
BAB 96
Ayu disambut hangat oleh Kakek, Nenek dan adik bungsu Dariel, ketiganya sangat senang mendapat tugas yang tidak mudah. Menemani Ayu, membesarkan Ethan, sekaligus menjaga ibu muda itu dari gangguan termasuk Kezia.
Oma Anggi menyayangkan sikap ibu mertua Ayu yang cenderung ingin memisahkan menantu dari cucu serta putranya. Semua latar belakang Ayu dan kejadian apa yang menimpanya diceritakan jelas oleh twin D tanpa dilebih-lebihkan.
Semua prihatin dengan keadaan Ayu, disaat suaminya sakit tidak ada yang bisa menjaga dan menemaninya merawat Ethan. Semua fokus pada kesembuhan Bobby.
Hari pertama yang dilalui cukup mudah, sebab Ayu tidak merasa seperti orang asing, ia pun diperlakukan sama seperti anggota keluarga lain bukan tamu. Semula merasa minder tetapi lama kelamaan Ayu mulai bisa menempatkan diri.
Ditambah Dariel benar-benar menjemput Fredella ke mansion utama, wanita berperut buncit itu menemani keseharian Ayu setelah Dwyne dan Dayana kembali pulang ke Jakarta.
Bahkan Fredella mengajari Ayu bahasa asing, dan mengajaknya melakukan beberapa perawatan di dalam mansion. Didukung oleh Dariel yang menyetujui permintaan istrinya, untuk mendatangkan guru khusus yang bisa memberi pelatihan kepada Ayu.
Selama dua minggu ini Ayu menghabiskan waktu di dalam kediaman Bradley, meskipun bosan harus bisa menahan diri sebab tidak mau merepotkan siapapun pergi keluar. Apalagi peringatan Dariel menempel kuat di benaknya.
Beberapa kali ia merenung menatap gelapnya langit, ingin tahu keadaan suaminya, tapi Ayu bingung siapa yang bisa ia hubungi. Ayu hanya memiliki nomor telepon ibu mertua, akhirnya ia kembali merepotkan Dariel.
Ayu selalu meneteskan air mata mendengar bahwa Bobby belum juga membuka mata, tapi setidaknya ada beberapa alat yang mulai dilepas dari tubuhnya, karena kondisi mulai membaik.
Waktu terus berputar, sampai hampir dua bulan Ayu memulai kehidupan barunya, bersama orang-orang yang menyayangi apa adanya.
Ayu mulai memiliki kesibukan dengan belajar di luar, kursus di salah satu rumah mode. Dia berlatih membuat desain pakaian wanita dan mengenal macam-macam bahan.
“Menyenangkan ya? Jangan lupa pesanan aku, kamu harus membuatnya Ayu.” Kata Fredella begitu antusias melihat kertas bergambar sketsa pakaian bayi.
“Iya, aku sudah dapat bahan yang sesuai untuk bayi kembar kakak, sebelum mereka lahir pasti bajunya sudah selesai.” Balas Ayu yang hampir menyerah menjalani hari-harinya, tapi sekarang dia tidak lagi merengek kepada keadaan yang memang tak memihak.
__ADS_1
Ayu hanya perlu menjalani, mengikuti arus dengan terus memperbaiki diri, karena melawan arus sangat melelahkan dan menyakitkan.
“Ayo sekarang, kita cari sesuatu untuk Ethan, dia memerlukan mainan baru.” Ajak Fredella memasuki salah satu toys world di Kota Birmingham. Wanita berperut buncit itu selalu bergerak lincah, walaupun kandungannya semakin besar dan pergerakkan bayinya terus aktif.
“Tapi mainan Ethan sudah banyak kak, Ayu bingung harus beli apa lagi?” tanya Ayu, sebenarnya ia sungkan sebab semua kebutuhannya di topang oleh suami Fredella. Belum lagi biaya kesehatan Ethan yang tidak sedikit jumlahnya, sering kali Ayu bingung bagaimana cara membayar semua ini.
“Whoaa, seharusnya kita ajak Ethan ke sini ya. Pasti dia suka, tapi sayang bayi itu lebih senang bersama Denna.” Lirih Fredella selalu memperebutkan putra Ayu.
