
Keesokan harinya...
“Mamiii...Mamii... aku mau ice cream... ” Rengek Minyo.
“Sebentar ya sayang.” Seru Bianca, yang memang masih sibuk memasukan baju-bajunya dan Minyo kedalam koper.
“Mamiii.... Ice cream... mamiii... ” Minyo begitu tidak sabaran, sehingga membuat Bianca akhirnya mengalah, dan menuruti keinginan putranya.
“Baiklah ayo kita beli ice cream... ”
\*\*\*\*\*
📍Garden House.
“Aditya kita harus bicara!!!. ”
“Katakanlah aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkanmu.”
“Ini soal pernikahan kita ! Aku ingin itu terjadi dalam minggu ini.”
“Baiklah. Apa itu saja?.”
“Tidak. Kau juga harus mengumumkan berita pernikahan kita secara resmi, hari ini.. ”
“Permintaan konyol apa itu Viviean? Jika kau dan aku menikah semua juga akan tahu kau adalah istriku. Mempublikasikan hubungan, kurasa itu sama sekali bukan dirimu! Kecuali kau memiliki tujuan untuk itu semua.” Aditya menatap tajam kearah Viviean.
“Katakan padaku. Aku tahu kau tidak suka berbasa-basi...”
Viviean langsung menyunggingkan senyumnya, karena Aditya sangat memahami maksud dibalik semua permintaannya.
“Karena aku ingin wanita itu tahu, bahwa sekarang kau hanya menginginkanku !.” Tegas Viviean.
“Baiklah. Lakukan apapun yang kau inginkan. Aku tidak akan mencegahmu. Kau ingin pernikahan ini dipercepat, atau kau ingin mengumumkannya, aku tidak perduli, lakukanlah sesukamu.. ”
“Baiklah, kau sudah menyetujuinya, jadi jangan menghalangiku untuk melakukan apapun setelah ini... Terima kasih waktumu, aku akan pergi sekarang.” Viviean pergi meninggalkan Garden House, dengan langkah penuh percaya diri. Namun tidak ada yang bisa melihat kedalam hatinya, ia juga seorang wanita yang sedang berusaha tegar, demi seseorang yang dicintainya.
Drett.... Drett... Drett....
Baru beberapa menit setelah Viviean meninggalkannya. Kini giliran William yang akan mengusik pagi Aditya.
“Ada apa.... ” Jawab Aditya.
“Cih. Apa kau sudah sadar? Justru aku yang harusnya bertanya padamu?! Gara-gara wanita kau seperti ini lagi. Pria macam apa kau ini... ”
“Sudahlah aku tidak ingin berdebat terserah maumu, aku memang pria ********...”
“Kau memang bajing*n Aditya, bajing*n, pecundang, kurasa itu kata yang tepat untukmu.. ”
“DIAM KAU!!! Apa kau sudah sangat bosan hidup.” Geram Aditya.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakannya, aku hanya menambahkan saja...” Olok William.
“Besok Mereka akan meninggalkan Beijing, apa kau tahu itu... ” Inilah alasan utama Wiliam menghubungi Aditya.
__ADS_1
“Lalu? Tentu saja aku tahu. Tapi itu bukan urusanku lagi. Itu keputusannya... Jika dia ingin pergi, maka aku juga tidak memilik alasan untuk menahannya. Aku sudah memohon. Kau tahu aku bukan orang yang akan memohon. Harga diriku tidak mengijinkan hal seperti itu. Tapi untuknya, aku mau melakukan itu. Aku sudah mengorbankan harga diriku, tapi itu sia-sia.”
“Harga dirimu? Apa hanya karena harga diri kau berhenti? .”
“Sudahlah...aku tidak ingin berdebat sekarang.”
Tit...Panggila diakhiri oleh Aditya.
📍Ted Drewes Frozen Custard
“Pelan-pelan sayang... ” Bianca membersihkan mulut Minyo yang belepotan.
“Nyam... nyam...nyam...Makasih mamiii... ” Ucap Minyo kegirangan.
Tok... Tok.. Tok... Seseorang mengetuk kaca transparan cafe tersebut, seseorang yang dirasa cukup familiar bagi Bianca, tapi juga cukup asing. Pria itu tersenyum dan menunduk hormat padanya.
“William.... ” Bianca tanpa sadar menyebut nama itu, tidak salah lagi itu adalah William.
“Apa kabar nyonya Bianca... ”
“Jangan memanggilku seperti itu lagi.” Ucap Bianca terkekeh.
William menatap kearah, pria kecil yang duduk dihadapanya, yang juga sangat serius menatap kearahnya. Sekali melihat saja, bisa dipastikan bahwa pria kecil itu adalah Aditya versi mini. Yang artinya dia benar-benar adalah anak Bianca dan Aditya.
“Emmhhh.... ” Dehem Bianca. Sehingga membuat William kembali memfokuskan diri padanya.
“Maafkan saya nyonya... Apa ini... ”
“Ya dia putraku dan Tuanmu... ” Bianca langsung memotong ucapan William.
