
Setelah Julian menjelaskannya secara detail kepada warga desa, mereka akhirnya paham dan mulai menerima keberadaan Decha.
Karena Decha memang tidak mengganggu desa, ia hanya membuat desa demi-human kadal tidak memiliki pasokan makanan.
Claire menghampiri Julian dan bertanya kepadanya, "Master, aku sudah meminta mereka untuk menanam banyak tumbuhan di rawa-rawa. Mereka membutuhkan bibit yang kita beli sebelumnya, apakah tidak apa-apa jika kita memberikannya kepada mereka?"
Julian menyentuh dagunya sebentar dan menjawab, "Tentu, tidak apa-apa. Kita juga tidak terlalu membutuhkan bibit tumbuhan."
Gael dan Dace yang mendengar hal itu langsung menundukkan kepala mereka dan mengucapkan terima kasih kepada Julian.
Julian teringat sesuatu dan berkata, "Ngomong-ngomong, jika kalian ingin menjual sesuatu di Kota Coramon, jual kepada Keluarga Mollon, mereka kenalanku."
"Keluarga Mollon? Itu keluarga pedagang yang terkenal, baiklah, dengan jaminanmu, kita bisa berdagang dengan lancar." Dace mengangguk dan sebenarnya ia cukup terkejut karena Julian mengenal Keluarga Mollon.
Setelah Julian dan Dace menjelaskan beberapa hal kepada warga desa, mereka kembali ke rumah milik Gael karena akan mendiskusikan sesuatu.
Julian duduk dan berkata, "Dace, desamu ini masih serba kekurangan. Kau harus membuat sesuatu untuk memakmurkan desa ini."
Dace menghela napas panjang dan membalas, "Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi, meskipun aku kepala desa, aku tidak memiliki pengetahuan apapun untuk memakmurkan desa ini."
Disampingnya, Gael, menambahkan, "Itu karena desa kami sangat tertutup dan karena kami juga merupakan demi-human."
"Gael benar, kami terlalu takut dengan manusia karena kami sudah mengalami sesuatu yang buruk karena para manusia di masa lalu." Dace mengangguk dengan ekspresi sedih.
Julian terdiam dan mengganti topik, "Pertama, aku dan Claire akan memberitahu cara-caranya, kemudian, setelah kalian pergi ke Kota Coramon untuk berdagang, belilah beberapa buku yang berguna."
"Kalau bisa, beli juga beberapa buku untuk anak-anak karena mereka adalah generasi yang akan meneruskan pengetahuan para orang dewasa," tambah Claire.
Dace dan Gael saling memandang dan mengangguk, "Kami sangat berterima kasih." Mereka menundukkan kepala mereka.
Julian dan Claire tersenyum, kemudian, mereka berempat mulai membahas bagaimana cara memakmurkan desa demi-human kadal ini.
Disela-sela pembahasan, seorang wanita cantik yang tidak disangka-sangka adalah istri Dace, Lilia, membawakan mereka teh dan camilan sederhana.
Dan Julian juga melihat anak kecil laki-laki di belakang Lilia dan setelah bertanya, itu adalah anak mereka yang berusia 7 tahun, Lilo.
Ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk memakmurkan desa demi-human kadal dengan memanfaatkan daerah sekitar desa.
Pertama, demi-human kadal harus menanam tumbuhan-tumbuhan yang sudah diberitahu oleh Claire di rawa-rawa sekitar desa.
Kedua, perlu membuat tambak ikan agar pasokan makanan mereka lebih stabil dan untuk pakan ikannya, bisa menggunakan cacing atau udang kecil dari sungai.
Ketiga, perlu membuat saluran air bersih agar warga desa tidak perlu berjalan menuju sungai yang jaraknya cukup jauh untuk mengambil air.
Keempat, perlu membuat rumah baru untuk semua orang karena rumah yang mereka tinggali sekarang terbuat dari daun-daun dan kayu yang kurang kokoh.
"Itu adalah dasar-dasarnya, kalian perlu melakukan sisanya sendiri setelah keempat cara itu terpenuhi." Julian mengambil teh dan meminumnya karena merasakan tenggorokannya kering.
"Baik." Dace mengangguk sambil menulis poin-poin tadi di sebuah buku.
__ADS_1
"Sebagai tambahan, tolong libatkan semua warga desa dalam memakmurkan desa ini agar mereka bisa tahu apa yang harus dilakukan dan bisa menambah pengetahuan juga," tambah Claire.
"Baik!" Dace mengangguk dan menulis apa yang Claire ucapkan di buku.
Setelah beberapa saat, Dace dan Gael undur diri sebentar karena mereka akan berdiskusi dengan warga desa terkait dengan imbalan yang akan diberikan kepada Julian.
"Silakan," angguk Julian.
...----------------...
"Kita akan memberikan itu?" salah satu warga bertanya dengan heran kepada Dace.
Dace mengangguk dan berkata, " Ya, aku tahu diantara kalian pasti ada yang tidak setuju. Tapi, hanya benda itu yang bisa membalas kebaikan Tuan Julian dan teman-temannya."
Lalu ia menambahkan, "Anak-anak mungkin tidak tahu, tapi kalian yang sudah dewasa dan para orang tua pasti masih mengingat apa yang dikatakan oleh kepala desa sebelumnya."
Semua warga desa yang mendengar ucapan Dace terdiam, anak-anak disamping mereka hanya bisa memiringkan kepala karena tidak tahu mengapa semua orang dewasa diam.
