
"Jadi berapa lama lagi kau mau berdiam. Apa aku harus menunggu sampai kau mati?"
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud pengecut! "
"Apa ini begitu menyenangkan untukmu? Baiklah akanku buat kau lebih menderita lagi" Ucap Aditya. "Cambuk dia, sampai dia mau mengatakanya! "Titah Aditya.
Clakkk.
Clakkk.
Clakkk.
"Arrghh. Lepasakan aku Aditya! " Pinta Joe. Namun Aditya tidak akan berhenti, sampai Joe mengatakan semuanya.
"Lakukan lebih keras lagi" Perintah Aditya.
Clakkk
Clakkk
"Dasar ibliss kau tidak akan mendapatkan apapun dariku" Joe tetap bersih keras, menutup mulutnya.
"Baiklah. Kau yang memaksaku. Dudukkan dia dikursi listrik" Titah Aditya.
"Bedebah sialan apa kau ingin membunuhku, sialan. Lepaskan aku" Joe terus melontarkan ucapan memaki, meskipun tubuhnya sudah babak-belur.
"Kau sangat ingin bermain-main Joe, akan kutunjukan semua permainan menyakitkan dan seru untukmu"
Joe mulai didudukan dikursi listrik tersebut, tangan dan kakinya terkunci dengan kuat pada pengerat yang ada disana. Joe terus meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri.
"Lepasakan aku Aditya ! " Joe berteriak kencang.
"Lakukan" Titah Aditya. Kursi itupun dinyalakan, dan bekerja dengan sangat baik. Mula-mula dengan tegangan rendah. Sekali sengatan saja tubuh Joe, tampak sangat menikmati rasa sakit ditubuhnya.
"Arghhh.. Kumohon, aku tidak mengetahui apapun. Lepasakan aku! " Pintanya.
"Teruslah memohon aku sangat menikmatinya! Naikkan satu tingkat lagi" Aditya meminta tegangan dinaikan ketinggkat selanjutnya.
Jreettzz.
Jreettzz.
Jreettzz.
__ADS_1
Sekarang darah segar keluar dari hidung dan telinga Joe, tubuhnya semakin lemah sekarang, jika Aditya terus melakukanya, bisa-bisa dia akan benar-benar mati ditempat ini.
"Jangan berharap kau akan mati semudah ini. Kau akan menjadi tawananku selamanya ditempat ini Joe. Tidak akan ada kata mati untukmu! " Ucap Aditya.Tentu saja Joe lebih memilih mendekam dipenjara dibanding harus hidup di Markas Nitara untuk selamanya.
"Naikan teganggannya maksimal. Aku ingin melihat, apakah sepupuku ini cukup kuat menahanya, lihat saja dia sampai kencing dicelana, karena ketakutan. Hahahha" Tawa Aditya dengan wajah mengerikan dan kejamnya.
"Baik Tuan" Sahut anak buah Aditya, kemudian memutar tegangan pada level paling tinggi.
"Tidak... Tidak.. Baik aku akan mengakuinya!"Seru Joe. Aditya langsung berdiri dan menghampirnya.
"Katakanlah!."
"Akulah orangnya, aku yang melenyapkan ayahmu, apa kau puas Aditya, orang itu tidak akan bangkit lagi sekalipun kau membunuhku, Hahahha." Joe tertawa dengan perasaan tertekan.
Buurgh.
Buurgh.
Buurgh.
Aditya terus menjatuhkan tinjuan diwajah Joe, hampir tidak terhitung berapa kali dia melakukanya. Darah memenuhi wajah skarat pria itu, namun Aditya tidak ingin berhenti melakukanya. Orang seperti Joe Morrent pantas mendapatkanya, beraninya dia melakukan itu pada keluargaku, rasanya Aditya ingin langsung membunuhnya ditempat itu. Namun Aditya kembali mengingat Bianca, jika dia melenyapkan orang ini maka istrinya akan tetap mendekam dipenjara.
"Bawa dia kepenjara sekarang. Kita sudah mendapatkan tersangkanya! " Seru Aditya.
"Kita akan pulang sayang, kita akan berkumpul lagi. Aku akan datang sebentar lagi. Bersabarlah Istriku" Aditya terus mengucapkan hal itu dalam hatinya.
📍Penjara Wujiaochang
Sebelum Aditya menuju ke Wujiaochang, Eric sudah lebih dulu menemui Bianca.
"Bianca, ada sesorang yang ingin menemuimu! "Ucap penjaga memanggil namaku. Dia membawaku menuju ruang pengunjung.
"Tuan Eric! " Sahutku, ketika menyadari itu adalah dia. Aneh sekali mengapa dia datang, pikirku.
"Halo, Bianca! Bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?" Tanya Eric. Entah kenapa orang ini sangat perhatian sekali padaku. Suamiku saja belum datang menemuiku, aku malah dikunjungi oleh orang yang tidakku harapkan.
