
BAB 97
Fredella membuka pintu kamar Ayu, membawa makanan, karena ibu muda itu melewatkan jam makannya.
“Kak?” Ayu menoleh kepada wanita cantik bermata hazel.
“Lakukan apa kata hati kamu Ayu. Aku mendukung apapun, kamu tahu apa yang terbaik.” Ucap Fredella, memeluk adiknya ini. Ayu menangis membasahi baju Fredella.
“Ethan biar aku dan Denna yang menjaganya, kamu jangan khawatir. Cepatlah Bobby membutuhkan kamu.” Fredella menepuk pelan punggung Ayu.
Nyonya Muda Bradley itu menghubungi sopir untuk mengantar Ayu ke bandara menyusul Barra. Secepat kilat Ayu keluar mansion setelah berpamitan kepada tuan rumah.
Fredella dan Denna melihat mobil yang ditumpangi Ayu keluar dari pagar dan menghilang bersama gelapnya malam.
Mulai malam ini Ethan tidur di kamar Denna, meskipun ada pengasuh tidak membebankan semuanya ke pihak ketiga. Tidak mungkin juga tidur dengan Fredella, untuk bangun dari atas ranjang saja sudah kepayahan apalagi harus mengurus Ethan.
.
.
Ayu tiba di bandara, mencari keberadaan Barra. Tidak mungkin kakak iparnya itu sudah pergi sedangkan menurut informasi pesawat akan lepas landas sekitar dua jam lagi. Tidak juga mereka merubah jadwal seenaknya saja.
“Kak Barra di mana? Ayu mau ikut pulang.” Gumam Ayu, menelisik seisi tempat ini dengan kedua matanya.
“Ayu? Mau susu coklat?” suara Barra dari belakang punggung sangat mengejutkan ibu muda.
Barra membawa dua gelas minuman berisi kopi dan susu coklat. Putra pertama keluarga Armend ini tahu kalau adik iparnya pasti menyusul.
Rasa sayang dan cinta Ayu untuk Bobby sangat besar, sesuai prediksi seorang Barra bahwa wanita muda ini akan menyusul datang ke bandara, tepat sebelum pesawat terbang meninggalkan Kota Birmingham.
“Susu coklat atau kopi?” tanya Barra sekali lagi, sebab Ayu melamun.
__ADS_1
“Ah ya susu coklat kak. Kak maaf Ayu seharusnya langsung ikut kakak, tapi malah seperti ini jadinya.” Ayu menundukkan kepala merasa tidak enak hati.
Barra merangkul adik iparnya berjalan bersama memasuki pesawat keluarga Armend. Keduanya duduk santai sebelum lepas landas.
Pria bertubuh besar dan tegap itu mulai menceritakan bahwa Mami Kezia terus mencari keberadaan Ayu dan Ethan sampai ke pelosok. Menggelontorkan dana sangat besar bagi siapapun yang bisa menemukan Ayu.
Sebab Mami Kezia percaya kalau Ayu masih ada di dalam negeri, dan tidak mungkin hidup di perkotaan karena biaya yang mahal. Sudah pasti menantu pertama Papi Leo itu bersembunyi di pedesaan yang pastinya tidak terjangkau oleh akses kendaraan.
Selain itu hubungan antara Mami Kezia dan Papi Leo renggang, mereka terus bertengkar setiap hari sampai Mami pisah rumah dan tinggal di kediaman orangtuanya.
Namun Papi Leo memiliki sikap jauh lebih dewasa, mengalah kepada istrinya dan membawa Mami Kezia pulang ke kediaman Armend.
Dalam tidur, ibu tiga anak itu selalu mengigau memanggil nama menantu, mengucapkan kata maaf berulang kali. Sampai Mami merasa bersalah dan kesehatannya menurun, memikirkan keberadaan Ayu serta cucu. Meratapi nasib rumah tangga putra keduanya yang rumit seperti benang kusut.
“Kasihan Mami, tapi kak … Ayu masih takut kalau nanti di rumah sakit ketemu Mami dan Papi, pasti mereka bertanya tentang Ethan.” Ayu meremas jemari tangan, ia bingung harus berbuat apa ketika bertemu kedua mertuanya.
“Dua minggu ini Mami menunggu di rumah, Papi melarangnya ke rumah sakit, kondisi Mami saja membutuhkan perhatian tidak mungkin keduanya harus berakhir di ranjang rumah sakit.” Tutur Barra menghela napas berat.
