
📍Shanghai Xupu Bridge .
~Aditya POV~
Aku telah melewati banyak hari yang benar-benar melelahkan, setelah kehilanganmu. Aku merasa semua sudah tidak ada artinya lagi.
Hari ini kau kembali, aku melihatmu lagi. Tapi kau memang bukan Bianca yang dulu. Kau masih cantik bahkan semakin cantik, yang berubah hanya kau yang tidak mencintaiku lagi. Entahlah. Aku merasa kau hanya membenciku...
Aku jadi berpikir satu hal... Mungkin melupakanmu adalah jalan yang bisa membuat kau dan diriku mampu untuk menjalani hidup kembali.
Ya... Sejujurnya aku benar-benar putus asa Bianca. Menahanmu, memohon padamu. Aku mengorbankan terlalu banyak harga diri untukmu. Tapi tidak satupun dapat melunakkan mu.
Berhenti. Itu yang kukatakan pada diriku. Berhenti untuk mencintaimu.
Tapi malam ini, aku seperti mendapat harapanku kembali, saat menatap matamu, ada sesuatu yang tanpa sengaja membuatku menyadari bahwa masih banyak sekali kebahagian disana. Aku tahu kau juga menyimpan beberapa luka, yang tak ingin kau perlihatkan.
Meskipun jalan tak selalu terlihat baik, bahkan kadang air mata tak hentinya mengalir karena kesedihan yang kita alami.
Aku hanya berharap, kita bisa menjadi tempat bersandar satu sama lain.
Karena hanya dengan cara itulah, kita bisa menjalani hidup.
Kau dan aku...
Dan putra kita, aku tidak akan melupakan satu hal penting itu.
Aku harus menahan kalian berdua.
📍Daxing Beijing International Airport.
Bianca dan seluruh keluarganya sudah berada disana. Hanya beberapa menit lagi, sebelum jam keberangkatan mereka.
“Sayang apa kau sudah tidak melupakan sesuatu lagi...” Tanya Larasati kepada Bianca.
“Sudah bu... Semua sudah Bianca siapkan.” Larasati menggenggam tangan Bianca erat, memberi kekuatan pada putrinya yang tampak.gelisah.
“Aku tahu... Aku bisa merasakannya.” Larasati menarik Bianca menjauh beberapa meter dari keberadaan suaminya, Jonathan dan juga Minyo.
“Ibu aku baik-baik saja sekarang..” Ucap Bianca, menunjukan ketegarannya.
“Sudah ku bilang berapa kali Bianca, aku ini ibu mu.. Aku yang melahirkan mu. Aku tahu kapan putriku bahagia dan kapan putriku bersedih, aku bisa merasakannya. Jadi jangan bilang kau baik-baik saja. Ini kesempatan terakhirmu. Jadi setelah ini ibu harap kau tidak akan menyesali apapun lagi, hiduplah dengan baik, tunjukan padaku, bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu.”
__ADS_1
“Ibu kumohon jangan seperti itu...” Bianca menahan air matanya untuk tidak terjatuh didepan Larasati.
“Lihat Minyo, lihat ayahmu dan lihat Jonathan. Semuanya berharap kebahagiaanmu.”
“Tapi Jo...” Belum sempat Bianca meneruskan ucapannya seseorang kembali memotongnya.
“Aku tidak masalah Bianca. Cinta bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Aku bukan orang seperti itu. Sudah kukatakan sejak awal, aku hanya ingin kau bahagia. Jika kebahagiaanmu tidak berasal dariku. Jadi... Bianca, maaf... Aku membatalkan pertunangan kita. Aku memutuskan tidak akan melanjutkannya.” Ucap Jonathan tegas.
“Jo..Kumohon....”
“Aku yang memutuskan ini semua Bianca, jadi tidak perlu merasa bersalah. Tapi....”
“Tapi apa Jo...”
“Kita masih bisa jadi temankan? Dan Minyo, kumohon jangan jauhkan dia dariku. Aku benar-benar tulus pada anak itu..”
Bianca tertawa, namun anehnya air matanya terus saja keluar.
“Tidak. Kau tetap tetap Daddy-nya. Terima kasih Jo. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi Terima kasih... Dan maaf...” Bianca memeluk Jo erat, sebagai tanda persahabatan mereka.
Ting.
“Mohon perhatiannya, penumpang Korean Air dengan nomor penerbangan 吃啊886 tujuan Seoul silakan boarding dari pintu 2 Terima kasih.”
Dia menerobos pintu masuk Bandara, semua orang tidak dapat menahannya. Dia berlari, sekencang-kencangnya, berharap masih ada kesempatan untuk menahan Bianca.
“Lepaskan.... Apa kalian tidak tahu siapa aku.”
“Maaf Tuan, kami hanya melakukan prosuder sesuai perintah atasan kami...”
“Atasan kalian... Dia bahkan tidak akan bisa melawan... Istri dan anakku, akan pergi, aku harus menahan mereka..” Aditya terus memberontak. Namun orang-orang itu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk lewat.
“Lepaskan dia....” Seseorang meminta agar beberapa petugas bandara itu melepaskan tuan Herlambang Group.
“Maafkan saya tuan...” Ucap salah satu orang yang jabatannya lebih tinggi dari beberapa petugas itu.
“Orang-orangmu sangat tidak becus...” Kesal Aditya.
“Maaf Tuan. Mungkin saya bisa membantu Anda...”
“Tolong hentikan penerbangan pagi ini yang menuju Seoul, semuanya. Salah satu penumpang disana adalah istriku.” Beberapa orang terkejut dengan pernyataan Aditya.
“Maaf tuan, kedua penerbangan menuju seoul sudah take off beberapa belas menit yang lalu...” Jelas orang itu.
__ADS_1
Sekarang Aditya benar-benar merasa kehilangan. Kehilangan yang kesekian kalinya. Ini adalah kedua kalinya dia tidak bisa menahan Bianca.
Aditya melangkah dengan langkah pasrah, tidak ada hal apapun lagi yang bisa dilakukannya. Kenyataanya wanita yang dicintainya, sudah pergi, dan mungkin pergi untuk selamanya.
Tak...
Tak...
Tak...
Tak...
Suara langkah yang semakin mendekat.
“Aku disini Tuan Aditya...”
Suara yang membuat harapan kembali datang ....
“Bianca....” Ucap Aditya. Ia benar-benar tidak bisa menahan rasa harunya. Keduanya benar-benar menumpahkan segalanya disana.
Air mata... sudah tidak bisa terbendung lagi.
“Aku tidak bisa pergi.. ” Ucap Bianca, berlinang air mata.
“Ya aku tahu itu...”
“Kenapa kau lama sekali datang menjemput ku.”
“Maaf...Maafkan aku.” Aditya memeluk Bianca semakin erat.
“Jangan pergi lagi sayang. Jangan lagi.”
“Tidak perduli seberapa banyak hal yang kita hadapi, seberapa banyak pun kau merasa tersakiti, Jangan berpikir untuk meninggalkanku lagi.” Mohon Aditya.
Bianca memang tidak akan pergi lagi. Namun ia benar-benar tidak bisa mengatakan itu sekarang. Bibirnya masih tak mampu berkata-kata, diantara rasa haru dan kebahagiaan, itu terlalu sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Bianca katakan bahwa ini benar-benar dirimu.”
Bianca menggangguk..
“Iya ini aku....Aku tidak akan pergi. Tidak lagi... Tempatku disini bersamamu..”
__ADS_1