
BAB 102
Dariel yang tidak sabaran mengurung Fredella di dalam walk in closet, merangkum kedua pipi yang begitu terasa pas di telapak tangan. Mengabsen seluruh wajah tanpa ada yang terlewat satupun, menyalurkan ungkapan kasih dan sayang.
“Terima kasih memberiku dua bayi lucu dan berjuang melahirkannya. Kamu wanita terhebat setelah mama.” Dariel memeluk erat, enggan melepaskan Fredella satu sedetikpun.
Bayangan dirinya menangis di depan ruang operasi sepintas menghampiri. Ketika masalah perlahan datang, sedikit demi sedikit, sampai menghancurkan kepercayaan Fredella dan hampir menyerah menjalani semuanya.
“Iya Dariel, terima kasih karena kamu Daddy terbaik untuk anak-anak kita.” Sahut Fredella, membalas pelukan suaminya.
Keduanya terpaksa mengakhiri kegiatan, mereka tertawa mendengar suara ketukan pintu terus menerus. Di tambah suara tangis bayi merah yang kehausan.
“Waktunya berbagi Mommy lagi.” Kelakar Dariel membuka pintu, menyambut putra dan putrinya yang merengek di gendongan Mama Nayla.
“Kalian? Jangan melupakan mereka, kamu juga Dariel, istrimu baru melahirkan satu minggu sudah mengurungnya di kamar.” Gerutu Mama Nayla sembari menggelengkan kepala, mengepalkan tangan pada perut putranya.
“Jagoan Daddy dan princess lapar kan? Sekarang kita serang Mommy.” Dariel memangku dua buah hatinya sekaligus, tidak lagi kaku atau ketakutan, karena dirinya cukup terlatih dan terbiasa berurusan dengan anak kecil.
Menyerahkan kedua mahkluk kecil, mungil dan ringan ke tangan Fredella, membantu ibu muda ini untuk memberikan nutrisi secara bersamaan.
Setelah kenyang Theo dan Vale satu per satu dibersihkan tubuhnya, semua Dariel lakukan perlahan, seperti seorang pengasuh bayi. Ia banyak belajar dari kedua kakaknya bagaimana mengurus bayi, bahkan selama di Jakarta mengambil kelas khusus.
“Sayang kamu tidur! Serahkan mereka kepadaku.” Dariel mengecup kening istrinya, Fredella tampak kelelahan, meskipun hanya menyusui tetapi dua anaknya selalu terbangun malam hari dan benar-benar menghisap tenaga sampai habis.
Sementara Dariel membaringkan Theo dan Vale, di kasur besar tepat di sisi Fredella.
“Aku di bawah, sayang.” Pamit Dariel tanpa suara, mengendap keluar kamar, menutup pintu sangat pelan.
Dariel juga memasang CCTV khusus dalam kamar, dan ia selalu meletakkan MacBook di dekatnya. Meskipun berlebihan tapi benar-benar membantu Fredella dalam mengasuh kedua buah hati, apalagi mereka memutuskan tidak menggunakan jasa baby sitter.
Keluarga akui peran Dariel sangat terlihat jelas, Fredella bisa makan dan mandi dengan nyaman tanpa terkendala harus meredakan tangis bayi.
“Bro, ayo gabung sama kita.” Panggil sepupu Dariel. Mereka semua menyiapkan barbeque di pekarangan rumah Matthew. Stefan dan Steve cukup betah tinggal di rumah mertua Dariel.
__ADS_1
Dariel membantu ketiga sepupunya, namun perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada kedua tangan, sebab sering menoleh ke layar datar yang menampilkan sudut kamarnya.
Baru tiga puluh menit pria ini bernapas lega dan bertukar cerita sembari membantu sepupunya, suara tangis bayi saling bersahutan mulai terdengar.
“Aku permisi.” Dariel melipat MacBook dan berlari menuju lantai dua.
“Stop sayang, kamu jangan turun. Serahkan semuanya padaku.” Dariel melarang Fredella beranjak dari atas ranjang, pertama dia menggendong Vale.
Kemudian Theo, harus menunggu giliran adiknya kenyang baru mendapat makanan sesuai keinginannya.
Beruntungnya jagoan kecil ini cukup sabar, diam dalam pangkuan ayahnya, sesekali meregangkan otot kecil disertai kedipan kedua mata yang menyihir siapapun untuk mendekat dan mencium.
Tidak sampai dua puluh menit, Theo pun berpindah gendongan, ia masih setia membuka mata kecilnya.
“Kemari sayang Theodore, maaf ya lama. Ah kamu memang anak baik.” Ujar Fredella memainkan hidung mancung putranya.
