IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
IMPERFECT MARRIAGE Episode.31


__ADS_3

Masih di Garden House.


Sejak Bianca kembali kerumah, suasana rumah menjadi semakin baik, begitu juga dengan Aditya, ia dapat bernafas lega, karena istrinya sudah ada bersamanya. Tapi sekarang mereka masih punya satu masalah yang belum terselesaikan, Ariani (Ibu Aditya) sudah meminta pengacara keluarga mereka mengurus perceraian putranya. Bahkan bukan hanya itu, Aditya juga baru mengetahui bahwa aliran dana keperusahaan Ayah Bianca sudah dihentikan oleh ibunya.


Hari ini Aditya membawaku untuk bertemu dengan Mamah. Perasaanku sedikit ragu, apakah ini waktu yang tepat, tapi aku percaya bahwa semua akan baik-baik saja saat aku bersama dengan Aditya.


Kediaman Keluarga Handoko Herlambang, yang kini hanya ditempati oleh Ariani.


"Apa yang ingin kalian bicarakan? ." Tanya Ariani. Dari raut wajahnya, masih tampak bahwa wanita paruh baya itu, masih sangat sedih dengan kepergian suami tercintanya.


"Aku datang kemari, untuk menjelaskan semuanya. Bianca tidak bersalah, dia sama sekali tidak terlibat dengan kematian Papah." Ucap Aditya.


Sementara aku hanya bisa menundukkan kepala, karena merasa Mamah masih sangat marah padaku. Namun Aditya meraih tanganku, dia menggenggamnya erat. Kekuataanku bertambah dua kali lipat dengan sentuhan itu.


"Aku tahu kau membebaskan Bianca, dan membawa Joe Morrent kesana!." Seru Ariani.


"Baguslah, sekarang Mamah sudah mengerti bahwa Bianca bukan pelakunya!. "


"Tidak Aditya. Aku belum bisa mengerti semuanya, yang aku tahu Bianca lah yang ada disana malam itu. Mamah yakin Bianca memiliki keterlibatan dengan kejadian itu." Ariani menolak kenyataan yang sebenarnya, dia masih tidak dapat melupakan malam berdarah itu.


"Mah..." Ucapku mencoba menjelaskan, namun Ariani kembali memotongnya.


"Sudah kukatakan. Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, aku sudah tidak mengganggap mu menantu ku lagi." Jelas Ariani.


"Mah. Kumohon jangan seperti ini, kasihan Bianca! ." Cegah Aditya.


"Kasihan? Aditya kau mengasihani orang yang salah. Papah meninggalkan kita karena dia. " Kemarahan Ariani semakin pecah.


"Aku tahu Mamah sangat terluka, tapi jangan membuat Bianca jadi korban, hanya karena Mamah belum bisa menerima kenyataan! ." Ujar Aditya.


"Keluarlah dari tempat ini, aku tidak ingin melihat wanita itu dirumahku lagi. Dan kau Bianca, aku sudah mengatakan bahwa kau harus meninggalkan Aditya! ." Ucap Ariani, menunjuk kearahku.


"Baik kami akan pergi, tapi aku tidak akan menceraikan Bianca, begitupun sebaliknya. " Balas Aditya. Lalu membawaku pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Aku bisa melihat bahwa Aditya sangat yakin melakukan semua itu. Tapi hatiku tidak mengijinkannya, Ariani tetaplah ibu Aditya, tidak seharusnya dia melakukan itu.


"Adit. Mengertilah Mamah masih sedang berkabung sekarang. Kau mengertikan? Ditinggal oleh belahan jiwa untuk selamanya itu bukan hal yang mudah, sayang. Jadi jangan seperti itu, mamah akan semakin sedih." Ungkapku.


"Kau benar sayang. Terima kasih, kau bisa mengerti semua itu. Kita cari waktu lain ya, setelah itu aku akan membawamu bertemu dengan Mamah lagi." Ucap Aditya.


*****


Eric Pov

__ADS_1


Entah kenapa aku belum mendapatkan kabar baik tentang perpisahan Aditya dan Bianca. Seharusnya mereka sudah berpisah. Berapa lama lagi kabar baik itu datang? Aku benar-benar tidak sabar menunggunya.


Foto yang ku tunjukan kemarin, seharusnya sudah sangat cukup agar Bianca meninggalkan Aditya. Dia pasti sangat terluka melihat suaminya bersama wanita lain.


Tapi bagaimana jika hatinya luluh karena Aditya sudah membebaskannya? Bagaimanapun hati wanita itu terlalu lembut, semoga saja mereka benar-benar akan berpisah.


Pukul 18:00


Eric meninggalkan kantornya, bersama Zidan Asisten Pribadinya. Mobil mereka melaju menuju Shanghai Paradise, ada seseorang yang sudah menanti kedatanganya disana.


"Apa ada perkembangan yang kau dapat? " Tanya Eric.


"Surat perceraian itu belum dihentikan, tuan. Kurasa mereka benar-benar akan bercerai. Namun saya baru mendapat informasi bahwa Aditya dan Nona Bianca baru saja berkunjung ke kediaman Ariani, Ibu Aditya." Jelas Zidan.


"Bagus, awasi terus mereka. Sepertinya Aditya berhasil membujuk Bianca. Kalau begitu kita keluarkan satu kartu lagi sekarang! ." Seru Eric. Pria yang penuh dengan permainan gila dan licik.


