IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 108 - Perpisahan


__ADS_3

BAB 108


Ayu terperanjat melihat Bobby ada di dalam kamarnya. Mendelik tajam ke arah suaminya itu. Bahkan siap memukul menggunakan apa saja yang bisa diraih. Ia ingat sedikit teknik bela diri, sebelumnya Dwyne pernah mengajari Ayu, bahwa perempuan harus bisa melindungi diri sendiri.


“Kamu kenapa ada di sini? Cepat bilang, apa yang kamu lakukan di sini?” Ayu melirik sisi ranjang, tampak berantakan dan sudah dipastikan bahwa Bobby semalaman tidur dengannya.


“Tidur sayang. Aku hanya tidur tidak lebih.” Jawab Bobby, suaranya lemas usai membaca pesan.


“Ayu … kenapa kamu ingin berpisah? Katakan! Apa tidak ada jalan lain untuk kita tetap bersama? Sampai kapanpun, aku tidak akan menceraikan mu, dan kamu tetap istriku, selamanya. Apapun aku lakukan, demi pernikahan kita tetap utuh.” Bobby sedikit sedikit terpancing emosi dan membentak Ayu.


“Tanya ke diri kamu sendiri, jawaban semua kamu tahu Bobby. Sebaiknya kamu pulang dan tanda tangani suratnya, kita ketemu di sidang pertama. Aku juga mohon jangan berusaha merebut hak asuh Ethan, aku ibunya, aku mengandung dia dalam penderitaan, aku melahirkan tanpa ayahnya, meregang nyawa di mobil demi melahirkan anakku. Aku bisa membesarkan Ethan tanpa kamu Bob.” Ungkap Ayu, pecah sudah apa yang ia tahan, hampir semua isi hati Ayu keluarkan.


“Di mobil? Kamu melahirkan Ethan dalam mobil?” lirih Bobby tidak menyangka seberat itu jalan hidup istrinya.


“Iya. Aku mohon tinggalkan aku dan Ethan. Hiduplah bahagia tanpa kami, aku dan Ethan pun begitu, kami bisa menjalani semuanya sampai sejauh ini.” Ujar Ayu, sama-sama terpancing emosi, bahkan darah terasa mendidih dalam tubuh.


Bobby keluar membawa Ethan, merasa perlu melakukannya.


“Mau kamu bawa kemana anakku? Jawab Bobby, kamu tidak ada hak sama sekali mengasuh Ethan.” Ayu mengejar suaminya, menuju pintu kamar lain. Rupanya Bobby menitipkan Ethan kepada Denna. Ia tidak mau putra kecilnya melihat pertengkaran.


Ayu yang mengerti diam saja lalu kembali ke kamar, segera menutup pintu. Tapi sebelum benar-benar rapat, Bobby menahan dengan kaki, sekeras apapun Ayu mendorong tetap tidak tertutup sempurna.


“Ayu, kita perlu waktu berdua untuk bicara.” Bobby masuk, mengunci pintu. Memegang kedua bahu istrinya.


“Lepas! Aku memang bodoh, untuk itu tidak mau mendengar semua apapun yang keluar dari mulut kamu. Aku tidak menerima penjelasan apapun.” Bentak Ayu, ia tidak mau goyah, keputusannya telah bulat tanpa celah.

__ADS_1


“Aku minta maaf. Aku akui semuanya, maaf mengabaikan kamu sewaktu hamil. Bermain hati dan belum melupakan dia, tapi kamu …” belum sempat Bobby menjelaskan semuanya, Ayu menyela pembicaraan.


“Tapi kamu apa? Aku menghalangi kamu dan Clarissa, begitu? Bukannya kamu ingin kita berpisah, benar kan? Kamu lebih memilih dia dibanding aku istri kamu, saat itu aku mengandung Ethan dengan mudahnya kamu berencana menggantikan posisiku. Sekarang aku tidak peduli lagi, silahkan ganti dengan Clarissa. Tapi jangan bawa Ethan, aku tidak mau putraku hidup bersama kalian berdua.” Geram Ayu, berusaha kuat tidak meneteskan air mata  sama sekali, meskipun hatinya tidak rela Clarissa kembali dan bersama Bobby.


