IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
BAB 115 - Panggil Aku Baby


__ADS_3

“Pagi istriku. Sepertinya Mama kelelahan. Benar kan Ethan?” ucap Bobby yang lebih dulu bangun dari Ayu, dan menggantikan tugas istrinya membuat susu untuk Ethan.


Ayu melirik jam di atas nakas, betapa terkejutnya, terlambat bangun tiga puluh menit. Ayu turun dari ranjang segera mencuci muka.


“Ethan maaf Mama kesiangan. Sebentar ya Ethan.” Ayu keluar kamar ingin membuat susu untuk putranya.


“Kamu mau ke mana? Lebih baik siap-siap. Setelah sarapan kita pulang.” Cegah Bobby, menunjukkan botol susu yang ditangannya, tersisa sedikit isi dari cairan bernutrisi itu.


Seketika Ayu tersadar, langsung meraih Ethan dari pangkuan suaminya. Bobby memang ayah yang baik untuk Ethan. Dia tidak menggerutu dan melakukan tugasnya dengan baik, membuat susu bahkan menenangkan Ethan yang rewel.


“Maksudnya pulang ke mana?” Ayu belum siap meninggalkan rumah besar ini, apalagi kembali ke kediaman Armend. Ia tidak mau seharian bertemu ibu mertuanya.


“Rumah Papi sayang, kamu tahu kan untuk sementara waktu kita tidak bisa pergi dari sana, sebelum Kak Barra menikah. Mami dan Papi pasti kangen Ethan, mau kan?” alasan Bobby memang benar, karena di rumah itu hanya dihuni oleh sepasang suami istri paruh baya, sementara dua anak lainnya lebih senang hidup di luar rumah, apartemen menjadi pilihan ketika jarak tempuh lebih singkat ke tempat tujuan.


Batin Ayu bergejolak dia memang tidak bisa membantah keinginan suaminya, apalagi setelah memutuskan saling memaafkan, merubah diri menjadi lebih baik. Di juga tidak sampai hati melihat kondisi Mami Kezia, tapi rasa takut dengan kejadian yang telah lalu terus menghantui.


“Jangan bawa aku ke sana.” Ayu berani buka suara, untuk sekali ini sangat ingin Bobby menuruti permintaannya.


“Apa ini karena Mami? Jawab jujur sayang, apa adanya. Jangan ada yang kamu tutupi.” Bobby meraih kedua tangan Ayu, memegang erat membuat wanitanya tenang. Dia tahu apa yang dilakukan Mami Kezia, sekarang berbeda dari sebelumnya, ibunya menyesali semua perbuatan di masa lalu, ingin membangun hubungan yang baik dengan Ayu.


“Iya, aku … boleh aku tinggal di sini?” meski terdengar memalukan tapi rumah ini salah satu tempat ternyaman Ayu Jelita, melepas lelah, mendapat kebahagiaan dan kasih sayang.


Bobby menggeleng kepala, tentu saja mana mungkin bisa tinggal di atap berbeda, ia tidak mau lagi terpisah dari Ayu.


“Ayu istriku dengar, di sini memang nyaman. Tapi kamu tahu aku suamimu, aku akan memberi perlindungan apapun untuk keluarga kecil kita. Kamu masih trauma dengan Mami? Kita pulang ke apartemen, di sana kamu bebas. Tapi lebih kesepian daripada di rumah.” Solusi Bobby, tidak mungkin terus menumpang di rumah sahabat orangtuanya, mau ditaruh di mana harga diri sebagai suami.


Bobby ingin istrinya lebih dulu mendapatkan kenyamanan, perlahan bisa membawa Ayu berkunjung ke rumahnya tanpa menginap, mungkin dapat memperbaiki hubungan dengan Mami Kezia.

__ADS_1


“Aku setuju, terima kasih Bobby.” Senyum Ayu merekah dan terlihat bahagia, untuk pertama kali setelah sekian lama, wanita ini bisa merasakan kelegaan hati.


“Ayu istriku, kamu bisa panggil aku dengan kata ‘baby’ lagi, aku kangen.” Ungkap Bobby, dahulu di mengajari Ayu cara memanggil selain menggunakan kata sayang, dan sekarang pria ini merindukan suara manja istrinya ketika menyebutnya.


Ayu mengangguk paham tapi bibirnya ia bungkam sangat rapat, jangan sampai berteriak kegirangan bisa jatuh harga dirinya.


**


Fredella, Dariel dan bayi kembarnya menghabiskan waktu akhir pekan mengunjungi salah satu taman hiburan di ibu kota. Sama dengan Bobby, Ayu dan Ethan mereka melihat biota laut. Tidak ketinggalan saudari kembar Dariel, dan kakak sepupunya. Semua lengkap membawa pasangan serta anak-anak mereka, hanya satu yang menyesali ajakan adik sepupunya, yaitu Daniel Matthew.


