
Kadang aku mengatakan aku begitu menyianyiakan hidup dengan bersamaNya. Namun kenyataanya akulah yang tidak ingin berpisah. Entah untuk alasan apa ! Aku bertahan bersama pria kasar itu. Kadang aku bertanya-tanya, hal apa yang membuatku harus menyerahkan hidup yang indah ini, untuk orang sepertinya? Akankah ada masa depan untuk pernikahan ku ini?
Aku terus memikirkan tentangnya, sambil memutar-mutar cincin pernikahan kami yang selalu melingkar dijari manis ku, aku hanya sedang berpikir, apa suatu saat nanti, cincin ini tidak akan ada artinya lagi? Atau setelah ini aku atau dia sendiri yang akan melepaskan cincin ini.
Setelah terus berlarut-larut dalam pikiran sendiri, aku dibuat tersentak dari lamunan saat ponsel ku berdering begitu keras. Itu adalah ibuku, kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara, tapi aku tak punya pilihan lain, jika ku tolak, ibu akan khawatir. Ku kontrol suaraku sebaik mungkin, sebelum mengangkatnya.
"Halo Bianca !." Ucap Larasati
"Halo Bu..."
"Kau baik-baik saja sayang, ada apa dengan suaramu? ."Tanya Larasati.
"Ibu Aku baik ? Hanya saja kemarin aku dan Aditya terkena hujan, jadi sedikit tidak enak badan? ." Ucap ku berbohong. Aku tidak mungkin mengatakan ini semua karena Aditya, itu akan membuat semuanya semakin berantakan lagi.
"Apa Aditya disana? Apa kau baik-baik saja? Ibu akan membuat ramuan untuk mengenakan tubuhmu ya..." Tawar Larasati lagi
"Jangan ibu. Aditya sudah memberiku obat. Hanya saja dia sekarang di kantor. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya disana ."
"Bianca. Kau tidak sedang menutupi sesuatu dari ku kan? Apa Aditya....”
“Ibu...Aku baik. Kau tahu Aditya sangat menyayangiku kan. Dia akan segera pulang. Dia sudah berjanji padaku.” Entah sudah berapa kali aku membohongi Ibuku seperti ini.
“Bianca, sejujurnya ibu sangat khawatir padamu, terlalu banyak pemberitaan negatif tentang Aditya diluar sana. Apa kau sama sekali tidak ingin mengehentikan itu? ."
"Bianca percaya seribu persen sama Aditya, bu. Semua orang begitu ingin menjatuhkannya. Tapi dia terlalu kuat untuk dijatuhkan oleh siapapun.”
"Ibu hanya khawatir, pokoknya Kau dan Adit. Kalian harus baik-baik saja sayang."
"Ibu doain rumah tangga Bianca ya, biar Aditya dan Bianca selalu baik-baik saja." Pintaku. Aku bahkan hampir ingin menangis mengatakan itu, rasanya begitu mustahil memimpikan rumah tangga yang bahagia lagi setelah kejadian semalam.
"Iya pasti ibu doakan. Ya sudah kalau begitu, istirahat lah. Kalau perlu apa-apa kau harus menceritakan padaku.”
“Iya ibu.”
“Dah sayang.”
“Dah Bu...”
Tit. Panggilan berakhir.
__ADS_1
Lagi-lagi aku harus membelamu Aditya ! Apa kau tidak lelah melakukan kesalahan ini terus menerus…..
Entah sudah berapa belas jam aku mengurung diri disini, langit yang tadinya terang, kini telah berganti malam. Tapi aku masih enggan untuk beranjak dari kamar tidurku. Apa sekarang Aditya sudah pulang? Atau dia tidak akan pulang malam ini?
Ku bukan pintu kamar ku perlahan. Di kepala saat ini, aku hanya ingin pergi, rumah ini sudah tidak baik lagi untuk ku.
Krek.
Aku membuka pintu ku pelan. Belum sempat aku meneruskan langkah, mataku terpaku pada sesuatu yang tergeletak di depan pintu kamarku. Itu adalah sepiring nasi, lauk dan secarik kertas.
Aku minta maaf. Makan lah.
Tertanda
Aditya.
Tanpa sadar air mata jatuh begitu saja di pipiku. Pertama kalinya Aditya mengatakan maaf, setelah aku benar-benar pergi dari hidupnya.
...----------------...
