IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 76 - Terakhir Kali


__ADS_3

BAB 76


“Bobby? Bobby?” Ayu siuman, mencari sosok pria yang sangat ingin ia lihat saat ini. Namun sayang Bobby tidak ada di tempat, hanya Mami Kezia dan Dokter Dayana dalam ruangan.


Kedua sudut bibir Ayu berkedut, merapatkan gigi, lalu menggigit kecil bibir bagian bawah menahan tangisnya. Dia pikir Bobby membawanya ke rumah sakit, ternyata ibu mertuanya saat ini duduk di sofa dan berdiri menghampirinya.


Hati ayu diselimuti oleh kabut bingung, ia tidak tahu arah kemana pernikahannya akan berlabuh. Semua bagai di persimpangan jalan, tempat asing, sesuatu yang baru dan memerlukan bantuan untuk mencapai tujuan.


“Mami ... Bobby? Dia ...”


“Dia ke kantor ada sesuatu yang tertinggal, sekarang kamu sudah bangun. Sebaiknya makan dulu.” Perhatian Mami Kezia.


Membantu Ayu duduk bersandar, mengambil makanan dan menyuapi menantu pertamanya. Semua pernah berada di fase titik rendah, begitupun Mami Kezia. Apa yang dialami Ayu, telah ia rasakan jauh sebelumnya.


Wanita paruh baya itu menggenggam kedua tangan menantunya, mengusap lembut punggung tangan dengan ibu jari. Menyalurkan kekuatan sesama wanita,  menghapus air mata yang menodai wajah manisnya.


“Cucu Mami dalam keadaan sehat, dia sangat kuat, dan beruntung memiliki ibu seorang yang hebat. Sekarang untuk kebaikan kalian berdua, habiskan makanannya ya.”


Untuk pertama kalinya Ayu melihat dan merasakan kasih sayang ibu mertua begitu tulus dari dalam hati. Ayu beruntung memiliki Mami Kezia, walaupun tidak menyukainya sejak awal tetapi masih menunjukan perhatiannya dan sekarang berubah menyayangi menantunya ini.


“T-terima kasih mih” Ayu menurut, diam. Sesekali ekor matanya melirik pada pintu, berharap Bobby datang dan menemani di rumah sakit.


“Sebentar lagi Bobby datang, jangan khawatir. Anak itu pasti ke sini. Kamu tahu? Dia panik dan kebingungan kenapa istrinya bisa pingsan.” Tawa Mami Kezia, sedikit mencairkan suasana.


Jujur Ayu senang mendengarnya, jika memang seperti itu mungkin ia berarti bagi Bobby. Secercah senyum menghiasi bibir tipis, Ayu ingat pertama kali keduanya bertemu di desa. Detik itu juga ia jatuh cinta dan masuk dalam perangkap seorang Bobby, hingga sekarang menjadi istrinya.


**


Di sisi lain, mengetahui wanita yang ia cintai malam ini bertolak ke Inggris.Bobby segera menginjak pedal gas menuju apartemen Clarissa, setidaknya ingin mengantar dan berpisah untuk terakhir kali. Menitipkan Ayu pada Mami Kezia sementara waktu, memberi alasan yang berhubungan dengan kantor.


“Tunggu Clarissa jangan pergi.” Mencengkram erat setir mobil, geram karena jalanan malam cukup padat, padahal ia tengah di kejar oleh waktu.


Menghubungi ponsel Clarissa tidak ada jawaban apapun, sama halnya dengan Tuan Dominique, semua menonaktifkan panggilan dari siapapun.


Rasa bersalah telah menyakiti Clarissa tidak bisa hilang begitu saja, ini terjadi karena ulahnya, sampai wanita yang ia cintai merusak biduk rumah tangga orang lain .


Setelah terjebak lebih dari tiga puluh menit, Bobby menginjakkan kaki dalam gedung apartemen. Melangkah lebar menuju lift dan unit apartemen Clarissa. Berulang kali menekan bel bahkan mengetuk sangat keras menimbulkan suara bising tidak juga ada yang membuka pintu.


“Ca  ini aku Ca. Buka pintunya.” Teriak Bobby putus asa.

__ADS_1


Seorang petugas keamanan menghampiri Bobby yang terlihat kusut dan menyedihkan. Terus memanggil sang pemilik apartemen.


