IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 88 - Mendadak


__ADS_3

BAB 88


Jakarta


Ayu Jelita duduk di taman depan rumah Nenek Bobby, tidak ada yang istimewa, semua tertata rapi, ibu hamil ini paling senang memandangi kolam ikan, gemericik dari suara air memberi ketenangan sendiri bagi Ayu.


Empat bulan lamanya Ayu diam di rumah, tidak keluar, bahkan ketika menginginkan sesuatu ia minta tolong asisten rumah tangga. Mami Kezia satu minggu sekali berkunjung, membawa semua perlengkapan dapur, tidak hanya itu pakaian bayi pun disiapkan oleh mami mertuanya.


Kamar lama Mami Kezia disulap senyaman mungkin, disesuaikan dengan kepribadian Ayu lemah lembut dan penuh kasih sayang.


Ayu mengelus perut besarnya, menatap warna warni ikan di kolam, berenang ke sana kemari terlihat bebas dan menyenangkan tapi apa bedanya dengan dirinya terkurung di dalam rumah, tidak bisa pergi kemanapun.


Satu minggu yang lalu Ayu melihat Bobby tepat di depan rumah Neneknya, perempuan hamil ini sudah pasrah jika memang harus bertemu dengan Bobby. Tapi suaminya hanya bertanya kepada penjaga rumah tanpa masuk ke dalam.


Ayu menghapus air mata yang jatuh, ini bukan keinginannya. Dalam mimpi selalu berharap Bobby menemani saat melahirkan nanti. Sebab perkiraan dokter kurang dari dua minggu buah hatinya lahir.


“Kita harus biasa berdua sayang, jangan mengharap apa-apa.” Ucap Ayu, masuk ke dalam rumah lalu naik ke lantai dua, menghabiskan waktu di peraduan sembari membaca buku parenting adalah kegiatan Ayu sehari-hari, selain itu kakinya mulai membengkak sejak usia kandungan tujuh bulan.


“Kenapa tiba-tiba tegang ya? Bobby apa kabar?” Tanya Ayu dalam hati, mendadak mengingat suaminya itu.


**


Kediaman Keluarga Armend


“Selamat siang Tuan.” Petugas keamanan menyapa anak dari majikannya, bukan balasan atau senyum tetapi Bobby sengaja menyenggol pria setengah baya itu sampai terhuyung ke belakang.


“Minggir, kalian semua minggir. Mami  di mana?” Tanya Bobby, kilat amarah terpancar dari kedua bola mata. Gurat pembuluh darat di tangan menegang, Bobby berteriak.


“Arrrghh”


“Mami? Mih, mami? Di mana? Ada hal yang ingin aku tanyakan, mami?”


Bobby mencari Mami Kezia sampai memasuki ruang kerja Papi Leo, dan apa yang mereka lakukan, bermesraan di ruangan itu.

__ADS_1


“Keterlaluan” Geram Bobby, di saat ia tengah mencari Ayu bisa-bisanya mendapati kenyataan menyesakkan, jika selama ini Ayu disembunyikan oleh Papi dan Maminya, masih area Ibu Kota, tapi sejauh ini Bobby belum menemukan apapun.


“Jadi anak yang sopan sama orangtua, apa kamu salah bergaul sampai begini? Istriku itu Mami kamu, dia yang hamil dan merawat kalian bertiga sampai sebesar ini. Jaga tata krama kamu Bob.” Papi Leo berdiri dan menggiring putranya untuk minta maaf.


“Minta maaf sekarang juga! Dengar ya Bob ini terakhir kali Papi dengar kamu manggil Mami dengan nada tinggi.” Marah Papi Leo.


Bobby enggan mengucap kata maaf, ia sakit hati dan lelah, pantas saja selama mencari Ayu kemana pun tidak ditemukan ternyata semua ulah kedua orangtuanya.


“Ayu di mana mih? Katakan mih di mana? Apa hati Papi dan Mami beku? Memisahkan anaknya sendiri dengan istri dan cucu Mami. Sebentar lagi Ayu melahirkan mih, aku mohon katakan di mana Ayu?” Bobby bersimpuh di bawah kaki wanita yang telah melahirkannya, ia tidak bisa lagi hidup dalam kesendirian dan bayang-bayang rasa bersalah.


“Biarkan Ayu sendiri Bob, kamu terlalu banyak menyakiti hati ibu dari cucu mami.” Telak Mami Kezia.


