
BAB 69
Fredella manahan lengan suaminya, saling bertatap, dengan cepat wanita ini menyambar bibir Dariel. Memberi kecupan ringan sebagai ungkapan terima kasih. Bukan hal ringan bagi seorang Dariel, rela berjauhan dengan istrinya demi ibu mertua.
“Sayang?” Dariel mematung mendapat serangan mendadak, tidak dipungkiri hatinya berbunga-bunga, apa ini artinya Fredella tidak lagi marah kepadanya?
“Katanya mau pulang. Ayo, aku tidak suka angin ini, semakin lama menusuk kulit.” Alasan Fredella sebenarnya malu karena sikap agresifnya.
Merengkuh pinggul ramping wanitanya, menciumi pipi merona Fredella dan sama-sama melemparkan senyumannya. Mereka berdua berjalan kaki menuju hotel yang jaraknya tidak dekat melainkan perlu waktu hampir satu jam.
“Malam ini aku tidak mau istriku tidur di kamar lain. Apa-apaan itu? Kamu tidak tahu sangat menyakiti hati?.” Gerutu Dariel, kembali pada sikap manja dimana awal pernikahan mereka.
“Sengaja, aku memerlukan waktu berpikir yang tidak sedikit. Tidak mudah mengambil keputusan.” Jawab Fredella benar adanya.
Anggaplah ia bodoh karena telah dibutakan oleh cinta, sosok Dariel dalam pandangan orang mungkin sempurna tapi tidak menurut Fredella. Pria ini salah satu pendusta, ia melakukan perbuatan yang tidak selayaknya di belakang hubungan mereka.
Menjalani kehidupan terpisah selama satu bula membuat Fredella merasakan sesuatu yang lain, mulai kehilangan, bersalah dan berharap suaminya datang, sekalipun belum mengingat semuanya.
Namun keyakinan dalam diri semakin bertambah setelah kehadiran Clarissa beberapa hari yang lalu, rasa sakit dalam hati masih ada. Namun berusaha memaafkan adalah pilihan terbaik, memendam kebencian terlalu dalam bukan membuat hidupnya semakin baik, malah turut tersiksa.
Antara cinta dan benci, hidupnya lelah menghadapi semua. Berdiri di tengah-tengah , selalu waspada takut tergelincir pada kebencian yang tidak seharusnya, atau terluka oleh seseorang yang dicintai.
“Maksudmu? Jadi kamu s-sudah ingat semua tentang kita? Jawab jujur sayang.”
“Ya baru beberapa hari ini tapi belum semua.” Fredella mengangkat dua bahu, kemudian berlari meninggalkan Dariel sendiri.
“Sayang tunggu”
**
Hotel
Canggung, suasana saat ini. Terlalu lama berpisah, membuat Fredella gugup begitupun dengan Dariel, sedari tadi ia meneguk wine. Tidak asa suara apapun dalam ruangan kecuali helaan napas dan detak jantung.
“A-aku mau mandi”
__ADS_1
Ucap keduanya bersamaan.
“Kalau begitu Nyonya mandi lebih dulu.” Tutur Dariel memandang wajah cantik Fredella yang semakin manis ketika muncul semburat merah.
“Ah ya ... aku tidak lama jadi boleh pesankan makanan? Perutku lapar.”
“Oh ya sayang tentu, apapun untukmu.”
Sementara Fredella masuk kamar mandi, mengunci pintu dan menepuk dadanya pelan, sungguh tidak terkontrol, padahal ini bukan kebersamaan yang pertama, tapi sangat berbeda.
“Tenanglah Fredella, dia itu suamimu. Bukan masalah besar. Huh ... mungkin karena terlalu lama tidak bertemu dan banyak masalah yang datang.” Akhirnya Fredella memilih berendam air hangat dalam jacuzzi, mengendurkan saraf tegang dan melancarkan peredaran darah.
Segala gundah dalam diri menguap, menjadi lebih tenang dan hanyut pada sunyi ruangan. Ditambah eloknya langit malam Kota London, iris hazel memandangi seluruh kelap kelip lampu pada gedung pencakar langit sampai tanpa sadar terlelap.
Sedangkan di luar, Dariel hampir menghabiskan satu botol minuman beralkohol itu sampai benar-benar melepaskannya, mendengar suara bell room service.
“Permisi Bos ini makanannya”
“Ok, kau bisa keluar”
Semakin lama waktu berputar, makanan pun berubah dingin , hari semakin larut. Satu jam, mulai cemas, kemudian mengetuk pintu kamar mandi.
