Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Ramiel, Malaikat yang Mencoba Membunuh Julian


__ADS_3

Bagaimana bisa Julian bisa tahu kalau pria di depannya adalah seroang malaikat? Tentu saja itu karena ia menggunakan appraisal dan begini hasilnya.


[ Ramiel


HP : 100%


MP : 100%


level kekuatan : 7 (9)


Level mana : 8 (10) ]


"Mindy, apa maksud tanda kurung itu?" tanya Julian di dalam hatinya.


[ Ramiel saat ini dalam keadaan tersegel karena dia adalah malaikat. Makhluk yang berasal dari alam dewa dan dewi akan tersegel kekuatannya saat memasuki dunia Unionia ]


"Oh, jadi begitu. Lalu, untuk para iblis, apakah mereka tidak seperti mereka?" tanya Julian.


[ Tidak. Karena iblis masih berada di dalam dunia Unionia. Berbeda dengan dewa dan dewi yang memiliki tempatnya sendiri ]


Julian mengangguk, "Baiklah, aku paham sekarang. Terima kasih, Mindy."


[ Senang bisa membantu, Host ]


...----------------...


"Katakan, bagaimana kau bisa mengetahui identitasku?" Ramiel bertanya dengan nada muram karena ia tidak menyangka kalau Julian bisa mengetahui identitasnya.


"Bagaimana ya? Mungkin karena aku beruntung? Haha." Julian menjawab pertanyaan Ramiel dengan candaan karena tentu saja dia tidak akan memberitahunya.


"Manusia, sebenarnya aku akan membawamu dengan cara yang normal. Tapi sepertinya sekarang aku akan membawamu dengan paksaan." Ramiel mengeluarkan mana yang sangat banyak.


Kemudian, penampilan Ramiel mulai berubah. Tubuh dan yang lainnya masih sama, tapi pakaiannya berubah menjadi pakaian malaikat yang berwarna serba putih.


Lalu muncul dua pasang sayap di punggungnya. Satu pasang sayap besar di bagian atas dan satu pasang sayap yang sedikit lebih kecil di bagian bawah.


"Ohh!! Jadi ini wujud malaikat!!" Julian sangat kagum dengan wujud Ramiel yang sebenarnya.


Karena di bumi, dia tidak mengetahui bagaimana wujud malaikat dan biasanya hanya digambarkan secara samar-samar. Namun di dunia fantasi ini, ia bisa melihat wujud malaikat meskipun berbeda dengan deskripsi di bumi.


Ramiel mengerutkan keningnya melihat Julian, "Mengapa kau malah kagum, manusia?"


Julian memiringkan kepalanya dan berkata, "Hah? Apa kau bodoh? Tentu saja aku kagum karena tidak pernah melihat malaikat."


Muncul kerutan di dahi Ramiel karena ia sedang kesal saat ini. Ia tidak menyangka kalau dirinya yang seorang malaikat akan diejek bodoh oleh manusia fana.


"Ngomong-ngomong, sebenarnya apa tujuanmu? Asal kau tahu saja, waktuku ini tidak banyak," ucap Julian sambil berpura-pura melihat langit.


"Jangan salahkan aku, Manusia!!" Ramiel berteriak lalu menggunakan sihirnya untuk menyerang Julian.

__ADS_1


"Ups, sepertinya ini akan sedikit merepotkan. Mari kita berpindah tempat, aku tidak ingin dalam masalah lagi." Julian membuat gerbang teleportasi kemudian dirinya masuk ke dalamnya diikuti oleh Ramiel yang marah.


Julian sudah mengingat dan sedikit memahami bagaimana cara gerbang teleportasi dibuat. Oleh karena itu ia sekarang bisa membuatnya meskipun hanya bisa bertahan selama lima detik saja.


Julian berpindah ke lokasi pertarungan dirinya dengan Alastor karena dia hanya mengingat tempat ini saja yang bisa digunakan untuk bertarung.


