IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
IMPERFECT MARRIAGE Episode.48


__ADS_3

📞 Panggilan Bianca kepada Ibunya (Larasati).


“Ibu aku sudah memutuskan menerima lamaran Jo... ” Ucap Bianca, menganar


“Apa kau serius nak? Sudah ibu duga akhirnya kau bisa membuat hatimu untuk pria itu.”


“Ini semua demi Minyo bu, dia sangat senang dan bahagia bersama Jo, jika itu bisa membuat Minyo bahagia. Maka Bianca akan dengan senang hati melakukanya.”


Sudah bisa ditebak mengapa Bianca mau melakukanya, ini bukan karena ia menyadari cintanya kepada Jonathan. Namun ini demi kebahagiaan putranya. Karena Minyo, dia pasti sangat mengimpikan memiliki sosok ayah.


“Jangan lupa Bianca, bukan hanya Minyo yang harus bahagia, namun kau juga harus bahagia. Anakmu itu, dia pasti juga menginginkan kebahagiaanmu. Ibu tidak ingin kau mengorbankan dirimu, untuk hal yang belum tentu kau inginkan... ” Jelas Larasati.


“Kau tenang saja bu, meskipun Bianca belum bisa mencintai Jo sepenuhnya. Tapi aku yakin, perlahan-lahan mungkin Bianca bisa melakukanya.” Ucap Bianca. Meskipun hati kecilnya masih terus meragu, untuk melakukanya.


“Besok setelah urusan disini selesai, Ayah dan ibu akan segera pulang lusanya. Kita akan bicarakan ini lagi disana.”Tegas Larasati.


“Baiklah, bagaiaman dengan Beijing sekarang, aku yakin semua sudah berubah disana.. ”


“Apa kau merindukan kota ini..? Jika kau sangat penasaran datanglah.. ” Pinta Larasati.


“Apa kau bercanda bu, aku tidak mungkin kesana lagi.”


“Apa karena pria itu? Apa ini karena Aditya, Bianca? Jika kau benar-benar telah melupakanya, mengapa kau begitu takut..?.” Tegas Larasati. Bertahun-tahun Larasati menahan untuk tidak mengatakan hal ini, namun hari ini dia ingin mendengarkan itu langsung dari putrinya. “Katakan padaku nak.. ” Pinta Larasati.


“Ibu... Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu. Tentu saja bukan seperti itu. Hanya saja... ” Belum sempat Bianca menyelesaikan kata-katanya, putra kecilnya sudah lebih dulu memotong.


“Mami bolehkah malam ini, aku tidur denganmu.. ” Tanya anak kecil itu.


“Ya tentu saja sayang. Malam ini kau harus menemaniku tidur.. ” Seru Bianca.


“Ibu, maaf, aku harus menidurkan Minyo sekarang.” Tutup Bianca.


Tit. Panggilan di akhiri.


“Aku tahu kau menghindari pertannyaan itu Nak. Tapi berapa lama lagi kau bertahan? Kau sudah memutuskan menerima lamaran pria lain. Sementara hatimu masih belum siap terbuka untuk pria manapun. Mana mungkin aku rela, jika putriku hanya berpura-pura untuk bahagia. Jelas kau masih mencintai Aditya. Semua orang bisa kau tipu, tapi tidak denganku. Aku adalah wanita yang melahirkanmu, bagaimana bisa aku tidak melihat itu dari putriku sendiri.” Batin Larasti.


Dikamar yang cukup luas, Bianca dan putranya sedang terbaring, sambil memejamkan mata.

__ADS_1


“Mamii, dimana papii ku yang sebenarnya?.” Tanya Minyo pelan.


“Papii... ” Ulang Bianca.


“Ya papii... Teman-temanku memiliki mami dan papi. Apa aku tidak memiliki papiii?.”


“Tentu saja kau memilikinya nak.”


“Katakan padaku, bagaiman wajah papiii. Dan dimana dia sekarang. Kenapa kita tidak bersamanya.” Tanya Minyo.


Itu sedikit mengejutkan bagi Bianca, dimana anak seusia Minyo sudah bisa menanyakan hal seperti itu.


“Wajahmu dan papiimu sangat persis sayang. Namun bedanya papimu itu sangat jarang sekali tersenyum, dia itu pria yang kaku. Dan kau 1000 kali lipat lebih manis darinya.” Ungkap Bianca. Yang tanpa sadar, kembali membayangkan wajah Aditya.


