
“Valerie?” Panggil seseorang yang baru saja datang bersama beberapa pengawal.
“Ar? Kamu datang? Aku pikir, kamu sudah pulang.” Tanggapan Vale, datar tanpa ekspresi.
Senang atau tidak hanya Valerie yang tahu. Semenjak bergabung dengan salah satu yayasan, hubungannya dengan Eberardo Mikhael cukup dekat. Keduanya terlibat misi besar dalam kegiatan sosial. Walau terpisah benua, Ar selalu menjaga komunikasi dengan rekannya, ia tidak peduli dianggap pengganggu, karena tak jarang Vale mengabaikan semua pesan dan telepon dari Eberardo.
Dari pintu lain anak laki-laki berusia tiga belas tahun tidak menyukai kedekatan itu. Ethan Adrian memilih keluar dari acara daripada harus menyaksikan sahabatnya yang hilang dekat dengan teman baru.
“Kak aku permisi, tolong jaga Natasha.” Ethan melepas tangan gadis kecil dan berjalan menjauh dari keramaian.
Mama Ayu menahan kepergian Ethan, dirasa tidak sopan, pergi ketika acara baru dimulai. Tapi Ethan yang tidak mau mendengar, tetap mantap melangkah. Tidak peduli akan kemarahan Opa Adam juga Aunty Stevi.
“Ethan, jaga sikap. Kamu kenapa? Ayo kembali ke taman.” Ayu memegang lengan putranya.
“Tidak mau mah, aku mau pulang. Tolong izinkan sopir mengantar aku pulang.” Sedih Ethan, dia merasa Vale sudah melupakannya karena ada sosok teman yang baru. Jelas lebih dewasa, dan mungkin sesuai dengan kriteria teman idaman Valerie.
“Ethan kamu itu kenapa? Kamu sakit? Mama panggil Dokter Dewa ya, kamu tunggu di sini.” Ayu khawatir putranya merasa tidak enak badan, karena Ethan terlalu sering bermain game.
“Aku sehat mah. Mamah tahu kalau Ethan tidak suka pesta kan? Oh iya ini kado untuk Mireya.” Ethan merogoh saku celana, menyerahkan kotak kecil berisi jepit rambut cantik, dia beli sendiri dengan uang hasil memenangkan pertandingan E-Sport.
__ADS_1
“Ya sudah kalau kamu mau pulang, mama tidak maksa ya. Jangan main game istirahatlah.” Mama Ayu memilih mengalah, melelahkan berdebat dengan Ethan yang keras kepala.
Putra tunggal Bobby Armend itu menguatkan hati tidak melirik Valerie dan Eberardo yang berdiri di pintu utama.
“Selamat tinggal Vale, aku akan tetap ingat kalau kamu itu sahabat terbaik.” Kata hati Ethan, mungkin ini saatnya menerima dunia baru.
“Ethan. Ethan kamu mau ke mana? Jangan pergi!” suara lantang Valerie, biarpun seorang gadis tapi suaranya sering membuat telinga orang sakit.
“Vale?” seketika Ethan memutar tubuhnya dan melihat sahabat yang dirindukan mendekat, diikuti Theodore dan Zac.
“Aku kangen kamu Ethan.” Valerie memeluk teman kecilnya sangat erat.
“Naik gunung? Mana bisa Vale? Tidak ada sinyal, aku tidak bisa hidup tanpa game.” Jawab Ethan langsung berkelana ke hutan, binatang buas dan sulitnya sinyal. Lalu bagaimana semua gamenya?
“Ck menyebalkan.” Valerie melepas tangannya dari lengan Ethan.
Tentu pemandangan ini tidak menyenangkan bagi Eberardo, selama ini Valerie tidak pernah ceria bersamanya, tapi dia berubah setelah melihat anak laki-laki lain.
“Siapa dia ya?” batin Ar terus memikirkan sesuatu, Ar pun langsung meminta salah satu pengawalnya menyelidiki siapa itu Ethan dan hubungannya dengan Valerie.
__ADS_1
Dan
Sekarang Ethan juga Ar saling beradu pandang, keduanya mengeluarkan aura permusuhan. Tapi harus menahan rasa kesal karena Valerie duduk di tengah-tengah dua anak lelaki.
“Lihat dia? Apa dia senagaja mau melihat siapa yang paling kuat, Ethan atau Ar? Ck gadis licik.” Sinis Zac pada adik sepupunya yang masih kecil saja sudah diperebutkan beberapa lelaki.
“Mereka hanya teman, kamu tidak boleh berpikir negatif.”
PLAK
Arkatama Denver Bradley memukul keras kepala adiknya yang selalu ingin tahu masalah orang lain.
“Sakit tahu kak, jahat sekali. Aku kan adikmu.” Zac memegang kepalanya. Mungkin saja benjol akibat pukulan Denver.
“Ikut aku.” Denver menarik Zac dan Theo, dua adiknya itu diseret mendekati Vale, menyingkirkan Ar dan Ethan dari sisi Valerie.
“Kalau tidak mau ada perang, kalian berdua duduk di sana, jaga Vale.” Seru Denver, sementara dirinya bersama Zoey dan Rea tertawa sembari meninggalkan kelima orang yang kini saling bertatap satu sama lain.
-Tamat-
__ADS_1
🙄