
Saat ini, kebahagian lainya, silih berganti datang dalam hidupku.
Mulai hari ini.
Aku adalah seorang ibu dan Aditya, dia akan menjadi seorang ayah. Ini adalah kabar baik, aku berencana mengumumkan ke hamilanku dimalam pesta ulang tahunku besok, ini pasti akan menjadi kejutan buat semua orang.
Setelah semua hal pahit yang kulalui, Tuhan, menghadiahiku begitu banyak keajaiban. Pertama Suamiku yang mendadak mencintaiku, dan sekarang Janin yang sedang bertumbuh dirahimku.
Sebenarnya aku sudah sangat ingin mengatakan hal ini pada Aditya, tapi ini hanya tinggal sehari lagi, aku harus lebih bersabar sampai acara ulang tahunku besok.
Aditya datang menghampiriku, dengan setelan biasanya, kemeja dan jas, serta celana panjang hitam. Apa dia mau meninggalkaku sekarang, pikirku sebelum Aditya benar-benar tepat berada dihadapanku.
"Bianca, sayang! Aku akan keluar sebentar, ada beberapa berkas yang harus ku tanda tangani." Ucap Aditya mencium keningku.
"Apakah tidak bisa dibawa kesini saja? Aku tidak ingin jauh-jauh darimu" Aku mengengam tangan Aditya dan memainkanya jari-jarinya.
"Hei. Apa kau sakit? Tidak seperti bisanya kau seperti ini. Ada apa sayang?." Tanya Aditya. Mungkin karena aku tidak pernah melakkukan ini sebelumnya.
"Aku hanya tidak ingin jauh darimu, Adit."
"Aku janji ini hanya sebentar saja, aku perlu mengecek beberapa hal juga disana sayang!." Ucap Adit, membujuk istrinya agar tidak bersedih.
"Ya sudah pergilah, tapi kau janjikan ini hanya sebentar?."
"I Promise Bianca. Aku berangkat dulu sayang." Pamit Aditya, memberi ciuman dikeningku lagi.
Aku begitu tidak rela dengan kepergian Suamiku. Meskipun dia mengatakan sebentar, kenapa rasanya itu akan tetap terasa lama.
"Nak sabarlah ayahmu akan segera pulang." Ucapku mengelus perutku sendiri. Entah kenapa aku mengatakanya. Aku hanya merasa bahwa itu adalah keinginan bayi kami juga, agar Ayahnya tetap disini. Tapi aku tahu pekerjaan juga penting untuknya, ditambah lagi aku belum bisa mengatakan tentang kehamilanku pada Aditya. Jika dia tahu, aku sangat yakin dia pasti akan terus bersamaku, tanpaku minta sekalipun.
The Shimao Wonderland Intercontinental
"Apa semuanya sudah disiapakan?." Tanya Aditya. Yang ternyata sedang memantau persiapan acara ulang tahun istrinya besok.
"Sudah Tuan, semua sudah kami buat sesuai dengan permintaan Anda dan Nyonya besar!."
"Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun besok, apa kau bisa menjamin hal itu? ." Tanya Aditya.
"Baik Tuan, saya usahakan."
"Tidak. Aku tidak ingin kau mengusahkanya. Aku ingin kau menjamin tidak ada kesalahan sedikitpun disini. Paham? ." Aditya kembali berucap dengan nada penuh ancaman, tentu saja itu membuat siapapun akan merasa terancam dengan ucapan Aditya. Tapi sekali lagi, tidak ada yang bisa melawan dan membantahnya.
"Baik Tuan, saya jamin semua lancar besok." Ucap orang itu dengan penuh penekanan.
"Bagus." Tutup Aditya.
__ADS_1
Aditya kembali meraih ponselnya dan menelfon seseorang disana tertulis Kontak Patricia.
"Halo!." Seru Aditya
"Halo selamat sore Tuan Aditya."
"Tidak perlu berbasa-basi, bagaimana gaun pesta untuk Istriku? Aku sudah memesanya jauh-jauh hari."
"Sudah siap Tuan. Akan segera saya kirimkan kepada Anda tuan! ."
"Baguslah, jangan sampai ada cacat sedikitpun disana. Kau tahu apa yang bisaku lakukan jika itu terjadi."
"Baik tuan, saya mengerti."
"Terima kasih Nona Pat."
Belum sempat orang diseberang sana menjawabnya, Aditya sudah terlebih dulu mengakhiri panggilan itu.
Selain Bianca, Aditya tidak pernah memperdulikan orang lain, sikap manis dan lembutnya hanya ditujuhkan pada Istrinya.
