
BAB 111
Ayu menitipkan Ethan bersama Fredella, wanita itu bergegas masuk ke dalam rumah setelah mendengar kabar kalau Bobby siang ini juga bertolak ke negeri ginseng, untuk menyelesaikan projects iklan yang sempat tertunda.
Ibu muda ini semakin panik karena jadwal Bobby di Korea cukup lama, sekitar satu bulan. Mau tidak mau hari ini juga Ayu harus menemui suaminya, pasti Bobby berpikir ia tetap melanjutkan rencana perpisahan mereka.
“Ayu kamu … sidangnya sudah selesai? Eh maksudku mediasi.” Fredella meralat ucapannya, entah kenapa dia begitu membenci Bobby, semua terjadi karena mereka bertiga. Dariel, Clarissa, Bobby yang telah membuat hidupnya terusik.
“Jangan bilang kamu. Kamu mencabut gugatan cerai? Kamu serius mau kembali dengan Bobby?” tanya Fredella tidak percaya, jika Ayu bisa mudah memaafkan pria yang telah menyakiti hatinya.
“Sayang, ssst jangan seperti itu.” Dariel memperingati istrinya, bagaimanapun dia terlibat dalam kekacauan yang ada, malah sebagai pemeran utama.
Ayu tersenyum malu, jujur untuk saat ini tidak bisa mengatakan apapun sebab diburu oleh waktu.
“Iya ka, Ayu pikir tidak ada salahnya memberi kesempatan kedua untuk Bobby, sama seperti kakak. Maaf Kak, Ayu permisi.” Ayu berlalu dari dua orang yang dianggap sebagai kakak, ia mencari keberadaan Etha, untuk membawa putranya keluar dari rumah menemui Bobby.
Sementara Daniel masih setia menunggu di depan bangunan kokoh nan megah itu, terus menekan klakson memanggil Ayu.
__ADS_1
“Berisik bro. Kau ini tidak tahu aturan.” Teriak Dariel dari dalam rumah.
“Maaf adik sepupu, aku ada misi penting. Di mana Ayu? Suruh dia cepat keluar. Jangan pakai lama.” Ucap Daniel begitu menggebu dan gemas, pandangannya selalu teralih pada jam tangan, waktu yang mereka miliki tidak banyak.
Dariel bergegas menyusul Ayu, bahkan ia menarik istri dari sahabatnya dengan tidak sabaran. Membantu Ayu menggendong Ethan, menuruni setiap anak tangga.
“Kak hati-hati.” Ayu meringis melihat betapa cepatnya Dariel membawa mereka menuju halaman depan, wanita ini khawatir terjatuh, terguling seperti bola.
“Cepat temui Bobby, dia ada di titik terendah sekarang. Benar-benar membutuhkan kamu Ayu.” Ucap Dariel sembari menutup pintu mobil.
Pria blasteran Asia Eropa ini senang pernikahan Bobby bisa terselamatkan, walaupun menuju detik terakhir. Sebagai seorang pria sekaligus pernah mengalami hal serupa, memang menyakitkan kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidup.
“Siapa yang menghasut Ayu?” tanya Fredella tiba-tiba muncul di belakang suaminya.
“Memang kamu pikir siapa mahkluk kurang kerjaan itu? Berani sekali dia menggagalkan rencana Ayu.” Dariel menoleh ke samping, memperhatikan wajah istrinya yang tampak berpikir keras. Demi apapun Dariel ingin tertawa kenapa wanitanya berubah menjadi sangat lamban dalam berpikir.
Tapi perlahan Fredella mendekat, menempel erat, Dariel pikir akan mendapat hadiah berupa ciuman mesra, kenyatannya Ibu dari Theo dan Vale ini malah menginjak kuat kaki suaminya, sembari membisikan satu kata.
__ADS_1
“Kamu”
Fredella masuk ke dalam rumah, ia kesal pertanyaanseriusnya menjadi bahan candaan Dariel.
“Hey sayang tunggu, jangan marah. Maaf bercanda.” Teriak Dariel, kegiatan ini tidak asing lagi bagi para asisten rumah. Terbiasa mendengar Tuan dan Nyonya mereka bergurau.
Bahkan saling beradu pendapat dan berteriak bukan suasana menegangkan, karena itu salah satu cara Dariel dan Fredella menjaga hubungan.
Seisi rumah akan panik bila keduanya sama-sama diam, tanpa suara apapun dan hanya memberikan bahasa isyarat.
Tapi kalau aksi saling kejar kejaran seperti sekarang menjadi santapan sehari-hari para pelayan.
“Aku tanya serius, kenapa kamu jawabnya bercanda. Menyebalkan sekali anda Tuan Muda Bradley.” Fredella enggan melihat wajah suaminya.
“Begini sayang, jangan tanya kenapa Ayu bisa berubah pikiran, sekarang katakan padaku. Apa yang membuat kamu bersedia memberi kesempatan terakhir untuk pria br3n9sek bernama Dariel? Tentu jawabannya sama. Apa yang kamu rasakan waktu itu sekarang dialami Ayu. Jadi sebagai kakak yang baik harus mendukung adiknya.” Ucap Dariel, dengan satu tangan melukis tanda hati di punggung istrinya.
“Iya aku tahu. Tapi Bobby, dia berbeda Dariel … sudahlah, semoga temanmu itu benar-benar berubah dan bisa menyayangi Ayu apa adanya.” Pungkas Fredella merangkul bahu suaminya, berjalan masuk ke kamar.
__ADS_1
TBC