IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 87 - Penantian


__ADS_3

BAB 87


Dariel semakin erat memegang tangan istrinya, begitupun sebaliknya Fredella menggenggam erat kedua tangan Dariel. Kedua jantung mereka memompa darah lebih cepat, ada sesuatu di dalam sana yang menjadi pusat perhatian ketiga orang dalam ruang pemeriksaan.


“Katakan dokter ada apa?” Tanya Dariel tidak sabaran, dia tidak mengerti apa saja yang tertera di layar besar tepat di depannya.


“Dariel?” Fredella sama cemasnya, kerongkongan terasa kering dan sulit menelan ludah.


“Selamat Tuan dan Nyonya, keduanya sehat dan berat mereka sesuai dengan usia kandungan anda saat ini.” Dokter memberi sedikit penjelasan, dan benar dalam kantung hitam yang semula kosong ada sesuatu berbeda di dalamnya, dua mahkluk kecil saling bergerak pelan.


“Keduanya?” Tanya Dariel dan Fredella bersamaan.


“Iya mereka kembar identik, hidup dalam satu kantung yang sama. Tolong lebih di jaga keadaan ibu, karena Nyonya memiliki kondisi yang lemah.” Tutur Dokter turut bahagia, lalu membantu Fredella turun dari ranjang. Memapah ibu hamil ini sampai duduk.


“Suplemen yang lama tetap dilanjutkan, jangan sampai terlewat. Selain itu konsumsi makanan dengan serat dan protein tinggi, dua bayi anda sangat membutuhkan nutrisinya. Kalsium juga sama penting.” Lanjut Dokter menulis pada catatan kecil yang diberikan untuk Dariel dan Fredella.


Keduanya bahagia karena apa yang dinantikan, diharapkan sebentar lagi terlahir ke dunia. Detik ini juga Dariel mengajukan cuti lebih lama, setidaknya sampai usia kandungan sang istri telah lewat dari dua puluh minggu.


“Terima kasih, terima kasih sayang. Kita akan menjaga mereka berdua, kamu akan menjadi seorang ibu.” Dariel meneteskan air mata, memeluk istrinya, merangkum wajah Fredella mengecup berkali-kali sebagai tanda syukur.


**


Berbeda dari sebelumnya, saat ini penyambutan di rumah Keluarga Matthew sangat luar biasa, beberapa hiasan terpajang, dimulai dari pintu utama, sampai railing tangga pun mendapat sentuhan cantik.


Dariel memberi kabar bahagia kepada Mama Nayla dan Mertuanya, tentu semua antusias, bahagia sebab kesedihan telah dilewati.


Setelah tiga puluh menit hanya duduk di dalam mobil, sekarang Fredella duduk di atas sofa, meluruskan kedua kakinya lalu melihat anggota keluarga yang sangat menghibur. Ucapan selamat pun selalu diterima, baik secara langsung atau melalui pesan singkat.

__ADS_1


“Tahun depan anggota keluarga kita bertambah satu, dan nenek sangat bahagia. Semoga aku masih diberikan kesehatan, untuk melihat cicit pertama.” Seru Nenek, di usia yang tidak lagi muda masih tampak sehat dan bersemangat.


“Maaf bukan satu tapi dua.” Dariel menepuk bahu Nenek dan mengatakan kejutan lain, bahwa dalam beberapa bulan lagi dua bayi akan menangis di kediaman Matthew.


“Benarkah?” sahut anggota keluarga lainnya.


“Selamat”


“Aku tidak menyangka akan memiliki dua cicit sekaligus, kau memang yang terhebat Dariel.” Bangga Nenek merangkul cucu menantunya.


“Tentu saja Nenek, aku berusaha pagi, siang, malam.” Kelakar Dariel seketika mendapat lemparan potongan pie dari tangan istrinya. Pria bertubuh besar ini bangga, ternyata gen kembarnya sangat kuat.


Tapi dalam hati Dariel selalu waspada, hanya ia tidak menunjukan semua kegelisahan yang dipikirkannya. Melewati beberapa kejadian kelam dan menyakitkan, membuat Dariel akan menjaga kesehatan istri dan anak-anaknya. Bahkan memastikan keduanya lahir dalam keadaan selamat, tidak berkurang apapun.