“Tidak lagi.... sejak 5 tahun yang lalu.” Ungkap William tanpa mengatakan bahwa sekarang dia adalah saudara angkat Aditya.
Bianca tersenyum sangat aneh mendengar ucapan itu.
“Ya aku tahu, sekarang sudah ada Viviean yang menggantikanmu. Apa Aditya memecatmu.”
“Mamiii... siapa paman ini.... ” Minyo menggoyang-goyangkan tubuh Bianca, agar meresponnya.
“Ini teman mamiii sayang. panggil dia paman William ya... ” Bianca menjelaskan sangat lembut pada putra kecilnya.
Karena merasa obrolan mereka tidak baik didengar oleh putranya, Bianca memutuskan menitipkan Minyo, tidak jauh dari tempat mereka berbincang saat ini.
“Saya memiliki pekerjaan lain sekarang. Tapi nyonya... Apa nyonya sudah bertemu dengan Tuan Aditya... ” William terus berakting seolah tidak mengetahui apapun yang terjadi antara Bianca dan Aditya, beberapa hari ini.
“Malam saat kecelakaan itu, maksud saya kecelakaan nyonya 5 tahun yang lalu... ”
“Tunggu. Apa kau mengetahuinya?. ” Bianca kembali memotong ucapan William.
“Ya saya mengetahuinya, karena Tuan Aditya selalu meminta saya untuk mengawasi Anda nyonya... ”
“Bodoh... Apa dia ingin memata-matai ku.. ”
__ADS_1
William menjelaskan semuanya pada Bianca. Hal yang seharusnya diketahuinya 5 tahun yang lalu.
Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Aditya, dan segala kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
“Malam itu, saat nyonya kecelakaan. Tuan sangat khawatir. Tuan Darmawansa juga sempat menghubunginya untuk memastikan bahwa anda bersama dengan tuan Aditya... Tapi malam itu kenyataanya anda memang tidak bersama tuan Aditya...”
“Berhenti William, bicaralah dengan normal. Aku bukan nyonya dan Aditya bukan tuanmu lagi... ” Seru Bianca.
“Aditya. Seharusnya kau sangat tahu bagaimana suamimu itu. Dia orang yang tidak suka bermain-main, saat dia terusik atau kehidupannya diusik...Dia bisa melakukan apapun, termasuk melenyapakan siapapun. Beruntung malam itu dia tidak melakukanya... Dan apa kau tahu itu karena apa? Karena dia lebih mengkhawatirkan mu dan bayi dikandunganmu.”
“William katakan dengan jujur, apa kau sedang berbohong padaku? Apa ini perintah dari Aditya... ”
“Sudahku katakan, aku tidak bekerja untuknya lagi Bianca.”
“Jika dia mengkhawatirkan aku dan bayinya. Kenapa malam itu dia tidak datang.. ” Bianca berusaha menahan tangisnya.
“Karena malam itu Aditya juga mengalami kecelakaan. Hanya mujizat yang membuatnya bisa hidup kembali. Bahkan nyonya besar sudah kehilangan harapan saat itu.”
“Lalu Kirana? Kau tidak mungkin tidak mengetahui hubungan mereka William, kau pasti tahu itu... ”
“Maafkan aku Bianca. Kau benar tentang itu semua. Dan seharusnya kau bertanya padaku sebelum kau memutuskan pergi hari itu. Karena akulah yang lebih mengetahui semuanya. Aditya benar-benar mencintaimu. Dia tidak pernah mengkhianatimu. Kirana dan Eric ! Bukankah Aditya sudah pernah memperingatimu tentang mereka? Bahkan saat Aditya sadar dari koma orang yang pertama kali ditanyakan olehnya adalah dirimu, bukan nyonya besar dan Kirana... Hanya anda yang Aditya benar-benar inginkan...”
Deg.
Dada Bianca seperti tertimpa baban yang sangat berat.
Sesuatu tiba-tiba menariknya mundur ingatan Bianca menuju ketahun-tahun saat dia dan Aditya masih bersama .
Hari dimana untuk pertama kalinya dirinya dan Aditya, merasa bahwa pernikahan mereka adalah hal yang berarti :
"Apa kau pernah berpikir untuk meninggalkanku Bianca?"
"Aku selalu ingin lepas darimu Aditya, tapi sayangnya aku tak bisa ! Kau terlalu kuat mengikatku dihidupmu"
"Aku tidak akan melepaskan mu, sekalipun kau menginginkannya"
"Jika suatu saat aku hilang, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku pasti akan menemukanmu ! Apa kau lupa Suamimu ini adalah Aditya, apapun bisa kulakukan jika ku ingin, termasuk mencarimu keujung dunia sekalipun".
Hari dimana untuk pertama kalinya Aditya memintanya berjanji :
"Bejanjilah sayang, apapun yang terjadi jangan pernah berpikir untuk menjauh dan meninggalkanku" Pinta Aditya.
"I promise... "
Hari dimana setelah masalah yang datang bertubi-tubi. Dirinya meminta Aditya untuk berjanji :
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku Adit !."
"Tidak akan pernah sayang, tidak akan pernah. "
Dan masih banyak lagi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi...
__ADS_1
Bersambung...