Merasa percuma dan membuang waktu, Bobby berdiri tersenyum tipis , lalu pergi ke luar rumah. Ia tidak peduli lagi dengan pekerjaan, prioritas utamanya mencari Ayu dan calon anaknya.


“Mana kunci mobil? Bukan pintunya sekarang juga.”


“T-tapi tuan, cuaca belakangan ini sering hujan lebat. Tuan jangan melewati jalan XX banyak pepohonan di sana, takut runtuh.”


“Terus masalahnya apa? Jangan ikut campur Pak.” Bobby tidak mengindahkan peringatan dari penjaga keamanan, sekalipun suara petir menggelegar, hujan mulai turun. Pria ini nekat pergi, apapun yang terjadi tidak ada yang bisa menghalangi langkah seorang Bobby.


Tiba-tiba petir menyambar pohon besar dan tinggi, beberapa ranting dan akar gantung jatuh menimpa jalan. Melihat hanya patahan kecil yang mengganggu, Bobby menginjak pedal gas sekuat mungkin untuk sampai di tempat tujuan.


Belum sempat mobilnya lolos, pohon besar sudah jatuh menimpa badan jalan, melintang dan menindih apapun yang ada di bawahnya.


Suara gemuruh petir dan hujan lebat bercampur teriakan banyak orang, melihat kejadian mengenaskan tepat di depan mereka.


**


Di sisi lain


Ayu sedang melihat hujan deras dari balkon kamar, satu gelas susu dan kue coklat menemani cemilan siang menjelang sore.


“Aw sakit, tadi menghilang sekarang sakit lagi.” Ayu mengusap perut buncitnya, rasa mulas kian menjalar, tidak sanggup lagi untuk berdiri sekalipun berpegangan pada sandaran kursi.

__ADS_1


Ayu sempat memejamkan mata, bayangan suaminya mendadak muncul dan meminta maaf.


“Hah, a-air apa ini?” Tanya Ayu memastikan bahwa tidak membawa cairan apapun berwarna bening ke dalam kamar. Melirik pada dress sudah basah kuyup, bahkan bercak darah menempel di serat kain.


“Sabar sayang, jangan di sini ya, mama harus ke rumah sakit” Dengan sisa tenaga Ayu berusaha berjalan mencari pertolongan, beruntung dua orang asisten rumah membantu.


Ayu dan kedua asisten rumah tangga serta seorang sopir menuju rumah sakit, melalui jalan yang biasa dilewati sebab tidak mungkin memutar, semakin jauh dan jalannya sempit.


“Pak, bisa minta tolong lebih cepat? Perut saya sakit.” Ayu meringis selama dalam mobil.


“Sabar Non Ayu, sebentar lagi kita sampai. Ini juga kenapa jalan macet? Biasanya sepi.” Seorang asisten rumah menyembulkan kepala keluar kaca melihat situasi.


“Mungkin hujan deras jadi semua orang keluar rumah pakai mobil.” Jawab seorang lagi.


Sementara sopir mencari tahu apa yang terjadi, pria berusia lima puluh tahun ini tidak tega melihat Nyonya Mudanya kesakitan, teringat istrinya di desa. Cukup lama ia menggulir layar ponsel, sampai menemukan berita bahwa penutupan jalan dilakukan akibat pohon tumbang.


“Ternyata pohon runtuh, ada korban satu mobil di duga nekat menerobos jalan. Semoga orang itu selamat ya.” Tutur sopir.


“Aduh sakit, eunngg ....” Ayu mengejan dalam posisi duduk.


“Non jangan, tahan dulu. Pak kita cari klinik dekat sini.” Asisten rumah tangga yang lebih berumur dan pengalaman memerintahkan sopir keluar dari kemacetan.


Karena tidak juga menemukan klinik, akhirnya terpaksa sopir keluar dari mobil mencari pertolongan tenaga medis.


“Non, saya memang tidak pengalaman membantu melahirkan, tapi saya selalu menemani keluarga melahirkan.” Sungguh bukan solusi yang didapatkan Ayu.


“Apapun itu tolong bantu, sakit, sakit sekali ... rasanya mengganjal di bagian bawah.” Ucap Ayu menunjuk pangkal pahanya.


Sontak kedua asisten saling pandang, menutupi tubuh bagian bawah dengan selimut, menyibak dress dan melepas c***** *****, mereka terkejut melihat kepala bayi pada bagian inti tubuh Ayu.


"Non?"


TBC

__ADS_1


 


__ADS_2