IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 80 - Aneh


__ADS_3

BAB 80


Satu bulan telah di lewati, Bobby lebih sering merenung dan tertutup, tidak lagi pergi ke klub malam. Setelah selesai dari kantor, ia pulang, membasuh diri, memakai pakaian yang rapi dan kembali keluar.


Bukan main atau mengunjungi tempat melepas penat, melainkan terus mencari Ayu, menyusuri sudut ibu kota.


Setiap akhir pekan selalu ia gunakan untuk keluar kota mencari Ayu, semua Bobby lakukan sebab rasa bersalah, tapi satu keyakinan Bobby bahwa istrinya disembunyikan oleh Mami Kezia dan Papi Leo.


Terbukti orangtuanya sangat santai, tapi berulang kali Bobby menyelidiki dan mengikuti kemana Maminya pergi tidak menemukan keberadaan Ayu.


Bobby belajar dari pengalaman Dwyne dan Dayana, mereka bersembunyi dan menenangkan pikiran dibantu oleh keluarga besar.


Pasti semua ini ada campur tangan Keluarga Bradley, berulang kali dirinya memaksa Dariel memberitahu, tetapi sahabatnya itu selalu menjawab tidak tahu.


Hanya satu keinginan Bobby saat ini, segera menemukan Ayu. Apalagi usia kandungan semakin besar, lalu siapa yang menemani istrinya di sana, bagaimana kesehatan Ayu?


“Bro? Bob, melamun terus. Kita mau kemana?” tanya Dariel, hari ini dia bersama Daniel membantu sahabatnya. Tidak tega melihat Bobby selalu lesu tanpa semangat hidup. Mereka bertiga sudah berkeliling Jabodetabek sejak pagi hari.


Bobby bersedia memberi imbalan sampai 1 Milyar Rupiah, bagi siapapun yang bisa membawa istrinya pulang ke kediaman Armend dalam keadaan sehat.


“Bandung bagaimana?” Daniel memberi ide, pengacara satu ini meskipun kesal tetap membantu. Ia belum pernah menjadi seorang suami dan berharap nasib pernikahannya tidak tragis seperti dua sahabatnya.


“Gemana Bob, mau ke Bandung? Selagi belum keluar jalan tol.” Tanya Dariel, bertugas sebagai sopir pribadi Bobby.


“Iya ke Bandung.” Jawab Bobby seadanya. Sudah tidak terhitung berapa banyak mengkonsumi pil tidur, sejak perginya Ayu, ia tidak pernah tidur nyenyak, selalu mimpi buruk.


Tiga pria tampan, mapan dan memiliki sifat menjengkelkan itu menuju Kota Kembang. Bahkan mereka berencana menginap untuk mencari Ayu semalaman di pedesaan.

__ADS_1


Audi SUV berwarna hitam melaju cepat di jalan tol, mereka tidak berhenti sama sekali di rest area. Harus tepat sampai Bandung sebelum sore hari, karena jalanan akan semakin macet dan menghambat proses pencaharian Ayu.


“Kalian lapar? Kita mampir dulu sebelum ke hotel, gemana?” tanya Daniel.


“Terserah Bobby” Dariel mengangkat kedua bahu menyerahkan semua keputusan pada sahabatnya yang tengah patah hati.


“Hem makan” Bobby sangat singkat memberi jawaban, Dariel dan Daniel tidak masalah karena tahu apa yang dirasakan sahabatnya.


Ketiganya menyambangi rumah makan tradisional tepat di seberang hotel milik RB Group. Daniel memapah Bobby yang terlihat semakin ringkih dan rapuh, sementara Dariel membeli makanan dari penjual kaki lima. Entah kenapa ingin sekali menyantap kuliner satu itu.


Setelah selesai dengan urusannya, Dariel masuk mengikuti dua pria yang duduk di dekat kaca. Makanan telah tersaji di atas meja makan, semua Daniel yang pesan karena selera mereka sama. Tapi kali ini Dariel memesan hal lain, tidak biasanya karena pria itu selalu menjaga pola makan.


“Bro, tumben? Itu beli apa?” Tanya Daniel menunjuk kantung di tangan adik iparnya.