Flashback On
Beberapa jam sebelum Aditya membawa makan untuk Bianca
Malam Ini adalah pertama kalinya sejak aku dan Bianca menikah dia tidak menyiapkan makan malam untukku, biasanya saat pulang kerja makan malam ku sudah tertata rapi dimeja makan, meski kadang aku enggan menyentuhnya, tapi itu membuatku terbiasa diperlakukan seperti itu olehnya. Dan saat dia tidak melakukannya rasanya ada yang kurang disini.
Meski aku mengkhawatirkannya, aku tidak berani menghampirinya.
Aku memutuskan meletakan makanan didepan pintu kamarnya, ku tinggalkan juga sepucuk surat disana, sebagai tanda permintaan maaf ku.
Flashback Off
“Kau mau kemana?.” Tanya Aditya, melihat istrinya itu menyeret koper yang cukup besar keluar dari kamar tidurnya.
“Aku akan pergi. Kau menang Aditya. Aku mengalah. Lakukanlah yang kau inginkan sekarang. Kejarlah apa yang ingin kau kejar selama ini. Bukankah aku selalu menjadi batu sandungan bagimu?. Beri aku beberapa hari, aku akan mengatakan pada ayah ibu ku, bahwa kita akan bercerai.”
“Lalu kau akan mengatakan apa pada mereka? Kau akan mengatakan bahwa aku telah mengkhianatimu ?.” Tanya Aditya padaku.
“Kau tidak ingin aku mengatakannya. Baik... Katakan saja bahwa aku yang telah mengkhianatimu. Katakan saja bahwa aku mencintai pria lain.” Ucapku, melanjutkan langkahku untuk pergi.
__ADS_1
Tap. Tangan dingin itu menahan ku.
“Tunggu Bianca ! Aku tidak memberi mu ijin untuk pergi.”
Aku menghempaskan koperku begitu saja.
“Aku tetap akan pergi ! Aku tidak bisa hidup dengan pria yang selamanya hanya akan membenciku saja.”
“Cih. Kau bilang menyayangi ayah dan ibumu. Kau juga bilang menyayangi orang tua ku. Sekarang kau mau pergi. Kau sama sekali tidak memikirkan perasaan mereka Bianca !.” Aditya malah melempar kesalahan padaku.
“Justru karena aku mencintai mereka. Aku melakukan ini semua. Apa dengan berbohong mereka akan bahagia? Lihat kita... Ini sama sekali bukan pernikahan. Kau dan aku tidak bahagia...” Tangis ku.
“Setelah sekian lama, kau baru mengatakan tidak bahagia dengan pernikahan ini. Kenapa tidak sejak awal saja, kau mengatakannya !.”
“Karena aku tahu sekarang. Tidak ada alasan apapun untuk menundanya lagi. Sekarang minggir biarkan aku pergi Aditya.” Aku menepis tangan Aditya dengan keras.
“Bianca...Bianca...Oke... Kita bicarakan ini perlahan. Dengarkan ini baik-baik. Aku...Aku...Aku minta maaf.”
"Aku sudah memaafkan mu, tapi bukan soal Kirana. Aku tidak bisa memaafkan alasanmu menyakitiku hanya karena wanita itu. MINGGIR ADITYA” Bentak ku.
“Aku tidak akan minggir. Aku tidak akan melepaskan mu. Kirana atau siapa saja. Itu tidak akan mengubah apapun. Kau sendiri yang bilang orang yang mengucapkan janji pernikahan itu adalah kita.” Seru Aditya lagi.
"Tidak akan melepaskan ku, dan juga wanita-wanita mu itu. Kau tidak waras Adit ! Aku benar-benar akan gila jika terus bertahan dengan orang sepertimu.."
"Apa kau mencintaiku, Bianca?."
"Tidak, aku tidak mungkin mencintai orang kejam sepertimu." Tolak ku.
"Tapi sikapmu menunjukan, cintamu padaku.?."
"Apa gunanya, semua sudah terlambat?."
"Katakan saja, jika itu benar!." Titah Aditya.
"Ya mungkin... " Ucapku, aku sama sekali tidak ingin menatap Aditya.
"Hanya kau yang akan menjadi istriku, tidak ada, dan tidak akan pernah ada yang menggantikan mu. Jadi tetaplah disini. Kau dengarkan, aku minta maaf. Aku sedang memohon padamu sekarang.” Pinta Aditya.
Aku tidak tahu alasan apa yang membuatnya mengatakan itu. Tapi itu membuat pertahanan ku kembali runtuh untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
“Kau bohong. Aku tidak percaya padamu.”
“Tidak aku janji padamu. Kita perbaiki semuanya.” Bujuknya lagi.