IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
IMPERFECT MARRIAGE Episode.18


__ADS_3

Markas Nitara.


Aditya bersama William sudah tiba disana, dengan langkah besar Aditya masuk kedalam Gudang besar dan luas yang selama ini dikenal juga dengan nama jurang penderitaan.


Aditya langsung dibawa kesatu ruangan, tempat dimana tawanan yang sudah menggangu ketenanganya itu disekap. Ruangan yang cukup gelap, hanya ada satu lampu disana sebagai penerang. Dan tepat di bawah cahaya lampu yang remang-remang itu.


Tampak seorang Pria yang tidak sadarkan diri, wajahnya sudah babak belur oleh hantaman benda tumpul.


"Bangunkan dia" Titah Aditya kepada orang-orangnya. Salah satu dari mereka segera menguyurkan seember air menyadarkan pria skarat itu.


"Tuan Aditya. Maafkan saya. saya benar-benar tidak tahu siapa yang menyuruh saya tuan" Mohon pria itu meyakinkan Aditya.


Tidak ada rasa belas kasihan sedikitpun bagi Aditya, dia kembali mengeluarkan pistol yang sejak tadi telah disiapkannya untuk menebak kepala pria itu. Aditya tidak akan pernah main-main dengan ucapanya.


"Katakan, atau kau mati !" Aditya menodongkan pistol di kepala pria itu.


"Ampuan Tuan saya benar-benar tidak tahu" Orang itu menangis dan terus memohon.


"Kau yang memaksaku melakukanya, ingat kau masih memiliki keluarga, anak dan istrimu, kupastikan mereka akan berakhir sepertimu" Ancam Aditya.


"Jangan keluarga saya tuan, bunuh saja saya tapi jangan keluarga saya" Pintanya


Aditya tertawa sangat kencang menertawakan kebodohan orang yang ada dihadapanya itu.


"Teruslah memohon. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku" Kini Aditya sudah hampir menekan platuk senjatanya itu


"Baik. Baik tuan, Tuan Eric yang menyuruh saya melakukanya, saya terpaksa saya butuh uang, keluarga saya diancam. Tolong jangan sakiti keluarga saya" Akhirnya orang itu mengakui dalang utama dari paket yang bisa sampai ke Garden House.


Seperti yang Aditya duga Eric memang tertarik dengan sesuatu yang dimiliki oleh Aditya, dan itu adalah Bianca, istrinya. Aditya menurunkan pistolnya dari kepala orang itu.


"Bebaskan orang ini, dan pastikan dia dan keluarganya aman. Orang yang kita cari bukan dia tapi Eric Wijaya" Ucap Aditya memberi perintah pada para anak buahnya.


"William kita cari Eric Wijaya itu sekarang" Ucap Aditya.


"Baik Tuan" Willam mengikuti perintah atasanya itu.


"Dan beberapa dari kalian tinggal disini dan sisanya antar orang itu pulang, dia tidak akan aman jika dibiarkan sendiri" Aditya kembali memberi Perintah.


*****


Royal Ciquel Hong


Aditya datang dan langsung menerobos semua orang dihadapanya. Dia sudah tidak sabar memecahkan kepala Eric.


"Ada apa tuan Aditya datang menghambur-hambur kantor saya?


"Berhenti bermain-main, katakan kenapa kau melakukanya" Aditya kembali menodongkan pistol kearah Eric. Tapi anehnya Eric sama sekali tidak takut dengan hal itu, ia tertawa terbahak-bahak seolah itu lelucon baginya.

__ADS_1


"Kau memang hebat tuan Aditya. Apa kau sudah membunuh orangku itu? tanyanya mengerti bahwa dia sudah tertangkap basah.


"Kaulah yang harusku bunuh! "


"Tidak... Tidak... kau terlalu munafik tuan Aditya yang terhormat" Seru Eric terus memancing amarah Aditya.


"Ucapakanlah kata-kata terakhirmu" Ucap Aditya sebelum benar-benar menekan platuk pistol itu.


"Bersikap seperti suami yang baik. Apa kau lupa dengan wanitamu di The Telegraph ! Kirana Gabriella itukah orangnya?".


"Apa yang kau inginkan? "


"Apa yang kau inginkan. Kau sangat mengerti apa yangku inginkan Tuan Aditya!"


"Berhenti mengancamku, itu tidak akan membuatmu mundur selangkahpun untuk mengakhiri hidupmu".


"Uhhh. Aku sangat takut sekali Aditya! Tapi sebelum aku mati lihat apa yang bisa kulakukan padamu dan nona Kirana! "


"Bedebah dimana Kirana? "


"Aku tidak tahu, suru saja pistolmu yang berbicara".


"Eric Wijaya, berhenti mengancamku ! "


"Oh apa itu ancaman bagimu, itu tidaklah cukup. Aku memiliki semua bukti-bukti yang akan membuat Istrimu membencimu selamanya" Ucap Eric terus mengacam. Kemudian, mengeluarkan beberapa foto dan video kebersamaan Aditya dan Kirana, tentu itu cukup membuat hati Bianca akan hancur melihatnya.


