IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 83 - Permintaan Pertama


__ADS_3

BAB 83


Setelah belasan jam terbang, burung besi milik keluarga Bradley itu tiba di bandara tepat pagi hari sebelum matahari terbit. Mobil langsung membawa ketiganya ke rumah sakit, di mana Fredella mendapat perawatan.


Dariel selalu tersenyum, ia tidak sabar bertemu istrinya, tiba-tiba flu berat yang datang tanpa permisi menghilang. Berganti dengan rasa senang membuncah dalam dada.


“Terima kasih sayang.” Gumam Dariel, sembari mencium cincin pernikahan yang melingkar tepat di jari manis.


Papa Ray, Mama Nayla dan Dariel tiba di rumah sakit, waktu tempuh tiga puluh menit sangat lama menurut Dariel. Ketiganya masuk dengan pelan tanpa suara, sebab Fredella masih terlelap, hanya Rico yang menyambut keluarga adik iparnya.


Pria bermata hazel itu mengulurkan tangan sebagai ungkapan selamat, apa yang dinanti semua orang akhirnya terkabul.


“Selamat bro, tolong jaga adikku, jangan pernah kau sakiti lagi, aku tidak segan memisahkan kalian.” Ancam Rico penuh penekan pada adik iparnya.


“Pasti itu, kau jangan takut, kakak ipar terima kasih telah menjaga istriku dan calon anakku. Bisa jelaskan bagaimana Fredella masuk rumah sakit? Nenek tidak cerita apapun.” Pinta Dariel, ia khawatir kenapa bisa wanita yang dicintainya sampai terbaring lemah.


Rico mulai menjelaskan secara rinci, kejadian beberapa hari yang lalu, sikap Fredella berubah, sering mengeluh lelah dan menginginkan makanan aneh, tidak ada sama sekali di Inggris. Sampai akhirnya kemarin pagi terpeleset, sebab jalanan licin.


Dariel meringis mendengar semuanya, menutup wajah dengan kedua tangan, ia tidak bisa membayangkan kalau sampai calon anaknya pergi sebelum diketahui keluarga, pasti menyakitkan.


Fredella keluar rumah selepas melakukan panggilan video dengannya, karena kesal Dariel tidak datang.


“Sabar bro, dokter bilang. Emosi ibu hamil meledak-ledak, tidak stabil. Jangan sampai bertengkar dengannya hanya karena masalah kecil, tahan diri!” tutur Rico, menyayangi adik apalagi keponakannya.


“Ok, kau tenang saja. Aku boleh minta tolong, Rico? Mama dan Papa mau menginap di rumah kalian, ya mungkin hanya beberapa malam sampai kondisi Fredella membaik. Tolong hantarkan Mama dan Papa, kau tidak perlu khawatir, aku yang akan menjaga Fredella di sini.” Pinta Dariel, kedua orangtuanya menolak bermalam di hotel karena ingin dekat dengan menantu mereka.


“Ok.Tentu saja kau itu kan suaminya, harus menjaga istrimu bukan wanita lain. Awas kau.” Rico selalu mengingat perbuatan Dariel, cukup sudah melihat adiknya hancur dan rapuh.

__ADS_1


Dariel berjalan mendekati Fredella, duduk di sisi ranjang pasien. Meraih tangan wanitanya, mengecup punggung tangan, lalu memegangnya erat, membelai lembut dengan ibu jari.


“Aku datang sayang, dan pasti menjaga kalian berdua.” Gumam Dariel pandangannya tertuju pada perut rata sang istri. Tanpa bisa menahan, pria ini menyentuh bahkan mengusap lembut perut Fredella, mengucap banyak doa terbaik, untuk keturunan yang sedang berjuang tumbuh dalam rahim.


“Hey, Daddy menyayangimu. Jadilah kuat sampai waktu tiba, Daddy akan selalu di samping Mommy dan kamu baby.” Mencium perut Fredella, penuh penghayatan.


Mengusik tidur ibu hamil muda ini, Fredella membuka mata perlahan, melihat pria jangkung tengah tersenyum kepadanya. “Apa mimpi sangat nyata seperti ini?” Fredella berulang kali mengerjapkan kedua mata, untuk memastikan kalau ia tidak salah lihat.


“Bukan mimpi sayang. Aku datang, aku mencintaimu Fredella Bradley, ibu dari anak-anak kita.” Dariel mencium bibir merah delima yang sedikit terbuka. Sungguh menggemaskan tingkah Fredella, salah satu hal dirindukan oleh Dariel.


“Dariel? Ma-Mama? Papa? Sejak kapan? Aku rasa tadi malam tidak ada siapapun.” Fredella tidak menyangka secepat ini suaminya sampai, bersama kedua mertua. Ia bahagia dihujani banyak cinta dari semua orang.


