
“Pagi Ayu. Maaf atas kejadian kemarin dan beberapa hari yang lalu, aku janji kemarin terkahir kali menutupi semua, apapun itu. Kalau kamu mau, bisa tanya pada dia secara langsung, tapi aku tidak punya nomor ponselnya, mungkin Fredella punya.” Kata-kata Bobby pagi ini, sepertinya dia sengaja bangun kebih awal menunggu istrinya membuka pintu kamar dan meminta maaf dengan kalimat yang panjang.
“Aku sibuk, untuk apa menghubungi dia? Permisi, sebentar lagi Ethan bangun.” Ayu menggeser tubuh tegap suaminya yang menghalangi jalan menuju dapur.
“Jangan lupa untukku juga, terima kasih sayang. Aku menjaga Ethan di kamar, jadi masak dengan tenang.” Ucap Bobby melesat cepat menemani putranya yang masih nyenyak tidur. Ia tidak mau Ayu terbawa emosi karena melihat wajahnya.
Bobby yang tidak bisa diam dalam kamar tanpa melakukan sesuatu, mencoba menciumi pipi dan kepala Ethan. Sayangnya bayi itu terbangun, sempat kaget dan menangis mencari keberadaan Ayu. Tapi dengan cepat Bobby meredakan tangisnya sebelum sang istri masuk kamar dan marah.
Bobby Albern Armend seorang mantan casanova yang terkenal royal serta pimpinan perusahaan advertising ternama, mampu tunduk serta takut di depan istrinya, Ayu Jelita si gadis desa.
Sesuai dugaan Bobby, istrinya itu masuk sembari berlari menampakkan wajah cemas tapi berganti senyum, melihat Ethan yang tertawa setelah ibunya berdiri di ambang pintu.
Ayu dan Bobby juga Ethan sarapan bersama, untuk pertama kali ketiganya merasakan keluarga yang utuh, walaupun Ayu masih teramat kesal dengan Bobby karena berani menyembunyikan kebenaran.
Usai mengisi perut dan merapikan pakaian ke dalam lemari, Bobby membawa istrinya menjenguk Mami Kezia di rumah.
Wanita paruh baya itu tadi malam tepatnya pukul satu dini hari dilarikan ke rumah sakit karena merasakan sesuatu pada dadanya. Tapi setelah mendapat penanganan selama dua jam, Mami Kezia diizinkan pulang , sebab kondisi yang tidak membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kenapa kamu diam saja, bukannya kasih tahu?” celoteh Ayu gemas sendiri pada suaminya ini.
"Iya tadi malam kamu langsung mengunci pintu, tidak mau mendengar apa yang dijelaskan, jadi terpaksa aku menunggu sampai pagi.” Terang Bobby, tentu ini juga bukan salahnya, karena ponsel dalam kamar dan baru mengetahui kabar itu pagi tadi.
.
.
__ADS_1
.
.
Sejak Mami Kezia masuk IGD, Ayu lebih sering datang ke rumah mertuanya membawa bingkisan berupa buah, tapi dia tetap tidak sendirian melainkan bersama Fredella atau Mama Nayla. Masih belum berani melangkah masuk hanya berdua dengan Ethan.
Tapi hari demi hari Mami Kezia terus mengeluh sesak dan beberapa kali masuk IGD, bahkan pernah mendapat perawatan sampai dua hari. Dari sana diketahui bahwa adanya penyumbatan pada pembuluh darah, Mami Kezia mengidap jantung koroner.
Tentu semua panik dan cemas apalagi berkaitan dengan organ penting itu, termasuk Mami Kezia lebih banyak merenung dan menangis setiap hari takut usianya tidak panjang.
Dia masih ingin melihat Barra dan Brady memiliki pendamping hidup. Papi Leo setia menemani istrinya, bahkan pria paruh baya mantan casanova itu pensiun dari rutinitas, menyerahkan segalanya kepada Barra dan Bobby.
Hiburan Kezia hanya kehadiran Ethan dan Ayu, meskipun masih kaku setidaknya beruntung Ayu memperhatikan keadaannya.
“Terima kasih sayang, Ayu menantu Mami. Maafkan Mami ya.” Tangis Mami Kezia, entah ke berapa kali ibu mertua itu selalu mengucap maaf.