Seketika Aditya menjadi tidak berkutik dengan apa yang ditunjukan Eric padanya, tentu membunuh Eric bukanlah hal sulit baginya, tapi bagaimana setelah ini dia akan kehilangan Bianca juga? Itu akan menjadi hal sulit. Dan juga Kirana mungkin sedang dalam bahaya sekarang.


"Aku tidak menyentuhnya sama sekali, dia baik-baik saja!"


"Dimana dia?" Tanya Aditya yang mulai muak dengan sikap Eric.


"Hubungi saja dia, kuharap tidak terjadi sesuatu padanya! sebelum kau terlamabat Aditya!!! " Gertak Eric. Aditya tidak lagi menghiraukan Eric dan segera berlari, keluar.


"Cepat lacak dimana Kirana sekarang!!! " Titah Aditya.


Tidak perlu waktu lama bagi William, melakukanya dalam beberapa menit lokasi Kirana sudah dapat ditemukan. Dari lokasi yang ditunjukan Kirana berada di apartemen miliknya sendiri. Tanpa berlama-lama Aditya langsung menuju kesana.


"Wanita itu tidak bersalah, jika terjadi sesuatu padanya, aku akan dihantui rasa bersalah seumur hidupku" Batin Aditya. Sambil terus mencoba menghubungi Kirana namun tidak ada jawaban, bahkan wanita itu tidak menjawab pesan ataupun panggilan darinya.


"Cepatlah ! Nyawa orang sedang dipertaruhkan sekarang" Aditya sangat gelisah dan ketakutan.


Aparteman Barrington.


Aditya mencari celah untuk masuk ditengah keramaian tanpa harus terlihat oleh siapapun, karena hal seperti ini tidak boleh sampai terendus oleh media.


Hingga ia benar-benar berdiri tepat di depan unit apartemen Kirana dan masuk kedalam.

__ADS_1


Matanya menjelajah semua sudut tempat tinggal Kirana, sampai matanya menemukan sosok wanita yang tergeletak tak berdaya diatas lantai dingin itu.


"Kirana... !" Aditya segera menghampiri wanitanya itu dan mengangkat tubuh ramping nya ketempat yang lebih nyaman.


"Aditya. Kau datang" lirihnya, sangat terlihat jelas kesedihan diwajahnya, matanya sembab, pipinya masih basah karena air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.


"Kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Aditya cemas.


"Aku baik-baik saja sayang" ucap Kirana menampakan senyum dari sudut bibirnya.


"Dasar wanita bodoh, apa kau pikir aku begitu bodoh Kirana, jika kau baik-baik saja mengapa harus menangis? "


"Jangan cemaskan aku Aditya, aku baik-baik saja jika bersamamu"


"Apa sesorang datang kesini?


"Siapa? Istrimu? "Tanya Kirana menebak, apakah Bianca sudah mengetahui semuanya sekarang.


"Tidak. Tidak ada yang datang kesini?" Aditya kembali mengulang pertanyaanya.


"Tidak ada sayang. Kenapa kau sangat telihat cemas? Apa ada sesuatu?"


Hebat sekali Eric telah menjebakku untuk datang kesini, si ******** itu! pikir Aditya


Karena sudah berhadapan langsung dengannya...


Bagaimana cara mengatakanya sekarang? Apa aku harus mengatakan bahwa aku tidak mencintaimu lagi Kirana. Wanita ini, adalah gadis baik, bagaimana aku bisa menyakitinya.


Namun beginlah yangku rasakan sekarang, hanya ada Bianca, aku tidak bisa terus menahan keduanya, jika hatiku hanya menginginkan satu saja.


"Kirana. Mulai hari ini berjanjilah padaku kau akan tetap baik-baik saja. Meskipun tanpa diriku".


"Maksudmu? "


"Maafkan aku! "


"Tidak, aku bahkan tidak pernah menuntut apapun padamu, kenapa kau melakukanya? Apa karena wanita itu? Kenapa kau melakukan ini padaku Aditya, aku yang menemanimu sejak awal kenapa aku yang kau usir dari hidupmu" Tangis Kirana kembali pecah, bahkan dia sangat histeris sekarang.


"Akulah yang bersalah bukan Bianca! Dia istriku Kirana. Ini tidak akan adil baginya".


"Cukup Aditya ! Pergilah dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu".


"Dengarkan dulu Kirana!!".


"Tidak. Keluar dari sini sekarang" Bentak Kirana.


Aditya mengangkat kakinya dari kediaman Kirana, meskipun Kirana Mungkin tidak Akan baik-baik saja saat ini, tetapi Aditya yakin Kirana bukan orang yang akan gelap mata.

__ADS_1


Kuharap kau bisa mengerti ini


cepat atau lambat kita pasti berakhir, untuk apa memaksa keadaan


__ADS_2