IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 94 - Di Balik Kaca


__ADS_3

BAB 94


Ayu mendadak gelisah dan bimbang, pasalnya semua diluar dugaan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk benar-benar pergi dari Bobby. Tapi siapa sangka rencana Dwyne mendapat dukungan dari Barra dan Brady.


“Ayu turun, kamu tenang. Tante Kezia bisa kami tangani, sekarang ikuti Dayana ya.” Perintah Dwyne, berjalan lebih dulu.


Rencananya harus berhasil sebab kesehatan mental Ayu juga menjadi pertimbangan mereka. Ethan kekurangan kasih sayang dari ibunya, Ayu lebih sering merenung, ditambah semua kalimat menyakitkan dari ibu mertua.


Dibantu Dayana dan Dokter Dewa, Ayu semakin yakin bisa masuk ke ruang ICU melihat suaminya dari jarak dekat.


Tapi langkah kaki Ayu terhenti melihat ibu mertuanya duduk di ruang tunggu, mendadak panik dan mengurungkan niat. Tapi Dayana memberi semangat, mungkin dengan kehadirannya bisa membuat Bobby membuka mata.


“Ayu, ingat tujuan kamu ke sini menjenguk suamimu kan? Katakan padanya kalau kamu pergi menjauh, semua demi kebaikan kalian.” Tutur Dayana mengambil alih Ethan dari pangkuan Ayu. Dokter muda itu menyerahkan tugasnya ke Dokter lain. Dayana dan Ethan menunggu di ruang khusus para Dokter.


“Pak Dokter, terima kasih atas bantuannya.” Cicit Ayu, hanya bisa meneteskan air mata, kenapa harus orang lain yang membantu untuk bertemu Bobby? Padahal masih ada keluarga Bobby.


“Sama-sama. Berikan kata-kata semangat untuk suami kamu. Dia koma Ayu, tapi telinganya masih bisa mendengar.” Dokter Dewa membawa Ayu masuk ke ruang ICU.


Sementara perhatian Mami Kezia teralihkan dengan kehadiran Dwyne dan Barra. Wanita paruh baya itu melamun di pelukan saudari kembar Dariel.


Di dampingi Dokter Dewa dan Dokter Bimo, Ayu mencoba kuat melihat suaminya dipenuhi alat-alat medis serta bagian tangannya dalam keadaan terbalut perban.


“Bobby.” Lirih Ayu, meneteskan air mata, membahasi masker yang ia gunakan.


“Mendekat Ayu, jangan takut. Kamu tidak akan mengganggunya.” Dewa tersenyum, mengulurkan tangan, memegangi ibu muda ini agar kuat berdiri di atas kedua kakinya.


Dari balik kaca, Ayu menangis ia tidak bisa pergi jauh dari suaminya. Di saat Bobby sakit seperti ini, apa mungkin dia bisa hidup tenang? Ayu menggelengkan kepala, pikiran dan batin saling beradu.


“Dokter? Kapan Bobby bangun? Kenapa dia dikelilingi benda-benda menyeramkan itu semua?” suara Ayu parau. Melirik beberapa monitor yang mengeluarkan suara khasnya.


“Kami hanya tenaga medis yang membantu, tidak bisa memastikan kapan pasien siuman. Tapi semua upaya terbaik kami berikan untuk pasien.” Ujar Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah itu, sebab detak jantung Bobby masih berada di bawah batas normal.

__ADS_1


Ayu tidak mengerti apapun, yang dia tahu ketika sudah mendapat perawatan, apalagi oeprasi pasti semua orang sakit sembuh.


“Bobby, bangun. Kamu tahu, aku sudah melahirkan, anak kamu ... anak kita merindukan ayahnya, buka mata Bobby demi Ethan.” Ayu tidak kuasa menahan tangisnya, dia menyandar di bahu Dokter Dewa, menyusut beberapa kali air mata yang selalu membasahi pipi tirus.


“Bangun jagoan. Jaga istri dan anakmu. Jangan lari dari masalah. Ayu dan Ethan membutuhkan pria yang bisa melindungi mereka.” Tambah Dokter Dewa, menoleh ke samping, lalu tersenyum.


“Ayu maaf, sesuai peraturan rumah sakit. Keluarga hanya bisa menjenguk tidak lebih dari lima belas menit. Pergilah, besarkan Ethan dengan baik, kamu harus bahagia, jangan terkurung di sangkar emas itu.” Dokter Dewa menepuk bahu Ayu, memberi semangat sebagai seorang kakak untuk adiknya.


