
BAB 71
Tiba di kediaman Armend, Mami Kezia bergegas kembali ke butik. Hanya sekadar mengantar Ayu, memastikan menantunya baik-baik saja sampai rumah.
Ayu melirik sekitar, sepi. Rumah besar dan mewah ini lebih mirip hutan, ah bahkan hutan pun masih terbilang ramai dengan adanya kicau burung.
Siang hari seluruh anggota keluarga menjalankan aktifitasnya masing-masing. Barra, kakak Bobby lebih senang mengelola bisnis gym, putra bungsu Armend yaitu Brady tengah menjalani pendidikan di Inggris. Bobby berangkat pagi pulang sore atau malam.
“Jangan disamakan dengan tinggal di desa, Yu. Ini orang kota, apalagi keluarga suami mu bukan sembarangan.” Ayu menitikkan air mata, ia rindu desanya. Dimana kaum wanita akan tetap tinggal di rumah ketika suami mereka bekerja.
“Non Ayu? Mau dibawakan cemilan sore apa?” tanya seorang pelayan.
Ya teman ayu sehari-hari adalah para pelayan di rumah besar ini. Ia tidak berani keluar sendiri meskipun meminta tolong sopir. Tentu saja, ini kan bukan mobilnya, dia takut terkena amarah dari mertua serta suami.
“Tuan Bobby bilang, Non harus makan sesuatu sebelum malam. Non jangan sungkan ya.” Ramah dan baik hati asisten rumah tangga.
“Buah, aku mau buah. Bisa minta tolong di potong kecil-kecil?” sungkan Ayu. Dia terbiasa melakukan semua sendiri.
Bahkan membuang sampah berjalan beratus kilometer pun sendiri, tapi setelah menikah dengan Bobby semua berbeda, Ayu sempat mengalami culture shock beberapa bulan lalu.
Ayu memandang wajah pria dalam bingkai, ya Bobby. Bibir manis berjuta cinta mampu membutakan seorang Ayu Jelita. Terbang hingga nirwana sebelum benar-benar terhempas ke dasar bumi.
Bobby mendekati, merayu bahkan tidur dengannya karena pelarian atas rasa sakit hati pada Clarissa.
“Terima kasih. Terima kasih atas luka yang sangat besar ini suamiku.” Lirih Ayu. Ia ingat ketika Bobby dengan lantang tanpa ragu menyatakan bahwa hati dan seluruh cinta hanya milik Clarissa Dominique.
__ADS_1
Apalagi setelah identitas Greeta terungkap, semakin hanya besar rasa bersalah Bobby pada cinta pertamanya.
Tersayat perih hati wanita cantik ini, sekalipun Bobby tidak pernah mengatakan langsung tepat di depan matanya. Tetapi semua itu cukup, bagi Ayu tidak akan mengharap lebih apalagi dicintai seorang Bobby Albern Armend.
Untuk apa menikahi Ayu jika mencintai wanita lain? Jelas sebab anak dalam kandungannya. Bobby menyayangi anak yang kini tumbuh di rahim Ayu. Perhatian kecil pun turut ia dapatkan, hanya sebatas ibu dari anaknya bukan wanita yang dicintai sepenuh hati.
Ayu masuk kamar mengganti pakaian, ia tertawa miris melihat banyaknya pakaian wanita tergantung rapi pada walk in closet.
Semua adalah rancangan Clarissa Dominique, bahkan sabun, sampo dan parfum sama persis dengan apa yang digunakan oleh designer muda itu.
Semula Ayu menurut dan bahagia, Bobby sangat sayang padanya, namun belakang diketahui bahwa ia adalah wujud dari fantasi Bobby yang begitu kuat ingin memiliki pujaan hati.
Ayu selau mencoba memahami ini, semua terjadi sangat cepat. Dirinya mempersiapkan diri dari kenyataan pahit. Mungkin saja akan di depak dari rumah besar dan Bobby pergi membawa anak mereka.
“Aku yang salah di sini. Terlalu mudah termakan rayuannya.” Tangan mungil Ayu menyambar satu dress rumahan cantik bermotif bangun ruang.