"Tuan. Saya sangat malu terlihat seperti ini didepan anda! " Seruku. Karena memang tempat ini sangat memalukan untukku.
"Behenti memanggilku Tuan! Panggil aku Eric. Kita adalah teman Bianca. Tidak perlu kaku seperti itu" Pintah Eric.
"Baikalah Eric. Mengapa kau datang kemari?."
"Karena aku mengkhawatirkan temanku, aku yakin kau tidak bersalah" Seru Eric.
__ADS_1
Hiks. Hiks. Hiks. Tangisku pecah dihadapannya.
"Bianca. Apa aku salah bicara. Maaf.. Maafkan aku! "
"Tidak. Aku hanya terharu, kau mempercayaiku.." Jelasku.
"Apa kau tahu Bianca. Perjumpaan kita di Lost Heaven, sejak saat itu, aku yakin kita akan menjadi teman baik. Saat mendengarkanmu dalam masalah besar, aku sedikit terkejut, hatiku sakit, seandainya aku bisa melakukan sesuat untuk mengelurakanmu dari sini" Ucap Eric, menunjukan betapa sedihnya dirinya.
"Tidak perlu seperti itu Tuan... Eh maksudku Eric. Aku yakin Aditya sedang berusaha sekarang!."
"Benarkah itu? Aditya sedang berusaha? Bianca apa kau tahu Herlambang Group sudah menghentikan dana keperusahan ayahmu. Namun Aditya tidak melakukan apapun. Aku sedikit bingung dengannya" Ucap Eric. Dia berusaha membuat hati wanita itu terluka.
"Benarkah? William tidak mengatakan itu padaku! Lalu bagaimana dengan perusahan ayahku, dia pasti sangat sedih sekarang."
"Tidak. Jangan cemaskan itu Bianca. Aku sudah menyelesaikan masalah Ayahmmu, sekrang perusahan ayahmu akan baik-baik saja. Tapi aku sedikit kasihan padamu Bianca, disaat keadaanmu seperti ini suamimu malah sedang asik bersama wanita lain" Ucap Eric, agar Bianca semakin bereaksi.
Bingo, Eric memang berhasil melakukanya.
"Apa maksudmu tuan Eric! "Seruku. Aku tidak percaya apa yang dikataknya.
"Uppss.. Maaf Bianca aku tidak sengaja mengatakanya. Tapi itu benar, Aditya dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Kirana! Aku pikir kau mengetahuinya" Kata demi kata terus Eric ucapkan untuk mengahncurkan hati Bianca.
"Kirana! Apa yang mereka lakukan. Aku tidak bisa percaya itu Eric. Aditya tidak mungkin melakukanya. Dia sedang berusaha membebaskanku" Aku terus menolak mempercayai Eric.
"Aku tidak ingin membuatmu bersedih Bianca. Tapi aku perihatin denganmu, tega-teganya dia membiarkanmu disini, sedangkan dia malah sibuk berduaan dengan wanita lain. Coba lihat ini" Ucap Eric, menyodorkan ponselnya pada Bianca.
Deg. Hati Bianca sangat tertekan melihatnya.
Pantas saja, Aditya tidak pernah datang mengunjungiku, sejak aku disini, dia hanya meminta William mengunjungiku. Dia memintaku bersabar. Aku pikir dia sedang berusaha mencari cara untuk menyelamatkanku, tapi apa ini? Aditya malah sedang makan siang dengan wanita itu.
Kirana! Aku pikir Aditya sudah melepaskanya. Dia berbohong. Aku membencimu Aditya, sangat membencimu.
"Dari mana kau mendapatkan ini?."
"Itu adalah berita utama hari ini, dari sanalah aku mandapatkanya. Itulah alasan aku datang kesini Bianca, aku tidak ingin kau bersedih... " Ucap Eric, merayu Bianca.
"Terima kasih. Kau sangat perhatian padaku. Kita baru mengenal, tapi aku merasa kau benar-benar teman yang baik Eric. Aku tidak tahu bahwa inilah yang suamiku lakukan. Aku benar-benar kehilangan harapanku sekarang" Aku berusah tetap tegar dihadapan Eric, sangat memalukan sekali jika terus menangis dihadapanya." Eric, maaf aku ingin kembali ke tempatku" Sahutku, karena aku sudah tidak sanggup menahan air mataku lebih lama lagi.
"Baiklah Bianca. Kuharap kau baik-baik saja. Jangan lupa, aku adalah temanmu. Jika kau memerlukanku, aku pasti akan datang" Seru Eric. Melangkah pergi
Bagus.
Satu kartu sudahku buka, dan Bianca sangat sedih sekali. Aku tidak sabar membuka kartu yang berikutnya, setelah ini. 🃏
__ADS_1