📍Shanghai Paradise.


Zidan segera membukakan pintu mobil untuk Eric setelah mobil itu terparkir dengan sempurna.


"Kau tunggulah disini." Titah Eric.


"Baik tuan! ." Ucap Zidan dengan hormat.


Krek.


Suara pintu terbuka. Mata Kirana langsung tertujuh kearah pintu dan mendapati kedatangan Eric. Tanpa basa-basi Eric langsung duduk dan mengajaknya bicara.


"Kau tahu mengapa aku memintamu tinggal disini untuk sementara? " Tanya Eric.


"Apa rencanamu, Bianca sudah keluar aku tidak memiliki peluang untuk bersama dengan Aditya lagi sekarang! ." Seru Kirana. Sekarang dia mulai merasa bahwa usahanya untuk kembali bersama Aditya akan gagal.


"Temuilah Bianca. Katakan semuanya! " Titah Eric.


"Apa kau gila? Bagaimana caraku melakukanya? Aditya akan membunuhku jika dia mengetahuinya." Jawab Kirana ragu untuk melakukan hal itu.


"Kau itu wanita pintar Kirana. Lakukanlah itu, dan jangan sampai Aditya mengetahuinya! ." Jelas Eric lagi. Dia terus menghasut Kirana dengan ide-ide gilanya.


"Kau tidak mengenal Aditya, bahkan dia bisa mengungkap pembunuh ayahnya sendiri, dalam waktu singkat." Seru Kirana.


"Tidak kali ini, aku yakin ini akan berhasil, datanglah pada Bianca. Katakan bahwa kau dan Aditya saling mencintai." Suruh Eric. "Setelah itu aku akan datang pada Bianca untuk membuatnya semakin membenci Aditya! " Jelas Eric lagi.


"Katakan apa Idemu, Aku sudah berkali-kali kecewa karena kegagalan rencanamu itu! Aku sudah cukup kecewa karena Aditya, jangan membuatku berharap sesuatu yang mustahil lagi. " Ujar Kirana.

__ADS_1


"Apa kau tidak mencintai Aditya lagi Kirana? Aku mencintai Bianca, aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkanya. Jika kau tidak ingin bergabung denganku lagi, pergilah.. Sekarang aku tahu bahwa cintamu selemah itu." Ucap Eric, tentu saja dia sengaja mengatakan itu agar Kirana mau melakukan keinginannya.


"Tutup mulutmu. Bahkan cinta mu pada Bianca, tidak akan sebesar cintaku pada Aditya. Kau tidak bisa membandingkan perasaanku dengan perasaanmu. Aditya adalah hidupku, hanya dia yang benar-benarku inginkan dihidup ini." Ungkap Kirana.


Lagi-lagi Eric berhasil membuat Kirana melakukan keinginannya.


"Bagus Kirana aku tahu, kau sangat mencintai Aditya. Jadi mari kita lakukan untuk orang yang benar-benar kita Cintai. Kau bisa bersama Aditya dan aku akan memiliki Bianca." Ucap Eric.


Kedua orang itu benar-benar sangat terobsesi dengan cinta mereka masing-masing.


📍Garden House.


Meskipun ini bukan waktu yang tepat, aku harus mengatakan pada Aditya sekarang, bahwa aku sedang mengandung, buah cinta kami.


Aku menghampiri Aditya yang sedang berbaring diatas tempat tidur.


"Ada apa sayang? ." Tanyanya saat aku perlahan-lahan mendekatinya.


"Ada sesuatu yang inginku berikan padamu, seharusnya ini kuberikan saat pesta ulang tahunku, tapi karena kejadian itu... " Belum sempat aku meneruskan perkataan ku, Aditya lebih dulu memotongnya.


"Jangan mengingat hal-hal pahit itu sayang. Katakanlah apa yang ingin kau beritahu padaku?. " Ucap Aditya.


"Tutup matamu! " Pintaku.


Aditya menurut dan memejamkan matanya, kuraih tanganya dan kuletakan sekotak kecil kado ditanganya, kemudian kuminta dia membuka matanya kembali.


"Apa ini sayang." Tanya Aditya penasaran.


"Bukalah agar kau tahu!." Seruku. Setelah itu Aditya benar-benar membukanya.



Sebuah test pack, Aditya tampak kebingungan saat melihatnya, aku hanya bisa menunggu reaksi apa yang akan dia berikan setelah ini.


"Bianca, katakan padaku. Kau hamil sayang? Benarkah aku akan menjadi seorang ayah. Istriku hamil... " Ucap Aditya. Dia tampak terkejut dan senang saat mengetahuinya.


"Ya kau benar, kau akan menjadi seorang ayah Aditya. Aku hamil." Ungkapku.


Entah sejak kapan, air mata kami menetes bersamaan, air mata haru dan bahagia, bercampur jadi satu. Aditya menarikku masuk kedalam pelukannya, dan terus menjatuhkan ciuman ke wajahku.


Sekarang aku jadi tahu, beginilah kebahagian orang tua saat untuk pertama kalinya mereka akan menjadi orang tua.


"Kesayangan Papih, baik-baik yah di perut mamih, sayang." Ucap Aditya dan mengelus lembut perutku.

__ADS_1


Setidaknya kabar baik ini bisa menambah kebahagiaan untukku dan Aditya sekarang. Biarlah ini menjadi penguat cinta kami, yang sedang diterpa cobaan.


__ADS_2