IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 109 - Permohonan


__ADS_3

BAB 109


“Ayu tunggu, jangan masuk.”


Suara yang sangat Ayu hindari, seketika tubuhnya beringsut, bersembunyi di balik punggung Daniel Matthew. Ayu menundukkan kepala, sampai keningnya menyentuh jas pengacara di depannya.


“Tante, apa kabar?” tanya Daniel, ia menoleh ke belakang, tersenyum lalu mengucapkan beberapa kata untuk Ayu. “Jangan takut, tidak apa-apa.” Mengulas senyum.


Daniel menghampiri Mami Kezia, membantu wanita itu menggerakkan kursi rodanya.


“Niel, tante mau bicara dengan Ayu, boleh kan? Masih ada waktu?” Mami Kezia mendongak melihat wajah sahabat putranya. Wanita paruh baya ini sangat berharap memiliki kesempatan walau hanya sepuluh menit untuk bicara berdua.


Mata hazel Daniel melirik Ayu yang mengangguk pelan, sekaligus menyunggingkan senyum setipis helaian rambut.


“Ok tante, klien aku bilang bersedia. Biar aku antar kalian ke ujung sana.” Ucap Daniel mendorong kursi roda. Pria bertubuh tinggi dengan five o’clok shadow beard ini sedikit menunduk, mendekati telinga Mami Kezia.


“Semangat Tante, aku yakin Ayu pasti luluh.” Bisik Daniel penuh keyakinan. Sebenarnya enggan menangani kasus perceraian tapi apa daya, adik sepupunya memaksa dan suka atau tidak Daniel mengikutinya.

__ADS_1


Daniel meninggalkan Ayu dan mertuanya di lorong sepi, ia hanya memantau dari jarak aman.


Mami Kezia menghela napas sebelum bicara, ibu tiga anak itu menyesali perbuatan, seandainya dulu tidak memiliki ide gila atau menyalahkan menantunya, pasti saat ini Ayu masih di rumah bersama Bobby merawat Ethan.


Semenjak pulang dari Birmingham, pria itu memutuskan keluar dari kediaman Armend. Memilih tinggal sendiri dalama apartemen dekat kantor.


“Mami apa kabar?” tanya Ayu kaku, dia memilih duduk berjauhan dari ibu mertuanya.


“Kondisi Mami ya sekarang lumayan baik Ayu. Beberapa bulan lalu, Mami hipertensi dan lebih menyakitkan lagi ada penyempitan pembuluh darah.” Mami Kezia mencoba tegar, tersenyum lebar pada menantunya.


“Maaf Mih, Ayu … Ayu turut prihatin dan semoga Mami lekas sembuh.” Tulus Ayu, sekalipun ia tidak diterima sebagai menantu, tetap memperlakuan mertuanya dengan baik.


Sedikit ragu, Ayu memenuhi keinginan ibu mertua.


Tak diduga, Mami Kezia memeluk Ayu, sangat erat dan menangis. “Maafkan Mami Ayu. Bukan maksud Mami mengusir kamu atau tidak mengakui sebagai menantu. Mami hanya terlalu sedih dengan keadaan Bobby, dia koma dan melihat tubuhnya dipenuhi alat-alat medis semakin membuat pikiran Mami kacau.” Lirih Mami Kezia.


Memang benar awalnya tidak mengakui Ayu, tapi lambat laun wanita ini mulai simpati apalagi nasib Ayu kurang lebih sama dengannya di waktu muda. Tapi semua itu menguap ketika mendengar putra keduanya kecelakaan.

__ADS_1


“Iya Mih, Ayu maklum. Itu semua masa lalu, maaf Ayu banyak merepotkan keluarga Mami.” Jawab Ayu, membalas pelukan mertuanya.


“Mami mohon, jangan tinggalkan Bobby ya! Mau kan? Anak itu semakin terpukul. Kamu tahu Ayu setelah siuman Bobby tidak bisa berjalan, dan dia hampir menyerah untuk sembuh, tapi semangatnya terus muncul karena mengingat kamu dan Ethan, tekadnya kuat untuk datang sendiri menjemput kamu.” Mami Kezia berusaha menarik perhatian menantunya.


“Tapi ... tapi setelah menerima surat cerai, dia tidak pernah menginjakkan kaki lagi dirumah , apalagi di kamar terlalu banyak kenangan kalian.” Tutur Mami Kezia.


Tidak hanya itu, alasan Bobby tidak menghadiri mediasi, karena tak kuasa melihat wajah wanita yang dicintai sebentar lagi berubah status menjadi mantan istri.


“Anak itu tidak tahu kalau hari ini Mami ketemu kamu, Bobby selalu berpesan salah satu dari kami tidak ada yang datang memohon pembatalan perceraian. Katanya, kalau memang berpisah jalan terakhir bahagia untuk kamu, maka dia terpaksa menurut apapun demi Ayu.” Terang Mami Kezia, melepaskan pelukannya.


“Iya mih. Mungkin Bobby terlalu banyak pekerjaan sampai harus tinggal di apartemen.” Tanggapan Ayu, hatinya mulai goyah. Ia sungguh tidak kuat mengetahui keadaan suaminya. Sama dengan Ayu, sakit yang dirasakan tapi untuk hidup bersama, bayang-bayang masa lalu terus hadir memenuhi isi kepala Ayu Jelita.


“Ayu, Ayo masuk, mediasi di mulai.” Panggil Daniel memilih masuk lebih dulu.


Sementara Ayu pamit dari depan ibu mertuanya, ia berjalan memasuki ruangan dengan menyusut air mata yang menganak sungai di pipi.


TBC

__ADS_1


***


selamat sahur 🙏


__ADS_2