
BAB 79
Bobby keluar dari kediaman saudari kembar Dariel, ia kecewa tidak menemukan istrinya sama sekali.
Tujuannya saat ini adalah desa, tempat tinggal Ayu sejak kecil. Bobby menggunakan pesawat untuk mencapai lokasi secepat mungkin, butuh satu jam mengudara sampai akhirnya pria ini tiba di bandara. Perjalanannya belum selesai karena jarak tempuh ke desa memakan waktu sekitar dua jam.
Bobby cemas istrinya menghilang dan tidak bisa ditemukan sama sekali, ia takut terjadi sesuatu dengan Ayu. Nomor telepon sama sekali tidak bisa dihubungi.
“Ayu, kamu ingin bermain petak umpat? Jangan bawa anakku.” Lirih Bobby, tanpa sadar kedua mata berkaca-kaca.
“Pak tolong cepat bawa mobilnya, istri saya menunggu.” Perintah Bobby. Ia tidak sanggup harus mengendarai seorang diri.
Tiba di desa dengan pemandangan asri dan suhu udara sejuk, banyaknya pepohonan serta suasana yang masih sangat terjaga. Bahkan Bobby menjadi pusat perhatian dari warga sekitar, keberadaan kendaraan roda empat adalah hal yang sangat jarang , mayoritas menggunakan sepeda atau roda dua untuk transportasi jarak jauh.
Bobby mengulas sedikit senyum pada beberapa orang yang mengenalnya sebagai suami dari Ayu, dianggap gadis beruntung bisa memiliki suami orang kota.
Semula ia ingin bertanya keberadaan Ayu, namun lebih baik mencari sendiri, tidak ingin orang lain mengetahui masalah apa yang sedang menimpa rumah tangganya.
Pria berparas tampan serta rahang tegas dengan rambut coklatnya ini, kesulitan mencapai rumah masa kecil istrinya.
Sebab harus berjalan kaki cukup jauh, melewati jalanan tanah basah yang menempel pada sepatu. Jalannya pun sedikit menanjak, semakin berat Bobby melangkah, harus hati-hati, jika gegabah pasti terpeleset.
Membayangkan dirinya jatuh, teringat pada Ayu bagaimana bisa istrinya melewati jalan seperti ini dalam keadaan mengandung. Pikiran buruk melayang dan berputar dalam kepala Bobby.
“Tidak, pasti anakku baik-baik saja.”
Bobby tersenyum lebar melihat sosok wanita berambut hitam legam tengah membelai perut buncit, tanpa pikir panjang, menghampiri dan memetik satu tangkai bunga mawar milik di halaman orang lain.
“Hi, istriku. Maaf kemarin aku ...” Bobby terdiam mematung, setelah ibu hamil itu menoleh padanya. Jatuh sudah bunga mawar ke atas tanah basah.
__ADS_1
“Di mana Ayu?” lirihnya lemas, bahwa seseorang yang ia pikir sang istri ternyata wanita lain.
“Ayu? Pemilik rumah ini? Sudah lama tidak pulang Mas. Suaminya orang kota mana mau dia pulang ke desa.” Sindir beberapa wanita itu.
Bobby kembali menyusuri jalan licin sampai terjatuh, pakaiannya kotor. Pikirannya berusaha mencari dan menemukan dimana istrinya.
Tidak mungkin Ayu tinggal bersama keluarga yang lain, karena selalu mendapat sikap buruk. Istrinya juga tidak akan ke luar negeri, tidak ada kerabat di sana, Ayu bukanlah seorang wanita jenius yang memiliki kemampuan beragam bahasa.
Bobby duduk di atas tanah, memijat pangkal hidung, kepalanya pusing dan berat sampai penglihatan mulai kabur. Setelah Clarissa meninggalkannya pergi jauh, tidak mungkin Ayu juga harus angkat kaki, malah keberadaannya tidak diketahui.
**
GB Hospital
Wanita muda berparas cantik, manis, lugu tengah duduk bersandar pada tumpukan bantal, sesekali meneguk susu dan mengigit cemilan manis terbuat dari buah-buahan kering.
Air matanya luruh sembari menatap ke luar, ragu kepada diri sendiri apa bisa bertahan dalam hidup yang sangat pahit.