“Cucu menantu? Apa yang kau pikirkan? Ambilkan aku jus di sana.” Tunjuk Nenek, membuyarkan lamunan Dariel.


“Ma?” panggil Dariel, menghampiri Mama Nayla yang setia mendampingi menantunya dan memperhatikan Fredella.


“Ya. Ada apa? Apa yang kamu cemaskan? Mama pikir lebih bijak kalau kita menjalani kehidupan ini tanpa rasa takut yang berlebihan, waspada boleh tapi jangan sampai kamu terlarut dalam semua ketakutan.”


“Mama tahu apa yang aku pikirkan?” Dariel memandang lekat mamanya.


“Ya tentu, mama yakin kedua cucu mama sehat, dan selamat sampai lahir ke dunia. Kamu duduk di sini temani istrimu, mama harus menghubungi papa.”


Ketakutan dalam diri Dariel bukan tanpa alasan sebab dia pernah menyaksikan hal paling menyakitkan yang dialami keluarganya.


Kehilangan sesuatu dan tidak akan pernah kembali, padahal segala upaya telah dilakukan. Tapi menurut dokter kelainan itu adalah hal langka dari sekian banyak kehamilan kembar identik.

__ADS_1


“Daddy berharap kalian berdua tetap bersama sampai lahir dan dewasa nanti.” Dariel mengulas senyum seraya menyentuh perut Fredella yang sedikit menyembul.


“Kamu kenapa nangis?” Tanya Fredella.


“Ini air mata bahagia, bukan berarti aku sedih kan? Jangan berpikir macam-macam, tidak baik untuk kesehatan anak-anak kita.”


.


.


Tanpa terasa waktu semakin cepat, perut Fredella semakin besar dan kedua anaknya bergerak lincah di dalam sana, mereka tidak pernah mengizinkan ibunya beristirahat.


Dariel selalu rutin melakukan pemeriksaan bahkan paling cerewet, banyak pertanyaan ditulisnya sebelum bertemu dokter, semua demi kebaikan Fredella. Sampai istrinya mengalami alergi pun, Dariel panik luar bisa dan membawa ke rumah sakit.


Rupanya ibu hamil itu memiliki alergi pada makanan yang mengandung kacang. Seingat Dariel tidak ada diantara keluarganya yang memiliki satu jenis alergi apapun.


Calon ayah yang sangat siaga menjaga anak-anaknya tapi sayang sudah satu minggu ini Dariel kembali pulang ke Jakarta. Beberapa pekerjaan tidak bisa di wakilkan, kontrak kerja sama dan beberapa investasi di beragam perusahaan memerlukan perhatiannya, karena Papa Ray tidak bisa hadir menggantikan putranya, sebab kesehatannya menurun akibat kelelahan kembali memimpin Hotel serta Cafe.


“Kalian kangen Daddy ya? Baiklah kita ganggu Daddy. Tapi sebelumnya mom harus menghubungi Asisten Indra, jangan sampai Daddy sedang meeting.” Fredella ingin mengetahui jadwal suaminya, karena tidak mau mengganggu sedikitpun pekerjaan Dariel.


Di awal kehamilan sikapnya sangat manja, seringkali menyusahkan Dariel tengah malam, tapi seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, Fredella perlahan tidak bergantung kepada sang suami.


Walaupun sulit, ia berusaha mencoba karena Dariel tidak selalu di sisinya, dan terpaksa Fredella mengerti tuntutan serta beban pekerjaan suaminya sangatlah berat.


“Halo sayang dan anak-anak Daddy.” Sapa Dariel melalui panggilan video.


Akhirnya setelah menunggu dari pagi, Fredella bisa melihat wajah suaminya memenuhi layar ponsel. Dia sempat sedih dan merajuk karena Dariel terlalu sibuk, namun tidak lama, perlu waktu satu jam untuk menghilangkan rasa marah di dada. Cukup dengan tidur bisa melepaskan segala rasa kesal di hati ibu hamil yang sangat sensitif.

__ADS_1


TBC


__ADS_2