Setelah keluar dari ruangan ICU, Dwyne dan Dayana menyambut Ayu dengan senyum. Keduanya membawa Ayu ke bandara. Siang ini juga Ayu ikut bersama Dariel pergi ke Inggris.


Awalnya, Barra ingin menitipkan Ayu ke sahabat kedua orangtuanya, tapi sama saja di sana sepi tidak ada seorang pun selain asisten rumah tangga.


Ayu tidak memiliki anggota keluarga lain, dia terpaksa mengikuti saran Dwyne, sementara waktu tinggal di Birmingham, demi kesehatan mental dan pertumbuhan Ethan yang akan mendapat kasih sayang.


“Ayo Ayu, Dariel menunggu kita di bandara.” Dwyne meraih tangan Ayu, membawanya masuk , karena sudah hampir sepuluh menit ibu muda ini masih memandangi gedung rumah sakit.


“I-iya kak.” Ayu memantapkan langkah menjauhi semua kenangan pedih di ibu kota.


.


.


Akhirnya keluarga mendengar kabar baik setelah lebih dari satu bulan menunggu dalam ketidakpastian. Wajah Mami Kezia kembali bersinar terang, ia yakin putranya segera bangun lalu sehat seperti sebelumnya.


Setidaknya ada satu alat yang dilepas dari tubuh lemah Bobby.


Dokter menyarankan agar Ayu setiap hari mengunjungi Bobby karena kehadirannya bisa dirasakan oleh pasien. Mendengar hal itu, Mami Kezia menentang, kesembuhan putranya bukan karena Ayu tapi murni keajaiban dari Sang Pencipta.


“Sampai kapanpun Mami tidak mengizinkan kalian membawa perempuan itu masuk menemui Bobby.” Tegas Kezia, memberi peringatan kepada dua putranya.


“Mami tenang, Ayu tidak akan menjenguk Bobby. Jangan sampai Mami menyesal mengetahui semuanya.” Tukas Barra, pergi meninggalkan Mami Kezia dan Brady.

__ADS_1


Ibu tiga anak itu masih setia berdiri, memandangi langit putra keduanya di balik kaca.


Tiba-tiba Mami Kezia merindukan Ethan, tidak sabar melihat putra dan cucunya bermain bersama, pasti menyenangkan menghabiskan masa tua dengan orang-orang yang disayangi.


“Brady? Mami mau pulang, kangen Ethan. Dia lagi apa ya?” Membayangkan wajah bayi yang semakin mirip dengan ayahnya.


“Tidur Mih, Mami jangan pulang ke rumah! Jangan buat keributan lagi Mih, kasihan Ayu.” Ucap Brady tanpa menoleh menatap ibunya yang mendelik tajam.


“Kamu tunggu di sini, Mami pulang sebentar.” Mami Kezia menghubungi sopir pribadi yang akan membawanya pulang ke rumah.


Suara rengekan Ethan, begitu jelas di telinganya, sudah beberapa hari ini tidak mengunjungi cucu pertama yang sangat dinantikan. Namun sekilas bayangan Ayu sedikit membuat suasana hati menjadi buruk.


Tiba di pelataran kediaman Armend, pengasuh dan beberapa asisten rumah tangga berhamburan keluar melihat Nyonya mereka pulang. Semua panik dan bingung bagaimana menjelaskan semuanya. Sebab pekerjaan menjadi taruhannya.


“Kalian itu kenapa? Di rumah aman kan?” Tanya Mami Kezia sembari melangkah masuk ke dalam. Ia melihat suasana lantai dua yang sepi dan tidak ada suara cucunya.


“Kamu, bawa Ethan ke kamar saya.” Perintah wanita cantik di usia yang tidak lagi muda ini.


“M-maaf Nyonya. Tuan Ethan dan Nona Ayu, keduanya pergi, maksudnya menghilang.” Pengasuh Ethan sudah menunduk dalam bersiap menerima apapun hukuman yang di berikan.


“Maksudnya? Kamu cari sekali lagi, mungkin Ethan di taman atau teras belakang.” Mami Kezia masih kukuh, dia tidak percaya semua yang dikatakan baby sitter. Mana mungkin Ayu seorang gadis desa pergi dari rumah mewah dengan segala fasilitas ini.


TBC


***


Maaf ya bestie kemalaman terus 🤧🤧🤧🙏


Mohon dimaklumi ketika dunia nyata menguras waktu


 

__ADS_1


__ADS_2