IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 73 - Salah Menjawab


__ADS_3

BAB 73


Mentari pagi tidak secerah biasanya, tetapi dalam kamar ini sepasang suami istri bersenda gurau. Apalagi Dariel selalu mengambil kesempatan, ia menawarkan untuk mencuci rambut istrinya. Memijat lembut kulit kepala Fredella, memberi kenyamanan layaknya profesional.


“Enak sayang? Kamu pelanggan istimewa dan satu-satunya, aku juga tidak meminta uang sebagai bayaran.” Bicara Dariel, mereka berdua memanfaatkan waktu bersama sebelum kembali berpisah.


“Iya nyaman. Apa kamu juga mempelajarinya? Maksudnya sekolah tentang ini?” penasaran Fredella. Tangan suaminya begitu lentur dan menyatu dengan kulit kepala memberi rasa menenangkan.


Dariel menatap lekat wajah Fredella, menyesap bibir merah delima yang mengeluarkan pertanyaan nakal kepadanya.


“Semua ku lakukan karena cinta. Apa yang tidak untuk istriku ini? Kamu orang pertama yang merasakan pelayan seorang Dariel. Jadi apa Nyonya bersedia memberi imbalan lebih?.” Seringai licik Dariel Bradley sembari membersihkan rambut panjang istrinya.


Sontak Fredella berdecak malas, mencebikan bibir. Sangat tahu apa keinginan suaminya,


“Kamu bilang tidak meminta uang sebagai bayaran, aku bukan wanita yang menghamburkan uang untuk biaya perawatan salon seperti ini.” Tantang Fredella, merubah posisi duduk, mendongak lalu menggapai tengkuk Dariel.


“Wow, santai sayang ... aku masih memiliki waktu sampai siang nanti. Apa yang bisa kamu berikan? Karena aku bukanlah dermawan yang memberikan sesuatu percuma kepada seorang wanita spesial.” Tatapan puja Dariel pada istrinya.


Semakin menundukkan wajah, meraih dagu lancip Fredella tapi seketika wanita ini menghindar, bergerak cepat sampai Dariel tersungkur, mendaratkan wajah pada sofa.


“Sayang? Apa yang kamu lakukan? Kamu harus tanggung jawab, wajah tampanku tergores.” Teriak Dariel dari dalam kamar mandi, tidak terima, dengan cepat berlari menyusul Fredella yang sedang tertawa.


“Lakukanlah selama kamu bisa tersenyum, apapun itu.” Batin Dariel bahagia, istrinya tertawa puas.


Memberikan wanita ini hukuman ringan, Dariel menghimpit wanitanya pada dinding, memenjarakan Fredella, menahan kedua lengan di atas kepala. Memagut lembut merah delima manis candunya, mengangkat tubuh wanitanya dan menyalurkan rasa cinta yang menggebu.


**

__ADS_1


Dariel membawa istrinya keluar rumah, mereka sarapan di salah satu cafe sederhana, jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin hanya lima belas menit berjalan kaki.


Sengaja Dariel tidak menggunakan apapun, menikmati setiap detik saling bertautan tangan. Siang nanti dia kembali ke Jakarta, sedangkan harus menunggu dua sampai satu bulan lagi hanya untuk bertemu pujaan hatinya.


Senyum bahagia tidak pudar dari bibir, sejak selesai mandi untuk kedua kalinya pagi ini, Dariel puas dan bangga pada maha karya Fredella, bahkan ia menjadi bulan-bulanan Daniel dan Rico di rumah. Fredella hanya menutup seluruh wajah, berjalan keluar mendahului suaminya.


“Kenapa tidak di tutupi?” cicit Fredella, tidak menyangka tanda merah di leher Dariel sangat jelas.


“Untuk apa menyembunyikan ini semua? Artinya hati, tubuh dan apapun yang melekat padaku hanya milik wanita ini, dia yang berani memberi stempel kepemilikan.” Bangga Dariel menunjuk lehernya.


Semburat merah pada pipi Fredella tidak bisa lagi ditutupi. Antara bahagia dan malu mendengar pernyataan sang istri.


“Atau punyamu juga ditunjukan ke semua orang, aku hapus benda itu dari sana.” Dariel mendekat, tangannya menyentuh leher jenjang Fredella.