“Ok princess, kamu tidur. Jangan mengganggu kakakmu. Cepat besar sayang, Daddy ingin membawa kalian semua pulang.” Dariel menatap putrinya, begitu mirip dengan Fredella, niat dan keinginannya sangat kuat, bahkan ruangan khusus bermain anak telah disediakan . Mungkin satu atau dua bulan lagi kedua bayi itu bisa ikut pulang ke Jakarta.
“Kamu tidak keberatan kan sayang, kita kembali tinggal satu atap?” Tanya Dariel, ia juga mengkhawatirkan keadaan mertua tapi di sini masih ada Rico serta adik Nyonya Matthew. Dariel tidak mungkin sanggup harus berpisah dari anak-anak dan istrinya lagi.
Pekerjaan Dariel tidak mungkin terbengkalai, karena semua demi masa depan keluarga kecil mereka. Akhirnya setelah perdebatan batin Fredella akan mengikuti kemana suaminya tinggal.
“Terima kasih.” Dariel mengukir senyum, ia tahu kalau semua bertentangan dengan hati istrinya.
.
.
.
Tiba saatnya menikmati barbeque, rumah keluarga Matthew berubah dipenuhi banyak orang dan ramai. Tentu saja membawa kebahagiaan tersendiri, bagi ketiga wanita sepuh yang hanya bisa duduk menunggu sajian dari para cucu mereka.
Sedangkan Fredella, duduk di sofa khusus yang disediakan oleh Dariel, jauh dari asap dan angin malam. Lengkap dengan ranjang bayi di sisi istrinya itu.
__ADS_1
Dariel berlari menghampiri Fredella, memberi satu piring daging dan sayuran hasil masakannya.
Para Nenek dan Kakek buyut menatap iri hanya bisa protes pada cucunya. “Hey anak muda, kau melupakan aku. Dasar kau ini, kami lebih lama menunggu tapi dia malah memilih wanita muda dibanding Oma.” Kelakar Oma Anggi yang gemar menggoda semua cucunya.
“Tenang Oma ada aku.” Sahut Daniel, mala. ini hanya dirinya yang datang sendirian, semua anggota keluarga memiliki pasangan. Termasuk Ayu bersama Ethan, duduk bersama Nenek buyut.
Fredella sangat terhibur, ia senang suami bisa berbaur bersama keluarganya yang lain.
Lagi-lagi tawa ibu dari dua anak mengundang perhatian Ayu, betapa bahagianya menjadi seorang Fredella dihujani limpahan kasih sayang, bukan hanya dari suami tetapi orangtua dan mertua.
Nayla Kei tidak pernah memandang Fredella sebagai menantu, baginya semua sama, seperti anak kandung yang ia lahirkan, tidak ada perbedaan diantara anak dan menantunya.
Di saat kebahagiaan keluarga, asisten rumah tangga menghampiri Fredella, sedikit membungkuk, menyampaikan bahwa ada seseorang yang menunggu di ruang tamu.
“Siapa?”
“Nona itu bilang kenalan Tuan dan Nona. Bawa beberapa hadiah untuk Theodore dan Valerie.” Jawab asisten rumah.
Pikiran Fredella langsung melayang pada satu nama, Clarissa Dominique. Meskipun enggan menerima tapi mengingat janji kakak angkatnya, serta sedikit kebaikan ketika membantu di rumah sakit. Fredella ditemani Dariel menemui Clarissa.
“Selamat atas kelahiran anak kalian, apa aku boleh melihatnya?” Clarissa sedikit memaksakan senyum. Dia memberikan hadiah dari Tuan Dominique.
“Terima kasih Ca.” Sahut Dariel menerima bingkisan besar dari mantan sahabatnya.
Dariel dan Fredella beradu pandang, berdiskusi satu sama lain. Ibu muda ini memberi isyarat, mengizinkan Clarissa masuk ke dalam.
“Boleh, kebetulan kami mengadakan pesta kecil di belakang rumah.”Jawab Dariel berdiri meraih tangan istrinya, merengkuh pinggul Fredella. Menunjukkan semua pada Clarissa, bahwa tidak ada lagi celah bagi siapapun yang datang mengganggu.
“Maaf kalau aku datang di waktu yang salah. ” Cicit wanita cantik bermata sipit itu.
“Jangan sungkan, bergabunglah. Kamu juga keluargaku.” Bijak seorang Fredella melempar senyum kepada Clarissa, bagaimanapun ia ingat kebaikan kakak angkatnya, ketika kecil selalu melindungi dari amarah Marisa.
TBC
__ADS_1
ilustrasi