
"Bawakan surat ini kepada Aditya dan Bianca, dan pastikan mereka menandatangninya! ." Seru Ariani (Ibu Aditya).
"Baik nyonya besar, akan segera saya sampaikan. " Jawab William dengan hormat. kemudian mengambil amplop berwarna coklat itu dari tangan Ariani.
Meskipun William tidak mendukung tindakan yang Ariani lakukan, namun dia tidak memiliki daya, selain menjalankan perintah Ariani.
"Tunggu. Katakan pada Bianca jika dia menyetujui surat itu, aku akan memberikanya uang kompensasi yang sepadan untuknya. " Seru Ariani lagi.
Sekarang yang diinginkan wanita paruh baya itu, hanya agar putranya bisa lepas dari pelukan wanita yang dianggap sebagai pembunuh suaminya itu.
"Baik nyonya akan saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi sekarang. " Pamit William.
*****
Diperjalanan menuju Garden House, William lebih dulu, mengabarkan kepada Aditya apa yang telah diperintahkan Ariani padanya. Namun sepertinya Aditya sama sekali tidak menangapinya dengan serius.
"Halo, selamat siang tuan Aditya. Nyonya besar meminta saya menyampaikan surat kepada anda! ."
"Apa itu surat perceraian? Datanglah, tapi jangan harap aku dan Bianca akan menandatanganinya. " Seru Aditya.
"Mohon maaf tuan, saya hanya melaksanakan perintah nyonya besar."
"Ya aku mengerti, datanglah… " Tutur Aditya. Dan mengakhirinya begitu saja.
Tanpa sengaja Bianca juga mendengarkan percakapan Aditya dan William barusan.
"Apa ada masalah sayang?." Tanya Bianca.
"Tidak. Tenanglah…"
"Baiklah !." Seru Bianca singkat.
Membuat Aditya sedikit binggung dengan reaksi istrinya itu.
"Apa kau cemas Bianca?."
Bianca hanya meggelengkan kepala.
"Percayakan semuanya padaku. Maka tidak ada satupun yang bisa memisahkan kita." Seru Aditya lagi.
"Aku percaya padamu Aditya."
__ADS_1
Bianca Pov
Aku bukanya tidak takut, tapi bagiamanapun ini adalah keinginan mamah Aditya. Dia tetaplah orang tua suamiku. Surat itu mungkin tidak akan berarti apapun, Aditya bisa memusnahkannya dengan mudah, tapi keinginan Ariani sebagai orang tua tunggal Aditya sekarang, mungkinkah bisa berubah?
"Aditya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu!. "
"Apa itu sayang?. "
"Dimana ayah dan ibuku?. "
"Mereka sudah dirumah sayang. Tenanglah... Ayah dan ibumu akan baik-baik saja! . "
"Bisakah kita bertemu dengan mereka? Sejak aku pulang, aku belum bertemu dengan mereka sama sekali. " Pintaku.
"Tentu saja, aku akan menemanimu bertemu dengan mereka. Tapi sekarang kita tunggu William datang dulu... " Ucap Aditya lembut.
*Benarkah ayah dan ibuku baik-baik saja? Setelah banyak hal buruk yang terjadi, mana mungkin hal itu membuat mereka akan baik-baik saja. Ibu dia pasti sangat sedih sekarang. Apakah akan ada waktu untukku bisa bernafas lega seperti dulu.
Jika saja waktu bisa diulang, seharusnya pesta itu tidak pernah terjadi. Seharusnya Papah tidak akan meninggalkan kami semua, dan keluargaku akan baik-baik saja*.
Ting.. Tong (Bel rumah berbunyi).
"Permisi tuan, nyonya... " Salam William.
"Masuklah William." Suruh Aditya.
Kami berkumpul diruang tengah, aku tahu William sangat terbeban dengan tugas yang Mamah berikan padanya, itu sangat terlihat dari wajahnya.
"Apa itu suratnya. " Tanyaku
"Maafkan saya tuan, nyonya..." Ucap William, menundukkan kepalanya, kemudian meletakan seamplop surat diatas meja.