“Pak, unit ini dijual. Nona Clarissa baru saja keluar katanya mau ke bandara.:”


“Ha? Ok terima kasih Pak”


Bobby berlari secepat mungkin, perjalanan menuju bandar udara memakan waktu kurang dari satu jam. Ia masih berharap bisa bertemu dengan Clarissa untuk terkahir kali.


Smartphone miliknya beberapa kali berdering, panggilan suara dari Mami Kezia, sudah tentu ada hubungannya dengan Ayu. Tidak bisa di abaikan, bagaimanpun harus mengetahui kondisi istrinya sekarang.


“Iya mih?”


“Di jalan, titip Ayu mih.  Aku masih ada pekerjaan lain, maaf”


Bobby mengakhiri panggilan suara dan kembali fokus mengendarai mobil. Ia janji terakhir bertemu dengan Clarissa sebelum benar-benar menjalani hidup sesuai pilihan.


Mobil miliknya tiba di area parkir bandar udara. Bertanya ke sana kemari, mencari keberadaan ibu dari mendiang putri kecilnya.


Bobby menunggu di depan pintu masuk, menurut jadwal keberangkatan, pesawat menuju Inggris akan mengudara sekitar satu jam lagi, artinya ia masih memiliki kesempatan bicara dengan Clarissa beberapa menit.


Sampai akhirnya pria ini melihat Tuan Dominique mendorong kursi roda, sosok wanita yang dicarinya tertawa lepas, mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir ayahnya.


“Ca, tunggu Ca. Sebentar Ca, jangan seperti ini. Om ... aku mohon tunggu.” Bobby berhasil menghentikan ayah dan anak yang sama-sama membuang muka tak ingin melihat wajahnya.


“Ada apa lagi Bob? Semua tentang kita berakhir. Jangan rusak hidupku lagi, aku mau mulai semua dari awal. Sebaiknya kamu pulang.” Tegas Clarissa, sejak mereka masih sekolah memang selalu galak pada Bobby, sikapnya keras kepala membuat Clarissa jengah.


“Ca? Aku minta maaf. Jangan pergi dalam keadaan marah dan kecewa, maaf. Semua ini terjadi karena aku.” Bobby menatap lekat-lekat wajah tirus Clarissa.


“Kamu tenang saja, itu kesalahan di masa lalu. Jadikan sebagai pembelajaran. Sekarang  tolong menyingkir, aku tidak mau ketinggalan pesawat.” Usir Clarissa, tapi pria di depannya tidak bergeser sedikit pun.


“Ca, ini terimalah. Anggap ini salam perpisahan untuk kita. Aku yakin Greeta setuju kamu menerima ini, cukup lama aku simpan karena terlalu larut dalam setiap penolakan.” Bobby memberikan satu kotak bludru kecil ke tangan Clarissa.


Cincin berlian yang ia beli pertama untuk melamar seorang Clarissa, beberapa tahun lalu. Masih tersimpan dalam laci meja kerja di kantor.


Clarissa menatap sendu benda itu, menelan saliva, hatinya bergetar. “Sebesar inikah rasa cinta untukku?” tanyanya dalam hati.


Kemudian memandang lurus wajah Bobby, tersenyum hangat mengambil cincin berkilau itu.


“Aku menerimanya sebagai tanda persahabatan, terima kasih pernah mencintai seorang Clarissa yang selalu menolak Bob.”

__ADS_1


“Ya tentu Ca ... mungkin selamanya perasaan ini tetap ada, untukmu Clarissa.” Lanjut Bobby dalam hati.


“Sekarang bisa beri aku jalan? Pulanglah Bob, istri kamu pasti menunggu. Aku tidak mau menjadi duri lagi dalam hubungan siapapun, tolong lupakan semua yang terjadi diantara kita, aku pun akan menanggapinya hanya angin lalu. Semoga kalian selalu bahagia.”


Clarissa menghubungi Tuan Dominique, sebab perbincangannya dengan Bobby telah usai.


Bobby melepas wanita yang ia cintai pergi dari hadapannya, berharap menemukan seseorang yang bisa menerima apa adanya dan membahagiakan Clarissa.


Clarissa menyunggingkan senyum lalu melambai tangan tanda perpisahan.


“Aku menyesal, tapi aku tidak mau mendustakan takdirku sendiri. Masing-masing dari kita telah menemukan jalan hidupnya. Selamat tinggal Jakarta.” Batin Clarissa mencoba tegar.


TBC


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2