IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 78 - Di mana?


__ADS_3

BAB 78


PLAK


Mami Kezia memukul pipi putranya, ibu tiga anak ini naik pitam, bagaimana bisa Bobby baru kembali pagi ini. Berulang kali Mami Kezia memukul, kehilangan kesabaran dengan segala tingkah Bobby.


“Masih ingat pulang kamu? Jawab! Mami pikir kamu pergi menyusul perempuan itu. Dasar anak tidak tahu diri.” Emosi Mami Kezia, ia mengetahui kemana saja putranya itu pergi semalaman.


Membayar seseorang untuk menyelidiki Bobby, perasaan sebagai ibu menyatakan jika anaknya pergi mencari Clarissa. Benar saja beberapa gambar diterima,ketika Bobby menyerahkan cincin dan menangisi wanita yang ia cintai pergi.


“Mih, mih izinkan aku masuk, Ayu ada di dalam kan mih?” Bobby memaksa masuk, tetapi Mami Kezia melarangnya.


“Mau apa kamu? Baru ingat istri dan calon anak kamu? Ck keterlaluan kamu itu ya. Mami tahu kalian menikah bukan karena hati, tapi Ayu menerima kamu apa adanya Bob, mami juga tidak suka dengan dia, tapi mami masih menghargainya karena Ayu mengandung keturunan kita. Pikir Bobby, otak kamu kemana?”


BUGH


Mami Kezia menendang tulang kering putranya sampai terjatuh tersungkur membentur kerasnya lantai. Rasa sakit dan ngilu tidak Bobby hiraukan, pikirannya terpusat pada anak yang tengah di kandung oleh Ayu. Ia hanya pergi sebentar tetapi karena terlalu larut dalam duka, membawanya ke tempat lain untuk menjernihkan pikiran.


“Mami cukup, jangan menyakiti Bobby.” Barra membantu adiknya berdiri. Memapah Bobby duduk di kursi dan memeriksa kaki adiknya, memar. Barra hanya menggelengkan kepala, Mami Kezia tidak bisa mengendalikan emosinya.


“Jangan bantu adik kamu Bar. Lihat dia, jangan contoh sikapnya, Mami merasa gagal mendidik anak.” Mami Kezia melenggang pergi bersama Barra.


“Mih, Ayu ada di dalam kan? Mami jawab.” Bobby mencegah ibunya melangkah pergi, ia memerlukan jawaban dan kepastian.


“Sabar Little Bro, selalu lakukan yang terbaik.” Tepukan Barra di bahu Bobby menjadi tanda akan sesuatu yang terjadi.


Langkah lebar Bobby membuka pintu ruang perawatan VVIP, ia merapikan penampilannya dan mencoba berjalan tegap. Mengukir senyum pada bibir, sejuta maaf akan ia katakan dan bersimpuh di hadapan istrinya.


“Ayu aku dat ... ang.” Wajah Bobby seketika pias melihat sosok di atas ranjang pasien, dadanya bergemuruh, pandangan kedua mata kosong, tubuh melemas bagai tak bertulang.


Pria blasteran ini keluar ruangan, memperhatikan dengan seksama sesuatu yang tidak beres menurutnya. Melirik ke kanan dan kiri, memastikan satu hal dan benar, tidak salah masuk ruangan.

__ADS_1


Bobby masuk sekali lagi mengamati siapa di atas brankar, setelah mendapat kesadaran penuh, kedua iris birunya terbelalak. Seolah terkena serangan jantung, segenggam daging penuh otot itu berhenti memompa darah, paru-parunya terhenti beroperasi.


Semalam ingat sekali meninggalkan sang istri masih belum siuman di ruangan ini, tapi sekarang berubah menjadi pria tua yang terbaring lemah ditemani orang asing.


Kemana Ayu?


“Ayu” lirih Bobby, keluar ruangan berlari mencari Mami Kezia serta Kakaknya, pasti mereka terlibat atas menghilangnya Ayu.


Tapi sayang langkah kakinya sia-sia, Mami Kezia dan Barra telah pergi, bahkan bayangan mobil pun tidak ada. Pria ini merasa dicurangi oleh anggota keluarganya sendiri. Tak bodoh, Bobby bertanya ke bagian infrormasi, semua ia tanyakan sangat menggebu dan ingin tahu.


Jawaban luar biasa didapatkan, mereka bilang Ayu telah pergi meninggalkan rumah sakit sejak semalam. Tidak percaya dengan taktik bodoh ini, Bobby memeriksa satu per satu ruang VIP dan VVIP.


