
Bianca POV .
Aku tidak tahu apa ini hal yang benar, tapi kurasa tidak ada salahnya, untuk terakhir kalinya Aku, Aditya dan putra kami bertemu.
📍Garden House.
Lihat saja bahkan putraku sendiri tidak akan menyangka bahwa ini adalah rumah ayahnya. Aku tidak yakin dia mau bersamaku, jika dia tahu bahwa jika bersama Aditya dia akan mendapatkan kemewahan seperti ini.
Aku ragu...
Haruskah aku masuk kedalam ?
“Wahha.. mami apa ini rumah teman baikmu itu, apa dia seorang miliyader, ini seperti istana.” Minyo menunjukan kekagumannya.
“Sayang... Sepertinya teman mami tidak ada didalam. Kita kembali saja ya..” Entah kenapa sekarang aku menjadi berubah pikiran. Aku takut Aditya akan mengatakan bahwa dia adalah ayah Minyo.
“Tapi mami....”
“Sudah ayo kita pergi dari tempat ini.”
Dari arah beberapa meter dari tempatku dan Minyo berpijak, sesuatu yang menyilaukan datang menyoroti kami, aku tahu itu pasti cahaya mobil Aditya. Sekarang bagaimana aku bisa pergi dan menjauhkan Minyo dari Aditya. Bianca mengapa kau sebodoh ini, apa yang kau pikirkan.
Aditya turun dari mobilnya,dengan sedikit keraguan, tentang apa yang ada dihadapannya. Apakah ini mimpi? Karena terlalu merindukan wanita itu.
“Halo paman...” Suara mungil itu memecahkan keraguan dihati Aditya. Namun dia sama sekali tidak menjawab sapaan itu, bibirnya seperti terkunci sangat rapat.
“Mami....” Minyo menatap bingung kearahku. Karena orang itu sama sekali tidak menjawabnya.
“Sayang ini paman Aditya. Ayo perkenalakan dirimu..”
“Halo paman Aditya, aku minyo, anaknya mami Bianca.” Minyo seperti ragu-ragu mengatakannya, sepertinya putraku itu sangat takut berhadapan dengan Aditya.
“Masuklah...” Setelah beberapa menit berada di keadaan yang sangat canggung akhirnya Aditya mempersilahkan aku dan Minyo masuk.
Aku yakin Aditya pasti sedang bertanya-tanya tentang apa yang kulakukan saat ini.
“Duduklah...” Sekali lagi Aditya mempersilakan kami untuk duduk.
Kami bertiga duduk. Tapi tidak ada obrolan apapun yang menarik untuk kami bahas.
“Mami. Jadi paman ini adalah teman baikmu.” Sekali lagi Minyo berhasil memecah keheningan.
Aditya menatap kearahku, seolah ingin mendapatkan penjelasan dariku.
“Ya nak. Pergilah duduk bersama paman Adit..”
Minyo menurutiku, sekarang dia malah begitu nyaman duduk dipangkuan Aditya.
“Bolehkah aku meminjam kamar kecil sebentar...” Ucapku. Setidaknya itu bisa menjadi alasan, untuk memberikan waktu pada ayah dan anak itu.
“Minyo duduklah sebentar temani paman Aditya.”
“Baik Mami...”
Akupun pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
“Paman... Apa kau tinggal sendiri dirumah ini.” Tanya Minyo.
“Ya...”
“Aneh sekali, dirumahku begitu banyak orang. Ada mami, kakek dan nenek, dan terkadang Daddy juga ada disana...”
“Sepertinya kau sangat suka berbicara...”
“Tidak juga, aku hanya mengatakan sesuatu yang ada dikepalaku..”
“Baiklah. Coba ceritakan padaku, apa mami Bianca itu orang yang cerewet...”
Minyo, menjawab dengan nada berbisik.
“Mami itu memang sedikit cerewet, apa lagi saat aku mau makan ice krim dan beli mobil-mobilan seperti milik Exel..”
“Exel... Siapa dia?.”
“Dia adalah teman disekolahku. Apapun yang diinginkannya ayahnya selalu membelikannya.”
“Exel atau siapapun... Kau tidak akan terkalahkan dari temanmu itu. Mulai hari ini, kau adalah temanku, jadi apapun yang kau inginkan, beritahu padaku. Apa kau mengerti...” Tentu saja Aditya tidak akan membuat anaknya terkalahkan dari anak manapun.
“Terima kasih paman.Tapi mami mengajariku tidak boleh merepotkan siapapun, kecuali.dirinya.”
“Apa kau lupa, mami mu adalah teman baikku. Jadi kau juga adalah teman baikku.” Jelas Aditya, berusaha meyakinkan Minyo.
“Kau ada benarnya juga, baiklah sekarang kita adalah teman..” Minyo menyetujui penawaran Aditya padanya.
“Paman, kenapa mami lama sekali, apa dia tersesat dirumah besarmu ini...” Tanya Minyo polos, membuat Aditya begitu sangat terhibur sekali hari ini. Sudah lama sekali Aditya tidak tertawa lepas seperti ini. Hanya karena putranyalah dia kembali merasakan apa itu kebahagiaan.