Dia berjalan lebih dulu dari pasangan lainnya, untung Denver dan Rea sudah besar tidak perlu mengandalkan ibu mereka, sehingga Daniel tidak kesepian karena satu tangan memegang Denver dan sisi lainnya menggandeng Rea.


Semua keluarga menikmati momen kebersamaan, jarang sekali bisa berkumpul di hari dan jam yang sama. Para Ayah menggendong anak-anaknya, seperti Dariel dengan dua anak kembarnya, di sisi kiri Theo sedangkan bagian kanan Vale.


Sama halnya dengan Bobby menggunakan dudukan khusus agar Ethan nyaman di pangkuannya, apalagi tidak bisa diam selalu bergerak lincah.


Satu-satunya yang bebas hanya Dewa, karena Zac dan  Zoey sudah cukup besar tidak perlu menggunakan alat-alat khusus.


Sementara para ibu mendorong stroller bayi, dan Fredella berbagi satu kereta bayi dengan Dwyne.


“Uncle lihat itu, apa ikan bersayap bisa di makan?” teriak Rea dengan polosnya, tapi karena Daniel tidak fokus, membuat bocah kecil kembali mengulang pertanyaan sampai tiga kali.


“Dasar anak ikan, kalau kamu makan, kasihan ikannya tidak bisa bertemu ayah dan ibu mereka.” Pengacara kondang ini asal menjawab, masih kesal dengan ajakan Fredella.


“Memangnya benar ya kak? Kalau begitu aku tidak mau makan ikan lagi.” Sahut Rea yang merasa iba pada semua ikan.


“Ck, dasar. Di mana otaknya sampai tidak bisa berpikir.” Umpat Denver dengan suara sangat pelan.

__ADS_1


“Kamu meledek aku ya? Jangan begitu kak tidak sopan.” Balas Rea tidak terima selalu direndahkan oleh sepupunya.


Dua anak itu bertengkar, berbeda pendapat dan menarik tangan serta celana Daniel.


“Hei kalian berdua, bawa mereka pergi. Membuatku pusing, aku memang kuasa hukum tapi tidak untuk menangani kasus pertengkaran dua bocah.” Frustasi Daniel, menjauhkan Denver, dan menyerahkan Rea kepada Dayana.


“Untung Theo dan Vale masih kecil, aku harap setelah besar, mereka berdua tidak menyusahkan.” Gumam Daniel yang melihat Dariel menenangkan dua bayi kembarnya.


Daniel benar-benar kagum pada Dariel dan Bobby, bisa membantu istri mereka merawat anak. Tapi untuk saat ini Daniel tidak siap harus menjadi ayah seperti dua sahabatnya.


“Uncle bisa antar aku beli es?” terlepas dari Denver dan Rea kini Zoey datang. Mana bisa Daniel menolak permintaan putri cantik Dokter Dewa, ditambah suara cempreng dan dua bola mata yang memohon.


“Ayo sekalian kita beli untuk semua saudaramu ya, jangan pelit kamu harus berbagi.” Daniel menggandeng tangan mungil Zoey. Tapi karena terlalu asyik bercanda tanpa sadar Zoey menabrak seorang anak laki-laki hingga es krimnya tumpah.


“Kau, pakai matamu kalau jalan.” Bentaknya membuat Zoey seketika menangis.


“Ok boy jangan memarahi seorang princess, aku ganti bagaimana? Sekarang ikut denganku.” Daniel menawarkan untuk mengganti es krim yang berserakan di aspal, tapi anak kecil itu menolak karena takut Daniel menculiknya.


“Aku tidak mau, om pasti penculik.” Tegasnya memandang tajam seorang Daniel.


“Hei kau itu lancang sekali, seluruh ASIA tahu kalau aku ini pengacara, ini ambil uangnya beli saja sendiri.” Marah Daniel menyerahkan uang kertas merah pada anak itu. Ia pun menatap nama yang tertulis pada topi bocah yang telah berlari menjauh.


“DXT” gumam Daniel tanpa memedulikan anak kecil angkuh dan arogan sama seperti Denver. ”Semoga di masa depan anakku tidak seperti itu.” Harapan Daniel dalam hati.


Karena ketiga anak mereka dalam suasana hati kurang baik, akhirnya Dywne dan Dewa pamit pulang lebih dulu, diikuti Dayana dan Kevin. Sekarang tersisa Daniel yang bertugas membawa tiga kereta bayi. “Dasar sahabat yang menyusahkan kalian berdua.” Umpat Daniel Matthew.


TBC 

__ADS_1


__ADS_2