“Ah rujak colek, mau? Mungkin karena lelah di perjalanan jadi sedikit pusing.” Jawab Dariel, ia duduk dan membuka bungkus rujak. Menyantapnya dengan kedua mata berkedip akibat rasa asam pada buah mangga.


“Jangan Bro. Kalau mau beli sendiri, Ok.” Pelit Dariel, tidak mau berbagi dengan kakak sepupu istrinya.


Dalam hati Daniel mengumpat dan ingin memukul wajah sahabatnya, bukankah tadi ia sendiri yang menawari? Sekarang berbanding terbalik dengan ucapannya beberapa menit lalu.


Bobby tertawa pelan, melihat pertikaian sederhana antar rekannya, cukup menghibur. Ia sedikit beruntung dikala susah tidak sendirian, masih ada sahabat yang selalu menemani.


Ketiganya makan dalam keheningan, tetapi Dariel malah menghubungi Fredella, melakukan panggilan video. Sudah tiga hari ini selalu makan sembari melihat wajah cantik dan menggemaskan istrinya.


“Sayang, aku di Bandung. Kamu mau oleh-oleh apa? Jangan makanan ya, nanti basi.” Dariel memberi peringatan. Lalu mengarahkan kamera pada Daniel dan Bobby, agar wanita bermata hazel itu yakin bahwa suaminya bukan pergi bersama wanita lain.


“Kenapa makan mie goreng? Nanti perut kamu sakit.” Ujar Fredella, makanan yang paling Dariel hindari karena memiliki penyakit lambung.

__ADS_1


“Sedikit sayang, kamu sudah makan? Di sana masih pagi iya kan? Jangan lupa pakai mantel tebal, syal dan sepatu. Aku lihat berita kalau suhunya sangat ekstrem, jaga diri baik-baik sayang.” Dariel terus bicara tanpa memedulikan dua orang yang menatap jengah.


Ia lebih mirip suami takut istri, karena selalu menghubungi Fredella setiap dua jam sekali, atau merekam kegiatan mereka dan mengirimnya.


“Dariel jangan terlalu banyak makan mie, dua hari yang lalu makan mie, kemarin juga, jaga kesehatan. Kamu janji mau ke sini minggu depan, jangan ingkar.” Fredella melotot kepada suaminya yang tidak patuh.


“Siap Nyonya, kamu tenang sayang. Aku kuat tidak mungkin sakit, pasti menepati janji.” Tukas Dariel, mie goreng di atas piring telah habis bersih tak bersisa, sampai bumbunya pun ludes.


Tiba-tiba memegang perut, merasa mulas yang tidak tertahan, akhirnya ia berlari cepat ke toilet.


Meninggalkan ponsel dalam keadaan tersambung dengan Fredella.


Daniel mengambil alih telepon, bersenda gurau bersama adik sepupunya yang semakin hari bertambah cantik dan sedikit berisi.


“Fredella, apa musim dingin menambah nafsu makan? Kamu terlihat sedikit ...” Daniel terdiam sebab adiknya menyela lebih dulu.


“Hum aku tahu, sekarang lebih gendut. Beberapa celana tidak bisa dipakai. Ya, aku suka makan. Kak? Apa Dariel sakit perut? Apa yang dia makan selain mie?” tanya Fredella khawatir.


“Ah dia makan rujak buah, kamu tahu aneka buah diiris tipis ditambah saus gula merah yang manis dan pedas.” Daniel menerangkan sampai detil.


“Oh, di sini tidak ada makanan seperti itu. Tadi pagi aku ingin makan buah dengan saus gula tapi Kakak malah membuat salad buah.” Tawa Fredella pecah mengingat Rico susah payah mencari buah-buahan tropis di pagi hari.


Tawanya menular kepada Daniel dan Bobby, apalagi pria yang tengah patah hati ini ingat bagaimana ketika Ayu mengidam malam hari, mencari rujak buah tengah malam bukan perkara mudah.


“Ayu” lirih Bobby, menghela napas, ia berharap malam ini menemukan istrinya dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun.


Sementara Daniel masih bertukar kata bersama Fredella, di saat bersamaan Dariel langsung menyambar smartphone dalam genggaman Daniel. Ia cemburu melihat sang istri tertawa lepas bahkan mengatakan sangat lantang, merindukan kehadiran Daniel.

__ADS_1


TBC


__ADS_2