
BAB 93
“Mami ada apa ini? Kalian bertengkar?” tanya Barra yang baru saja datang ke rumah sakit. Tercengang melihat ibu dan adik iparnya saling tarik menarik. Bahkan Mami Kezia sengaja melepaskan tangan Ayu membuatnya hampir jatuh.
“Kamu keterlaluan ya. Kenapa perempuan itu bisa ada di rumah sakit? Kalian mau mempertemukan mereka, iya? Mami pikir kalian berdua mendukung Mami tapi membela yang salah.” Ucap Mami Kezia, ekor matanya melirik tajam kepada Ayu yang berada dalam rangkulan Brady.
“Brady, bawa Ayu masuk menemui Bobby. Jangan sampai dia sia-sia kemari, tapi tidak bisa bertemu dengan suaminya.” Perintah Barra, putra sulung Leo Armend ini berani beradu dengan Maminya.
“Ok Kak. Ayo Ayu jalan, jangan lambat!” Brady menarik tangan kakak iparnya masuk ke pintu utama ruang ICU. Namun lagi-lagi Mami Kezia menghalangi sampai Brady dan Maminya menarik satu tangan Ayu.
“Mami lepas, kalau tangannya patah bagaimana? Mami mau tanggung jawab?” ucap Brady masih kukuh mempertahan kakak iparnya.
“Kalian itu anak Mami, kenapa semua memihak Ayu? Brady lepas, atau pertunangan kamu Mami batalkan sekarang juga.” Ancam Mami Kezia, tentu saja Brady melepaskan tangan Ayu.
Dia juga tidak mau kehilangan wanita yang dicintainya, karena membayangkan gagal tunangan saja membuatnya bergidik ngeri. “Ok. Maaf kakak ipar.” Gumam Brady, melenggang pergi meninggalkan keributan di depan ruang ICU.
Barra dan Mami Kezia terlibat adu mulut, keduanya bersitegang untuk hal yang tidak seharusnya dipermasalahkan.
Melihat pertengkaran ibu dan anak yang menjadi pusat perhatian, menyadarkan Ayu akan posisinya. Ibu muda ini memegang lengan Barra, menenangkan kakak iparnya yang mulai terpancing emosi. Barra menoleh dan melihat adiknya menggeleng kepala lemah. Ayu lebih baik mengalah dari pada menimbulkan masalah baru.
Tidak ingin membuat hubungan antara Barra dan Mami Kezia renggang, karena Ayu seorang ibu, dia pun kelak tidak mau memiliki masalah dengan anak-anaknya.
“Ayu kamu memiliki hak untuk bertemu Bobby.” Tegas Barra, selama ini cukup sabar menghadapi sikap Maminya terhadap Ayu, tapi hari ini sudah keterlaluan.
“Barra kamu berani melawan Mami ya? Kamu tahu hah, ini semua karena Ayu, dia menggoda Bobby, seharusnya pernikahan mereka tidak pernah terjadi.” Sentak Mami Kezia tanpa perasaan atau belas kasih sebutir debu pun.
Ayu menangis, menyandar ke dinding. Dia benar-benar merasa tidak pantas bersanding dengan seorang Bobby Armend pria kota, diyakini mampu merubah kehidupan gelapnya menjadi terang, namun kenyataan tidak semudah membalik telapak tangan.
“Mami, Kak Barra, Ayu ... Ayu permisi, kasihan Ethan di rumah.” Ayu pamit sembari berderai air mata, untuk kesekian kali mendapat penolakan dari mertuanya sangat menyakitkan.
Barra menghubungi Brady untuk mengantar Ayu pulang, beruntung adik ipar yang menyebalkan itu masih diam di pelataran rumah sakit. Brady tahu akhirnya akan seperti ini, untuk itu dia sengaja menunggu seorang wanita datang kepadanya sembari menangis.
__ADS_1
Brady menghela napas melihat apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi. Dia membuka pintu mobil dan mempersilahkan kakak iparnya masuk.
“Hey, jangan menangis. Nanti semua orang berpikir aku pria jahat. Ck, beban apalagi ini, di rumah menjaga bayi, di luar mengasuh istri dari kakakku. Malang sekali Brady.” Gumam pria yang gemar berkuda itu.
Dalam mobil Brady sengaja tidak banyak bicara, membiarkan kakak iparnya menumpahkan air mata. Sebelum melahirkan saja emosi Ayu tidak stabil apalagi semenjak melahirkan, ia mudah sedih dan menyalahkan diri sendiri.
Setibanya di rumah Ayu langsung masuk kamar dan mengunci diri, menangis sejadi-jadinya.