Melihat warga desa yang masih diam, Gael memutuskan untuk berbicara, "Warga desa sekalian, tidak, teman-temanku semua, Tuan Julian bahkan mengenalkan kita kepada Keluarga Mollon yang terkenal di Kota Coramon. Di masa depan, kita bisa berdagang dengan aman dan lancar."
"Bahkan mereka juga sudah berbaik hati membantu kita untuk memakmurkan desa, apakah kalian masih ingin hidup dalam kondisi yang seperti ini?" tambahnya.
"Ah baiklah! Aku setuju!" demi-human kadal yang tua berteriak.
Melihat orang itu, yang lain juga mulai setuju satu per satu, "Kami juga setuju!" ucap mereka sambil mengangkat tangan mereka.
"Ya!!" Semua warga desa berteriak secara serempak.
Dace dan Gael saling memandang dan mengangguk. Mereka undur diri dan kembali ke rumah milik Dace.
Dace duduk di seberang Julian sementara Gael pergi ke gudang yang ada di ruang bawah tanah untuk mengambil benda yang mereka maksud tadi.
"Ini, kepala desa." Gael menyerahkan kotak kayu yang sangat berdebu seperti sudah sangat lama tidak disentuh.
Dace mengambilnya dan berterima kasih. Kemudian ia membersihkan debu dari kotak kayu tersebut dan menaruhnya di atas meja.
"Tuan Julian, silakan dibuka terlebih dahulu," ucap Dace.
"Hm, baiklah." Julian membuka kotak kayu tersebut.
Julian melihat ada sebuah bola kristal transparan di dalam kotak kayu tersebut. Julian terpukau dengan bola kristal di depannya karena meskipun transparan, itu sungguh bersih.
"Kami tidak mengetahui nama benda ini karena ini diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, kami tahu apa fungsi dari benda ini."
"Tuan Julian, jika kau menyalurkan mana ke dalamnya, maka bola kristal tersebut akan berubah warna menjadi hitam pekat."
"Setelah itu terjadi, segera serap seluruh energi hitam yang ada di dalam bola kristal tersebut ke dalam tubuhmu," jelas Dace.
"Baiklah, aku akan melakukannya." Julian mengangguk dan melakukan apa yang Dace ucapkan barusan.
__ADS_1
Seperti yang Dace ucapkan, bola kristal di tangan Julian berubah warna menjadi hitam pekat setelah disalurkan mana ke dalamnya.
Kemudian tanpa ragu-ragu, Julian menyerap seluruh energi hitam itu ke dalam tubuhnya sampai bola kristal tersebut kembali menjadi transparan.
Namun Julian tidak merasakan apapun setelah menyerap energi hitam yang ada di bola kristal, saat ia akan bertanya, kebetulan Dace menjelaskan keraguannya.
"Jangan khawatir Tuan Julian, tunggu beberapa menit lagi, ucap Dace.
Julian mengangguk dan berkata, "Baiklah."
Julian menunggu selama beberapa menit dan yang lain juga tidak mengganggunya.
Lalu tiba-tiba Julian berdiri dan membelalakkan matanya karena merasakan rasa sakit yang sangat parah di tubuhnya.
Bahkan ia merasa kalau rasa sakit ini adalah yang terparah selama dua kehidupannya mau itu di bumi atau di dunia fantasi ini.
"Master!" Claire berteriak dengan nada khawatir.
Nimi dan Mine yang berada diluar rumah juga segera memasuki rumah karena mereka merasakan kalau Julian sedang dalam bahaya karena mereka sudah menjalin kontrak budak.
Memang ada sesuatu seperti itu dimana kedua belah pihak bisa merasakan sesuatu jika salah satu pihak terluka atau bahkan mati.
Dace menghentikan mereka bertiga dan berkata, "Jangan sentuh Tuan Julian, ini adalah perubahan yang diperlukan."
"Apa yang kau lakukan kepada Master kami!" Claire menatap Dace dengan tajam bahkan ia sudah mengeluarkan dua pistol mananya.
Nimi dan Mine juga mengeluarkan pisau ganda mereka dan udara di dalam ruangan menjadi dingin karena perbuatan mereka bertiga.
Saat Dace akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba Julian batuk yang membuat mereka bertiga memasukan kembali senjata mereka dan melihat Julian dengan tatapan khawatir.
"Uhuk uhuk, jangan khawatir kalian semua. Jutsru sekarang aku merasa sangat bahagia." Julian berdiri dan membuat seringai di wajahnya.
"Apa maksudmu, Master?" Claire bertanya karena ia tidak paham apa maksud ucapan Julian.
Julian menatap Dace dan berkata, "Aku tidak menyangka benda ini memiliki efek yang sangat mengerikan."
Dace berdiri dan tersenyum kepada Julian, "Selamat, Tuan Julian."
"Master! Tolong jelaskan pada kami!" protes Clare.
"Energi hitam tadi membuat tubuhku sangat kuat saat ini. Mungkin lebih tepatnya fungsi energi hitam ini membersihkan kotoran yang ada di dalam tubuhku."
"Oleh karena itu saat ini aku bisa merasakan kalau tubuhku penuh dengan kekuatan bahkan satu jariku saja bisa membunuh manusia normal."
"Kuhahaha!" Julian tertawa dengan keras seperti orang jahat.
"Ah..." Claire, Nimi, dan Mine hanya bisa terdiam.
Mereka ingin mengatakan sesuatu namun tidak jadi setelah melihat ekspresi wajah menyebalkan yang dibuat oleh Julian.
__ADS_1