IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 98 - Ada Apa?


__ADS_3

BAB 98


Di hari ke delapan, Ayu menunggu suaminya yang masih tetap terlelap berteman irama suara monitor. Ibu dari Ethan akan kembali ke Birmingham sebab Ethan sakit, demam. Mungkin rindu akan kehadiran Ayu.


Ayu pamit, bicara panjang kali lebar di balik pembatas, memanjatkan doa setinggi langit. Berharap sebelum ia berangkat ke Inggris, suaminya segera membuka mata.


“Bangun Bobby. Kamu mau aku kembali ke Inggris lagi? Hari ini aku pulang, maaf kalau kehadiranku kurang bisa membantu.” Tutur Ayu menunduk lesu.


Ayu beruntung setidaknya ia tidak pulang sendirian, sebab Dariel menunggunya di rumah sakit. Pria itu akan menemani Ayu ke Birmingham. Kebetulan Dariel berencana menetap cukup lama di negeri asal opanya, karena bulan depan jadwal Fredella melahirkan.


“Bobby, aku ... maksudnya Ethan menyayangi kamu, cepat bangun demi anak kita, dia demam. Aku pulang.” Ayu membalik badan, perlahan meninggalkan ruang ICU dan GB Hospital.


Mobil yang ditumpangi Ayu dan Dariel melaju cukup cepat semakin menjauh dari rumah sakit. Kedua mata Ayu tidak bisa berpaling dari gedung tingkat yang masih terlihat di kejauhan beberapa kilometer.


“Semoga kamu cepat sembuh Bob.” Lirih Ayu daam hati.


Dariel menepuk lengan Ayu, dan menenangkan ibu muda yang sangat mudah tersentuh hatinya itu.


“Bobby banyak yang menjaga, tapi Ethan, dia lebih membutuhkan ibunya, jadi kamu harus tetap semangat.” Tutur Dariel.


Akhirnya Dariel dan Ayu tiba di bandara segera masuk ke pesawat, karena jadwal penerbangan kurang dari tiga puluh menit.


Sebelum benar-benar terbang, Ayu menghabiskan waktu bertukar kabar dengan Ethan yang semakin besar tapi sayang wajahnya pucat.


“Nanti malam mama sampai rumah ya sayang. Ethan jangan rewel, kasihan Tante Denna dan Tante Fredella.” Sambungan video berakhir, Ayu memeluk ponsel dan mencium gambar Ethan di layar berkurang tujuh inchi.


Pesawat komersial itu akhirnya terbang setelah penumpang masuk dan pramugari menyampaikan informasi tertentu.


“Sampai ketemu lagi Bobby, aku … aku dan Ethan menunggumu.” Kata hati Ayu, ia berharap suatu saat nanti entah bulan depan atau tahun depan, suaminya datang menjemput dengan semua hal yang baru. Ayu juga ingin Bobby menerima kehadirannya sebagai istri, bukan hanya ibu dari Ethan.


 

__ADS_1


**


GB Hospital


“Ayu?” Bobby Armend membuka kedua mata, bahkan sangat lantang dan tegas memanggil nama istrinya.


“Ayu Jelita, Ayu … Ayu jangan pergi.” Panggil Bobby, kedua mata memandang langit-langit ruang perawatan.


“Tuan apa anda bisa mendengar suara saya? Gerakan tangan jika mendengarnya.” Suara perawat, tiga kali memberi instruksi tetapi yang keluar dari mulut Bobby hanya satu kata ‘Ayu’.


Bobby melirik perawat yang hanya terlihat bagian mata, lalu sekeliling ruangan putih, suhu dingin mulai merasuk ke telapak kakinya.


Kepala Bobby berdenyut nyeri, ia ingat kenapa bisa ada di ruangan khusus ini, kejadian terkahir yang dialaminya ketika pohon berdiameter besar itu jatuh menimpa jalan. Dia sempat menginjak rem tapi karena jalan licin, badan mobil menabrak batang pohon dan terguling.


“Seharusnya tidak lewat jalan itu, sekarang Ayu di mana? Kenapa rasanya sangat dekat.” Gumam Bobby.


“Tuan, Ibu Ayu sudah pergi, beliau pulang karena anaknya sakit.” Ucap perawat memeriksa denyut jantung dan respon Bobby terhadap gerakan.


Bobby tersenyum membayangkan wajah bayi merah dalam pangkuannya, sekarang ia harus semangat untuk sembuh dan pulang ke rumah, pasti Ayu dan anaknya menunggu di kamar yang telah ia hias sedemikian rupa.