Semua kosong, bukan Ayu, ia pun bingung harus apa. Terlintas dalam benaknya, mungkin saja Ayu di pindah ke salah satu kamar rawat khusus keluarga Bradley.


Namun ia tidak izinkan naik dan masuk ke ruangan khusus itu, karena tidak satu orang pun anggota Keluarga Bradley sakit, ruangan semua kosong jadi petugas melarang Tuan Muda Armend ini memeriksanya.


“Maaf Tuan ini perintah dari pemilik rumah sakit. Jika Tuan memaksa, nasib kami jadi taruhan, kehilangan pekerjaan. Mohon Tuan Muda Armend memaklumi.” Tutur petugas keamanan.


Bobby masih penasaran, namun tidak bisa bertindak sewenang-wenang, rumah sakit ini memiliki sejumlah aturan untuk dipatuhi. Jangan sampai akibat ulahnya semua pegawai terkena sanksi.


“Ayu kamu dimana?” Bobby menghela napas, menunggu lift terbuka, kepala menunduk menatap kosong pada lantai.


Pintu lift terbuka, seorang dokter tersenyum, sontak Bobby masuk mendorong dan mencengkram erat kerah putih.


“Kak, kakak pasti tahu di mana istriku? Ini semua ulah mami dan papi dibantu Om Ray kan? Jawab Kak” Bobby menatap tajam Dokter Dewa yang kebingungan mendengar semua pertanyaannya.


“Ayu di rawat?”


“Kakak jangan pura-pura, aku yakin kalian semua merencanakan ini semua, benar kan?” Bobby semakin gelap mata, nyaris melampiaskan rasa gundahnya pada orang lain.


“Aku di sini hanya kerja, tidak ada nama istrimu dalam daftar pasienku. Jadi jangan gegabah menuduh orang lain. Bercermin lebih dulu, mungkin ini semua akibat dari apa yang kamu lakukan, permisi.” Dokter Dewa mendorong kuat raga di depannya, Bobby limbung dan pusing. Beruntung petugas membantu dan memberi minum.

__ADS_1


“Terima kasih Pak.”


Di mana lagi harus mencari istri kecilnya? Tidak mungkin Ayu pulang ke desa, di sana tidak memiliki siapapun, lagipula kalau kabur pasti keluarganya lebih dulu mencegah.


Di Kota Metropolitan ini tidak ada kerabat Ayu, ibu hamil itu buta akan lokasi, ia menghabiskan waktu sepanjang hari di rumah, kenalannya hanya terbatas pada Kelurga Bradley.


“Apa mungkin Dywne tahu?” Bobby bergegas menuju basemen, tujuan pertamanya rumah saudari kembar Dariel. Pasti wanita arogan itu tahu di mana keberadaan Ayu, bisa jadi menyembunyikan sang istri di rumahnya.


Bobby tidak ingat lagi keselamatan, menginjak kuat pedal gas dan melaju cepat. Berharap wanita berperut buncit miliknya ada di sana, menunggu kedatangan Bobby.


“Semoga Ayu ada di sana.”


Tiba di rumah nuansa tropis, dengan pepohonan menjulang tinggi menghiasi halaman. Bobby menekan klakson terus menerus


Hal ini memaksa petugas keamanan membuka pagar, dan tersentak sebab mobil langsung masuk tanpa memberitahu maksud dan tujuan.


“Permisi Tuan, Nyonya Muda masih di kantor, Pak Dokter belum pulang dari rumah sakit. Di rumah hanya ada Tuan Muda Denver dan adik-adiknya. Sebaiknya Tuan Bobby kembali lagi nanti malam.”


Tidak banyak kata Bobby menerobos masuk ke rumah ini, menelisik ke dalam mencari sesuatu, bahkan mengabaikan salam dari Denver.


“Uncle Bobby payah.” Teriak keponakan Dariel.


Bobby menelusuri lantai satu, sampai taman belakang dan area olahraga, tidak menemukan apapun. Satupun asisten rumah tangga tidak ada yang menjawab pertanyaan. Kakinya mulai berpijak pada anak tangga menelisik lantai dua.


“Tuan jangan, kami bisa melaporkan Tuan ke polisi kalau seperti ini, masuk rumah orang lain tanpa izin.”


“Kalian diam, aku hanya mencari istriku.”


Tak mengindahkan peringatan asisten rumah, Bobby melangkah memeriksa lantai dua rumah milik saudari kembar Dariel.


TBC

__ADS_1


__ADS_2