“Lalu dimana dia? Seharusnya Mami, aku dan papi bersama. Apa papii meninggalkan kita?.”


“Papi... Dia berada ditempat yang sangat jauh, dan mamiii tidak tahu dimana papii sekarang. Sekarang yang perlu kau dan aku lakukan adalah berdoa, agar Papiimu baik-baik saja, dimanapun dia berada sekarang.” Ucap Bianca kemudian mendekap tubuh kecil putranya itu dari belakang.


Tik... Tik... Tik.... Tetesan air mata mengalir perlahan, membasahi wajah Bianca.


“Mami apa kau menangis... ”


 


\*


 


Keesokan harinya.


Malam hari, di Restoran Xio. Christianto Darmawansa berserta istrinya Sandra memenuhi undangan dari Tuan Androf untuk makan sekaligus membahas masalah kerja sama mereka.


“Sudah lama sekali kita tidak melakukan ini..” Ucap Darmawansa seusai mereka menyantap hidangan makan malam mereka.


“Ya kau benar sekali, ini karena kau terlalu lama meninggalkan kota ini... ” Seru Androf.


“Jika itu untukmu, aku akan selalu datang kesini kapanpun.” Tegas Darmawansa, dengan ramah.

__ADS_1


“Baiklah, ini berkas-berkas kerja sama kita, aku telah meyetujui semuanya.” Ucap Androf kemudian menyerahkanya pada Darmawansa.


“Aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama tidak bertemu, hari ini kita kembali dipertemukan untuk hal baik ini.. ” Ucap Darmawansa dengan gembira.


“Terima kasih tuan Androf.. ” Sahut Larasati.


“Kalian terlalu berlebihan, kita adalah kawan tuan Darmawansa. Dan aku melakukanya karena, aku tahu bekerja sama dengamu tidak akan pernah mengecewakan.” Jelas Androf. “Katakan padaku, lalu apa setelah ini kau akan meninggalkan kota Beijing lagi?.”


“Ya, kau tahu aku dan istriku tidak begitu cocok dengam suasana dikota ini lagi... Aku akan mengambil penerbangan pertama besok.” Ucap Darmawansa. “Dan juga... Putriku sebentar lagi akan bertunangan, aku harus menyiapakn segalanya... ” Ujar Darmawansa sambil terkekeh.


“Benarkah? Itu berita baik, aku ucapkan selama untuk Putrimu itu.. ” Ungkap Androf. Meski Itu adalah berita buruk untuk Aditya ketahui, namun dia tetap harus memberitahukan ini.


“Ya terima kasih tuan... ”


“Baik kurasa malam ini cukup. Aku permisi sekarang, ada beberapa hal yang harus kulakukan. Sebenarnya aku masih sangat ingin berada disini, tetapi.... ”


“Ya aku mengerti. Kami tidak akan menahanmu lebih lama lagi.” Ucap Darmawansa memahami keadaan yang ada.


Diperjalan pulang. Androf menelpon Aditya untuk melaporkan bahwa kerjasama telah selsai dilakukan.



“Kerjasama telah disepakai tuan Aditya... ” Ucap Androf.


“Bagus. Apa itu saja?.” Tanya Aditya, karena tidak mungkin Androf akan menelponnya hanya umtuk itu saja.


“Tidak. Ada berita buruk... Nona Bianca. Kurasa sebentar lagi dia akan melangsungkan acara pertunangan.”


“Apa Darmawansa yang mengatakanya. Kapan itu akan terjadi... ” Desak Aditya.


“Ya Darmawansa mengatakanya langsung. Saya tidak tahu pasti namun, kurasa secepatnya..” Jelas Androf


Tit. Panggilan diakhir sendir oleh Aditya.


Sementara itu Larasati, tiba-tiba saja kondisinya memburuk, entah karena kelelahan atau karena penyakit jantungnya kambuh lagi sekarang.


“Ayah, dadaku sakit sekali.. ” Keluh Larasati.

__ADS_1


“Bertahanlah, kita akan kerumah sakit sekarang.. ” Ucap Darmawansa, yang sedang terburu-buru membawa istrinya agar segera mendapat pertolongan.


__ADS_2