
BAB 103
Clarissa sadar diri, setelah melihat keponakannya, ia pamit pulang kepada seluruh anggota keluarga yang hadir. Sekalipun Keluarga Matthew mengajaknya bergabung, tidak menjadikan mengambil kesempatan. Tujuan utama hanya menjenguk kedua bayi, bukan masuk ke dalam keluarga mereka.
“Della, aku pamit. Semoga kalian selalu diberkati dalam sehat. Datanglah sesekali ke rumah, Papa merindukanmu. Ini alamat baru kami.” Clarissa tersenyum, menyampaikan pesan dari Tuan Dominique yang sedang sakit.
“Kamu menetap di kota? Kenapa aku baru tahu?” Fredella memandang kartu kecil berisi alamat tempat tinggal keluarga angkatnya.
“Iya, selama satu tahun kami tinggal dekat rumah sakit. Kamu lihat kan aku bisa berjalan lagi, semua karena usaha Papa yang tidak pantang menyerah, mencari dokter kemanapun selama aku bisa kembali normal.” Tutur Clarissa Dominique.
Sementara di luar seseorang memperhatikan gerak gerik dua wanita cantik yang sedang menggendong bayi. Mengamati salah satu dari dua wanita itu, memindai dari atas ke bawah terus begitu, lalu tersenyum kecut membandingkan dengan dirinya sendiri.
“Pantas, kamu belum melupakannya. Dia memang cantik, tubuhnya bagus, pintar merawat diri. Berbeda sekali dengan …” Ayu menatap diri sendiri, melihat penampilannya yang tidak layak bersanding dengan Bobby.
Ayu semakin menegang dan ingin menangis ketika Clarissa menghampiri mejanya. Dunia sangat sempit sampai harus bertemu dengan wanta yang dicintai oleh suaminya.
“Oma, Opa. Caca pamit ya, terima kasih.” Clarissa pamit, tanpa sengaja pandangan matanya beradu dengan Ayu, seketika itu juga ia tahu bahwa Ayu tidak menyukai kehadirannya.
Clarissa hanya tersenyum simpul menanggapi pandangan ibu muda itu.
“Kamu beruntung Ayu setidaknya masih bisa merasakan kehidupan yang sempurna.” Batin Clarissa, perlahan meninggalkan area taman, berjalan menuju pintu depan, menghilang degan mobil yang dikendarainya.
__ADS_1
Melihat pengganggu sudah pergi, Dariel menghampiri Fredella, meluncurkan banyak pertanyaan. Ia khawatir hati istinya kembali sakit mendengar ucapan Clarissa.
Memeriksa seluruh tubuh Fredella, memutar sang istri hanya untuk memastikan tidak ada luka sedikitpun. Dariel akan mencari Clarissa jika sesuatu terjadi dengan istri dan anak-anak. Tunggu, dia belum memperhatikan dua buah hatinya.
Usai mengetahui keadaaan ibu dari anaknya sehat, serta dalam suasana hati yang baik, Dariel menggendong bayi satu per satu. Ia tidak akan rela anaknya disakiti Clarissa.
“Dariel, kamu ini berlebihan. Tidak terjadi apapun, aku dan anak-anak dalam keadaan yang baik.” Fredella menggelengkan kepala, suaminya bersikap di luar batas.
“Aku hanya khawatir kamu terluka, bukan masalah kan sayang?” ucap Dariel penuh penekanan. Sudah cukup ia kehilangan dan hidup berjauhan dengan Fredella, tidak ingin terjadi untuk kedua kalinya.
Baginya hidup terasa tidak berarti tanpa kehadiran Fredella dan anak-anak. Untuk itu Dariel tidak henti mengawasi secara langsung, menjaga dari dekat selama raganya masih mampu memberi yang terbaik.
“Iya, Daddy memang yang terbaik.” Fredella menepuk bahu suaminya, kemudian berjinjit mencium pipi Dariel.
“Tidak perlu iri, memang salah mu, kenapa tidak membawa salah satu dari mereka ke sini?” Tanya Dariel, sengaja merangkul bahkan mencium bibir istrinya tepat di depan Daniel. Lagipula tidak salah memesrai istri sendiri, tak ada larangan tertulis juga di rumah.
“Mungkin dia bukan jodohku, bisa saja jodohku masih bayi. Umm … mungkin harus menunggu dia menjadi dewasa, tenang sayang aku tidak lelah menunggumu.” Manik hazel Daniel menatap Valerie yang sedang tidur di atas ranjang. Bahkan pria ini memberi tanda hati kepada keponakannya.
Sontak Dariel dan Fredella melotot melihat sepupu mereka yang mengalami gangguan jiwa secara dadakan. Valerie langsung menangis sangat keras setelah mendengar kata-kata pamannya.
Fredella langsung menggendong Theo dan Vale menuju lantai dua, ia bergidik ngeri membayangkan putrinya menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua.
__ADS_1
“Kau gila ya? Putriku itu masih bayi, jangan mimpi kau Daniel.” Sentak Dariel menunjukkan kepalan tangan di depan kedua mata Daniel.
“Siapa yang mimpi? Aku hanya menyampaikan perasaan saja, lagipula kenapa kalau kami menikah? Hubungan keluarga kita semakin erat bukan?” Daniel menyeringai licik, rasanya menyenangkan menggoda sepupunya ini.
“Awas kau Daniel, sebaiknya cari wanita yang sepadan. Sekalipun bercanda, aku tetap tidak terima.” Dariel menatap tajam sepupu gilanya ini, mungkin Daniel gangguan jiwa karena sempat gagal menikah, pikir Dariel.
Sepasang orang tua ini masuk kamar lebih cepat, bahkan Fredella mengunci pintu setelah suaminya masuk. Valerie masih terus menangis tanpa henti, tidak mau menyusu, popoknya pun kering tidak basah sama sekali.
Dariel mengambil putrinya dari tangan Fredella, menepuk perlahan punggung anaknya, menciumi putri kecil itu.
“Tenanglah sayang. Daddy dan Theo akan menjaga Mom juga Vale.” Seketika putrinya diam bahkan kembali tidur dengan nyaman di pangkuan Dariel.
“Bisa-bisanya Daniel memiliki pikiran seperti itu, aku tidak terima.” Gerutu Fredella, meremas kedua tangan, lalu tanduk tak kasat mata muncul di atas kepala.
“Dia hanya bercanda sayang, jangan ditanggapi serius ya, lebih baik kamu istirahat! Theo dan Vale pasti bangun tengah malam.” Dariel mengambil piyama untuk istrinya dan menyimpan di atas ranjang.
“Kita harus mencari jodoh untuk Daniel, aku tidak mau memiliki menantu yang usianya jauh di atas ku.” Fredella masih kesal dan tidak percaya sepupunya bisa memikirkan hal di luar nalar.
Dariel mengangguk mendengar ide brilian istrinya, tapi Daniel tipe pemilih dan sulit jatuh cinta. Terlalu sering menangani masalah orang sampai lupa dirinya sendiri memliki masalah.
“Jangan takut sayang, itu tidak akan terjadi, Daniel hanya bercanda.” Dariel memeluk istrinya untuk menenangkan ketakutan Fredella.
__ADS_1
TBC