“Jangan. Aku malu”


Setelah lebih dari dua puluh menit, mereka tiba di cafe sederhana. Dariel mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan tersenyum memotret beragam gaya istrinya. Kalau saja bisa ia tinggalkan tanggung jawab sebagai pimpinan utama, tetapi mana bisa mengedepankan ego.


Berhasil menyelesaikan masalah seperti ini saja  mengurangi beban besarnya, untuk sekarang dan selamanya hanya ingin bersama Fredella tanpa ada masalah apapun yang datang.


“Kamu ... apa yang kamu lakukan? Pasti mukaku jelek iya kan? Hapus.” Fredella merebut ponsel suaminya, melihat betapa banyak gambar yang di ambil.


“Anggap saja obat rindu. Mungkin dua atau tiga minggu lagi aku bisa kesini sayang. Semoga tidak ada pekerjaan mendadak yang merubah jadwal.” Tegas Dariel, merangkum kedua pipi merona istrinya, melabuhkan ciuman di bibir manis Fredella.


“Maaf ... maafkan aku. Semoga kamu bisa menepati janji tidak lagi masuk dalam lubang kesalahan yang sama. Aku akan menunggumu Dariel.” Fredella takut Dariel tergoda pada wanita lain.


“Apa yang istriku takutkan? Suaminya selingkuh? Ah yang benar saja sayang, taruhannya adalah semua mobil sport-ku. Kamu tahu? Papa tidak segan menghapus aku dari daftar keluarga kalau terjadi hal memalukan lagi. Cukup terakhir, itu aku lakukan tanpa sadar sayang.” Jawab Dariel sungguh luar biasa sampai merubah suasana hati Fredella.

__ADS_1


Wanita ini duduk menjauh, menggeser kursinya. Bukan jawaban yang ingin didengar, kalimat macam apa lebih mementingkan semua mobil daripada dirinya. Fredella menekuk wajah, memotong makanan secara asal.


Sedetik kemudian, Dariel menyadari bahwa jawaban yang keluar dari bibirnya sangat nakal, itu spontanitas dan tentu salah.  Kalau sudah seperti ini ia harus siap tidak mendapat senyum perpisahan dan cumbuan dari wanitanya.


“Sayang, maaf. Maksudku ... aku tidak mau kehilangan kamu, itu hanya bercanda sayang.” Dariel meralat semua, ia tidak mau Fredella marah hanya karena salah menjawab.


“Lalu? Kamu tidak akan selingkuh juga bercanda? Ok aku tahu kita terpisah jarak yang jauh, di sana banyak perempuan cantik dan lebih ... lebih ...” Fredella tidak kuasa meneruskan kata-katanya, ia menunduk dan menangis. Sesaknya terasa dalam dada, menelan saliva yang begitu kelat.


Dariel tidak menyangka jawabannya membuat Fredella sedih, sungguh ia tidak berniat menyakiti hat istrinya.


Memeluk Fredella yang terisak menangis, sampai membasahi kaosnya. Raga wanita ini bergetar, sangat sedih dan terpukul.


“Hey sayang, maaf kalau kata-kataku menyakitkan. Aku berjanji selalu setia, tidak ada seorang wanita yang bisa menggantikan-mu. Kamu satu-satunya sayang, apalah artinya aku tanpa kamu.” Mendekap erat dan membelai sepanjang punggung Fredella.


“Aku takut kamu mencari wanita lain karena ... aku tidak bisa memberi keturunan.” Lirih Fredella, remuk jantungnya dan tercabik sudah semua dalam diri.


Bukannya turut sedih, pria ini malah tekikik pelan. Rasa bahagia karena Fredella begitu takut kehilangan.


“Sayang dengar ... mana mungkin aku mencari wanita lain. Masalah keturunan itu hal belakangan. Bukankah aku pernah bilang, Keluargaku sudah memiliki Denver dan Zac sebagai pewaris mereka, lalu masih ada Denna. Kita hanya perlu saling percaya dan menua bersama.”


Sebagai pria normal tidak dipungkiri  ingin memiliki anak, tapi bersama istrinya bukan wanita lain. Dariel tidak mau membebani dan menuntut pada Fredella.


Percaya jika takdir memberi anugerah padanya rumah tangganya, dengan senang hati menerima, tetapi tidak ada salahnya kan menjalani pernikahan berdua sampai kulit keriput.


TBC


 

__ADS_1


__ADS_2