IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 84 - Harapan selalu Ada


__ADS_3

BAB 84


Bumi terus berputar dan waktu tidak berhenti sedetikpun, tanpa disadari dua minggu dilalui Dariel dan Fredella. Ibu hamil itu sangat sensitif, ditambah lagi rasa mual yang berlebihan menghambat aktifitas Fredella.


Selain mual, dia juga lebih pemilih, tidak semua menu makanan diterima. Apalagi protein hewani, baru mencium aromanya saja membuat Fredella bergidik ngeri dan muntah.


Satu-satunya protein hewani yang bisa diterima oleh lambungnya yaitu telur, dan hanya Dariel yang boleh memasaknya, karena pria ini mahir mengolah makanan berbahan dasar telur.


“Sayang, ini. Maaf menunggu lama, tadi jamurnya habis jadi ku minta tolong Rico membelinya, tidak apalah sesekali dia berkorban demi keponakannya.” Tawa Dariel, menyimpan makanan di atas meja. Dariel memanfaatkan keadaan, dijadikan ajang balas dendam untuk menjahili kakak ipar menyebalkan.


“Jangan begitu, dia kakak kandungku. Kamu harus baik, selama ini kakak yang sering membantu, dia pria terbaik dalam hidupku.” Ujar Fredella, tersenyum seraya membayangkan wajah tampan Rico Matthew.


“WHAT? Jangan bilang isi otak istriku sekarang adalah kakaknya. Sayang aku itu suamimu, apa iya harus menjadi yang kedua, tidak masuk akal.” Keluh Dariel mendadak lemas, makanan di dalam mulut tidak bisa ditelan karena menyesakkan mendengar istrinya lebih memilih Rico dibanding Dariel.


Dariel dan Fredella selalu merajuk bergantian, tidak ada penawar, mungkin pengaruh hormon kehamilan. Tetapi Dariel, mendadak mengalami hal yang sama padahal jika ditilik dalam medis tidak ada hubungannya.


“Kamu jangan marah, nanti siapa yang antar aku check up. Kita ke rumah sakit hari ini kan? Aku tidak sabar melihatnya.” Mengelus perut rata yang sama sekali tidak buncit, padahal pipi mulai membengkak.


“Iya akulah, masa pergi diantar Rico. Ingat ya sayang, dia hanya paman dari anak kita. Aku Daddy-nya jadi lebih berhak atas anak kita. Jangan sampai wajahnya mirip Rico.” Dariel menepuk dahi, tidak ingin membayangkan apa yang dikatakannya benar-benar terjadi.


Mendadak Dariel diam dan tubuhnya merosot, pandangan lurus ke depan.


Dia teringat bahwa Denver, keponakan yang sangat mirip dengannya sampai semua orang mengira bahwa Denver adalah putra kandung Dariel. “Tidak. Anakku harus mirip Daddy-nya bukan pamannya. Tapi kenapa wajah Denver bisa mirip sekali ya? Mungkin karena Dwyne ketika hamil sangat bergantung pada ....  kepadaku.” Lirih Dariel, ia tidak sanggup jika putranya kelak mirip Rico.


“Semoga dia perempuan.” Harapan Dariel dalam hati.


**


Rumah Sakit


Dariel mendorong kursi roda Fredella memasuki ruang spesialis obstetri dan ginekologi, keduanya saling bertatap dan melempar senyum satu sama lain. Apalagi ketika perawat mulai membantu Fredella menyingkap dress, jemari Dariel gatal, kenapa harus di buka sebatas dada? Ia tidak rela kulit mulus istrinya dilihat dokter dan suster, sekalipun mereka perempuan.

__ADS_1


“Ok, sekarang kita lihat. Baby sudah sebesar apa.” Suara lembut dokter paruh baya, mulai mengoleskan gel dan memegang tranducer di atas perut. Perlahan benda itu bergerak sedikit menekan, mengitari perut bagian bawah. Terhenti di beberapa titik dengan satu tangan menekan ikon di atas keyboard besar.


“Dokter bisa jelaskan itu apa? Rasanya dua minggu yang lalu masih sama, kenapa belum ada kaki, tangan dan kepala?” Dariel serius melihat layar di atas.


“Memang seperti ini Tuan, janin masih sangat kecil dan biasanya mulai terlihat memiliki anggota tubuh lengkap saat usianya sembilan sampai dua belas minggu, tergantung dari kondisi. Nyonya ada keluhan apa?” Dokter bertanya sedetil mungkin kepada Fredella, kondisi kehamilan pertama yang dialami biasanya tubuh ibu belum terbiasa menerima, dan cenderung kaget.