Kata-kata Mami Kezia berputar di kepala Ayu. Bahkan terlarut dalam kesedihan, Ayu melupakan Ethan yang seharian ini bersama pengasuh.
Brady pun harus dibuat pusing, sebab Ayu tidak makan dari siang dan sekarang waktu telah malam. Ia khawatir Ayu sakit, berakibat fatal bagi Ethan yang masih membutuhkan ibunya.
Pintu kamar terbuka tapi Ayu hanya diam, duduk di sudut kamar, tidak mengeluarkan suara apapun selain menatap nanar foto suaminya yang terpajang cukup besar di dinding.
“BRADY?”
Teriak wanita yang sangat dikenal, seketika adik ipar dengan rambut lebat itu langsung membujuk Ayu agar merubah sikap, sebab Mami Kezia pulang tanpa pemberitahuan apapun.
“Ck, ini yang kamu lakukan seharian di rumah? Kamu tidak memperhatikan Ethan sama sekali. Ibu macam apa kamu itu.” Sarkas Mami Kezia tiba-tiba muncul, menghujam hati Ayu yang paling dalam.
Sontak Ayu tersadar dari lamunan dan bangun, melihat ibu mertuanya.
“Ayu memang bukan istri dan ibu yang baik Mih. Maaf Ayu bukan menantu pilihan Mami.” Tukas Ayu suaranya bergetar.
“Bagus kalau kamu paham. Inilah alasan Mami tidak menerima kamu sejak awal, mengurus anak juga tidak bisa.” Ketus Mami Kezia keluar kamar dan menghampiri cucunya.
“Ayu, kamu tenang. Mami tidak sejahat itu. Hanya pikirannya terlalu banyak menanggung beban. Mami sebenarnya menerima dan menyayangi kamu Ayu, aku minta maaf atas nama Mami.” Ucap Brady yang harus terseret ke dalam pusaran menantu dan mertua.
“Kamu tidak perlu minta maaf Brady, semua ini salahku. Aku seharusnya hamil dan melahirkan Ethan di desa, bukan mendapatkan semua fasilitas ini.” Tutur Ayu yang pedih dan terluka hatinya.
.
__ADS_1
.
Dua minggu berlalu
Ayu masih tetap diam tanpa kata, lebih senang menyendiri di kamar. Menolak ajakan Barra untuk ke rumah sakit, bahkan Ethan tidak lagi tidur bersama Ayu.
“Kak? Bagaimana? Apa kita panggil psikiater?” tanya Brady melihat kakak ipar yang cukup memprihatinkan.
“Jangan sampai Ayu terkena gangguan jiwa. Kamu hubungi Dywne atau Dayana, suruh mereka berdua datang. Mungkin Ayu membutuhkan teman bicara, kita pria tidak mengerti apa yang dia inginkan.” Tutur Barra, melihat semua kerikil di dalam rumah tangga adiknya, membuat ia enggan memiliki pendamping hidup.
“Ok”
Tanpa buang waktu Brady menghubungi kedua calon kakak iparnya, ia bersemangat sekali bertemu dua wanita cantik itu. Kebetulan Dayana tidak ada jadwal praktik selama dua hari ke depan.
Tepat sebelum makan siang Dwyne dan Dayana datang, membawa banyak peralatan bayi dan makanan untuk Ayu. Mereka berhambur masuk ke kamar Bobby, berusaha mengajak Ayu bicara. Awalnya hanya bungkam, senyum tipis terukir di bibir Ayu menanggapi dua wanita yang membuat pikirannya sedikit terbuka.
Lambat laun Ayu mulai cerita apa yang ia rasakan dan apa keinginannya. Ayu hanya ingin melihat Bobby tapi tidak bisa melakukan apapun.
“Apa kamu lelah menjalani ini Ayu?” tanya Dwyne memeluk ibu muda yang rapuh.
“Dwyne jangan.” Ucap Dayana tanpa suara sembari menggelengkan kepala.
“Iya, kak. Ayu tidak tahu lagi harus berbuat apa.” Ayu memeluk erat saudari kembar Dariel.
“Aku bisa bantu, asal kamu menurut. Sekarang bawa Ethan ke sini.” Perintah Dwyne tersenyum manis, padahal dalam hati mengutuk semua perbuatan Tante Kezia, dia sedikit beruntung tidak memiliki mertua.
Ayu pun keluar kamar mencari keberadaan Ethan yang tengah bersama pengasuh, sedangkan Dwyne sibuk berdebat dengan Dayana, sembari menghubungi seseorang.
“Bantu aku sekarang juga.” Pinta Dwyne kepada orang itu.
TBC
__ADS_1