Keduanya membeli banyak mainan untuk Ethan sampai bagasi tidak cukup menampung semua mobil dan robot milik Ethan Armend.
“Terima kasih ya ka.” Ucap Ayu, cukup bahagia menjalani dunia barunya.
.
.
Ayu dan Fredella tiba di mansion utama, mereka tersentak melihat pria yang berdiri membelakangi pintu utama tengah menggendong Ethan dan menciumi bayi itu.
“Kamu siapa?” tanya Fredella penasaran dengan sosok pria yang sekilas dari belakang memang mirip sekali dengan Bobby Armend.
Bukankah dari kabar dua hari yang lalu bahwa sahabat suaminya itu belum siuman, mana mungkin siang ini berdiri gagah di dalam mansion.
“Hi Fredella apa kabar?” rupanya Barra, mengunjungi adik ipar dan keponakannya setelah satu bulan lebih.
“Kakak?” panggil Ayu, semula berharap pria ini suaminya tetapi kecewa mendapati kakak iparnya yang datang. Bola mata hitam Ayu bergerak bebas mencari seseorang yang ia rindukan.
“Bobby masih tidur di ranjang rumah sakit Ayu. Setelah kamu menjenguk, kesehatannya terus meningkat, beberapa kali Bobby selalu memanggil nama kamu. Kakak ke sini untuk membawa Ayu pulang.” Ungkap Barra, ia kasihan melihat adik yang tiada hari tanpa menyebut nama istrinya.
__ADS_1
“Ayu mau kan?” Barra menanti jawaban adik iparnya.
Sementara Ayu bergeming mendengar semua ucapan Barra, ia bingung sekaligus takut. Baru saja kaki melangkah dan mulai lupa akan kenangan menyakitkan. Sekarang harus kembali pulang, karena Bobby membutuhkannya.
“Ayu ... Ayu perlu waktu kak, permisi.” Ayu meraih Ethan dari pangkuan Barra, melenggang pergi sembari menundukkan kepala.
Sebenarnya ia khawatir, tapi belum siap mendapat penolakan dari ibu mertua, ditambah Ayu juga bingung bagaimana cara kembali ke mansion ini setelah menemui Bobby. Karena dia enggan menetap di Jakarta, untuk apa tinggal dikelilingi keluarga yang tidak menganggap keberadaannya.
“Apa yang harus mama lakukan Ethan? Menemui Daddy atau tetap di sini?” Ayu duduk di atas sofa, memeluk Ethan dan menghela napas berulang kali.
Dari lubuk hati ada perasaan bersalah menjauhkan Ethan dari Bobby, tapi demi apapun ini bukan keinginan Ayu.
“Ethan kangen Daddy? Maaf kalau mama belum bisa memenuhi keinginan kamu.” Suara Ayu terdengar lemah.
Ayu memilih berdiam diri dalam kamar, dia tidak mau menemui kakak iparnya. Ayu tidak sanggup menatap kedua mata Barra, seolah memohon dan mengharapkan dirinya ikut pulang ke Jakarta.
“Maafkan Ayu kak, bukan Ayu membenci kakak tapi Ayu bingung.” Monolog Ayu Jelita dalam lelahnya setelah beraktifitas seharian di luar rumah.
Sampai malam Ayu terus di kamar, menyibukkan diri membuat beberapa sketsa pakaian, untuk fashion show pemula di rumah mode tempat Ayu menimba ilmu. Tidak seperti biasanya, Ayu kehilangan ide dan imajinasi sampai mengganti dan menghapus gambar di atas kertas. Ia tidak puas dengan torehan tangannya.
Pikiran Ayu melayang mengingat Bobby, permintaan Barra sangat mengganggu Ayu. Sampai di atas lembaran putih pun dia melukis wajah Bobby.
“Ya ampun Ayu, kamu ini apa-apaan.” Ayu ingin merobek kertas berisi sketsa Bobby namun setelah dilihat kembali, ia rapikan benda itu dan menyimpan dalam laci.
Ayu berdiri melihat keluar jendela, memperhatikan Barra. Pria itu sempat menatap ke arah lantai tiga tepat ke kamar Ayu. Setelah beberapa detik mengamati, akhirnya kakak ipar masuk ke mobil dan pergi dari mansion utama. “Maaf ya ka.” Gumam Ayu.
TBC
__ADS_1