“Tunggulah disini paman akan mencari mami..”
“Aku tahu kau sengaja meninggalkan kami...”
“Aditya...”
“Kenapa kau membawanya kemari?.”
“Besok kami akan pergi, dan mungkin ini adalah kesempatan terakhirmu, untuk bisa melihat Minyo. Jadi pergunakanlah waktumu sebaik mungkin.”
“Sehari? Menurutmu apa itu cukup? Dia juga putraku, apa ini akan adil untukku?.” Aditya merasa ketidakadilan dari sikap Bianca.
“Aku sudah berbaik hati untuk ini !!!.” Ucap Bianca.
“Aku tidak membutuhkan rasa ibamu. Aku ingin putraku dan juga ibu dari putraku...”
“Aku tahu alasanmu kesini bukan hanya untuk Minyo, tapi untukmu juga.”
“Omong kosong.” Elak Bianca.
"Katakanlah jika itu tidak benar. Kau masih mencintaiku Bianca, aku tahu itu.” Aditya meminta.
“Aditya kumohon jangan katakan itu..” Tolaknya.
“Kenapa? Karena benar kau mencintaiku, bukan..”
__ADS_1
“Kumohon katakan padaku sekali saja. Katakan Bianca. Kau masih mencintaiku.” Aditya kembali meminta. Dan menggenggam tangan Bianca erat, bahkan semakin erat dan kuat.
“Lepaskan tanganmu dariku, itu menyakitiku.”
“Katakan ! Kau mencintaiku.”
“Tidak !!!.” Bianca kembali menolak.
“Katakan ! atau aku benar-benar tidak akan melepaskannya..”
Aditya makin menguatkan cengkramannya.
“Aww...Sakit....Adit...Sakit...” Ringis Bianca.
“Aku tidak perduli, aku lebih sakit dari ini. Kau harus jujur, apa kau mencintaiku.”
“YA AKU MENCINTAIMU. AKU MENCINTAIMU. KAU DENGAR, AKU MENCINTAIMU...”
“Aku tahu Bianca. Perasaanmu tidak akan bisa berubah sedikitpun.” Cengkraman itu kini mulai melonggar dari tangan Bianca.
Hiks...Hiks..Hiks...Bianca menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan aku Bianca...” Aditya menarik Bianca kedalam perlukannya.
“Maafkan aku...” Aditya terus meminta maaf.
“Aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku lebih lama lagi, aku benar-benar tersiksa. Ini bisa membunuhku.” Batin Bianca.
Tanpa ragu Aditya ******* bibir Bianca, tidak ada perlawanan. Wanita itu jelas menerimanya dengan sangat baik, sangat jelas mereka memang saling menginginkan.
“Mmmhh...” Bianca mengakhiri ciuman itu.
Namun Aditya kembali menahannya. Dan kembali melakukanya. Bibir ranum yang menggoda, dengan rasa yang masih sama seperti pertama kalinya.
Aku sengaja melangkah mundur, aku melihatmu berjalan tanpa diriku. Aku tahu saat itu, aku tidak bisa benar-benar meninggalkanmu. Tidak peduli berapapun banyak masalah yang kita hadapi, lebih baik bertahan dibanding pergi. Tapi nyatanya, kita memang tidak memiliki harapan lagi.
Berlalu... Cepatlah berlalu...Pergi, cepatlah pergi...
“Aku tahu kau pasti akan mengatakan itu. Aku benar-benar putus asa Bianca. Apa kau tahu? aku benar-benar akan gila sebentar lagi, jika kau tidak mengatakan itu.”
“Bianca maafkan aku. Untuk semuanya. Kumohon jadilah milikku lagi, aku, kau dan Minyo. Kita akan baik-baik saja setelah ini.” Aditya kembali memohon.
“Tidak bisa. Aku tidak bisa. Kau dan aku, tidak akan ada harapan lagi untuk kita. Mungkin kita hanya bisa seperti sekarang Adit.”
“Tetaplah disini kumohon. tinggallah disini..” Aditya berlutut dihadapan Bianca, ia menangis, untuk pertama kalinya Bianca melihat pria kejam seperti Aditya bisa menangis untuk seorang wanita seperti dirinya.
“Jangan seperti ini Adit. Aku tidak bisa. Aku harus pergi. Aku akan tetap pada keputusanku. Aku dan Minyo akan meninggalkan kota ini..”
“Berdirilah percuma kau melakukan itu, ini sudah sangat terlambat.” Bianca berusaha tetap tegar dengan pendirianya, meskipun kenyataanya hatinya benar-benar goyah sekarang.
“Pergi temui putra kita...Katakan padanya, aku sedang berada disini, dia akan curiga jika kau terus disini..” Bianca menghapus air matanya.
Bersambung ...
__ADS_1
Diakhir cerita Author mau mengingatkan. Mohon dukungan dari semua pembaca.
Melalui Like, Komentar, Rate dan Vote. Terima kasih, semoga selalu terhibur dengan Novel Imperfect Marriage 🙏