
Aku harap, aku bisa memperbaiki kesalahanku...
Maaf. Karena aku memiliki banyak hal yang tak bisa ku berikan padamu
Aku egois dan tak berpendirian.
Namun kali ini aku ingin memperlakukanmu lebih baik.
Jadi sekarang mari kita melangkah maju bersama, mengahadapi baik dan buruknya dunia ini.
Satu bulan kemudian, setelah perpisahan Aditya dan Kirana.
Kirana sama sekali tidak pernah muncul lagi, wanita itu hilang ditelan dunia. Aditya bahkan sempat berpikir bahwa karena sikap ambisius Kirana, wanita itu mungkin akan melakukan hal mengerikan untuk bisa bersama dengannya lagi. Tapi ini sudah sebulan, dia bahkan tidak melakukan apapun.
Aditya hanya berharap Kirana sudah dapat menerima keputusanya sekarang.
"Aku ingin bertemu dengannya sekarang! ."
"Bersabarlah sebentar lagi. Aditya akan menjadi milikmu lagi Nona Kirana! ."
"Apa kau yakin soal itu! ."
"Berhenti meragukanku, kau tidak tahu apa yang Eric bisa lakukan."
"Apa yang kau rencanakan?." Tanyanya.
"Jangan banyak bertanya, itu membuatku muak Nona Kirana !" Ucap Eric dengan nada penuh ancaman.
"Jangan berani mengancam ku ! " Bentak Kirana.
"Itulah yang aku suka darimu. Bersabarlah maka keinginanmu akan segera terwujud" Eric menyunggingkan senyumnya pada Kirana.
Ikuti dan nikmati saja, permainan akan segera dimulai
Semakin hari hubunganku dengan Aditya semakin baik dan berkembang pesat. Dia semakin perhatian dan lebih betah tinggal bersama denganku dirumah.
Kami seperti pasangan suami istri yang baru menikah, atau mungkin lebih tepatnya seperti pasangan yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Aditya membantuku mengerjakan perkerjaan rumah, dia masak dan merapihkan tempat tidur kami bersama.
"Sayang apa pekerjaanmu baik-baik saja jika kau terus berada dirumah? " Tanyaku.
"Kau terlalu mengkhawatirkan pekerjaanku sayang. Aku adalah pemilik perusahan itu, tentu saja anak buahku lah yang akan mengurus segalanya".
Ya aku seharusnya tidak perlu cemas dengan hal itu. Suamiku, tentu saja dia tahu segalanya tentang mengurus sebuah perusahan sebesar Herlambang Group yang sudah memilik cabang dimana-mana.
"Apa kau tidak bosan Bianca" Sahut Aditya
"Bosan? dalam hal apa? " Tanyaku.
"Ayo sekali-kali kita harus keluar bersama. Kau tahukan maksudku" Aditya tersenyum dan menaikan alisnya. Tapi sungguh aku tidak memahaminya. Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban.
__ADS_1
"Sayang kau terlalu polos. Maksudku bagaimana kalau kita berkecan! " Ucap Aditya menjelaskan maksud dari ucapanya tadi padaku.
"Apa kita sedang pacaran sekarang?Menurutmu apa kita ini remaja suamiku? " Jelasku. Merasa sedikit geli mendengar kata berkencan.
"Bukankah kita masih seperti remaja sayang? Coba lihat wajahmu itu, bahkan masih seperti anak sekolah" Ucap Aditya. Aku tidak mengerti apa itu pujian atau ledekan darinya.
"Baik lah. Aku ingin pergi kepasar malam sayang. Apa boleh? " Pintahku, sembari meminta persetujuannya.
"Kurasa itu ide yang bagus. Baik kita akan pergi kesana" Aditya menyetujui ideku.
Aku tersenyum puas mendengar bahwa suamiku dengan senang hati menerima ide kekanak-kanakan ku
"Apakah sebelumnya, kau pernah melakukan ini dengan seorang Pria? " Entah kenapa Aditya menanyakan hal itu padaku.
"Maksudku, sebelum kita menikah. Apa kau memiliki kekasih yang membawamu ketempat seperti itu?" Aditya kembali memperjelas ucapannya.
"Aku bahkan tidak memiliki kekasih Aditya"
"Apa itu benar? " Aditya tampak terkejut dengan jawabanku.
"Ya, ayahku itu sangat galak jika ada pria yang mendekatiku"
"Syukurlah ayah melakukan hal itu. Jadi aku adalah pria pertama dihidupmu" Tanya Aditya, meyakinkan bahwa pernyataannya itu benar.
"Iya sayang, kau pria pertama dan yang akan menjadi yang terakhir dalam hidupku" Seruku padanya.
"Ucapanmu semakin manis sayangku"
"Aku belajar darimu Aditya" Balasku. Hingga kami menertawai diri kami masing-masing.
Aditya menuntut langkahku. Beberapa kilometer sebelum tiba ditempat ini, ia memintaku menutup mata dengan sapu tangan miliknya. Aku jadi penasaran apa yang akan dilakukan orang ini.