Bukan Fredella yang menjawab, melainkan Dariel menjelaskan sangat rinci keadaan istrinya, sangat susah makan dan susah minum susu.


“Ada tablet kalsium ya, Nyonya makan sedikit demi sedikit yang penting ibu dan janin mendapat asupan nutrisi, tidak harus sekaligus banyak, bisa berjarak dua sampai tiga jam sekali.” Dokter menuliskan resep suplemen makanan dan pola makan yang harus dituruti oleh Fredella.


“Tuan dan Nyonya semangat, jangan memikirkan sesuatu. Tiga minggu lagi kita lakukan pemeriksaan.” Ujar Dokter selalu mengulas senyum menenangkan, tapi Dariel curiga wanita paruh baya ini menyimpan hal lain.


“Bukannya check up satu bulan sekali dokter? Kenapa tiga minggu lagi saya dan istri harus ke sini?” Dariel menatap tajam pada dokter kandungan bernama Alice.


Dokter menyerahkan hasil USG, menjelaskan alasan dilakukannya pemeriksaan tiga minggu mendatang, sebab diusia kandungan Fredella yang menginjak delapan minggu kurang satu hari, seharusnya sudah terlihat bakal janin atau suara detak jantung.


Tetapi hanya kantung kehamilan yang tampak membesar dari dua minggu sebelumnya. Sebenarnya pada beberapa kasus hal ini normal, setelah dilakukan pemeriksaan selanjutnya janin mulai terdeteksi di usia kandungan sembilan atau sepuluh minggu.


“Keajaiban selalu ada Tuan, saya dokter selalu berharap semua pasien mendapat berkat dan kebahagiaan. Kami hanya membantu tapi sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta.”


.


.


Dariel tidak menunjukkan kesedihan, ia selalu melengkungkan senyum di depan Fredella, sebab istrinya selalu diam tak bersuara sedikitpun sejak keluar dari ruang dokter.


Entahlah penuturan dokter hari ini tidak membuat Dariel senang, ia pun mencari alternatif ke rumah sakit lain. Menghubungi GB Hospital di Birmingham untuk mengirim tim dokter terbaik ke Liverpool.


Dariel yakin anaknya di dalam sana baik-baik saja, mungkin hanya malu hingga belum menunjukkan keberadaannya.


“Daddy tidak peduli kamu mirip siapa, tapi tumbuhlah dengan baik, Daddy dan Mommy menunggu mu Baby.” Batin Dariel sesak rasanya, ia hanya mengelus perut rata Fredella dan menggenggam jemari ibu hamil ini.

__ADS_1


Dokter berpesan, agar Fredella tidak stress sedikitpun, usahakan selalu bahagia, karena kondisi ibu sangat berpengaruh di samping faktor lainnya.


“Dariel?”


“Ya sayang. Kamu lapar?”


“Kalau ... seandainya ... aku ...” Fredella tidak kuasa melanjutkan kata-kata yang ingin disampaikan, semua tertahan di bibir, ia hanya mampu menggigit kuat bibir bawah sembari meneteskan air mata.


Saking kuatnya gigitan itu, bibir Fredella sobek dan mengeluarkan darah sampai membasahi dagu lalu mengalir ke dress-nya.


“Sayang kamu berdarah. Pak, cari klinik terdekat, istriku memerlukan bantuan.” Panik Dariel, mengambil tissue untuk menekan luka.


Sopir pun panik melihat Nyonya Mudanya dalam keadaan terluka, seketika menepi setelah melihat klinik kecil di persimpangan jalan.


Dariel menuntun istrinya keluar dan berjalan masuk ke dalam, tapi belum sempat mendapat pertolongan Fredella jatuh pingsan. Dariel terkejut bukan main, di satu sisi harus menekan luka, sekaligus menggendong istrinya ke dalam ruang tindakan untuk mendapat penanganan lebih lanjut.


Kening Fredella mendadak dipenuhi keringat dingin, padahal suhu udara sangat dingin tapi ibu hamil itu mengalami demam.


TBC


**


Maaf ya kesorean 😁tetap ya up setiap hari diusahakan 2x bukan sih tapi wajib 2 🤭🤣


Kalau memungkinkan crazy up.


Jangan lupa dukungannya ya teman teman


Satu dukungan dari kaka semua sangat berarti


Terima kasih 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2