Entah kenapa Bianca semakin hari semakin manja saja, dia selalu ingin bersamaku dimanapun dan kapanpun. Bahkan dia tidak memperbolehkanku jauh darinya. Istriku itu telah membuatku menggilainya setiap waktu sekarang.
Bersabarlah sebentar lagi aku akan pulang sayang. Aditya terus saja membayangkan Istrinya itu.
*****
Sepulangnya Aditya, dia sudah disambut dengan pelukan sayang dari Bianca yang langsung melompat kearahnya.
"Sayang. Aku sangat merindukanmu" Ucapku dengan masih memeluknya. Aditya dengan sigap membopong tubuhku menuju kamar, kukalungkan tanganku ditengkuk Aditya dan menatap dalam padanya.
"Kau semakin manja sekali sayang. Mumbuatku semakin menginginimu saja."
Aditya membuka pintu kamar kami dengan sekali dorongan kakinya saja. Itu sudah berhasil membawa kami masuk, Aditya merobohkan tubuh kami diatas kasur besar dan empuk itu secara bersamaan. Sementara tanganku masih melingkar ditengkuknya. Aditya melahap bibirku mencecap sebentar lalu melepaskanya, dan melanjutinya terus berulang-ulang.
"Apa kau menyukainya sayang." Bisik Aditya.
Ku condongkan wajahku kedepan dan berbisik lembut ditelinganya.
"Aku sayang menyukainya Aditya." Ucapku hangat ditelinganya.
"Kau semakin mengoda Bianca." Ucap Aditya dan kembali memberi ciuman cinta padaku.
Aku menarik kemeja Aditya dan membuka kancing kemejanya satu persatu, lalu melepaskan bibirku darinya.
"Biar aku yang mengambil alih permainannya kali ini sayang." Pintaku, entah kenapa aku mengatakan hal itu. Aditya memberi waktu untuku melakukanya.
__ADS_1
Kujatuhkan satu kecupan dileher Aditya dari satu sisi kesisi lainnya, mencecap dengan penuh hasrat.
Sementara Aditya masih terdiam tanpa reaksi apapun, namun aku tahu dia tampak begitu menikmatinya.
Dan terjadilah, yang seharusnya terjadi
Beberapa menit lagi tepat pukul 00:00
"Sayang, Selamat ulang tahun." Ucap Aditya, cup satu kecupan sekilas diberikan dikening dan bibirku. Dia adalah orang pertama yang mengucapkan selamat padamu.
"Terima kasih suamiku."
"Ini untukumu sayang." Entah sejak kapan Aditya menyiapkanya, tapi benda itu sudah ada di tanganya.
"Apa ini?." Tanyaku penasaran.
"Bukalah sayang!." Titahnya.
Sebuah gaun panjang berwarna putih yang indah, dipermanis dengan permata-permata yang berkilau menambah kesan mewah.
"Adit apa ini untukku? ."
"Ini hadiahmu sayang apa kau suka? ."
"Iya aku menyukainya sayang" Ucapku. Yang memang begitu sangat senang mendapatkanya.
"Kenakanlah ini besok saat pesta ulang tahunmu. Ini adalah rancangan khusus, tidak akan ada yang memilikinya sepertimu."
"Baiklah. Terima kasih Adit" Seruku, memberi kecupan dibibirnya.
"Masih ada satu lagi sayang." Aditya memberi satu kotak lagi untukku buka.
Sebuh cincin berlian The Blue Moon, dengan kilau yang berbeda dari berlian lainnya. Hanya beberapa orang beruntung yang bisa mendapat benda ini. Selain langkah dan harganya yang fantastik. Berlian ini juga dibuat dengan makna yang sangat dalam.
"Apa kau juga menyukai yang ini." Aditya kembali bertanya lagi.
"Ini Indah sekali sayang, katakan padaku ini pasti sangat mahal bukan?."
"Itu tidak berarti apapun bagiku sayang, aku memilihnya untukmu, karena makna indah didalamnya! ."
"Ini adalah kado terindah yang pernah ada." Ucapku kagum.
Aditya meraih tanganku dan memasukan cincin indah itu melingkar dijariku.
"Jarimu semakin indah dengan ini." Ucap Aditya dan mendekap ku dipelukanya.
The Blue Moon, konon katanya jika seorang pria memberikan ini pada wanita yang dicintainya, maka selamanya cinta mereka akan abadi. Tidak perduli halang rintangan, cahaya cinta akan mengalahkannya.
__ADS_1