"Adit, aku takut berjalan dengan mata tertutup seperti ini"
"Tenanglah percaya padaku. Aku akan menjadi matamu Bianca" Aditya meyakinkanku dan menuntut langkahku, sesekali Aditya membopong tubuhku, karena harus melalui beberapa tangga.
"Sayang buka lah penutup matamu sekarang" Titah Aditya. Tanpa aba-aba secepat kilat aku membuka penutup mataku itu. Awalnya samar-samar dan semakin jelas, benar ini adalah pasar Malam, Aditya benar-benar menepati janjinya. Tapi mengapa tempat ini sangat sepi, kemana pengunjung yang lain, apa ini sudah tutup? Pikirku lagi.
"Kau terlalu banyak berpikir sayang, tempat ini hanya jadi milik kita malam ini!" Jelas Aditya.
"Hanya milik kita? " ucapku mengulang.
"Iya aku menyewanya untuk kita. Jika kau suka mungkin aku juga akan membeli tempat ini untuk dirimu"
"Kau bercanda sayang, kau sudah mengejutkanku dengan menyewa tempat ini, lalu kau malah berpikir untuk membelinya sekarang" Seruku.
"Jika kau menginginkannya. Apapun akan aku berikan Istriku"
"Tidak perlu seperti itu, aku menyukai kejutanmu, tapi ini terlalu berlebihan"
"Tidak ada yang berlebihan jika itu bisa menyenangkanmu istriku"
"Baiklah. Terima kasih sayang" Seruku. Memberi kecupan sekilas dibibirnya.
__ADS_1
"Ayo kita coba Semua wahana ditempat ini" Ajaknya padaku.
Hal pertama yang kami coba disana adalah bermain lempar gelang, Adit mencoba melempar gelang-gelang itu, tidak kusangka semua tepat sasaran.
"Yey... kau berhasil sayang" Aku kegirangan sampai melompat sangking senangnya, melihat aksinya Aditya.
Banyak hadiah lucu yang ditawarkan disana, Adit memintaku memilih sendiri hadiah yang kusuka. Aku menunjuk satu buah kotak musik yang kuingini sebagai hadiah, ia mengambil dan memberikannya padaku.
Sekarang giliranku yang memilih. Aku mengajak Aditya naik kesalah satu wahana disana, komedi putar.
"Adit ayo kita coba ini" Ajakku dan menunjuk kearah komedi putar itu.
"Tentu, Ayo kita kesana" Dia mengikuti kemauanku.
Ini sangat menyenangkan, namun ketika benda itu mulai bergerak dadaku sedikit berdebar melihat kebawah perlahan-lahan kami telah menjauhi daratan.
"Jangan takut sayang" Ucap Aditya. Menenangkanku dengan genggaman tangan yang begitu erat. Aku merapatkan diriku bersamanya. Kini mataku dibuat takjub oleh pemandangan dari atas sini, indah sekali, cahaya lampu ditengah kota terlihat dengan jelas.
"Istriku apa kau senang? " Tanyanya.
"Hmmm" gumamku.
Aditya melepaskan genggamannya dariku, menggantikannya dengan sebuah pelukan mesra melingkari pundakku.
Udara dingin, kini menjadi hangat ketika tubuh pria itu semakin melekat tubuhku.
"Aku tidak hanya senang, tapi aku bahagia. Bisa melakukan hal menyenangkan bersamamu suamiku " Ucapku menoleh kearah samping membuat bibirku tanpa sengaja bertemu dengan bibir Aditya, karena dia juga menoleh.
Tidak ingin menyia-nyiakan moments, Aditya malah meneruskannya, dangan ******* pada bibir kenyal ranum milik Bianca. Tangannya menahan tengkuk wanita itu, agar lebih leluasa memperdalam ciumannya. Berkali-kali Aditya menjatuhkan ciumannya kebibir Bianca, sampai mereka benar-benar puas, lalu mengakhirinya dengan kedua kening yang masih menyatu dan nafas yang masih menginginkan.
Setelah selesai dengan wahan itu, kami kembali mencoba wahana lainnya disana.
Sebagai penutup mengakhiri malam panjang nan indah ini. Aditya membawaku ke sebuah lapangan luas dan berdiri ditengah-tengahnya, perlahan-lahan satu persatu lampu menyala mengelilingi kami.
"Apa ini? Apa ini sebuah kejutan lagi sayang?"
"Tidak. Bukan ini kejutannya sayang, coba lihat kearah sana" Tunjuk Aditya.
Duarrr.
Duarrr.
Duarrr.
Suara sebuah kembang api menggema tepat diarah tangan Aditya menunjuk sekarang.
Indah sekali sangat indah, hanya Aditya yang bisa melakukan hal seperti ini.
"Inilah kejutannya. Apa kau suka?."
"Sangat sayang! Aku sangat menyukainya. Terima kasih Aditya. Kau mengakhiri malam ini dengan sangat indah."
__ADS_1
Aku berinisiatif memeluk dan menarik tengkuk Aditya, memberinya kecupan mesra sebagai hadiah karena merencanakan hal seindah ini. Dibawah letusan kembang api kami berciuman mesra.