“Mami minta Ayu hidup bahagia ya sama Bobby. Mami senang kalian bersatu lagi.” Lirih Mami Kezia. Tapi mendadak wanita itu memegang bagian dadanya dan merasa panas menjalar ke punggung. Meringis kesakitan, seperti tertusuk sesuatu.
“Sssh, Ayu bisa lihat punggung Mami, sakit, ada jarum atau serangga mungkin? Sakit.” Lirih Mami Kezia, keningnya pun banjir keringat, satu tangannya memegang erat lengan Ayu menahan sakit.
Ayu yang polos memeriksa punggung mertuanya, menyingkap piyama tapi tidak ada apapun termasuk jejak gigitan serangga.
Istri Bobby Armend ini langsung memanggil Papi mertua, dengan sigap Leo membawa istrinya ke rumah sakit, ia khawatir ditambah Kezia bergerak gelisah.
“Kezia istriku bertahanlah, demi aku.” Ujar Papi Leo yang panik, ia tidak siap kehilangan belahan jiwa, dia yang menemani saat Leo berada di titik terendah dalam hidup.
__ADS_1
Kezia masih terus memegangi dada, menekan sedikit, untuk bernapas pun sedikit kesulitan, tubuhnya membungkuk menahan nyeri tapi tidak berkurang sedikit pun.
Kuda besi milik keluarga Armend tiba di depan pintu instalasi gawat darurat, brankar kecil siap menyambut, memindahkan tubuh Kezia berbaring di atasnya. Dengan cepat tim dokter yang berjaga dalam IGD melakukan pemeriksaan, rekam jantung dan tekanan darah, pemasang infus pun langsung ditangani oleh perawat senior.
Salah satu dokter menggeleng lemah setelah melihat hasil rekam jantung yang bentuknya sulit dimengerti orang awam. (Termasuk author)
Dokter umum itu langsung menuju salah satu meja dan menghubungi dokter spesialis. Dari jarak tiga meter terlihat bahwa keadaan Kezia Armend tidak baik-baik saja.
Leo menatap pedih pada ranjang Kezia, di bagian sisi atas dan samping terdapat dua monitor yang menampakkan tanda tertentu.
Leo memegang tangan kurus istrinya sangat erat, wajah pucat dan lemah Kezia, ya setidaknya sang istri tidak kesaktian seperti tadi. Sebab dokter menyuntikkan obat pereda nyeri.
Sungguh Leo tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Ia menyayangi dan mencintai Kezia dengan segenap hati, cukup sekali menyaksikan Papi Darwin meregang nyawa karena penyakit yang dideritanya. Tapi untuk Kezia, tolong jangan ambil dia dari sisi Leo.
Harapan dan Doa, Leo gantungkan sangat tinggi demi kesembuhan istri tercinta.
“Kezia, aku ada di sini, kamu jangan takut. Apapun itu, aku akan tetap di sisimu. Istriku Kezia , aku yakin kamu bisa sembuh dan pulang ke rumah kita, bermain dengan Ethan, menyaksikan Barra dan Brady menikah juga memiliki cucu dari dua putra kita, istriku semangat.” Tutur Papi Leo, berlinang air mata.
Tim dokter menghampiri Papi Leo, menjelaskan bahwa istrinya harus segera dilakukan pemasangan ring saat ini juga, tidak bisa ditunda sampai sore atau besok. Dengan cepat Leo menandatangani beberapa lembar persetujuan dan mengantar Kezia sampai memasuki ruang operasi.
Tiba di depan ruang tunggu pasien, Leo memeluk menantu sahabatnya. Ia menumpahkan kesedihan karena istri tercintanya sakit.
“Om tenang dan bantu kami dengan doa, aku bantu tangani dengan kemampuan terbaikku, tapi Om harus ingat bahwa kami para dokter, hanya tangan yang dipilih Sang Pencipta untuk membatu pasien.” Tutur Dokter Dewa, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah. Dia tidak mau memberi harapan palsu, karena Mami Kezia berada diantara keduanya, dan pasien bisa saja menghembuskan napas terakhir di meja operasi.
“Semangat Om”
__ADS_1
Brankar Kezia pun memasuki ruangan operasi didampingi dr Dewa Bagas Darka.
TBC