“Sayang, Fredella .. kamu baik-baik saja kan? Jawab aku sayang.” Teriak Dariel tapi tak mendengar jawaban apapun, dirinya yang terlalu takut kehilangan Fredella sampai berniat merusak pintu kamar mandi itu. Tapi isi otak masih mencegah, menghubungi teknisi untuk membawa kunci cadangan.
Tidak sampai sepuluh menit pegawainya datang dan membantu membuka kunci, Dariel panik melihat istrinya terkulai lemah.
“FREDELLA”
Diperiksa suhu tubuh masih normal, pernapasan pun baik. Dariel menyambar jubah handuk, menutup tubuh polos wanitanya. Menggendong Fredella keluar, ketika ia menekan layar ponsel untuk menghubungi dokter, wanita ini bangun, menggosok kedua kelopak mata. Tanpa rasa bersalah menyambar satu gelas jus di atas meja.
“Sayang?” lirih Dariel.
“Kalian semua keluarlah”
“I-iya bos”
__ADS_1
Memerintahkan teknisi keluar kamar, tidak ingin keadaan istrinya menjadi tontonan pria lain.
“Kamu kenapa Dariel? Melihatku seperti itu. Ah perutku lapar, ini jam berapa?” Fredella melirik pada jam tangan suaminya langsung membisu.Ia berendam lebih dari satu jam, bertanya pada diri sendiri mungkin sempat tidur dalam kamar mandi, sangat gegabah menurutnya.
“Apa yang kamu rasakan sekarang? kamu baik-baik saja? Aku cemas sayang, rasanya hampir mati.” Keluh Dariel berlebihan. Kedua tungkai masih lemas akibat ulah Fredella.
“Maaf, aku terlalu lelah, nyaman berendam sembari melihat pemandangan kota. Jangan marah lagi ya? Aku tidak punya tenaga, lapar.” Bujuk Fredella memasang wajah memelas, tentu saja seorang Dariel tidak mungkin marah disuguhi sosok cantik pujaan hati.
“Makanlah yang banyak, bila perlu pesan lagi. Jangan mengulangi perbuatan itu sayang. Kamu tahu aku sangat takut terjadi sesuatu.” Peringatan Dariel.
Berdiri memandangi mulut Fredella yang masih penuh makanan, kerlingan menggemaskan kedua mata, sampai rambut lentik di kelopak menggoda seorang Dariel.
Bibir merah delima terbuka, potato chips di tangannya masuk, tapi tidak sepenuhnya melewat bibir menggoda itu. Naluri sebagai seorang pria mendorong Dariel melakukannya, menangkup pipi dan menikmati bibir manis bercampur gurihnya kentang goreng renyah.
Fredella cukup syok, mata hazel melebar, kemudian tersentak merasakan pergerakan lain yang diberikan Dariel.
Raga melemas, entah kapan dan bagaimana bathrobe telah terbuka sempurna mendarat jatuh pada karpet di bawah sana.
Tautan keduanya belum terlepas sama sekali, bahkan tangan nakal Fredella melakukan hal yang sama. Alam bawah sadarnya menutut itu semua, padahal sekuat tenaga ia menahan, mengulur waktu namun pasrah pada keadaan.
Pertukaran saliva terhenti
“Kamu masih sama tidak ada yang berubah, manis dan menggemaskan sayang.” Bisik Dariel suara berubah serak, seketika telinga, tengkuk Fredella berdesir hebat, menginginkan lebih tentunya.
Tanpa malu dan menjaga harga diri mendorong pria itu sampai tergolek di atas ranjang, dengan percaya diri wanita ini memulai semua, sempat kesulitan tapi tidak menghentikan apa yang seharusnya terjadi.
Sebelumnya kamar ini senyap dan kaku, sekarang berubah gaduh dipenuhi nyanyian merdu dari pasangan yang tengah melepas kerinduan.
Rambut indah Fredella menjuntai lembut pada pipi Dariel. Keduanya terhenti sesaat sampai di sini, salah satu dari mereka mulai kelelahan setelah menggapai sesuatu.
“Saatnya aku sayang.” Dariel membalik, membiarkan wanitanya membenamkan wajah pada tumpukan bantal. Bertumpu pada kedua lutut, menuntaskan semua yang telah tertunda sangat lama.
Selesai dengan kegiatan berbagi kasih sayang, sepasang suami istri yang baru saja melewati badai terlelap saling memeluk. Lebih tepatnya Fredella lebih dulu memejamkan mata karena terlalu lelah.
...TBC...
__ADS_1