengabari Dariel. Tidak ingat sama sekali, selain masih kesal ia juga berpikir bagaimana caranya mendapat izin selama itu.


“Nyonya Bradley, akhirnya anda siuman. Mari ikut kami, dokter menunggu di ruangan.” Perawat membantu Fredella duduk di atas kursi roda, mendorongnya sampai memasuki ruang spesialis kandungan.


Fredella merasa jantungnya berdebar tidak karuan, ia ingin melompat dan menenangkan diri. Rasanya tidak sabar menanti buah hati lahir, sesuatu yang sangat dinantikan.


Seketika itu juga teringat akan Dariel, pasti sangat bahagia mendapat kabar bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah.


“Dokter, boleh saya telepon suami. Dia tidak ada di Inggris, jauh. Boleh ya dokter?” Ibu hamil ini mengiba dan memohon.

__ADS_1


Tidak buang waktu, jemari lentik Fredella langsung menelepon suaminya, dengan catatan tidak mengganggu proses pemeriksaan.


Panggilan video mulai tersambung, Dariel berbaring di atas ranjang, tergulung oleh selimut tebal dan beberapa kali bersin.


“Sayang ada apa? Kamu di mana?” tanya Dariel tanpa mendapat jawaban.


Namun Dariel tetap setia mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, termasuk melihat proses USG.


Dariel juga menyadari istrinya menangis, tapi ia belum sadar bahwa di layar besar yang menggantung ada calon anaknya. Pria ini malah berasumsi sang istri terserang penyakit lain.


“Sayang, Ok. Kamu tenang. Kita jalani bersama, aku ada untukmu, jangan takut.” Ucap Dariel menenangkan istrinya padahal panik sendiri.


Dokter tertawa, melihat interaksi keduanya, lalu mulai menjelaskan pada sepasang calon orangtua mengenai kondisi kehamilan.


Kandungan Fredella dalam keadaan lemah, harus istirahat selama satu bulan, tidak boleh melakukan aktifitas berat, untuk hubungan suami istri pun dilarang keras. Selain itu usia kandungan lima minggu, baru nampak kantung janin di dalam sana, untuk sementara aman karena hamil dalam rahim.


Fredella disarankan melakukan check up kembali pada usia kehamilan tujuh minggu, sebab pernah mengalami operasi pengangkatan saluran indung telur, jadi dokter sangat memperhatikan pasiennya.


Dokter memberi beberapa suplemen untuk membantu melengkapi nutrisi ibu, serta obat penguat kandungan. Namun Fredella masih harus menginap di rumah sakit selama dua hari ke depan.


Pertanyaan Fredella memancing Dariel untuk protes dan benar saja, pria dibalik selimut itu mengomel serta mengamuk. Ia mengancam kalau sampai istrinya berani keluar rumah satu langkah pun, maka semua investasi akan ditarik dan berakibat pada goyahnya perusahaan penerbit.


Perdebatan kecil terjadi antar sepasang suami istri di ruang dokter kandungan.


Fredella merasa Dariel terlalu berlebihan sampai memberikan ancaman yang merugikan seluruh pegawai. Sedangkan bagi Dariel, hal wajar menjaga istri dan calon anak, memang untuk itu ia membeli saham dalam jumlah besar.


“Aku ke sana sekarang juga.” Suara Dariel sebelum mengakhiri panggilan video.


**


Jakarta


Kediaman Keluarga Bradley

__ADS_1


Menerima kabar bahwa istrinya sedang hamil apalagi dalam keadaan lemah, secepat kilat Dariel mencari surat-surat penting, memasukkan ke dalam tas, serta membawa MacBook.


Tidak peduli lagi pada diri sendiri yang tengah flu berat, karena ia harus memastikan istrinya aman, tidak melakukan apapun selain istirahat.


“Tunggu aku sayang.” Gumamnya sembari tersenyum pada potret cantik.


Dariel menghubungi Asisten Indra, untuk mengatur jadwal dan mempersiapkan pesawat.


Pria blasteran ini turun ke lantai satu, kabar baik yang harus disampaikan pada seluruh anggota keluarga.


“Kenapa sayang? Kamu bukannya sakit?” tanya Mama Nayla mengamati penampilan Dariel.


“Ma, istriku di rumah sakit, aku harus ke Liverpool sekarang. Fredella hamil mah.” Dariel menggenggam erat tangan lalu memeluk mamanya, meluapkan rasa bahagia.


“Serius? Selamat ya sayang, ah tunggu, mama harus ikut, mama mau menjaga calon cucu mama. Sebentar Dariel.” Mama Nayla menyambar ponsel dan menghubungi suaminya, untuk meninta izin ikut bersama Dariel.


Siapa sangka, kabar bahagia ini di sambut antusias dan Papa Ray turut ikut menjenguk menantu cantiknya.


Pukul tiga sore pesawat bertuliskan RB mulai mengudara di langit, sepanjang perjalanan Dariel selalu melihat rekaman layar. Menampilkan gambar hitam dengan lingkaran di bagian tengah. Sesekali melirik pada kedua orangtuanya, selalu mesra walaupun usia tidak lagi muda, saling menjaga satu sama lain.


Dariel ingin kehidupan pernikahannya kelak sama seperti Papa Ray dan Mama Nay, tidak ada perpisahan atau mendua dari pasangan atas kekurangan atau ketidakpuasan terhadap rekan sehidup semati.


Dalam hati Dariel berjanji, mempertaruhkan semuanya untuk menjaga anak dan istrinya. Bahkan ia mengambil cuti selama satu bulan, hanya untuk menemani Fredella di Liverpool.


Melewati fase awal kehamilan tidaklah mudah, ia juga mendengar kalau istrinya muntah sampai tubuhnya lemas, tidak kuat berjalan keluar kamar mandi.


“Son, jangan khawatir pekerjaan. Papa akan urus semuanya. Lagipula saudarimu sudah bisa mandiri memegang kendali Farmasi, satu bulan lagi Papa akan mengumumkan pimpinan utama G&B pada publik, jadi kamu lebih leluasa mengunjungi dan menemani Fredella sampai melahirkan.” Tukas Papa Rayden begitu menyayangi ketiga anaknya.


“Terima kasih Pah, aku janji akan menjaga Fredella, sampai cucu papa dan mama lahir selamat ke dunia.” Dariel mengepal satu tangan, memberi semangat pada diri sendiri kemudian mencium mamanya yang duduk persis di samping Papa Ray.


“Dasar anak tidak tahu diri, aku yang memberimu cuti tapi malah mencium istriku.” Papa Rayden menyingkirkan Dariel dari hadapan istrinya.


“Lebih aneh kalau aku mencium Papa.” Tawa Dariel dan Mama Nayla memenuhi pesawat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2