IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
IMPERFECT MARRIAGE Episode.40


__ADS_3

“Aditya.Bangun tukang tidur.. ”


Suara bariton yang tak asing, membangunkan Aditya. Pria itu membuka matanya perlahan. Kenapa rasanya cahaya disini begitu menyilaukan, dan wajah pria paruhbaya yang tak asing, mulai nampak jelas terlihat.


“Pah ? Dimana kita...?. ” Tanya Aditya yang merasa asing dengan tempat itu. Ini tidak seperti rumah untuknya.


“Kau bersamaku nak...”


“Bagaimana kabarmu? Aku pikir aku sudah kehilanganmu pah...” Seru Aditya.


Jelas saja ini terasa seperti mimpi baginya, apa selama ini dia hanya sedang bermimpi buruk? Sepertinya dia baru saja merasa kehilangan seseorang yang ada dihadapannya ini, namun sekarang orang yang disebutnya Papah itu,benar-benar ada dihadapanya.


“Aku selalu disini, mengawasimu... Kau adalah kebangganku Aditya. Kembalilah kau harus kembali sekarang?. ”


“Apa maksudmu? Kenapa aku harus pergi. Aku masih ingin disini bersamamu.. ” Pinta Aditya. “Aku sangat merindukanmu, Pah. Ijinkan aku lebih lama disini.. ”


“Lihatlah. Ibu dan istrimu sedang menantimu pulang. Pergilah...kau harus kembali kesana.” Perintah Handoko.


Perlahan-lahan gelap mulai menyusuri, Aditya sudah tidak dapat menemukan keberadaan Handoko lagi sekarang.


“Pah.... Pah....” Panggil Aditya, dia tidak ingin kehilangan orang itu lagi, namun bagaimana dia bisa menemukanya, dikegelapan.


*****


📍Changhang Hospital


1 Bulan kemudian


Sedah hampir 1 bulan Aditya terbaring tak berdaya di sini. Namun tidak ada satupun perkembangan yang berarti.


“Bagaimana keadaan putra saya dokter... Kumohon lakukan segalanya. Saya akan membayar berapapun, Asal putraku dapat selamat... ” Pinta Ariani, yang sudah hampir kehilangan harapan.


“Saya akan berusaha yang terbaik nyonya. Saya yakin tuan Aditya adalah orang yang kuat, dia tidak mungkin bertahan seperti ini jika bukan karena keinginanya. Teruslah berharap yang terbaik dan saya akan mengusahakan yang terbaik...” Ucap Dokter Fendro.


“Baiklah. Saya selalu berharap Aditya masih bisa bertahan. Dia anak yang kuat saya yakin itu... ” Ungkap Ariani sambil terus berderai airmata.


Sementara itu William, dia diam-diam terus mengawasi keluarga Christianto Darmawansa dan Bianca, dia harus memastikan mereka baik-baik saja. Entah apa yang terjadi, dimalam kecelakaan hebat yang Aditya alami. Berhembus kabar jika malam itu Bianca juga mengalami kecelakaan ringan, beruntung dia tidak mengalami luka ataupun cidera yang parah.


~Flasback on~


“William, tolong pastikan, tidak ada yang tahu tentang keadaan Aditya sekarang...lawan bisnis Aditya pasti akan memanfaatkan keadaan ini.” Pinta Ariani.


“Baik nyonya, saya pastikan, tidak ada satupun yang mengetahui kecelakaan tuan Aditya malam itu nyonya, semua sudah saya tangani, termasuk orang-orang yang menyaksikan kejadian malam itu. ”

__ADS_1


“Terima kasih, kau sangat baik dan setia pada kami William. Kau dan Aditya, aku merasa kau seperti seorang kakak bagi putraku itu... Jika kau ingin, kau bisa memanggilku mamah, seperti Aditya... ” Ucap Ariani.


“Saya hanya melakukan tugas saya, mendiang tuan Handoko sudah sangat berjasa untuk saya. Ini adalah bentuk balas budi saya untuknya nyonya... ” Jelas William.


“Tidak aku serius. Panggil aku Ibu atau mamah... Aku lebih menyukainya. ” Tegas Ariani.


“Tapi nyonya.... ”


“William ini perintah... ” Titah Ariani.


“Baik, saya akan memanggil anda ibu sekarang... ” Seru William. Meskipun itu sedikit terdengar tidak sopan baginya memanggil seorang nyonya besar seperti Ariani dengan sebutan ibu.


“Bagus aku lebih menyukainya. ” Seru Ariani, dengan senyum yang begitu tulus.


“Bagaimana dengan nyonya Bianca dan keluarganya? Apa saya juga harus merahasikan ini dari mereka nyonya... Maaf maksud saya ibu? .” Tanya William.


“Ya. Rahasiakan ini dari mereka, Bianca sudah lalai menjaga cucuku. Dia sudah menghilangkan penerus Herlambang.” Ucap Ariani, penuh kekecewaan.


Dari berita yang William dapatkan. Dimalam kecelakaan Bianca, yang hampir bersamaan dengan kecelakaan Aditya. William mendapat info, bahwa Bianca memang tidak terluka parah, namun karena benturan yang lumayan keras mengenai perut Bianca, bayinya dan Aditya tidak dapat tertolong.