“Ah baru satu jam yang lalu, sekarang kamu mau apa? Makan atau minum atau mungkin mau ...” Dariel mencoba menjadi suami siaga, ia perlu tahu apa keinginan istrinya saat ini, bertanya terus sampai akhirnya Fredella memotong ucapan Dariel.


“Aku mau ke toilet, lalu makan bubur ayam. Ah di sini tidak ada, kenapa ya? Bisa minta tolong cari?” Fredella tersenyum sangat mengiba, ingin Dariel mencarinya sampai mendapatkan makanan itu.


“Sekarang aku bantu ke toilet, berpegangan sayang. Hati-hati.” Dariel memapah istrinya, bahkan turut masuk ke dalam, tidak mau Fredella mendapat kesulitan apapun.


Dariel menyusuri kawasan Asia, mencari rumah makan yang menjual sarapan khas Indonesia. Kedua matanya jeli mencari, satu per satu, tidak ingin melewatkan satupun karena ia harus kembali mengamati secara detil dari ujung jalan.


Waktu terus berjalan sampai dua jam lamanya sejak meninggalkan rumah sakit, telepon tidak berhenti berdering. Fredella menghubungi Dariel hanya untuk memastikan kalau suaminya menemukan bubur ayam.


“Maaf sayang, aku masih harus mencari satu blok lagi, kamu tunggulah. Sarapan dulu makanan dari rumah sakit, jangan sampai kelaparan, kasihan baby kita.” Perintah Dariel, tapi siapa sangka malah mendapat nyanyian panjang dari istrinya.


“Sabar Dariel, delapan bulan lagi.” Dariel harap setelah ini istrinya tidak menginginkan hal yang sulit ditemukan. Cukup melelahkan memenuhi permintaan ibu hamil, tidak mudah.


Pria blasteran Asia Eropa ini terus menyusuri jalan kawasan Asia, sampai ia menemukan pedagang yang menjual sarapan khas Indonesia. Sedikit tergoda dengan menu yang disajikan, Dariel memilih menyantap lontong sayur, membungkus tiga porsi dan satu bubur ayam.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, setelah selesai ia berjalan sangat bangga di atas aspal, merasa sebagai suami baik yang mampu memberikan apapun keinginan istrinya. Bahkan memperlakukan bubur ayam itu seperti berlian, begitu menjaga dan sesekali memperhatikannya.


“Daddy datang sayang.” Entahlah dalam benaknya terbayang wajah Fredella yang cantik, tersenyum sembari menggendong bayi mereka. Menunggu Dariel lalu memberi satu ciuman mesra.


“Aku adalah suami idaman para wanita, dan tentu saja hanya milik Fredella Bradley seorang bukan yang lain.” Tawa Dariel, membanggakan diri sendiri, lalu mendengarkan musik untuk mengusir rasa lelah selama mengendarai mobil.


Dariel tidak membuang waktu, setelah masuk pelataran rumah sakit, ia melangkah lebar menuju ruang rawat istrinya.


Tidak sengaja melihat seorang wanita yang dikenal, “Mungkin salah, hanya mirip saja.” Gumamnya mengabaikan apa yang dilihat, kalaupun benar mereka tidak ada hubungan apapun jadi tidak perlu saling bertegur sapa. Sudah cukup pengalaman lalu menjadi hal paling menyakitkan baginya.


Dariel segera menutup pintu lift, ia harus cepat sebelum semua makanan berubah dingin.


“Sayang aku datang, bubur ayam untuk istriku tercinta.” Menggeser pintu ruang rawat. Memeluk Fredella dan mencium bibirnya.


“Tapi aku ....” sayangnya Dariel tidak membiarkan sang istri terus berkata-kata, langsung membuka penutup mangkuk dan menyuapi ibu dari anaknya.


Namun di luar dugaan, Fredella mual dan berlari masuk kamar mandi, membuang bubur ayam dari dalam mulut.


“Sayang kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan? Aku pergi mencari dokter, tunggu sebentar.” Menggendong tubuh berisi Fredella dan membaringkan perlahan di atas ranjang.


“Aku sudah kenyang, Dariel. Ternyata menu sarapan rumah sakit cukup enak. Bubur ayamnya tidak jadi yah.” Santai sekali Fredella mengatakannya setelah perjuangan Dariel berjalan kaki selama lebih dari satu jam, mengitari area khusus penduduk Asia.


“What? Oh yang benar saja sayang, aku suapi ya.” Paksa Dariel, gagal sudah bayangannya menjadi suami yang dibanggakan istri.


“Aku kenyang, tidak mau.” Tolak Fredella.


TBC

__ADS_1


 


 


__ADS_2