Ayu Jelita, ia pikir dengan menikah bersama seorang Bobby Armend bisa merubah diri dari seorang pemetik bunga menjadi Ratu yang dicintai sepenuh hati. Penyesalan memang datang terlambat, Ayu termakan bujuk rayu seorang pria sangat mudah sampai menenggelamkan diri dalam harapan palsu.
Ingin berlari sejauh mungkin, tapi langkah kakinya terlalu berat. Kedua matanya tidak bisa lagi hanya menatap ke depan, selalu melirik pada masa lalu.
Ayu menangis tanpa suara, selimut berwarna merah muda bahkan basah oleh air matanya.
“Ayu? Jangan kamu pikirkan anak nakal itu. Biarkan saja dia, sepulang dari rumah sakit, kamu tinggal di rumah nenek Bobby. Di sana ada beberapa pelayan, jangan sungkan. Mungkin Mami satu minggu sekali berkunjung.” Tukas Mami Kezia.
Semua adalah rencana bersama Mama Nayla, tidak tega mendapati Ayu dalam keadaan mengandung tetapi Bobby masih berkeliaran mencari Clarissa.
“Makasih mih, sudah mau merawat Ayu dan anak ini. Ayu tidak tahu harus membayarnya dengan apa.” Suara wanita berbadan dua bergetar, berulang kali menghapus air mata yang jatuh tanpa henti.
__ADS_1
“Kamu bisa bayar mami dengan sehat, melahirkan cucu mami dalam keadaan sehat. Ingat Ayu, jangan menghubungi anak mami lagi. Biarkan dia sendirian, mami mau lihat sampai sejauh apa dia bisa bertahan.” Mami Kezia mengepalkan kedua tangan, ingin meremas putra keduanya sampai remuk.
“Mami? Ayu boleh ...” Ayu mengigit bibir bawah, semua ini sangat menyiksa dirinya.
“Ok boleh, kemari, nak. Anggap mami sebagai mama kandung kamu ya. Maaf selama ini sikap mami selalu ketus. Harap kamu mengerti.” Memeluk menantu pertamanya, mengusap punggung Ayu, menepuk pelan, menyalurkan kasih sayang.
Air mata ayu membasahi pakaian ibu mertuanya, sampai terasa pada bahu Mami Kezia.
Ayu memejamkan mata, tubuhnya gemetaran , ia ingin bernapas bebas sampai melahirkan. Salah satunya menjauhi Bobby, dokter spesialis obgyn sangat prihatin dengan tekanan yang diterima pasiennya. Karena akan memperngaruhi kesehatan ibu dan bayi kedepan, sebelum terjadi lebih baik keduanya tidak dipertemukan sementara waktu.
“Makasih mih” Ayu merasakan kasih sayang tulus seorang ibu, untuk pertama kali setelah lima bulan menikah, ia diterima oleh ibu mertuanya.
“Kamu juga bisa minta bantuan mama, jangan khawatir sayang. Kamu tidak sendiri, kita semua sayang sama Ayu.” Mama Nayla ikut memeluk menantu dari sahabtanya.
“Terima kasih tante.” Ayu tersenyum tipis, begitu berat menarik bibirnya.
Dari sekian banyak orang menyayangi kenapa suaminya masih tidak melihat ketulusan seorang Ayu. Nasibnya kurang beruntung diantara jutaan para wanita, harus menjadi pelarian seorang Bobby.
kenyataabl memang pahit apalagi setelah mengetahui semuanya. Termasuk perginya Bobby kemarin malam hanya untuk bertemu Clarissa. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Mami Kezia dengan seseorang.
Hancur sudah harapan yang ia gantung, ingin mendapat hati dan cinta suaminya tidak semudah apa yang dipikir.
Dalam pikirannya sempat merasa iri pada Fredella, bisa melupakan Dariel dan orang yang telah menyakiti. Ayu ingin seperti itu tapi sayang tidak bisa, jalan hidupnya berbeda jauh dari istri sahabat suaminya.
Mengingat apa yang dijalani Fredella pun tidak mudah harus melalui keras dan tajamnya kerikil bahkan sampai sekarang belum berkahir. Ayu tidak sekuat dan setangguh itu, ia mudah rapuh dan jatuh tidak bisa berdiri lagi.
“Ayu habiskan susunya, sebentar lagi makan malam diantar, jangan terlambat makan. Kondisi kamu cukup drop.”
Ayu mengangguk cepat menjawab perintah Mami Kezia, ia meneguk dan memakan cemilannya sampai habis tak bersisa.
__ADS_1
TBC