“Bobby sendirian ka?” sikap tidak tega Ayu seketika muncul, ia khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya.
.
.
.
Sampai di GB Hospital
Ayu melangkah pelan mengikuti kakak iparnya, segenggam otot dalam rongga dada selalu berdebar kuat. Dua bulan yang lalu ia menyambangi tempat ini, semua masih sama tidak ada yang berbeda, sekarang tujuannya pun sama.
Ruang ICU masih menjadi tempat aman dan nyaman bagi Bobby. Tapi Ayu sedikit melengkungkan senyum sebab alat-alat yang semula terpasang memenuhi serta mengelilingi Bobby mulai terlepas.
__ADS_1
Ayu masuk, rasanya ingin sekali menyentuh rahang tegas itu, tapi harus cukup puas diam di balik kaca.
“Bobby aku datang. Maaf lama tidak menjenguk. Kamu tahu? Ethan semakin besar, badannya bertambah berat setiap hari. Bangun Bob, bantu aku menjaga Ethan.” Tangis Ayu dengan kedua tangan menyentuh kaca bening. Kalau saja tidak ada larangan untuk masuk, pasti Ayu membuka pintu di sebelahnya dan menyentuh pria berkulit pucat yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
“Aku banyak belajar, kamu pasti tidak percaya sekarang aku bisa ngobrol dengan orang bule, Fredella banyak membantu. Aku berhutang banyak sekali, aku juga belajar mendesain pakaian wanita, semua teman di rumah mode sangat baik, padahal aku paling junior dan merepotkan mereka semua.” Tawa Ayu di sela-sela tangisnya.
Barra hanya diam mendengar celotehan adik iparnya. Ia melihat reaksi dari tubuh Bobby, masih tetap sama diam tak ada gerakan apapun.
“Ethan sangat mirip dengan kamu Bob, dia memiliki hidung mancung, warna bola mata dan alis yang sama dengan Daddy-nya. Kamu harus lihat betapa lucunya Ethan, setidaknya sayangi anak itu, dia masih kecil, Bangun Bobby.” Lirih Ayu tetap berderai air mata.
“Aku di sini” Ayu tak kuasa lagi melihat suaminya, ia pun luruh, menyandar pada dinding.
“Ayu, kakak antar kamu ke hotel ya. Kakak sudah pesan satu kamar, di dekat sini, kamu bebas mengunjungi Bobby kapan saja.” Barra merangkul adik iparnya dan membawa Ayu keluar pintu utama.
Tapi sebelum itu, Barra memutar tubuh mendekati kaca, sebagai partisi antara ruang utama dan ruangan khusus keluarga yang ingin melihat pasien.
“Bangun jagoan, kamu sadar kan memiliki kakak dan adik laki-laki yang lajang? Apa kamu mau Ayu dan Ethan menjadi istriku atau Brady? Buka mata sekarang juga Bob.” Ucap Barra penuh penekanan.
Ayu terperanjat mendengarnya, demi apapun ia tidak mau naik atau turun ranjang lagipula suaminya masih bernapas.
“Jangan anggap serius Ayu, ayo kakak antar kamu istirahat ke hotel.” Tegas Barra, hanya berniat menakuti adiknya yang masih betah tidur di atas ranjang rumah sakit.
Ayu istirahat di hotel, menelepon Ethan adalah rutinitas wajib baginya sebelum tidur. Belum satu hari terpisah tapi rasa rindu membuat Ayu menderita berjauhan dengan putra tunggalnya.
Hari-hari yang dijalani Ayu hanya seputar rumah sakit, hotel, tidak ada yang lain. Semua ia lakukan dengan sepenuh hati tanpa beban.
Satu minggu Ayu menjenguk bahkan menemani Bobby di GB Hospital sekalipun hanya menunggu di ruangan lain.
Ayu selalu memantau kondisi suaminya, banyak bertanya pada dokter, sejauh ini mendapat hasil memuaskan karena semenjak kedatangannya tujuh hari yang lalu, Bobby mengalami pertumbuhan pesat. Sekarang hanya tersisa oksigen dan dua alat lain dalam ruang ICU.
Ibu muda ini berharap suaminya cepat pulih dan membantunya membesarkan Ethan.
__ADS_1
TBC