
Jangan pernah berjanji, jika tak benar-benar ingin menepatinya.
___________________________________________
📍Garden House
Lima hari lagi perayaan ulang tahunku yang ke-26. Orang tuaku dan Aditya sangat bersemangat sekali merencanakan pesta perayaan itu. Sebenarnya aku hanya ingin sebuah pesta keluarga besar yang sederhana saja, itu sudah cukup bagiku. Tapi Ibu dan mamah sangat ingin membuat ini menjadi pesta yang meriah, tentunya hal itu didukung penuh oleh Aditya. Jadi sudah pasti tidak boleh ada penolakan.
"Pah. Mamah dan ibu Larasati sudah sepakat kita akan pakai The Shimao Wonderland Intercontinental untuk acara ulang tahun Bianca!."
"Papa ikut aja deh." Sahut papah, tidak ingin ambil pusing.
"Ayah. Apa ayah setuju?." Tanyaku.
"Ayah juga ngikut kemauan para ibu-ibu itu."
Ayahku dan Papah Aditya adalah dua orang yang sama-sama tidak ingin direpotkan, apalagi dengan masalah seperti ini, mereka cukup mengikuti kemauan para istri-istrinya saja.
"Sayang bagaimana dengamu?."
"Iya aku setuju sayang. Kudengar-dengar chef yang mereka kerjakan ditempat itu sangat handal dalam menyajikan setiap hidangan. Tapi apa itu tidak terlalu berlebihan Adit?." Tanyaku.
Hahaha semua orang tertawa seperti menggangap pertanyaanku ini adalah lelucon.
"Sayang itu sama sekali tidak berlebihan untuk seorang istri Aditya! ."
"Kau ini Bianca. Sangat polos sekali." Sahut Mamah
"Bianca itu sejak kecil memang tidak ingin merepotkan siapapun. Saya dan Ayah Bianca juga bingung dari siapa dia mewarisi sikap seperti itu" Ibuku mencoba menjelasakan pada semuanya. Tentu saja ibuku lah yang paling mengerti aku.
"Bianca kau itu anak kami juga, tidak perlu merasa seperti itu nak." Ucap mamah Aditya.
Ya tentu saja aku tahu kalian semua adalah orang tuaku. Sekarang aku benar-benar merasa beruntung menikah dengan Aditya, aku memiliki Ayah,ibu,mamah,papah yang sangat menyanyangiku. Dan juga suami yang mencintaiku.
__ADS_1
"Orang-orang Adit sendiri yang akan mengurusnya. Mamah dan Ibu Larasati tinggal katakan saja konsep seperti apa yang kalian inginkan untuk pesta Bianca."
"Baikalah anak kami ini memang sangat bisa diandalkan." Mamah memuji anaknya itu.
Siang yang panjang kami nikmati bersama di Garden House. Suasana yang hangat dan damai. Aku jadi ingat bagaimana dulu saat aku dan Aditya bersandiwara menjadi keluarga yang harmonis depan mereka. Kali ini kami melakukanya lagi, tapi yang kali ini tanpa sandiwara.
Rumah tanggaku, pernikahanku, suamiku, semuanya telah baik-baik saja sekarang.
"Bianca apa sekarang sudah ada perkembangan dengan program kehamilanmu itu? ." Tiba-tiba saja ibu menanyakan hal itu, tentu saja aku dan Aditya tidak pernah memprogramkanya.
"Tenang saja bu, Adit janji sebentar lagi kalian akan mendengarkan kabar baik dariku dan Bianca" Ucap Aditya. Entah kenapa Aditya mengatakanya, tapi aku juga tidak mungkin mengatakan bahwa program kehamilan itu adalah kebohongan.
Tapi sejujurnya aku sudah telat sebulan, tapi aku. tidak benar-benar yakin apakah aku hamil? Aku harus mengeceknya dahulu.
"Cepatlah nak, segera beri kami kabar baik itu." Sahut mamah Aditya.
Aku dapat memahami keinginan mereka, itu sangatlah wajar. Apa lagi yang begitu diinginkan diusia mereka sekarang selain menimang cucu.
"Sayang kau dengarkan? Kita harus mencobanya malam ini." Bisik Aditya padaku.
"Awww..Awww..." Ringis Adit.
"Eh Adit, Bianca kalian ini. Ingat orang tua kalian masih ada disini" Ibu terkekeh melihat kearah kami, tentu saja itu membuat mata lainya menatap kearah kami, memalukan sekali.
"Biancalah yang menggodaku bu." Ucap Aditya berbohong.
"Bukan Bianca, justru Adit lah yang menggoda, dia mengajakku untuk melakukannya nanti malam." Sahutku. Hah. Astaga aku keceplosan. Rasanya aku ingin segera menghilang dari tempat itu. Aku malu, malu, malu sekali.
Hahahaha, semua orang begitu puas mentertawaiku siang ini. Aditya juga tampak salah tingkah sekarang.
Sore harinya usailah acara kumpul keluarga kami, Ayah, ibu, papah dan mamah, sepakat untuk balik bersama.
Dan kini... tinggallah kami bersama lagi, Aditya dan aku. Aku sebenarnya masih sedikit kesal padanya tentang kejadian siang tadi. Gara-gara dia aku harus terus menanggung malu dihadapan kedua orang tua kami.
"Sayang! " Panggilnya. Aku tidak menghiraukanya dan kembali berjalan melewatinya.
__ADS_1
"Istriku apa kau marah padaku? ." Adit sadar aku sedang kesal padanya. Dia terus mengikutiku langkahku menuju kamar.
"Hei, apakau akan terus mengabaikanku?."
Aditya terus mencoba agar aku mau meresponya. Bukannya marah sekarang aku malah lucu melihat tingkah Aditya yang seperti ini.
"Bianca, sayang. Baiklah maaf karena sikapku tadi." Ucap Aditya pelan, dia sangat susah sekali mengatakan maaf padaku.
"Apa kau ngomong apa Adit, aku tidak dengar." Sahutku.
"Aku minta maaf padamu." Tegas Aditya lagi.
"Kemarilah sayang, aku ingin memelukmu." Panggilku sebagai tanda bahwa aku sudah memaafkanya. Aku membentangkan tangan agar Aditya segera datang padaku.🤗🤗
*****
Sementara di kediaman Eric Wijaya
"Lima hari lagi Kirana. Kau bisa mendapatkan Aditya. Besabarlah..."
"Baikalh aku akan menunggu. Sekarang katakan padaku apa rencananmu?."
"Lima hari lagi adalah ulang tahun istri kesayangannya itu."
"Lalu apa hubunganya?."
"Pikirkanlah sendiri, bukankah kau wanita cerdas."
"Eric. Kau terlalu aneh. Sebenarnya apa tujuanmu membantuku? Apa karena kau membenci Aditya?."
"Tidak. Tujuan kita sama Kirana, kau menginginkan Aditya, dan aku menginginkan Bianca."
"Kalian adalah pria yang aneh! Apa berharganya wanita itu!!." Seru Kirana. Tapi itu malah membuat Eric bereaksi buruk terhadapnya. Pria itu mencekram kuat rahang bawahnya.
"Tutup mulutmu Kirana. Dia berharga bagiku, aku menginginkanya. Sudah pasti dia sangat berharga ." Ucap Eric sembari melepaskan cengkramanya barusan.
__ADS_1
Eric Wijaya, Pria gila itu tampaknya sangat terobesesi dengan Bianca. Kira-kira rencana seperti apa yang diciptakan olehnya.