"Hm, bertarung dengan malaikat pasti akan membuat kerusakan. Setelah bertarung, aku akan berbicara dengan Raja," pikir Julian.


"Angel Punch!" teriak Ramiel sebelum dirinya memukul udara dan memunculkan sebuah gelombang yang bercahaya berbentuk pukulan ke arah Julian.


"Pukulan Malaikat? Nama yang murahan," pikir Julian karena nama mantra sihirnya yang lucu.


"Lalu, bagaimana dengan ini? Devil Punch!" Julian meniru mantra sihir Ramiel. Bedanya, ia menggunakan elemen kegelapan.


"Apa!? Kau memiliki elemen kegelapan!? Dasar makhluk kotor!?" teriak Ramiel yang marah karena mengetahui kalau Julian menggunakan elemen yang sama dengan apa yang iblis gunakan.


Dua mantra sihir yang sama saling bertemu satu sama lain dan membuat ledakan yang besar di udara yang menghasilkan asap tebal.


"Hah~ Inilah yang aku benci. Apakah putih memang baik dan hitam memang jahat. Tapi kedua warna tersebut hanya sebagai acuan."


"Lalu, apakah orang yang menggunakan cahaya adalah orang yang baik dan suci sedangkan yang menggunakan kegelapan adalah orang yang jahat dan kotor?"


"Lagipula, bagaimana jika orang tersebut hanya bisa menggunakan elemen kegelapan? Apakah dia akan dianggap sebagai orang yang jahat seumur hidupnya?"


Julian menghembuskan napas panjang dan berkata dengan nada kesal karena di dalam hidupnya ia sering berhenti dengan orang yang sifatnya sama dengan Ramiel.


"Diamlah!" teriak Ramiel.


Ia bertransformasi menjadi Pterosaurus karena Ramiel bisa terbang di udara dan akan sulit untuk melawannya dalam wujud Giganotosaurus.


"Apa!? Kau juga bisa berubah menjadi monster? Kau ini memang mahkluk kotor ya," ucap Ramiel dengan nada menghina.


Julian mengabaikan ucapan Ramiel, ia mengepakkan sayapnya dengan kencang dan berkata, "Wind Blade."


Banyak sekali bilah angin yang muncul dari kepakkan sayap Julian. Semua bilah angin itu terbang ke arah Ramiel yang sedang mempersiapkan mantra sihir juga.


"Oh Dewi, berikanlah kekuatan pada hambamu. Holy Shield!" Ramiel membuat sebuah perisai dari elemen cahaya yang memblokir semua bilah angin Julian.


"Blessing of Light!" Muncul cahaya di belakang Ramiel kemudian cahaya tersebut membentuk sebuah siluet yang sama seperti malaikat, hanya saja siluet itu sangat besar.


Ramiel mengangkat tangan kanannya dan mengayunkannya kali siluet malaikat tersebut menembakkan sinar cahaya dalam jumlah yang sangat banyak ke arah Julian.


"Meskipun dia tersegel, tapi malaikat tetaplah malaikat. Aku bisa merasakan bahaya di dalam sinar cahaya itu," batin Julian yang terbang dengan sangat cepat untuk menghindari serangan Ramiel.


"Jangan menghindar seperti tikus!" tidak Ramiel yang marah karena serangannya tidak ada yang mengenai Julian.


"Yah, mana mungkin aku akan terkena serangan musuh secara sukarela bukan? Apakah kau ini bodoh, tidak, idiot?" Julian bertanya-tanya bagaimana cara kerja otak Ramiel.


Ramiel menyuruh siluet malaikat di belakangnya untuk berhenti menembak dan membuat sebuah pedang cambuk dari elemen cahaya.

__ADS_1


Pedang cambuk tersebut diayunkan ke arah Julian. Namun Julian terbang dengan gesit yang membuat dirinya tidak terkena serangan apapun.


"Membosankan. Apakah malaikat tidak bisa bertarung? Tidak, Malaikat itu ahli dalam pertarungan namun mungkin Ramiel ini kuat hanya karena dia seorang malaikat dan tidak bisa memanfaatkan kekuatannya dengan baik," pikir Julian.