"Tenanglah, jangan seperti itu. Yang kau lakukan sudah benar !." Ujar Aditya.
"Nyonya besar meminta kalian menandatangani ini. Tapi keputusan ada ditangan kalian, saya tidak akan memaksa tuan... " Seru William.
"Baiklah aku mengambil surat ini. Tapi sampaikan pada ibuku, surat ini tidak akan pernah kami tanda tangani." Aditya mengambilnya, dan menyobeknya di hadapanku dan William.
Aku tahu itu pasti akan dilakukan oleh Aditya.
"Beritahu ibuku, Istriku sedang mengandung, apa dia masih sanggup memisahkan kami setelah mengetahui hal ini? Suka, tidak suka, aku akan mempertahankan istriku. Meskipun harus kehilangan semuanya, aku tidak perduli..." Tandas Aditya.
__ADS_1
"Adit. Apa yang kau katakan, kita tidak pernah membahas itu sebelumnya." Seruku.
"Itu keputusanku Bianca. Ini yang terbaik untuk kita, jangan khawatirkan aku." Jelas Aditya.
Begitulah Aditya selalu mengambil keputusan sendiri, dan tidak akan ada yang bisa mengubahnya.
"Selamat nyonya Bianca, saya ikut senang dangan berita ini. Akan saya sampaikan pada nyonya besar! Mungkin ini bisa meredakan amarah nyonya besar. " Seru William.
"Ya kami juga berharap hal yang sama."
"Tapi tuan ada berita lain yang harus anda ketahui, beberapa hari lalu nyonya sudah menghentikan aliran dana untuk perusahan ayah nyonya Bianca." Jelas William lagi.
"Ya aku tahu itu. Namun yang menjadi masalah sekarang adalah Eric yang tiba-tiba menawarkan bantuan pada Gios Ji Group. Aku tahu dia tidak benar-benar ingin melakukanya, dia memiliki rencana dibalik itu semua. "
"Apa perlu saya selidiki tuan?. "
"Lakukanlah...." Seru Aditya. "Tapi aku sangat yakin ini berhubungan dengan Bianca. "
"Apa maksudmu? Berhubungan denganku?."
"Karena dia menyukaimu, aku tahu tahu pria gila itu akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu sayang. "
"Itu tidak mungkin. " Tolakku, mempercayai ucapan Aditya.
"Itu mungkin saja, jangan mudah mempercayai orang lain. Kau hanya perlu percaya padaku Bianca. " Seru Aditya.
Eric Wijaya... Aku tidak mengerti mengapa Aditya sangat mencurigainya. Tapi dialah orang yang hampir membuat perpecahan antaraku dan Aditya. Eric menunjukan foto kebersamaan Aditya dan Kirana. Tapi sebenarnya itu bukanlah hal yang salah. Apakah aku memang harus berhati-hati dengan orang itu?
"Sayang apa yang kau pikirkan sekarang. " Tanya Aditya menyadarkanku.
"Tidak. Kau benar mungkin kita harus berhati-hati dengan Eric... Kurasa ayah dan ibuku harus mengetahuinya juga. " Jelaskku.
"Maaf tuan, nyonya... Saya permisi dulu sekarang. " Ucap William yang merasa, bahwa mungkin sekarang Aditya dan Bianca sedang ingin memiliki waktu untuk berdua saja.
"Baiklah, terima kasih Will.. Kau memang bisaku andalkan." Puji Aditya.
"Sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya pergi sekarang. " Hormat William, kemudia pergi meniggalkan garden house.
_______________🚗🚗🚗🚗🚗_______________
Diperjalanan menuju kediaman Ariani, tidak jauh dari garden house, tanpa sengaja sekilas William melihat sosok yang tidak asing, wanita itu seperti Kirana, tapi dia tidak benar-benar yakin, sehingga kembali mengabaikanya. Lagipula apa yang bisa dilakukan Kirana, selama Aditya masih bersama Bianca. Maka tidak ada satupun yang dapat menyentuh dan melukainya.
__ADS_1