Apalagi satu bulan ini, setelah Greeta meninggal. Bobby selalu bertukar kabar dengan sahabatnya. Baik itu panggilan video atau suara, tetapi dari nada suara terpancar rasa cinta masih kuat untuk ibu dari mendiang putrinya.
Bobby begitu larut dalam kesedihan kehilangan Greeta, tapi bolehkah Ayu menjadi wanita jahat? Jujur terpukul mengetahui suaminya memiliki anak dari wanita lain, dan ia sedikit senang atas kepergian Greeta. Itu artinya tidak ada lagi pengikat kuat antara Clarissa dan Bobby.
“Kamu lapar ya? Ayo kita makan buah.” Ajak Ayu, sangat rajin bicara dengan janin dalam kandungannya.
Ayu menikmati potongan buah itu sembari menonton TV, tidak mengubah rasa jenuhnya yang terkurung di rumah besar ini. Dia ingin sesekali mengunjungi kantor suami tapi khawatir Bobby malu memiliki istri seperti dirinya.
Usai melakukan rutinitas harian yang membosankan. Ayu kembali masuk kamar, istirahat sampai menjelang malam hari.
__ADS_1
Lebih dari dua jam berlalu, suara mesin mobil mulai terdengar. Dia menghapal semua suara itu. Mana milik papa mertua, mami mertua dan suaminya sendiri.
Ayu berjalan, mengintip dari balkon. Senyum manis terukir di bibir, Bobby telah pulang. Melepas kaca mata hitam dan berjalan masuk bersama Mami Kezia.
Tidak sampai sepuluh menit, pintu kamar terbuka. Keduanya saling bertatap cukup lama, sampai akhirnya Ayu memutus kontak lebih dulu, dan bersikap sewajarnya.
“Kamu mau mandi dulu, Baby? Aku bantu siapkan air hangat ya.” Tawar Ayu, degup jantung semakin tidak beraturan, sebab Bobby melangkah maju menghampiri.
“Kamu istirahat saja. Aku bisa sendiri. Ah ya dokter bilang apa? Bagaimana kondisinya?” Bobby membelai perut menyembul sang istri lalu mengecup kening, menghidu aroma harum khas seseorang.
Tentu Ayu bukan bodoh, ini terjadi ketika ia menggunakan parfum.
“A-anak kita baik-baik saja, dokter bilang semua sehat tidak ada kendala apapun. Tapi jenis kelamin belum tahu.” Ayu sedikit tertawa, tangannya pun terangkat hendak menyentuh punggung tangan suami. Namun belum sempat merasakan lembutnya tangan kekar itu, Bobby menjauh dan masuk kamar mandi.
“Dia menghindar lagi. Seharusnya aku yang menghindar. Di sini aku korbannya, aku menikahi seorang pendusta.” Tertawa kecil, kemudian duduk di pinggir ranjang menunggu suaminya selesai.
Bagi Ayu, Bobby adalah malaikat penolongnya, ia kerap mendapat perlakuan buruk namun semua orang perlahan mundu setelah Bobby resmi menyatakan bahwa Ayu adalah calon istrinya. Sungguh indah momen itu, sebelum semua kebohongan terbongkar.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Ayu Jelita, ia menatap kosong pada suaminya yang bertelanjang dada.
“Kamu melamun lagi? Selalu begini. Sebaiknya turun duluan, khawatir anak kita kelaparan. Sebentar lagi aku selesai.” Bobby masuk walk in closet, tergesa menggunakan pakaiannya.
Bobby pernah kehilangan seorang putri dan ia tidak mau terulang lagi, sekarang memperhatikan anak dalam kandungan sang istri adalah prioritas utama.
“Kamu masih di sini. Ayo turun, mama papa dan kak Barra menunggu kita.” Bobby membantu istrinya berdiri dan memegangi lengan, bukan menggandeng tangan seperti yang biasa mereka lakukan sebelum menikah.
__ADS_1
“A-ku bisa jalan sendiri jangan seperti ini, Baby. Kamu jangan cemas, aku pasti pelan-pelan tidak akan melukai anak kita.” Senyum Ayu terpaksa dan ia menatap pada wajah tampan suaminya, sama sekali tidak ada perubahan riak kecemasan di wajah Bobby.
...TBC...