Julian tadinya bersemangat karena dia akan melawan malaikat yang berasal dari alam dewa dan dewi. Tapi sekarang ia sungguh kecewa dengan malaikat atau lebih tepatnya kecewa dengan Ramiel.


Mantra sihir yang digunakan oleh Ramiel termasuk mantra sihir yang kuat, namun dia tidak bisa menggunakannya dengan baik sehingga terlihat seperti mantra sihir lemah.


"Baiklah. Karena dia ini adalah tipe orang yang merepotkan, maka aku bunuh saja dia. Lagipula dia yang mencari masalah denganku," pikir Julian.


Julian terbang dengan cepat ke arah Ramiel sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Lalu ia menembakan bola api yang sangat banyak ke arah Ramiel.


"Hahaha! Apakah kau akan menyerangku dengan serangan dasar seperti ini?" teriak Ramiel sambil tertawa terbahak-bahak.


Ramiel menghancurkan semua bola api yang datang dengan pedang cambuknya. Namun ia tidak menyadari kalau Julian sudah kembali ke wujud manusianya.


Julian menumbuhkan sayap di punggungnya kemudian ia terbang membelakangi Ramiel yang sedang fokus untuk menghancurkan bola-bola api.


Julian menumbuhkan kuku yang sangat tajam di tangan kanannya. Ia terbang dengan cepat ke arah Ramiel kemudian ia akan membunuh Ramiel dengan cara menusuk jantungnya dari belakang.


"Bahaya!" Ramiel melebarkan matanya karena merasakan bahaya yang bisa membuat nyawanya melayang.


Ia melihat kalau Julian sudah menghilang dari pandangannya namun rasa bahaya masih ada. Ia memikirkan sesuatu dan segera menoleh ke arah belakang.


Dan benar saja, ia melihat Julian yang sudah dekat dengan dirinya yang akan menyerangnya menggunakan kuku tajam di tangan kanannya.


"Matilah, sayap ayam sialan," batin Julian.


Namun, saat kuku Julian sudah menyentuh pakaian Ramiel, ia tiba-tiba berhenti. Bukan karena dia yang memberhentikan serangannya, tapi itu karena tubuhnya tidak bisa bergerak.


Julian berpikir, "Ada apa!? Apakah ini perbuatan Ramiel!?"


Namun saat ia melihat ke wajah Ramiel yang panik, Julian tahu kalau ini bukanlah perbuatan Ramiel. Saat Julian berusaha untuk membebaskan diri, terdengar suara wanita yang indah sekaligus agung di benak Julian.


"Tolong jangan bunuh malaikat kecilku," ucapnya.


"Siapa kau?" tanya Julian tanpa rasa takut.


Suara wanita itu terdengar lagi, "Kemarilah. Aku akan membawamu ke tempatku."


Lalu tiba-tiba di sebelah kanan Julian terdapat sebuah gerbang teleportasi. Julian berpikir bagaimana dia bisa masuk jika tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Namun saat ia berpikir seperti itu, ia bisa menggerakkan tubuhnya lagi dan ia akan membunuh Ramiel terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam gerbang teleportasi.


"Sudah ku katakan untuk jangan membunuhnya," ucap suara wanita itu yang membuat tubuh Julian tidak bisa digerakkan lagi.


"Baiklah, baiklah, lagipula aku juga penasaran denganmu," batin Julian yang hanya bisa pasrah karena tidak bisa membunuh Ramiel.


Julian bisa menggerakkan tubuhnya lagi, tapi kali ini ia tidak berusaha untuk membunuh Ramiel. Ia hanya meliriknya dengan tajam sebelum masuk ke dalam gerbang teleportasi.

__ADS_1


"Ada apa? Mengapa tiba-tiba dia pergi?" Sekarang Ramiel kebingungan karena Julian pergi secara tiba-tiba.


__ADS_2