“Aku ini hanya perempuan desa, kampungan selera ku buruk. Aku menyesal kenapa kita harus bertemu, kenapa harus aku yang menjadi petunjuk jalan kamu. Akhiri pernikahan ini Bob, lagipula Mami Kezia tidak merestui kita kan? Aku bukan perempuan yang merusak hubungan orangtua dan anaknya renggang.” Ayu membalik badan, menutupi mata yang mulai buram akibat kristal bening.


“Ayu, kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin. Clarissa hanya masa lalu tidak lebih. Pertama melihat kamu di desa, hati aku langsung memilih kamu, maaf kalau kita menikah dengan cara yang salah. Maaf kalau aku sempat memiliki pikiran buruk untuk mengganti posisimu, tapi sungguh Ayu itu hanya rasa bersalah sebagai seorang pria tidak lebih. Aku juga terpukul dengan meninggalnya Greeta, putri yang tidak pernah aku sayangi.” Bobby jatuh di atas lantai, kedua lutut membentur keras.


“Mami juga minta maaf Ayu, semua salahnya menyembunyikan kamu sampai kecelakaan terjadi dan pikiran Mami tidak tentu arah. Saat ini Mami sakit, tidak bisa berjalan. Dipastikan hidupnya hanya mengandalkan kursi roda.” Bobby juga merasa bersalah tidak bisa melindungi Ayu dari Maminya. Dua wanita yang ia cintai berseteru, dan ini sangat menyakitkan bagi Bobby Armend.


Hati lembut Ayu tergerak untuk peduli dan bertanya mengenai keadaan mertuanya, tapi dia urungkan. Semua kata-kata sengaja di kunci rapat, biar saja tidak perlu di dengar orang lain. “Maafkan Ayu Mih.” Lirihnya dalam hati.


“Ayu, aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu dan Ethan. Aku minta maaf sayang, jangan ada perpisahan diantara kita, hem?” Bobby memohon di depan istrinya, menggenggam kedua tangan Ayu.


Tapi semua tampak sia-sia, hati Ayu terlanjur mengeras, tetap kukuh dengan pendiriannya.


.


.


Beberapa minggu kemudian


Ayu pulang ke Jakarta, ia bersiap diri menghadapi mediasi di pengadilan, mencoba kuat menghadapi semua. Dukungan banyak diterima, tidak ada satu pun yang menyayangkan keputusannya, semua yakin apapun pilihan Ayu, pasti hal baik menunggu.


Selama ini juga Bobby tidak pernah mengganggu, menghilang tanpa kabar, Hanya bertanya tentang Ethan melalui Denna atau Oma Anggi.

__ADS_1


Ayu juga sedih, perasaannya masih kuat untuk Bobby Armend tapi luka di hati terlalu besar untuk di obati.


Mediasi pertama dihadiri Ayu bersama Daniel, pengacara kondang itu bersedia membantu perceraian sahabatnya. Bahkan dia mendukung Ayu, Bobby memang keterlaluan tetapi Ayu tidak memberinya kesempatan satu kali pun.


Di pertemuan ini, Bobby memilih tidak datang. Ia yakin akan mengemis dan mengiba agar Ayu mencabut perceraian ini, dan dia juga tidak mau menyakiti perasaan Ayu lebih dalam.


Bobby hanya diwakili oleh pengacara keluarga, dirinya akan melakukan apapun selama itu membuat Ayu bahagia, termasuk perpisahan.


“Ayu kamu siap? Jangan tegang ya, sampaikan saja semua, jangan ada yang ditutupi.” Ucap Daniel tidak hentinya memberi Ayu semangat.


“Iya ka terima kasih. Apa Bobby tidak hadir?” Ayu hanya melihat pengacaranya masuk ke ruang mediasi sendirian.


“Huum, dia tidak akan datang sampai putusan terakhir. Kamu jangan khawatir, prosesnya tetap bisa berjalan.” Tutur Daniel.


Daniel berjalan lebih dulu, sedangkan Ayu mengikuti di belakangnya, sedikit menunduk menutupi wajah merah menahan tangis.


Kaki Ayu melangkah masuk di saat bersamaan seseorang memanggil namanya begitu lantang, sangat jelas dan tatapan penuh luka.


“Ayu tunggu, jangan masuk!”


TBC


Besok udah puasa ya? Mohon maaf lahir batin semoga semua diberi nikmat sehat san lancar menjalani ibadahnya 🙏😇


 

__ADS_1


 


__ADS_2