“Suster? Kapan saya boleh pulang? Berapa lama saya di sini? Terus kenapa harus ruang ICU?” tanya Bobby. Dia tidak sabar memeluk tubuh mungil sang istri ditambah suara tangis bayi.


Satu hal yang membuat hati Bobby lega mendengar itu semua, Ayu sudah melahirkan dengan selamat, dan ia tidak kehilangan buah hati untuk kedua kali.


“Tuan koma, anda tidur di ruangan ini selama empat bulan.” Ucap perawat memeriksa tekanan darah Bobby, kemudian menulisnya dalam jurnal pasien.


Sontak Bobby melebarkan kedua mata, empat bulan itu artinya usia buah hati sudah besar karena masih ingat tanggal perkiraan Ayu melahirkan.


Banyak pertanyaan dalam benak Bobby, semua hal sangat membingungkan. Tidak ada satupun anggota keluarga yang menemani di rumah sakit, kemana MAmi Kezia? Kalau Barra dan Papi Leo jelas sibuk dengan pekerjaan. Adik bungsunya mash menjalani pendidikan di benua biru. Mungkin Mami Kezia dan Ayu bergantian ke rumah sakit, tidak mungkin meninggalkan anaknya sendirian di rumah, pikir Bobby.


Setelah satu jam siuman dari tidur panjang, Bobby dipindahkan ke ruang pemulihan. Pihak rumah sakit sudah menghubungi keluarga, dan ia harap bisa melihat wajah polos istrinya.

__ADS_1


“Semoga Ayu kembali lagi ke rumah sakit, tadi perawat bilang anakku sakit. Sakit apa dia? Kenapa Mami, Papi dan Barra lama sekali. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?” Bobby menghela napas, sembari terus berusaha menggerakkan tangan dan semua anggota tubuh yang terlalu lama istirahat.


Dua jam berlalu akhirnya, Papi Leo dan Barra datang melihat anggota keluarga mereka yang sangat dinantikan membuka kedua mata.


“Hi jagoan. Bangun juga.” Ujar Barra mengepalkan tinju ke kaki adiknya.


Seketika Bobby tertawa dan menoleh ke pintu masuk. Mencari Ayu juga Maminya, rasa rindu semakin menumpuk dalam dada. Bobby harap wanita yang telah ia sakiti datang menyusul.


“Pih, di mana Mami dan Ayu? Anakku laki-laki atau perempuan?” antusias Bobby, menunggu jawaban dari dua pria yang berbeda usia di depannya.


“Ada apa Pih? Anakku sehat kan?” Bobby tidak siap mendengar kalau terjadi sesuatu dengan buah hatinya. Ia pun berusaha bangun tapi badannya masih kaku dan sulit bergerak, untung ada Barra sigap menahan adiknya agar tidak membentur lantai.


“Namanya Ethan Adrian Armend, maaf bro … nama itu pemberian aku dan papi. Kasihan dia tidak memiliki nama sampai usianya dua minggu.” Tutur Barra melirik Papinya, menyerahkan semua sisa penjelasan kepada Papi Leo.


“Bukan masalah Kak. Aku yakin artinya sangat bagus dan sesuai untuk Ethan. Benar kan nama panggilannya Ethan?” senyum bahagia terukir di bibir Bobby. Dia yakin putranya sangat tampan dan mirip dengannya.


“Mami sakit, Bobby … Mami depresi, karena kamu tidur sangat lama, selain itu …” ucapan Papi Leo terhenti, menoleh kepada Barra yang tampak menegang.


“Ada apa ini? Mami sakit apa? Selama aku koma tidak terjadi sesuatu kan?” Bobby geram, tidak satupun keluarga menjawab semua keingintahuannya.


“Ayu … dia dan Mami bertengkar. Ayu keluar dari rumah, membawa Ethan. Papi tidak tahu dimana dia, selama ini kita mencarinya tapi selalu sia-sia.” Papi Leo terpaksa menjelaskan semua lebih awal, nanti ataupun sekarang sama saja. Semakin cepat Bobby tahu, semoga bisa membantu menemukan Ayu, karena putranya pasti hapal kemana Ayu biasa berkunjung.


“Omong kosong, jelas-jelas perawat bilang. Kalau Ayu tadi dari sini Pih, dia pulang karena Ethan sakit. Kenapa sekarang istri dan anakku menghilang?” Bobby merasa bersalah, semua karena ulahnya yang masih terikat dengan masa lalu, sampai istri dan anaknya pergi.


TBC


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2