~Flasback Off~


Sementara itu beberapa hari lagi Bianca dan keluarga Darmawansa akan meniggalkan kota bejing untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Semua itu agar Bianca tidak terus berlarut dalam kesedihan. Apa lagi Aditya sudah tidak pernah mencul sebulan terakhir ini. Dia benar-benar hilang, sepertinya tidak ada yang dapat dipertahankan lagi dari pernikahan mereka.


“Bianca...Apa kau sudah mengemasi semuanya sayang..?. ” Tanya Larasati. Yang melihat bahwa putrinya masih benar-benar tidak ingin pergi dari tempat ini.


“Ibu apa Aditya benar-benar melupakan Bianca sekarang...” Tanya Bianca dengan mata berkaca-kaca. Sepanjang hari Wanita itu masih sering menangis merindukan suaminya, tapi Aditya Benar-benar hilang bak ditelan dunia. Dia bahakn tidak melakukan usaha apapun lagi.


“Bianca sayang... Apa kau masih mencintainya?. ” Tanya Larasati lembut.


“Sangat. Tapi sepertinya Aditya sudah melupakanku sekarang... ” Air mata kembali jatuh membasahi pipinya.


“Lalu bagaimana dengan Aditya? Jika dia benar-benar mencintaimu dia akan ada disini sekarang. Tapi suamimu itu sudah benar-benar pergi Bianca. Kau harus melupakan perasaanmu itu. Kau harus jauh lebih bahagia darinya... ” Jelas Larasati. Mengguatkan putrinya itu.


“Ya kau benar ibu... baiklah aku akan menggikuti apapun keputusan kalian. Jika menurut ayah dan ibu ini adalah yang terbaik untuk Bianca.” Ucap Bianca, kemudian bangkit untuk mengemasi beberapa barang yang akan dibawahnya besok.


Satu persatu barang, Bianca masukan kekoper miliknya. Disana juga ada foto pernikahan, liontin hati dan cincin berlian yang pernah diberikan Aditya sebagai hadiah ulang tahun untuknya. Semua benda yang sangat berarti. Namun untuk melupakan Aditya, semua itu harus ditinggalkan. Dengan begitu bayang-bayang Aditya tidak akan terus menghantui Bianca lagi.


*****


Keesokan harinya.


📍 Daxing Beijing International Airport.

__ADS_1


Hari ini untuk terakhir kalinya Bianca menginjakan kaki dikota kelahirannya, kota yang menyimpan banyak kejadian dan kenangan indah, serta beberapa luka yang tidak akan pernah bisa dilupakan.


“Nak. Ayo cepat kita harus segera masuk sekarang. ” Ajak Darmawansa.


“Aditya... apa kau benar-benar tidak akan menahanku! Aku masih berharap kau aka. datang. Kumohon datanglah. Jangan biarakan aku pergi. ” Batin Bianca. Dia masih terus berharap Aditya datang.


📍Changhang Hospital.


Tiba-tiba saja, Aditya sadar dari tidur panjangnya. Seakan hatinya dan Bianca saling terikat, sehingga dia bisa dengan jelas mendengar suara Bianca sedang memanggil-manggil namanya.


Ariani yang sejak awal selalu menemani Aditya, begitu terkejut putranya bisa sadarkan diri.


“Aditya... Anakku sayang... Kau kembali padaku nak. ” Ucap Ariani haru, dan mencium sayang anaknya itu.


“Bianca, dimana Bianca.... ” Seru Aditya. “Mah, Bianca apa dia baik-baik saja... ” Orang pertama yang Aditya cari justru adalah Bianca.


“Adit, tenanglah. Kau harus pulih dulu... ”Jelas Ariani. Mencegah agar Aditya melepas selang infus yang ada ditubuhnya.


“Adit mendengar Bianca sedang meminta bantuan Mah, sepertinya dia sedang dalam masalah...” Panik Aditya. Namun sayangnya tenaganya tidak cukup kuat untuk bangkit dan berjalan.


“Adit...tenanglah. Bainca ada bersama keluarganya. Dia sudah melupakanmu, dan juga... ” Ucapan Ariani terhenti.


“Dan juga apa mah...?. ” Paksa Aditya.


Meskipun berat bagi Ariani mengatakanya, namun Aditya harus tahu bahwa, bahwa Aditya telah kehilangan bayi mereka, karena kecerobohan istrinya itu.


“Kadungan Bianca. Anak kalian, dia sudah pergi....”


“Bagaimana dengan Bianca dipasti, sangat sedih sekali sekarang. Ini semua gara-gara Aditya mah...Adit yang salah... ” Aditya menyalahkan dirinya.


“Tidak sayang, itu karena kecerobohan Bianca. Dia sudah melupakanmu Adit. Sejak kau ada disini mamah lah yang bersamamu. Bianca dia telah melupakanmu. ” Jelas Ariani. Menggarang kejadian yang sebenarnya.


“Mulai sekarang, lupakan dia. Darmawansa sudah mengirmkan suart perceraian kalian, dan Bianca sudah menyetujuinya... ” Tambah Ariani lagi. “Lupakan wanita itu mulai hari ini, dia sudah tidak memperdulikanmu lagi...”


Meskipun terasa sulit untuk dipercaya, namun bagi Aditya, Ibunya benar, dia tidak mungkin berbohong.


Bianca ?


Apa hanya seperti ini nilai cintaku dimatamu.


Aku sudah mengatakan, sebelumnya.


Aku tidak akan membiarkanmu pergi.

__ADS_1


Kau hanya akan menjadi milikku.


__ADS_2