IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
IMPERFECT MARRIAGE Episode.67


__ADS_3

Karena author lagi fokus di 2 karya novel Author yang lain, mohon maaf author baru bisa meneruskan novel Imperfect Marriage lagi sekarang. Terima kasih yang masih mau membaca dan bersabar menunggu update an yang lama ini.


Jika kalian suka, boleh tinggalkan like dan komentar kalian di akhir. 🙏



...Viviean POV...


Kenapa kau melakukan semua ini padaku Aditya? Kau benar-benar keterlaluan. Bukankah semuanya tinggal menghitung hari lagi. Aku sudah berharap lebih pada semua ini, tapi kenapa harus aku yang dikecewakan?


Aku tidak perduli sekalipun kau dan Bianca sudah memiliki anak, aku tidak perduli !!! Tapi kau bilang, kau hanya mencintainya. Wanita yang sudah meninggalkanmu bertahun-tahun.


Bagaimana mungkin aku dikalahkan oleh wanita sepertinya? Kau harusnya tahu aku adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini.


Krekk...Pintu terbuka.


“Sampai kapan kau akan menangisi pria yang bahkan memikirkan mu saja tidak !!! .”


Viviean mengangkat wajahnya. Dengan wajah yang masih berderai air mata.


“Untuk apa kau kemari. Si brengsek itu yang menyuruhmu...” Geram Viviean.


“Bukankah sudah kukatakan. Kau tidak akan bisa memahaminya.” Ucap William.


“Kenapa tidak, jelas-jelas dia yang melamar ku, dia yang memintaku untuk menikah. Lalu sekarang...Jika aku menginginkan itu terjadi, apa salahnya?.” Lirih Viviean.


“Pria yang kau cintai itu mencintai orang lain. Aku sudah mengatakan itu sejak awal, bukan..Aku tahu, kau juga sudah bisa menebak bahwa begini lah akhirnya, bukan?.”


“Cukup. Tinggalkan aku sendiri...” Usir Viviean.


“Tidak...”


“Pergi William !!!.”


“Tidak. Aditya mungkin bisa meninggalkanmu, tapi aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini.” Tegas William.


“Kenapa? Berhenti mengasihani ku.” Cegah Viviean, ia tidak ingin merasa seperti orang malang di depan William.


“Aku tidak sedang melakukan itu.”

__ADS_1


“Kau dan Aditya sama saja.” Remeh Nya lagi.


“Ya kami sama-sama pria.” William hanya menjawab Viviean dengan nada tenang.


“Tidak kalian sama brengseknya.” Viviean memperjelas ucapannya lagi.


“Memang semua pria seperti itu Viviean ! Dimata wanita kami selalu seperti itu. Tapi Pria brengsek mana yang mau mengakui bahwa dirinya mencintai wanita lain? pria brengsek mana yang mengatakan bahwa dia tidak ingin menyakiti seseorang, hanya karena dia ingin mencintai 1 wanita ? Apakah dia brengsek ?.” William balik bertanya.


Hiks...Hiks...Hiks...


“Tapi aku mencintainya !!!.” Tangsi Viviean.


“Aku tahu kau mencintainya, tapi tidak dengan Aditya. Jika kau ingin mengatakan kau tidak perduli dengan semua itu. Aku juga tahu ini tidak akan adil bagimu. Aku tahu cintamu mungkin sangat besar untuknya. Tapi kau jangan lupa Viviean. Aditya juga memiliki cintanya sendiri. Bagaimana bisa kau memaksanya? Kau juga tidak akan bahagia dengan itu.” Ungkap William, meskipun itu terdengar menyakitkan untuk dikatakan, tapi mungkin ini adalah cara satu-satunya agar Viviean dapat mengerti, bahwa cinta tidak untuk dipaksakan.


“Mengikhlaskan? Tidak, aku tidak bisa.” Viviean menggelengkan kepalanya.


“Aku minta maaf atas kekacauan yang dibuat oleh adik ku.” William menurunkan nada bicaranya.


Kembali ke Garden House.


Aditya mengitari beberapa ruang, namun ia tidak menemukan Bianca. Langkah biasa, berubah menjadi langkah cepat ingin menemukan wanita yang dicarinya itu.


“Bianca...” Panggil Aditya.


“Sayang...” Panggilnya lagi.


Brak...


Aditya membuka kasar pintu kamarnya, ruangan terakhir yang belum disentuhnya. Namun wanita yang sedang dicarinya benar-benar tidak ada lagi disana.


“Bodoh. Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendiri..” Ucap Aditya mengacak-acak rambutnya, frustasi.


“Kau sudah pulang.” Dalam penyesalan, suara lembut itu membuat Aditya kembali berharap.


Ia tahu itu adalah Bianca.


Tidak ingin berkata-kata Aditya hanya berjalan menghampirinya.


“Darimana saja kau Hah...” Aditya merangkul tubuh Bianca dalam dekapannya. Meskipun hal itu cukup membingungkan bagi Bianca.

__ADS_1


“Aku dari sana...” Bianca mengisyaratkan bahwa dirinya baru saja dari kamar mandi.


“Mulai sekarang. Kau tidak boleh pergi seenaknya seperti itu.” Titahnya.


“Aku hanya ke kamar kecil. Kenapa kau aneh sekali.” Bianca terkekeh.


“Terserah. Kemanapun, aku akan ikut bersamamu sayang.” Ujar Aditya.


“Jangan berkata hal itu lagi, kau lupa, dulu kita juga pernah berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Namun kenyataanya kita berpisah Aditya...” Suara Bianca melemah. Ia tahu terkadang tidak semua ucapan bisa ditepati.


Aditya tersenyum.


“Ya kau benar sayang. Tapi kali ini aku tidak hanya akan berjanji. Aku bersumpah pada diriku sendiri. Aku bersumpah bahwa hanya maut yang akan memisahkan kita.” Tegas Aditya.


“Jangan terlalu terburu-buru bersumpah. Adit, bolehkah aku bertanya sesuatu...!.”


“Apa itu...”


“Viviean. Bagaimana dengan dirinya? Dari matanya aku bisa melihat, dia sangat mencintaimu.”


“Ya kau benar...”


Bianca mengerutkan dahinya, ia merasa aneh dengan jawab yang Aditya berikan padanya.


“Kau jelas tahu dia sangat mencintaimu...” Seru Bianca.


“Kau bisa melihat itu dimatanya. Dan dia juga bisa melihat itu dimata ku. Apa kau paham maksud ku...”


Bianca menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia tidak mengerti dengan ucapan Aditya.


“Jika kau bisa melihat itu dimatanya, dia juga bisa melihat itu dimata ku. Viviean jelas sadar jika aku hanya bisa mencintai mu Bianca. Dan mungkin dia juga melihat itu dimata Mu.” Terang Aditya.


“Sayang. Jangan pikirkan apapun. Aku akan akan menyelesaikan semuanya untuk kita. Tapi kau juga harus janji, tetaplah disisi ku sampai semua ini selesai...” Pinta Aditya lagi.



“Ya tentu saja aku akan disisi mu... Aku sudah memutuskan kembali, aku tidak mungkin pergi lagi setelah ini.”


Cup. Bianca mengecup mesra bibir Aditya.

__ADS_1


(Bersambung...)


__ADS_2